Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 : Panggung Moralitas di Bawah Sorotan Cahaya
Udara di ruang konferensi pers Montenegro Group terasa setajam silet, meskipun dihiasi oleh rangkaian bunga mawar putih dan panggung yang elegan. Tidak ada aroma gardenia murahan; hanya aroma sandalwood milik Rafael dan parfum mahal Alicia, yang merupakan aroma kekuasaan.
Alicia dan Rafael duduk berdampingan. Alicia mengenakan setelan celana putih tulang, simbol kebersihan dan serangan yang disengaja. Rafael mengenakan jas navy yang disesuaikan sempurna. Mereka tampak seperti arsitek dari sebuah kerajaan baru, mengabaikan dunia lama yang telah mereka bakar.
Acara pers ini bukan untuk mengumumkan proyek properti; ini adalah deklarasi perang moral, disiarkan langsung di televisi dan disaksikan oleh seluruh kalangan masyarakat Madrid-Spanyol.
Santiago, bersama Isabel, menonton siaran itu dari kantor Yayasan Bumi Valero yang sederhana.
“Kita siap, mi reina?” bisik Rafael, tangannya berada di bawah meja, menggenggam lutut Alicia. Sentuhan itu adalah pengingat: mereka adalah tim, dan kemenangan ini harus terasa di setiap serat tubuhnya.
Alicia mengangguk. “Aku lahir untuk ini, Rafael. Mari kita lihat bagaimana rasanya dihancurkan oleh moralitas.”
Seorang juru bicara memulai pengantar, memuji Solera dan Montenegro Group atas kemitraan baru mereka yang visioner. Kemudian, giliran Rafael.
Rafael berdiri, tinggi dan mengintimidasi. “Selamat pagi, Madrid. Hari ini, kami tidak hanya bicara tentang beton dan keuntungan. Kami bicara tentang warisan.”
Ia menatap lurus ke kamera, seolah berbicara langsung kepada Santiago.
“Kami mengakui bahwa di masa lalu, fokus kami murni pada properti ultra-mewah. Namun, Alicia dan saya memiliki visi yang lebih besar. Kami percaya, kemewahan sejati adalah memberikan kesempatan. Oleh karena itu, Montenegro Group dengan bangga mengumumkan donasi pribadi sebesar Lima Puluh Juta Euro untuk mendirikan Yayasan Solidaritas Palang Merah.”
Seluruh ruangan gempar. Angka itu sangat besar, jauh melebihi modal awal Yayasan Bumi Valero milik Santiago.
“Yayasan Palang Merah ini akan didedikasikan untuk pembangunan perumahan sosial yang inovatif, sekolah, dan fasilitas publik di kawasan yang paling membutuhkan di Madrid. Dan lokasi perumahan sosial pertama kami?” Rafael berhenti, jeda yang disengaja.
“Tepat di seberang lokasi proyek residensial mewah Cielo Alto yang sedang dipertimbangkan oleh Dewan Kota.”
Santiago, yang menonton di layar, langsung berdiri, menumpahkan kopinya. “Dia gila! Itu akan menjatuhkan nilai Cielo Alto sebesar dua puluh persen!”
Isabel tampak pucat. “Santiago, mereka membeli seluruh arena moralitas. Kita tidak bisa menolak proyek sosial.”
Rafael melanjutkan, suaranya penuh otoritas, “Kami berharap inisiatif ini dapat menginspirasi organisasi lain. Kami percaya, proyek Cielo Alto, yang merupakan pembangunan mewah, haruslah menjadi mesin pendanaan bagi perumahan sosial. Oleh karena itu, kami ingin mengumumkan bahwa Lima Puluh Persen dari Keuntungan Kotor Cielo Alto akan dialokasikan untuk Yayasan Palang Merah. Bukan donasi satu kali, tapi kemitraan permanen.”
Ia menyerahkan panggung kepada Alicia. Alicia melangkah maju, memancarkan kepercayaan diri yang dingin.
“Kami menyadari ada kekhawatiran etika mengenai Cielo Alto, terutama dari organisasi yang berharga seperti Yayasan Bumi Valero,” kata Alicia, menyebut nama itu dengan nada yang sangat halus, hampir mengejek. “Kami menyambut baik peninjauan etis. Namun, kami ingin bertanya, apa yang lebih etis? Melestarikan semak-semak, atau menyediakan rumah bagi ratusan keluarga yang membutuhkan? Kami berharap Direktur Yayasan Bumi Valero memilih manusia di atas rumput.”
Alicia telah menanamkan racunnya. Ia memaksa Isabel, simbol moralitas, untuk menolak donasi terbesar untuk amal dalam sejarah Madrid jika ia ingin memblokir Cielo Alto.
Di kantornya, Santiago memukul meja hingga vas bunga di depannya jatuh pecah.
“Dia menjebak kita! Dia menjebak kita dengan uang! Dia tahu kita tidak bisa menolak sumbangan untuk perumahan sosial!” raung Santiago.
Isabel, yang kini benar-benar tertekan, menatap layar di mana Alicia tersenyum dingin. “Alicia menjadikanku villain, Santiago. Jika aku menolak Cielo Alto sekarang, Dewan Kota akan melihat Yayasan kita sebagai penghalang pembangunan sosial. Aku akan kehilangan dukungan media dan dianggap munafik.”
“Lalu kita harus menyetujuinya?” Santiago hampir menangis. “Menyetujui Cielo Alto berarti menghidupkan kembali proyek kebanggaanku hanya untuk memberi mereka keuntungan 50% yang akan mereka gunakan untuk menghinaku!”
“Ini bukan tentangmu lagi, Santiago!” Isabel balas berteriak, air mata mengalir. “Ini tentang Yayasan! Kau tidak mengerti, Alicia tidak menyerang Yayasan secara langsung, dia menyerang moralitas Yayasan! Kita harus menyetujuinya dan mencari kesalahan di perizinan lainnya!”
Santiago menatap Isabel dengan mata penuh kebencian. “Ini semua salahmu! Kalau saja kau tidak membuatku kehilangan kendali, aku tidak akan terpaksa mendirikan tempat sampah moral ini!”
“Dan kalau saja kau tidak mencampakkannya seperti sampah, dia tidak akan menyewa Rafael untuk menghancurkanmu!” balas Isabel, pertengkaran mereka memanas. “Aku lelah menjadi tamengmu, Santiago! Mereka melihatku sebagai santa, dan aku harus bertindak seperti santa, meskipun itu berarti kita kalah!”
Santiago, yang sepenuhnya terpojok, jatuh kembali ke kursinya, kepalanya ditutupi tangannya. Ia telah menggunakan Isabel sebagai senjata, tetapi Alicia telah mengubah senjata itu menjadi boomerang yang menghantamnya sendiri.
Malam harinya, setelah badai media mereda dan headline utama berbunyi "PASANGAN BARU MADRID DONASIKAN 50 JUTA EURO; YAYASAN VALERO TERTEKAN," Alicia dan Rafael kembali ke suite Ritz.
Mereka belum bertukar banyak kata, tetapi udara di antara mereka terasa padat dengan kepuasan dan hasrat yang tertahan.
“Kau melihat wajahnya?” tanya Alicia, senyum kecil bermain di bibirnya saat ia menuang Armagnac untuk Rafael.
“Wajah siapa? Santiago atau Isabel? Keduanya tampak seperti baru saja dikuliti hidup-hidup,” jawab Rafael, menerima gelas itu.
“Wajah Santiago. Itu adalah kehancuran yang sangat memuaskan. Dia tidak menyangka aku akan rela membuang 50% keuntungan kotor hanya untuk membunuhnya secara moral,” kata Alicia, matanya bersinar.
“Itu adalah power-play terbaik yang pernah aku lihat. Kerelaanmu untuk kehilangan uang demi kehormatan adalah apa yang membuatmu berbahaya, Alicia,” ujar Rafael. Ia mendekat, membelai garis rahang Alicia. “Kau menari di tepi jurang, dan kau menikmatinya.”
“Tentu saja aku menikmatinya,” bisik Alicia. “Aku memberimu apa yang kau inginkan: penghinaan total bagi musuhmu. Dan sekarang, aku menuntut pembayaranku... Rafael.”
Rafael menaruh gelasnya. “Pembayaran yang kau tuntut bukan uang, Alicia.”
“Tidak. Aku menuntut konfirmasi. Konfirmasi bahwa setiap langkah yang aku ambil, setiap risiko yang aku ambil, adalah benar. Konfirmasi bahwa aku tidak dingin,” desis Alicia, matanya menantang Rafael untuk melanggar batas yang telah ia tetapkan.
“Kau tahu aku bisa memberikannya, mi reina,” jawab Rafael, suaranya dalam dan mengikat.
Ia mengangkat Alicia ke dalam pelukannya. Alicia merangkul lehernya, gairah di mata mereka bukan lagi simulasi, melainkan kebutuhan yang mendalam. Mereka telah melalui pertarungan real-time yang membuat jantung berdebar, dan kemenangan ini memicu pelepasan yang eksplosif.
Rafael membawa Alicia ke kamar tidur. Di ranjang, sentuhan mereka adalah lanjutan dari negosiasi di meja konferensi. Itu adalah bahasa tanpa kata, di mana dominasi bertemu kerentanan.
Alicia menarik kemeja Rafael, merobeknya dengan gerakan yang mendesak. “Aku ingin kau membuatku lupa bagaimana rasanya menjadi wanita dingin yang hanya menghitung laba!” tuntut Alicia, suaranya serak.
“Kau bukan wanita dingin. Kau adalah wanita yang memilih pasangannya dengan sangat hati-hati,” bisik Rafael. “Dan kini... kau menjatuhkan pilihanmu padaku.”
Ciuman Rafael kali ini lebih lembut, namun lebih mengikat. Ia menjelajahi tubuh Alicia dengan kesengajaan yang menenangkan, seolah ingin meyakinkannya bahwa ia adalah wanita, bukan hanya otak di balik Solera.
“Bahkan dalam momen ini, kau adalah negosiator terbaik, Alicia. Kau menuntut kepuasan penuh,” guman Rafael, menikmati setiap desahan dan rintihan Alicia.
“Aku selalu menuntut penuh. Aku tidak menerima setengah-setengah,” balas Alicia, ia membalikkan keadaan, menempatkan Rafael di bawahnya.
Di tengah gairah yang membakar, Alicia merasakan kelegaan yang luar biasa. Gairah ini adalah bukti fisik bahwa ia masih bisa merasakan, bahwa ia layak untuk diinginkan. Setiap desahan adalah pembalasan dendam terhadap Santiago yang menuduhnya dingin.
Rafael membiarkan Alicia memimpin sejenak. Ia menikmati penguasaan Alicia, tahu bahwa penguasaan itu adalah bagian dari kontrak mereka. Kemudian, ia mengambil alih kembali kendali dengan gerakan yang kuat dan tak terbantahkan.
“Aku yang memimpin, mi reina. Tapi kau yang menentukan tujuannya,” bisik Rafael, sebelum menenggelamkan diri sepenuhnya.
Gairah mereka mencapai puncak yang kejam dan memuaskan. Di tengah kelelahan, Alicia memeluk Rafael erat, merasakan detak jantungnya yang liar.
“Kau adalah segalanya yang kubutuhkan untuk menghancurkannya,” bisik Alicia, suaranya mengandung pengakuan yang lebih dalam dari sekadar bisnis.
“Dan kau adalah segala yang kubutuhkan untuk menguasai Madrid,” balas Rafael, sentuhannya posesif. “Kita adalah tim, Alicia. Tim yang tak terkalahkan.”
Mereka tertidur dengan posisi saling merangkul, kelelahan dari perang moral dan fisik yang baru saja mereka menangkan.
Hingga keesokan harinya, Alicia terbangun sebelum fajar. Saat terbangun, ia menyelinap keluar dari pelukan Rafael. Ia berjalan ke jendela, melihat kota Madrid yang masih tidur.
Ia mengambil ponselnya. Ia membuka pesan yang ia tulis. Ditujukan kepada Isabel (dengan tembusan kepada Santiago).
^^^"Isabel. Selamat atas keputusanmu untuk menyetujui Cielo Alto. Pilihan yang sangat etis. Aku akan memastikan Yayasan Palang Merah mendapatkan dana yang dijanjikan. Aku harap kau sudah mencium pakaian Santiago. Kau akan tahu bahwa aku tidak pernah dingin."^^^
Alicia menekan kirim, dan tersenyum. Sekarang, negosiasi yang sesungguhnya—konflik internal Solera—dimulai.