Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau: Bab 7
Pagi itu, udara di ladang terasa sejuk dan bersih, membawa aroma tanah basah dan pucuk singkong yang segar. Matahari mulai merangkak naik, namun pohon beringin tua yang menjulang tinggi di pinggir ladang memberikan naungan teduh yang luas. Di bawah pohon itulah, beralaskan tikar pandan yang mulai usang, Valaria dan Raka beristirahat setelah selesai mencabut beberapa rumpun singkong.
Raka, dengan pipi yang sedikit belepotan tanah, menatap Valaria dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Valaria tersenyum; hatinya menghangat melihat semangat anak itu. Sejak ia terlempar ke dunia yang asing ini, Raka dan kedua orang tuanya yang penuh kasih telah menjadi jangkar emosinya. Kehangatan keluarga Arjun adalah alasan utama bagi Valaria untuk bertahan hidup sebuah rasa yang sama sekali tidak pernah ia rasakan di kehidupannya yang terdahulu.
Valaria menarik napas dalam-dalam, menatap dedaunan rindang yang bergoyang lembut diembus angin pedesaan. Suara gemerisik daun menjadi musik latar yang menenangkan.
"Sudah lelah, Raka?" tanya Valaria sambil mengusap kepala bocah itu dengan lembut.
Raka menggeleng kuat. "Tidak, Kak Val. Tapi tangan Raka sedikit pegal."
"Kalau begitu, kita istirahat sebentar. Kakak akan ajari Raka sesuatu yang baru. Kita belajar berhitung dengan lagu," bisik Valaria dengan nada penuh semangat.
Raka langsung duduk tegak, matanya berbinar. "Pakai lagu?"
Valaria mulai bernyanyi. Suaranya merdu, menciptakan melodi sederhana namun ceria. Lirik yang ia ciptakan secara spontan itu menghubungkan angka dengan benda-benda nyata di sekitar mereka, membuatnya mudah dicerna oleh pikiran Raka yang polos.
(Bait 1) "Satu itu satu, seperti jari telunjuk. Lihat tangan Kakak!" Valaria menunjukkan telunjuknya. "Dua itu dua, seperti mata kita. Raka punya dua mata, kan?" Ia menyentuh kelopak mata Raka dengan lembut. "Tiga itu tiga, seperti roda becak. Kalau Raka lihat becak, rodanya ada tiga!" "Ayo kawan, kita belajar angka!"
Raka tertawa riang, mencoba menirukan gerakan Valaria meski pengucapannya masih sedikit cadel.
(Bait 2) "Empat itu empat, seperti kaki meja. Meja di rumah kita kakinya empat!" "Lima itu lima, jari di satu tangan. Coba hitung jari Raka, ada lima!" "Enam itu enam, kawan, kita hitung lagi." "Belajar angka, seru sekali!"
Valaria mengamati wajah Raka. Anak itu tampak sangat fokus mencerna lirik dan visualisasi angka tersebut. Momen ini terasa sangat berharga bagi Valaria. Di tengah kesulitan hidup, berbagi ilmu dan tawa adalah segalanya. Ia merasa berguna. Ia merasa benar-benar hidup.
(Bait 3) "Tujuh itu tujuh, hari dalam seminggu. Minggu, Senin, Selasa!" "Delapan itu delapan, kaki laba-laba. Ih, laba-laba!" Raka berpura-pura menggigil geli. "Sembilan itu sembilan, angka jagoan kita." "Sepuluh itu sepuluh, jempol kanan dan kiri!"
Valaria kemudian menyanyikan bagian refrain dengan suara lebih lantang, mengajak Raka bertepuk tangan mengikuti irama.
(Refrain) "Satu, dua, tiga... empat, lima, enam!" "Tujuh, delapan, sembilan, sepuluh!" "Angka-angka itu teman kita. Belajar hitung, kita pasti bisa!"
Lagu berakhir. Raka menatap Valaria dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. "Lagi, Kak Val! Lagi!"
"Nanti, Sayang. Sekarang Raka harus mengulanginya sendiri," Valaria tersenyum penuh kasih. "Kalau Raka sudah bisa menyebut angka dengan benar, Kakak akan ajari huruf. Itu jauh lebih seru."
Siang menjelang. Matahari bersinar terik tepat di atas kepala, memaksa Valaria menyeka keringat di dahi. Mereka berjalan pulang. Ayah dan Ibu sudah menunggu di gerbang gubuk sederhana mereka, wajah mereka tampak lelah namun lega melihat kedua anak itu kembali.
"Sudah pulang, Nak?" sapa Ratri dengan suara lembut. "Terima kasih, Valaria, sudah menjaga Raka."
"Sama-sama, Bu. Raka anak yang sangat penurut," jawab Valaria tulus.
Mereka masuk ke dalam rumah. Valaria segera menuju kamarnya yang bersahaja. Ruangan itu hanya berisi dipan kayu, lemari pakaian usang, dan sebuah meja kecil di sudut. Meja itu adalah satu-satunya peninggalan yang ia temukan saat pertama kali tiba di sini sebuah meja belajar dengan satu buku tulis tebal di atasnya.
Valaria duduk di kursi kayu, menyentuh buku itu. Itu adalah buku bekas yang dulu ia gunakan; penuh dengan catatan dan coretan masa lalu. Di bagian belakang, Valaria menemukan beberapa lembar kertas yang masih kosong. Sebuah ide melintas di benaknya. Jika Raka sudah mahir angka, ia harus segera menyiapkan materi huruf.
Ia mengambil pensil dan dengan hati-hati mulai menuliskan alfabet satu per satu. A, B, C... Gerakan tangannya terasa asing karena sudah lama tidak menulis. Saat membentuk huruf-huruf itu, ada rasa rindu yang menusuk rindu pada pendidikan, pada kemudahan, dan pada kehidupan masa lalunya.
"Aku harus sabar," gumamnya, menyelesaikan huruf demi huruf. "Ini akan menjadi harta untuk Raka nanti."
Beberapa hari berlalu. Raka mulai lancar berhitung. Namun, saat Valaria membuka kembali bukunya, ia menyadari sehelai kertas terakhir di halaman belakang telah habis digunakan.
"Astaga, sudah habis," Valaria menghela napas panjang. Kecewa menyelimuti hatinya.
Ia membolak-balik buku itu, mencari celah atau sudut yang mungkin masih bisa ditulisi, namun nihil. Kertas adalah barang langka baginya saat ini. Ia juga tersadar akan fakta pahit: ia tidak tahu harga kertas sekarang, ia tidak memiliki uang, dan ia tidak ingin membebani Ayah serta Ibu.
Valaria berdiri, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit. Frustrasi mulai merayap. Ia ingin memberi Raka masa depan, dan itu harus dimulai dari pendidikan dasar dari selembar kertas dan sebatang pensil.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah," bisik Valaria pada bayangannya di dinding. "Aku harus mencari cara. Aku harus menghasilkan uang sendiri."
Ia memikirkan apa yang mereka miliki: singkong. Ladang mereka menghasilkan panen singkong yang melimpah. Itulah satu-satunya modal yang ia punya.
Valaria kembali duduk, merenungkan berbagai olahan singkong yang ia ketahui. Ia harus memilih menu yang paling mudah dibuat, minim biaya, namun laku keras. Pikirannya bekerja cepat menghitung taksiran modal: gula merah, ragi, dan gula pasir. Harganya relatif terjangkau, sehingga ia tidak butuh modal awal yang besar.
"Tape singkong," gumamnya. Prosesnya sederhana: kupas, rebus, beri ragi, bungkus daun pisang, lalu fermentasi. Aromanya khas dan banyak disukai.
"Atau Combro dan Misro." Parutan singkong diisi oncom pedas atau gula merah lalu digoreng. Ini adalah jajanan pasar yang tak pernah sepi peminat.
"Lemet atau Getuk." Rasanya lebih manis dan menarik. Bahan dasarnya hanya singkong, gula, dan kelapa.
Valaria mengepalkan tangan. Rencananya mulai terbentuk. Ia akan membuat Tape Singkong dan Combro-Misro perpaduan rasa manis dan asin. Bahan-bahannya tidak rumit dan bisa dijual di pasar desa besok.
Ia merasakan gelombang emosi yang kuat; rasa takut akan kegagalan bercampur dengan semangat juang yang membara. Ini bukan sekadar tentang membeli kertas, melainkan pembuktian bahwa ia bisa beradaptasi dan mandiri di dunia baru ini.
Valaria menarik napas dalam, memantapkan hati. Ia harus segera bicara pada Ibu dan Ayah.
"Baiklah, besok kita mulai mencari uang dari singkong," ucapnya pada diri sendiri sembari menyunggingkan senyum tipis senyum seorang pejuang yang siap memulai langkah kecilnya.