Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanda
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela, membangunkan Keiko yang perlahan mengerjapkan matanya.
"..."
Ia masih berbaring beberapa saat, meredakan kesadaran yang baru terkumpul. Entah kenapa, tubuhnya terasa kurang segar pagi ini. "Badan pegal semua..." gumamnya sambil mengusap pelan tengkuknya. Mungkin semalam ia terlalu banyak bergerak dalam tidurnya.
Ia menoleh ke samping. "Shiro?"
Kasur di sebelah tempat tidurnya sudah kosong. Keiko tersenyum kecil. "Sudah jalan-jalan pagi lagi, ya."
Ia bangkit dari tempat tidur. Setelah merapikan selimut seadanya, Keiko berjalan menuju pintu yang mengarah ke rooftop.
Angin pagi langsung menyambut wajahnya begitu ia melangkah keluar.
"Hmm... enak..." Ia menarik napas panjang. Udara pagi masih terasa begitu sejuk. Keiko berjalan menghampiri satu per satu pot bunga, tangannya memungut daun kering yang berserakan di lantai, lalu sesekali mencabut bunga yang sudah layu.
"Maaf ya... kalian sudah waktunya diganti," bisiknya lembut.
Daun-daun kering itu dimasukkannya ke dalam kantong kecil yang biasa ia bawa. Setelah pekerjaannya selesai, Keiko berdiri tegak. Kedua tangannya direntangkan ke atas.
"Hmmm..."
Ia meregangkan tubuh perlahan—bahu, pinggang, lalu kedua lengannya. "Ah... baru terasa hidup."
Keiko tersenyum puas. Untuk sesaat, ia menikmati ketenangan itu seorang diri di bawah langit pagi.
"Ngeong."
Keiko langsung menoleh ke sumber suara. Di atas pagar rooftop, Shiro baru saja melompat turun dengan anggun, bulunya tampak sedikit lembap oleh embun pagi.
"Shiro!" Wajah Keiko langsung berbinar cerah. "Kamu dari mana saja?"
Shiro berjalan santai menghampirinya, seolah kucing itu baru saja pulang dari jalan-jalan biasa di sekitar kompleks. Namun, begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah, Keiko langsung membungkuk cepat.
"Mari sini."
Tanpa memberi kesempatan Shiro untuk menghindar, ia langsung mengangkat dan mendekap tubuh gempal itu ke dalam pelukannya.
Keiko mengangkat Shiro tinggi-tinggi. "Wah... berat juga ya kamu sekarang."
Meski berkata begitu, tawanya justru semakin lebar. Ia bahkan berputar pelan, membawa Shiro ikut berputar bersama angin pagi.
"Pulang pagi-pagi begini... kamu habis jalan-jalan, ya?" tanya Keiko penuh gemas.
Shiro hanya diam menatap wajah tuannya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
Keiko menurunkan Shiro sedikit, lalu tanpa aba-aba...
Muacch
Ia mengecup perut gempal kucing itu "Ngeong!" seolah protes.
"Hahaha... empuk banget. Cup, satu lagi ahh!"
Muacch!
Keiko benar-benar tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi pasrah Shiro. Ia akhirnya meletakkan Shiro kembali ke lantai. Sementara, Keiko kembali melanjutkan sisa peregangan tubuhnya, sesekali melirik dan tersenyum pada Shiro yang Tiba-tiba, memperhatikan seekor kupu-kupu kecil berwarna kuning melewatinya. Shiro langsung mengangkat kepalanya, telinganya tegak.
"Khi..khi...khi.."
Kupu-kupu itu terbang rendah, menari-nari mengitari deretan bunga di sepanjang pagar rooftop. Shiro mengikutinya perlahan. Satu langkah... dua langkah... lalu...
Pluk.
Ia melompat kecil, mencoba menangkap serangga bersayap itu dengan cakar depannya. Namun, kupu-kupu itu dengan gesit kembali terbang menjauh.
"Hahaha..." Keiko tertawa pelan melihat aksi peliharaannya.
***
Selang tiga puluh menit kemudian, keiko dan shiro sudah selesai sarapan dan Keiko sudah menyegarkan tubuhnya dengan mandi air dingin. Ia keluar dengan penampilan yang sudah siap untuk bepergian. Di kepalanya bertengger topi krem kesayangannya, sementara sebuah tas belanja berbahan kain menggantung pas di bahunya.
"Hmm... persediaan makanan di rumah mulai habis," gumamnya sambil mengecek isi tas.
Ia menoleh ke arah Shiro yang duduk di dekat pintu. "Shiro, mau ikut belanja sekalian kita jalan jalan yuk?"
Shiro menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap Keiko lekat-lekat. Shiro langsung bangkit dan berjalan cepat menghampiri pintu, seolah siap sedia.
Keiko terkekeh gemas.
"Hahaha..kamu paling senang jalan jalan yah"
Tak lama mereka sudah berjalan menyusuri jalan trotoar yang ramai oleh pejalan kaki. Keiko berjalan santai di depan, sementara si kucing abu-abu mengikuti dengan setia beberapa langkah di belakangnya.
Sesekali Keiko menoleh ke belakang untuk memastikan. Kucing abu-abu itu masih ada.
"Bagus. Jangan jauh-jauh," ucap Keiko lembut.
"Ngeong."
Namun, beberapa meter kemudian, si kucing abu-abu melambat lalu berhenti. Hidungnya bergerak-gerak pelan. Kucing itu mulai mengendus tiang listrik di pinggir jalan, lalu beralih ke pagar sebuah rumah, dan terakhir pada batang pohon kecil di tepi trotoar.
Keiko kembali menoleh dan terkekeh kecil.
Si kucing abu-abu segera kembali melangkah cepat, menyusul dan menyamakan ritme jalannya di belakang Keiko.
Namun, tanpa diketahui oleh gadis itu, indra penciumannya tidak sedang menangkap aroma kucing biasa. Jejak aroma Bakeneko mulai terasa semakin pekat dan sering ditemukannya di sepanjang jalan ini.
Mereka sudah sampai di Mini market , keiko menyapa pemilik toko yang sedang menyiram bunga "Ohayo bibi.... bunga nya sangat cantik" bibi pemilik menoleh lalu membalas drngan senyuman nya namun pandangan nya melihat ke arah mahluk kecil yang mengikuti keiko " ohayo keiko-san... wah pagi ini ada pengawal ya?? "
keiko menoleh ke shiro " bibi boleh aku mengajak nya kedalam? "
bibi mengangguk pelan " tentu.. asal kamu awasi ya.. didalam banyak ikan segar yang menggoda "
keiko terkekeh-kekeh "siap bibi... " keiko masuk melangkah ke dalam minimarket, diikuti oleh shiro dibelakang nya. bibi itu menoleh melihat gerak gerik Shiro hanya bisa tertawa kecil sambil melanjutkan menyiram bunganya
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Hari itu ia membeli cukup banyak persediaan bahan makanan; aneka sayuran segar, buah-buahan, bumbu dapur, dan tentu saja... beberapa kaleng makanan basah favorit si kucing abu-abu.
"Kita pulang shiro" ucap Keiko tersenyum puas sambil menenteng dua kantong belanja di kedua tangannya.
"Ngeong," balas si kucing abu-abu singkat.
Namun, begitu mereka melangkah keluar melewati pintu minimarket... langkah kaki Keiko mendadak terhenti di tempat.
"Lho?"
Di halaman depan minimarket, tampak seekor kucing oren sedang duduk santai di dekat pot bunga. Tidak jauh dari sana, seekor kucing hitam tengah asyik menjilati kaki depannya. Lalu, ada seekor kucing putih, seekor kucing belang, dan bahkan seekor lagi yang berwarna abu-abu serupa.
Keiko mengedarkan pandangannya dengan takjub. "Hm... ramai sekali hari ini."
Anehnya, tak satu pun dari kucing-kucing itu bersuara atau mengeong meminta makanan. Mereka hanya duduk diam, memandang lurus ke arah pintu minimarket dengan tatapan yang terasa begitu intens.
"Ngeong."
Suara langkah kecil terdengar dari belakang. Shiro akhirnya keluar dari dalam minimarket. Suasana langsung berubah.
Semua Kucing-kucing itu membeku di tempat.
Tak seekor pun berani bergerak. Perlahan, bulu di tengkuk mereka mulai berdiri. Seluruh tatapan tajam mereka kini sepenuhnya tertuju pada Shiro.
Shiro hanya berdiri diam. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi. Tidak menggeram, juga tidak menunjukkan ancaman terbuka.
Namun... tak seekor pun dari mereka berani mendekat.
Mereka mengenalinya.
Dan mereka tahu... gadis itu berada dalam perlindungannya.
"Hm?"
Keiko berkedip bingung. "Kok jadi diam semua?"
Ia menoleh ke arah Shiro. Shiro hanya duduk tenang di samping kakinya.
"Ngeong."
Keiko tersenyum kecil. "Nggak apa-apa... Sini..."
Ia berjongkok. Tangannya perlahan terulur ke arah seekor kucing putih yang duduk paling depan.
"Kamu lucu..."
Baru beberapa senti lagi...
WUSSH!*
Seekor bayangan abu-abu melesat cepat.
"NGRRRAAAWWWW!!"
Shiro menghantam tubuh kucing putih itu dengan keras.
"MIAAAU!"
Kucing putih itu terpental. Dalam sekejap... seluruh kucing yang tadi berkumpul langsung berhamburan.
Ada yang meloncat ke pagar. Ada yang berlari masuk ke gang. Ada pula yang memanjat pohon di tepi jalan. Hanya dalam hitungan detik... tak seekor pun tersisa.
Keiko refleks menarik tangannya. "Eh?! Shiro!"
(Jangan sentuh. Dia bukan kucing biasa.)
Keiko menghela napas panjang. Lalu menoleh ke arah Shiro.
Shiro sudah kembali duduk tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa. Keiko menggeleng pelan. "Hahaha... dasar kamu. Cemburuan banget."
Shiro hanya mengedipkan sebelah matanya.
Keiko berjongkok di depannya. Lalu mengusap pelan kepala Shiro. "Iya... aku nggak jadi elus mereka. Senang?"
Shiro hanya memandang wajah Keiko.
Perjalanan pulang kembali terasa tenang.
Keiko bangkit lalu meraih kantong belanjanya dan berjalan lebih dulu. Sementara Shiro berlari kecil mengikuti di belakangnya. Sesekali, ia berhenti, menoleh ke belakang, lalu mengendus udara, baru kemudian kembali menyusul Keiko.
Keiko yang melihat itu hanya tersenyum.
"Ayo. Nggak usah lihat-lihat. Nanti kita gak sampai-sampai nih"
Shiro segera mempercepat langkahnya, berjalan di sisi Keiko.
Sementara di belakang mereka, jalanan itu kembali sunyi. Tak terlihat lagi seekor kucing pun.
Sesampainya di rumah...
Keiko langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Haa..."
"Capek juga."
Dua kantong belanja masih tergeletak di dekat pintu. Keiko menyandarkan kepalanya ke sofa. Matanya menatap langit-langit.
Beberapa saat kemudian..."Ngeong."
Shiro baru masuk. Ia melompat ringan ke atas sofa, lalu duduk tepat di dekat kaki Keiko.
Keiko menoleh. Sepasang mata bulat berwarna keemasan itu sedang menatapnya. Keiko tak bisa menahan senyum.
"Hahaha... Kamu lucu banget."
Ia kembali teringat kejadian di depan minimarket. "Cuma gara-gara aku mau elus kucing lain... kamu sampai marah begitu."
Shiro hanya memiringkan sedikit kepalanya.
Keiko mengulurkan kedua tangannya. "Mari sini."
Tanpa protes, Shiro membiarkan dirinya digendong. Keiko memeluk tubuh gempal itu erat-erat. "Dasar... kucing posesif."
Ia membaringkan Shiro di sampingnya. Tangannya langsung mengusap perut bulat yang dipenuhi bulu lembut. "Hmm... empuk."
Shiro memejamkan mata, berusaha tetap tenang.
Keiko tersenyum jahil. "Muaachh" Ia mengecup pelan perut Shiro.
"Ngeeeong..."
"Hahaha... Geli ya? Muacch." Satu kecupan lagi.
"Ngeeeooong..."
Keiko tertawa semakin keras. "Lucu banget." Tangannya terus mengusap pelan perut Shiro. "Kalau saja kamu manusia... pasti bakal susah cari pacar kalau posesif begitu."
"..."
Shiro membuka matanya perlahan. Tatapannya hanya tertuju pada wajah Keiko.
Keiko sama sekali tidak menyadarinya. keiko tersenyum puas, lalu mengusap lembut kepala Shiro. "Sudah... Aku cuma bercanda. Jangan ngambek lagi, ya."
"Ngeong..."
Keiko bangkit dari sofa. "Aku bereskan belanja dulu."
Ia membawa kantong-kantong belanja menuju dapur, meninggalkan Shiro sendirian di ruang tamu.
Shiro tetap berbaring di atas sofa.
Suara Keiko yang sedang membereskan belanja terdengar samar dari dapur. Ia perlahan membuka matanya.
...
Ucapan Keiko tadi... masih terngiang
"Kalau saja kamu manusia..."
Shiro perlahan memalingkan wajah. Seandainya... Keiko mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Apakah gadis itu... masih akan tersenyum seperti tadi?
...
Shiro melompat turun dari sofa. Dengan langkah tenang... ia berjalan menuju pintu depan. Sesaat sebelum keluar... ia berhenti.
Hidungnya bergerak pelan. Aroma itu... masih tertinggal. Bukan satu. Melainkan beberapa.
Shiro menoleh ke arah dapur. Keiko masih sibuk menyusun bahan makanan ke dalam lemari. Tanpa mengetahui apa pun.
Shiro membuka sedikit pintu yang memang tidak pernah dikunci penuh oleh Keiko. Lalu melompat keluar.
Angin siang menyapu bulunya. Tatapan Shiro mengarah ke ujung gang.
...
Mereka belum pergi.
Mereka hanya... menunggu.
Shiro tetap berdiri, Tidak bergerak Menatap ujung gang yang lengang.
Sementara di dalam rumah... terdengar suara Keiko bersenandung pelan dari dapur. Seolah semuanya masih seperti hari-hari biasa. Padahal... sesuatu perlahan mulai mendekat.