Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Langkah kaki Humairah terasa begitu ringan saat melewati gerbang pembatas pesantren.
Dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya, ia menggenggam erat dompet kulit hitam milik suaminya.
Sesampainya di pondok, Humairah berjalan ke arah rumah utama, berniat menitipkan dompet tersebut kepada sang ibu mertua atau langsung mencari Fathan jika suaminya itu berada di kediaman.
Namun, di dalam ruang tamu dalem, situasi justru semakin lepas kendali.
Zakia yang merasa harga dirinya diinjak-injak akibat penolakan Fathan, justru semakin nekat.
Didorong oleh rasa egois dan dukungan terang-terangan dari Nyai Latifah, Zakia bangkit dari berlututnya.
Sebelum Fathan sempat menghindar, Zakia maju dengan cepat dan langsung memeluk tubuh Fathan dengan erat, menangis histeris di dada pria itu.
"Lepas, Zakia! Lepaskan saya!" Fathan berteriak murka, berusaha sekuat tenaga mendorong bahu Zakia menjauh, namun wanita itu mencengkeram jasnya dengan begitu kuat.
Tepat pada detik yang sangat salah itu, Humairah melangkah melewati ambang pintu depan yang terbuka lebar.
"Assalamualaikum...."
Suara salam yang lembut itu seketika memotong perdebatan panas di dalam ruangan.
Humairah langsung mematung di tempatnya berdiri saat melihat seorang wanita modis yang tidak ia kenal sedang memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Dompet yang dipegangnya seketika terlepas dari genggaman, jatuh ke atas lantai marmer.
Dada Humairah mendadak terasa sesak, pasokan oksigen di sekitarnya seolah menguap begitu saja.
Melihat kedatangan Humairah, Zakia tidak langsung melepaskan pelukannya.
Ia justru menoleh ke arah pintu dan tersenyum sinis, merasa berada di atas angin.
Begitu pula dengan Nyai Latifah yang ikut tersenyum sinis, menganggap ini adalah momen terbaik untuk menghancurkan mental menantu yang dibencinya.
"Abi...." lirih Humairah, suaranya bergetar hebat, menatap Fathan dengan pandangan mata yang mulai berkaca-kaca penuh luka.
Fathan yang melihat istrinya berdiri di sana dengan wajah pucat pasi langsung dilanda kepanikan luar biasa.
"Humairah! Ini tidak seperti yang kamu li—"
"Humairah, perkenalkan, dia Zakia. Calon istri Fathan yang baru," ucap Nyai Latifah memotong kalimat putranya dengan nada suara yang sengaja dikeraskan dan penuh kemenangan.
"Dia wanita terpandang yang jauh lebih pantas mendampingi anakku daripada kamu!"
"UMI!!"
Sebuah bentakan menggelegar sarat akan amarah yang teramat sangat seketika memotong kalimat kejam Nyai Latifah.
Suara bariton yang begitu berwibawa itu milik Kyai Umar, yang baru saja datang dari rapat dengan para guru di kantor madrasah.
Langkah kaki sang Kyai berderap cepat memasuki rumah, wajah sepuhnya merah padam menahan murka melihat kezaliman yang sedang terjadi di dalam rumahnya sendiri.
Bentakan menggelegar Kyai Umar belum sempat mereda di udara ketika kesadaran Humairah perlahan-lahan meredup.
Rasa syok yang menghantam dadanya begitu hebat, berpadu dengan kondisi tubuhnya yang sebenarnya belum pulih benar dari sakit.
Pandangannya menggelap, dan dengan tubuh gemetar, Humairah langsung jatuh pingsan ke atas lantai marmer yang dingin.
"Humairah!!"
Teriakan Fathan melengking tinggi, dipenuhi rasa panik dan ketakutan yang luar biasa.
Dengan sentakan kasar yang sama sekali tidak memedulikan kesopanan lagi, Fathan langsung melepaskan Zakia, mendorong wanita itu hingga terhuyung ke samping.
Fathan menjatuhkan dirinya di lantai, berlutut dan langsung membopong tubuh istrinya yang terkulai lemas ke dalam pelukannya.
Wajah Humairah pucat pasi bagai kain kafan. Tanpa memedulikan keberadaan Umi, Zakia, ataupun Abahnya yang baru datang, Fathan segera membawa tubuh istrinya pergi dari ruangan terkutuk itu, melangkah lebar menuju kamarnya di bagian dalam dalem untuk memberikan pertolongan pertama.
Di ruang tamu, suasana seketika menjadi sedingin es.
Tatapan mata Kyai Umar tertuju tajam pada Nyai Latifah dan Zakia, memancarkan amarah yang siap meledak namun tetap tertahan oleh kewibawaannya sebagai seorang ulama.
"Duduk!" perintah Kyai Umar, suaranya rendah namun bergetar hebat karena menahan murka.
Kyai Umar meminta Zakia dan istrinya duduk kembali di sofa. Nyai Latifah yang melihat suaminya semarah itu mulai ciut, sementara Zakia langsung menundukkan kepala, kehilangan seluruh keangkuhannya yang tadi sempat membumbung tinggi.
Kyai Umar kemudian menoleh ke arah pembatas ruang tengah, mendapati putra bungsunya yang sejak tadi mengintip dengan wajah tegang.
"Abraham, kemari. Ikutlah duduk untuk menjadi saksi," panggil Kyai Umar tegas.
Beliau ingin segala kekacauan, fitnah, dan niat buruk yang terjadi di dalam rumahnya diselesaikan detik ini juga secara transparan, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
Kyai Umar duduk tegak dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut, sorot matanya yang tajam bak elang menghujam lurus ke arah dua wanita di hadapannya.
Atmosfer di ruang tamu itu terasa begitu menghimpit, membuat siapa saja kesulitan untuk sekadar menarik napas dalam-dalam.
"Siapa yang mau menjelaskan tentang kejadian ini?!" tanya Kyai Umar dengan nada suara yang rendah namun sarat akan penekanan yang mengintimidasi.
Mendengar gertakan sang kepala keluarga, Nyai Latifah dan Zakia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Keangkuhan yang beberapa menit lalu mereka pamerkan di hadapan Humairah menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa takut yang mencekam.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara atau menatap langsung mata sepuh Kyai Umar.
Melihat keheningan yang pengecut itu, Abraham akhirnya mengambil napas panjang. Ia memajukan posisi duduknya, memantapkan hati untuk mengungkap kebenaran.
"Biar Abraham yang menceritakan semuanya, Abah."
Abraham menatap Zakia dengan pandangan menghina sebelum mengalihkan pandangannya pada sang ayah.
"Wanita ini, namanya Zakia, masa lalu Mas Fathan. Kedatangannya ke sini bukan karena niat baik, Abah. Dulu, dia yang telah menghancurkan mental Mas Fathan. Zakia mempermainkan perasaan Mas Fathan dan menjadikan ketulusan kakak saya sebagai bahan taruhan bersama teman-teman sosialitanya. Akibat kekejamannya, Mas Fathan sampai mengalami trauma mendalam pada wanita. Dan hari ini, Umi justru menyambutnya, bahkan meminta Mas Fathan menceraikan Mbak Humairah demi wanita yang tidak punya harga diri ini!"
"DIAM, ABRAHAM!!" jerit Nyai Latifah, wajahnya memerah padam karena kedok dan rencana busuknya dikuliti habis-habis oleh anak kandungnya sendiri.
"Kamu anakku, darah dagingku! Kenapa kamu malah memihak wanita miskin itu?!"
"DIAM, LATIFAH!!" bentak Kyai Umar dengan suara yang menggelegar, memotong kalimat istrinya.
Panggilan nama langsung tanpa embel-embel 'Umi' itu menjadi tanda bahwa kesabaran sang Kyai telah mencapai batas puncaknya.
Nyai Latifah seketika terbungkam, tubuhnya gemetar melihat sang suami yang benar-benar murka.
Sementara itu, Abraham mengepalkan tangannya di bawah meja.
Jantungnya berdegup kencang. Meskipun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan rasa cinta kepada Humairah—rasa kagum yang ia kubur dalam-dalam demi menghormati pernikahan kakaknya—tapi sebagai adik ipar, ia benar-benar tidak terima dengan kezaliman yang dilakukan oleh Umi dan Zakia terhadap Humairah.
Ia tidak akan membiarkan wanita sebaik Humairah diinjak-injak lagi.
Di sisi lain dalem, tepatnya di dalam kamar lama Fathan, suasana dipenuhi oleh kepanikan yang sunyi.
Fathan duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang luar biasa cemas. Air matanya sendiri sudah menetes, meratapi kondisi istrinya yang terkulai tak berdaya.
Fathan menggosokkan minyak kayu putih ke telapak tangan, leher, dan di bawah hidung Humairah dengan gerakan gemetar.
Ia terus memijat lembut pelipis istrinya yang terasa dingin.
"Humairah...Sayang, bangun..." bisik Fathan, suaranya parau dan terputus-putus oleh rasa takut yang mencekat tenggorokan.
"Abi mohon bangun, Sayang. Abi bisa menjelaskannya. Demi Allah, tidak ada wanita lain di hati Abi selain kamu. Tolong jangan seperti ini..."
Fathan menggenggam jemari Humairah yang lemas, membawanya ke bibirnya dan menciumnya berulang kali dengan takzim.
"Bangun, Sayang. Jangan tinggalkan Abi..." ucap Fathan dengan wajah khawatir karena sang istri belum sadarkan diri dari pingsannya.
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏