"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fvck!!!
Ele tersenyum bahagia karena yang ditunggu-tunggu sejak kemarin akhirnya menghubunginya juga. Yap! Siapa lagi kalau bukan Nickolas—kekasihnya.
"Nick, kau dari mana saja? Kenapa sejak kemarin tidak bisa dihubungi?!" Ele langsung melayangkan berbagai pertanyaan pada kekasihnya begitu mengangkat telepon.
"Maaf, kau pasti mengkhawatirkan aku. Aku sedang mempersiapkan kepindahanku ke Italia. Aku juga sudah mendapatkan pekerjaan di sana." Jawaban Nick membuat hati Ele yang awalnya kesal dan marah kini berubah sangat bahagia.
Ini adalah kabar bagus untuk Ele.
"Kau serius?" pekik Ele sangat bahagia sampai meloncat-loncat kegirangan.
"Hu-um. Aku serius, dan ... Tunggu aku di sana," jawab Nick terdengar sangat mesra membuat hati Ele semakin membuncah.
"Nick, aku merindukanmu."
"Aku juga." Nick menjawab pelan, mesra dan terdengar sangat tulus, siapapun yang mendengarnya akan bahagia.
Panggilan telepon terputus. Ele senyam-senyum sembari menekan ponselnya ke dada, seolah sedang memeluk kekasihnya.
*
Ele menuruni anak tangga dengan perasaan bahagia. Kabar dari kekasihnya sangat mempengaruhi mood-nya. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seorang pria tampan, gagah, dan berkarismatik berdiri di hadapan Ava.
Ava wanita Rusia dengan rambut pirangnya yang khas serta kecantikan yang tak terbantahkan tentu terlihat sangat serasi dengan Nero yang tampan dan rupawan.
Nero menoleh saat mendengar suara langkah kaki. Tatapannya terpaku, lalu menilai seorang gadis yang berdiri kaku di ujung tangga bawah.
Cantik, sexy. Dua kata itu sebagai ungkapan hati Nero saat menilai penampilan Ele.
Ah, sialan! Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, gadis itu semakin cantik luar biasa.
Ele bersedekap di dada, berjalan pelan dan mendekat pada pasangan tersebut.
"Wah! Romantis sekali," cibir Ele dengan nada ketus.
Ava menoleh, tersenyum ramah lalu berkata, "aku hanya membantu merapikan pakaian Tuan Nero, jadi jangan salah paham. Kami profesional." Entah kenapa Ava merasa perlu memberikan klarifikasi pada gadis itu agar tidak salah paham.
Ele mencebikkan bibir, tidak percaya dengan ucapan Ava. Tatapannya beralih pada Nero. Ia memutar kedua matanya dengan malas saat pria itu masih sama sikapnya, dingin, datar, dan menyebalkan. Hanya saja pria itu ternyata semakin tampan, dan berkarisma tinggi.
Sungguh sial! Entah kenapa jantung Ele tiba-tiba berdetak sangat cepat saat pria itu menatapnya tajam dan dalam.
"Sudah, Tuan. Seperti biasa Anda selalu sempurna," puji Ava, tersenyum tulus seraya mundur tiga langkah, menatap Nero dengan tatapan kagum. Hanya kagum saja, tidak lebih.
"Terima kasih, Winters," jawab Nero dengan raut datarnya.
"Winters?" beo Ele, menatap Ava.
Ava tersenyum, "Ava Winters, Tuan Nero lebih suka memanggil nama belakangku?" Ia memberikan penjelasan.
"Cih! Kenapa kau memberikan penjelasan padaku? Kau ingin pamer padaku, huh!?" Ele menyahut dengan nada sewot.
Ava hendak menjawab akan tetapi Nero memberikan intruksi agar dirinya segera pergi dari sana.
Dan sekarang di ruangan itu tersisa Nero dan Ele yang saling menatap tajam.
"Lama tidak bertemu denganmu, Nona Ele," sapa Nero, dingin.
Ele melipat kedua tangan di depan dada, menatap sinis pria itu diiringi senyuman miring.
"Dan terima kasih atas sambutannya, Tuan Nero!"
Nero memasukkan salah satu tangan ke kantong celana, tatapan dan raut wajahnya masih sama, dingin dan datar.
"Kau tidak berubah, masih bar-bar, dan tidak memiliki sopan santun." Nero mencibir gadis itu. "Aku harap kau tidak membuat masalah selama tinggal di sini!"
"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir!"
"Karena Tuan Ben menitipkanmu padaku, maka dari itu aku sudah menyiapkan dua bodyguard yang akan mengikutimu ke mana pun kau pergi!"
"Apa? Kau gila? Bahkan kedua orang tuaku saja tidak memperlakukanku seperti ini!" sentaknya tidak terima dengan keputusan Nero.
"Demi keamananmu, Nona Pemabuk!"
"Fvck!!!" teriak Ele seraya mengacungkan jari tengah pada Nero yang sudah pergi dari sana.
udh pada somplak setelah punya pawang masing-masing
dulu aj pada mauka datar tp sekarang pada saling ngeledek 😅😅😅😅
Elle belum sadar dirinya lg hamil, padahal nero yg mengalami gejala hamil simpatik mual dan muntah-muntah...
seorang mafia sangat kuat dan ditakuti terkapar jatuh sakit, nero sampai merasa tidak berguna takut ditertawakan sm anak buahnya...
nero ketula sering ngeledekin sipedro, nero sekarang merasakan apa dirasakan sipedro🤣🤭sekuat apapun nero tetap merasakan sakit juga
😀
fix Elle hamil🤔😁🤭
Nero lagi ngidam alias hamil simpatik...
kehamilan simpatik 🤣🤣🤣