Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Haris melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang sunyi dan sejuk. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, namun tak terlihat sosok siapa pun di dalamnya. Ia mendekati meja kerja besar yang tertata rapi, berniat menaruh berkas laporan yang baru saja ia selesaikan.
"Ayah?" panggilnya pelan, namun tak ada jawaban.
Saat ia hendak meletakkan berkas itu di tumpukan dokumen lain, sikunya tak sengaja menyenggol sebuah buku sampul kulit tua yang tergeletak di ujung meja. Buku itu terjatuh ke lantai dengan bunyi pelan, halamannya terbuka lebar.
Haris berlutut mengambilnya, namun tangannya terhenti saat melihat selembar foto yang terselip rapi di antara lembaran-lembaran itu. Ia meraihnya perlahan, dan seketika napasnya tertahan.
"Tante Kirana..." bisiknya terkejut.
Darah seketika berdesir hebat di tubuhnya. Ia berdiri perlahan, menatap foto itu tak berkedip. Mengapa foto mendiang ibu Kania tersimpan begitu rapi di meja ayahnya? Ada hubungan apa sebenarnya antara ayahnya dengan Tante Kirana?
"Apa yang sebenarnya terjadi..." bisiknya pelan, tangannya mencengkeram foto itu erat.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat dari luar pintu. Haris segera menyelipkan foto itu kembali ke tempat semula, menutup buku itu, dan berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa.
Pintu terbuka lebar, dan Tuan Darius melangkah masuk dengan wajah tenang. Ia berhenti sejenak saat melihat putranya berdiri di dekat mejanya.
"Haris? Ada apa kamu ke sini?" tanyanya lembut sambil berjalan mendekat.
Haris berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat. Ia menyodorkan berkas yang dibawanya dengan tangan yang berusaha tetap stabil.
"Aku hanya ingin mengantar laporan yang sudah selesai, Yah," jawabnya setenang mungkin. "Sekaligus ingin memberitahukan, jam dua nanti kita dijadwalkan bertemu klien di pusat kota."
Tuan Darius mengangguk pelan, "Baiklah. Terima kasih sudah memberitahu Ayah," ucapnya tenang. "Kenapa wajahmu tampak pucat, apa kamu sakit?"
Haris menelan ludah susah payah, menunduk sejenak untuk menghindari tatapan tajam ayahnya. "Tidak, Yah. Hanya sedikit lelah saja. Aku akan kembali ke ruanganku untuk bersiap."
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia segera berbalik dan melangkah keluar secepat mungkin. Di balik pintu yang tertutup, Tuan Darius berdiri diam menatap ke arah pintu itu. Matanya beralih ke arah buku kulit tua miliknya di atas meja.
"Kirana..." bisiknya, matanya berkaca-kaca, "Aku sudah berusaha mencari putrimu, Kania, tapi jejaknya benar-benar hilang seperti ditelan bumi."
-
-
-
Rico melajukan mobilnya menuju gedung pencakar langit pusat bisnis Blackwood Corp. Ia langsung menuju lantai paling atas, di mana ruang kerja utama Victor berada.
Tanpa perlu dipanggil, Rico masuk dengan langkah tenang dan berdiri di hadapan meja kerja besar itu. Victor sedang menatap dokumen di tangannya, namun segera meletakkannya saat merasakan kehadiran asistennya.
"Bagaimana perkembangannya?" tanyanya singkat, nada suaranya tetap datar.
Rico membuka map kecil yang dibawanya, lalu menyodorkan lembaran laporan keuangan terbaru ke hadapan Victor.
"Jauh melampaui dugaan kita, Tuan. Dalam waktu kurang dari satu minggu, Nona Kanaya sudah berhasil mengidentifikasi seluruh aliran dana yang diselewengkan, mengumpulkan bukti-bukti yang sangat kuat, dan memulihkan sebagian besar kerugian yang terjadi. Karyawan yang sempat membangkang kini patuh sepenuhnya. Bahkan mereka berani memberikan kesaksian tertulis tentang keterlibatan PT Arsena Group di balik semua itu."
Victor menatap angka-angka di atas kertas itu sekilas, namun sorot matanya sedikit berubah. Tidak ada senyum, tidak ada pujian berlebihan, namun ada kilatan pengakuan yang samar terlihat.
"Dia tidak membuang waktu," gumamnya pelan. "Dan dia tidak menggunakan cara yang lembut."
"Dia tegas namun adil, Tuan," tambah Rico. "Dia memberi kesempatan bagi mereka yang mau berubah, dan siap menindak tegas siapa pun yang masih berniat melawan. Nona Kanaya benar-benar memegang kendali sepenuhnya."
Victor menutup dokumen itu perlahan, lalu berdiri dan melangkah ke arah jendela kaca besar yang memandang ke arah kota.
"Baiklah. Pantau terus gerak-gerik PT Arsena Group. Mereka pasti tidak akan diam saja melihat rencana mereka gagal. Jangan biarkan mereka menyentuh sehelai rambut pun darinya."
"Siap, Tuan." Rico membungkuk hormat lalu berbalik hendak keluar, namun suara Victor kembali menahannya sesaat.
"Pastikan dia makan dan istirahat dengan cukup," ucapnya tanpa menoleh, nadanya terdengar seolah perintah biasa namun menyembunyikan perhatian yang tak ingin ia tunjukkan terang-terangan. "Aku tidak butuh aset yang rusak sebelum waktunya."
Rico tersenyum tipis dalam hati. "Baik, Tuan. Akan saya pastikan."
Rico membungkuk hormat sekali lagi, lalu berbalik perlahan menuju pintu. Ia menutupnya dengan lembut, meninggalkan ruangan luas itu kembali hening.
Victor masih berdiri diam di dekat jendela, menatap jauh ke bawah ke arah lalu lintas kota. Jarinya mengetuk pelan kaca dingin itu, seolah sedang memikirkan langkah selanjutnya. Ia tahu, pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan Kania kini berdiri tepat di garis depan.
-
-
-
Malam semakin larut saat mobil Rico berhenti pelan di halaman rumah Kania. Lampu-lampu taman menyala lembut, menerangi sosok yang berdiri tegak di samping Paman Remon. Begitu melihatnya, napas Kania tertahan sejenak.
Ia turun dari mobil dengan langkah teratur, lalu mendekat.
"Tuan Victor?" suaranya terdengar sedikit heran. "Ada apa? Kenapa Anda datang ke sini?"
Victor menatapnya tenang, lalu menjawab singkat, "Ada hal penting yang harus kusampaikan. Aku ingin memperkenalkan seseorang yang akan bekerja untukmu mulai sekarang. Dia akan menjadi asisten sekaligus pengawal pribadimu."
Ia menoleh ke arah pintu utama. "Keluar."
Pintu terbuka perlahan, dan sesosok pria melangkah keluar. Darah Kania seketika mendidih dan kakinya terasa lemas. Ia mengenali wajah itu dengan sangat jelas. Itu adalah Bian, mantan kekasih Luna, orang yang dulu sering berkunjung ke rumahnya.
"Kamu... Bian?" bisiknya tak percaya, matanya membelalak tajam. "Apa yang kamu lakukan di sini?!"
Bian menunduk dalam, suaranya rendah, "Saya di sini untuk melayani Anda, Nona Kanaya. Tuan Victor sudah memberi perintah kepada saya."
Kania menoleh cepat ke arah Victor, tangannya mengepal erat. "Kenapa dia?! Kamu harusnya tahu siapa dia kan? Dia orang dekat Luna! Bagaimana kamu bisa menaruh orang seperti dia di sisiku?!"
Victor tetap tenang, tidak sedikit pun tergoyahkan oleh kemarahan wanita itu.
"Justru karena dia tahu segalanya tentang Luna dan ibunya, dia adalah orang yang paling tepat untukmu sekarang," ucapnya tegas. "Dia tahu rahasia mereka, dia tahu kelemahan mereka. Dia tidak akan menyakitimu. Sebaliknya, dialah yang akan memastikan tidak ada bahaya yang mendekatimu. Aku yang akan menjamin itu."
Kania menatap Bian lekat-lekat, mencari jejak kebohongan di matanya. Namun yang ia temukan hanyalah ketakutan dan kepasrahan.
"Pilihannya hanya ada dua," lanjut Victor dingin. "Terima dia sebagai bagian dari perlindunganmu, atau biarkan dia pergi dan menghadapi bahaya sendirian. Keputusan ada di tanganmu."
Hening menyelimuti mereka sejenak. Kania menelan ludah susah payah. Ia tahu Victor tidak pernah memberi pilihan yang sia-sia. Dan ia juga tahu, Bian memegang kunci rahasia yang mungkin bisa menghancurkan keluarga yang telah menghancurkan hidupnya.
"Aku akan mengawasimu," ucap Kania tajam menatap Bian. "Sekali saja kamu berkhianat, aku sendiri yang akan menyerahkanmu pada mereka."
Bian mengangguk. "Saya mengerti, Nona. Dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
Victor memberi isyarat singkat dengan dagunya. "Paman Remon, Bian, masuklah ke dalam."
Keduanya segera menunduk hormat dan melangkah masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup perlahan, menyisakan hanya mereka berdua di teras yang diterangi cahaya lembut. Di kejauhan, mobil Rico masih menyala pelan, menunggu di halaman rumah.
Victor menatap Kania lekat-lekat, sorot matanya tak lagi sedingin biasanya, namun tetap penuh wibawa.
"Kita sudah sepakat jika kita adalah tunangan," ucapnya pelan namun jelas. "Apakah kamu tidak ingin memanggilku dengan sebutan lain? Sesuatu yang lebih pantas untuk status kita?"
Kania terdiam sejenak, menundukkan pandangannya. Hatinya berdebar tak menentu. Selama ini ia hanya menyapanya dengan sebutan 'Tuan', seolah jarak di antara mereka takkan pernah bisa dijembatani. Namun kini, kata 'tunangan' itu terasa begitu nyata dan dekat.
Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap kembali ke manik mata tajam itu.
"Apa... apa kau mengizinkannya?" tanyanya lirih.
Victor mengangguk pelan. "Terserah kau. Tapi aku tidak suka panggilan yang membuatku terasa asing bagimu."
Kania menarik napas panjang, lalu mengucapkannya dengan hati-hati, seolah takut salah.
"Vic..."
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭