"Akan ku gunakan kekuatanku untuk melindungi orang-orang. Meskipun aku harus meminjam kekuatan dari iblis sekalipun."
Bercerita tentang seorang yang menjalani reinkarnasi disebuah dunia fantasi dimana sihir, legenda, dan mahluk mitologi adalah sebuah hal yang biasa ditemui sehari-hari.
Dengan harapan menjalani kehidupan yang aman dan nyaman, ia menjalani hari sebagai pahlawan tanpa tanding, seseorang yang "tak terkalahkan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Atmareja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7 Sihir | Upacara | Kekuatan
"Ya aku bisa."
Aku menjawab dengan tegas. Aku tak mau memberikan jawaban sebaliknya karena akan membuat windy tampak seperti seorang pembohong di hadapan semua orang.
"Tunjukkan pada kami!"
"Baiklah."
Aku memulai mengambil posisi.
Aku menjulurkan tangan kananku dan mengumpulkan energi sihir (disebut juga dengan mana) di telapak tanganku. Kemudian api muncul disana.
"Uuuhhhh.", "Uwahhh!!!." Beberapa terkejut melihat diriku. Aku pikir itu aneh karena aku hanya melakukan hal kecil. Dan di hadapanku, sang imam juga nampak terkejut menatapku.
Ketika aku menoleh ke arah kanan, tepatnya di atas tanganku akupun juga terkejut.
"Waaaaaa!!!"
Api yang kuciptakan dengan kekuatan sihirku ternyata berbentuk seperti seorang mirip dengan manusia berukuran kecil sehingga satu jengkal. Berbentuk seperti manusia yang seluruh tubuhnya terbuat dari api dengan rambut yang menyala-nyala dan mata api berwarna biru. Seakan-akan api tersebut hidup.
"Apa ini??? Sang imam terkejut. Jangan-jangan ini?"
Hah? Apa ini, seseorang tolong jelaskan padaku. Aku berteriak di dalam hatiku dan wajahku menjadi pucat dan meneteskan keringat dingin.
"Itu, itu seperti sosok peri dalam legenda." Seseorang di belakang ku membuka suaranya.
"Tak mungkin."
Beberapa suara mulai saling bertautan di belakangku.
Aku menata mentalku lagi, mencoba menenangkan diri.
"Sena apa kau masih standby??"
"Iya tuan."
"Ada apa ini???"
Segera aku menghubungi Sena, berharap mendapatkan penjelasan masuk akal.
"Saya tidak tahu tuan. Namun saya memiliki satu sangkaan."
"Apa itu?"
"Itu adalah roh api, Ifrit. Sepertinya dua merespon kekuatanmu tuan."
Aku kaget mendengarnya. Namun sudahlah, nanti saja aku mencari lebih tahu. Semwntara aku harus mengatasi ini.
Aku mencoba memutuskan sihirku. Namun api itu tidak mau padam dari tanganku.
"Hilang!!!"
Aku mencoba lagi. Namun tetap saja.
"Kau!!! Siapa sebenarnya kau ini?" Apa yang terjadi?" Salah satu asisten sang imam tampak wajahnya diliputi ketakutan.
"Haahhh??"
Aku tidak tahu apa yang harus ku jawab padanya.
"Anak muda,bisakah kau memadamkan api itu?"
Sang imam kemudian bertanya padaku.
"Aku mencobanya beberapa kali, tapi sepertinya aku tidak bisa."
Aku merasa sedikit lebih tertekan sekarang.
"Baiklah kalau begitu."
Dia kemudian mengangkat sedikit tongkat yang digenggamnya dan menghentakannya ke tanah. Sebuah gelombang sihir menerpa kami semua.
Tubuhku sedikit terdorong kebelakang, aku menutupi mataku dengan tangan kiriku.
Saat aku melihat tangan kananku, ternyata apinya sekarang sudah tidak ada disana. Syukurlah.
"Waaaaaa...!!!" Beberapa penduduk terpelanting saat itu dan beberapa teriakan terdengar.
Segera setelah semuanya kembali normal. Sang imam memberikan perintahnya.
"Kalian semua, apa yang terjadi sekarang. Aku tidak ingin ada yang mengetahuinya selain kalian. Siapapun! Selain yang ada di ruangan ini, tidak boleh mengetahuinya!"
Dengan sikap tegas dia memberikan perintah. Kemudian para penduduk yang berada di dalam ruangan saling memandang satu sama lain kemudian kepala desa yang dari tadi menghadiri menjawab dengan memasang pose berlutut.
"Perintah yang mulia akan kami pegang teguh."
Serentak para penduduk melakukan pose yang sama. Tentu saja kecuali diriku menoleh kesana-kemari dalam keterkejutan dan kebingungan.
"Kau, bersama dengan orang tuamu, ikut aku sekarang!"
Dengan nada yang masih tegas seperti tadi dia memberikan perintahnya. Aku menoleh dan menatap kepada kedua orang tuaku. Kemudian mereka menganggukan kepalanya tanda setuju.
**********************************************************
Di Ruangan kamar sang imam di dalam kuil.
Kami duduk di hadapan sang imam. Hanya kami berempat. Para asisten yang selalu mengiringi bahkan tidak diperbolehkan untuk terlibat dalam perbincangan kami ini.
Sementara aku duduk dengan mencoba menenangkan hatiku.
"Kalian tentu faham mengapa kalian diajak ke ruangan ini kan? Api itu,,,."
Dia memegang keningnya.
"Anu, yang mulia. Bolehkah aku bertanya, sebenarnya ada apa dengan api itu?"
Aku memberanikan diri dengan bertanya padanya. Sementara kedua orang tuaku memiliki sorot mata penasaran yang sama.
Sang imam menghela nafas.
"Kalian benar-benar tidak tahu yah? Api itu adalah perwujudan dari roh api, ifrit. Sampai saat ini sejauh yang aku ketahui dari berbagai catatan di kuil, tidak ada manusia yang pernah melakukannya sebelumnya."
Aku dan orang tuaku saling memandang satu sama lain dalam kebingungan dan rasa penasaran.
"Yang terpenting adalah kenapa roh seperti itu bisa muncul."
"Apakah itu sesuatu yang buruk?"
Ibuku bertanya dengan wajah khawatir.
"Dalam beberapa keadaan hal ini bisa menjadi hal yang bagus atau malah bisa menjadi hal yang amat sangat buruk. Seperti jika dia bisa menguasainya, maka aku jamin putramu ini akan menjadi penyihir api terhebat. Sebalik, jika tidak, dia bisa saja mati dan menyebabkan bencana."
"Bencana?"
"Yah, jika roh api itu tidak terkendali, maka dia akan menyerap kekuatan kekuatan sihirnya kemudian memberikan bencana yang menakutkan. Kita tidak tahu batasan sampai sejauh mana kekuatan roh api tersebut. Hanya saja, yang kamu ketahui adalah bahwa roh api itu sangat kuat. Diantara keempat roh, dialah yang terkuat dalam hal kehancuran."
Ibuku terlihat semakin ketakutan.
"Seandainya aku bisa mengendalikan api tersebut, apakah aku akan baik-baik saja?"
"Tentu saja, jika kau bisa melakukannya, maka kau akan baik-baik saja. Bahkan hal yang sangat baik dan cerah menunggumu di masa depan." Sang imam yang ternyata lebih cantik jika dilihat dari depan menjawabku dengan sedikit senyuman.
Aku termenung.
"Sena, apakah apakah ada cara mengendalikannya?"
"Negatif, saya tidak tahu caranya tuan. Tapi saya menyarankan, cobalah seperti ketika kau mengendalikan api yang biasanya."
"Begitu, baiklah."
"Apakah anda tahu, cara mengendalikannya."
Sebelum sempat aku mengeluarkan kata-kata, ayahku terlebih dahulu mengutarakan isi hatiku.
" Secara tepat tidak, tapi aku tahu beberapa metode yang patut dicoba."
"Syukurlah."
Ayahku terlihat senang.
"Pertama cobalah keluarkan lagi api yang seperti tadi!"
Perintahnya padaku.
Dengan sedikit konsentrasi aku mengeluarkan api. Dan api dengan wujud manusia setinggi sekitar 10 centi meter muncul di atas telapak tangan kananku yang terbuka. Kali ini, dia seperti dalam pose duduk bersila dengan tangan di dada.
"Hemmm,, begitu. Bisakah kau menghilangkannya?"
Kali ini aku memusatkan konsentrasi ku, aku menggenggam tangan ku dan apinya kali ini dengan mudah menghilang.
"Jadi begitu. Sepertinya ini akan baik-baik saja."
Raut wajah kami bertiga tiba-tiba berubah cerah mendengar hal itu.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengangkatmu sebagai muridku. Besok kita akan ke ibu kota. Bersiaplah!
"Haaahhh!!!"
Aku terkejut. Sama terkejutnya dengan kedua orang tuaku. Sementara dia mengatakan itu dengan entengnya sambil meminum teh yang ada di hadapannya dengan anggun.
Tanpa memperdulikan pendapat kami,dia telah memutuskannya dengan sebelah pihak. Namun diluar dugaan orang tuaku sepertinya malah merasa senang dengan hal itu.
"Terima kasih yang mulia!" Keduanya serempak.
Jawaban dari orang tuaku lebih mengagetkanku.
"Oi Milo, ucapkan terima kasih."
Ayahku menekanku dengan kata-katanya.
Aku tidak mengerti. Tapi aku pikir untuk mengikuti saja apa yang mereka inginkan.
"Terima kasih."
"Milo,,, dimana sopan santun mu?" Dengan sedikit wajah yang menakutkan dari ibuku.
"Maaf. Terima kasih guru!"
Sambil menundukan badanku tanda berterima kasih.
"Iya, iya, tidak apa-apa. Tidak usah sungkan begitu. Lagipula kita adalah keluarga sekarang. Dan aku pun tentu akan senang bisa menjalin hubungan yang baik dengan keluarga Leon."
Akhirnya , perbincangan kami pun semakin mencair. Kesan kaku dan berwibawa sang imam sekarang perlahan berangsur berkurang sedikit demi sedikit. Dia sekarang menjadi lebih "ramah". Setelah menghabiskan teh kami akhirnya perbincangan pun selesai. Kami Pun dipersilahkan kembali kerumah untuk mempersiapkan perjalanan ku besok pagi.
Bagi yg suka novel fantasi & romance mampir yuk,,,,
“That Time One Summoned Class In The Another World”
PREMIS:
Mengenai dunia paralel. Mc dibenci oleh Heroine, tapi si Heroine lama-kelamaan suka sama Mc. ]