Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SI CANTIK YANG TERNYATA AHLI PARKOUR (KELEWAT BATAS)
Bagi empat kembar De Calvi, ruko Palmerah yang mereka jadikan markas taktis Aegis di Jakarta adalah sebuah benteng pertahanan yang sangat ideal. Secara arsitektur, ruko tiga lantai itu telah diperkuat dengan kaca antipeluru level empat, dinding beton bertulang baja, dan pintu masuk lapis ganda dengan enkripsi biometrik yang dirancang sendiri oleh Marc. Dari luar tampak seperti ruko konveksi atau kantor agensi biasa, namun di dalamnya adalah zona perimeter tinggi yang tidak akan bisa ditembus bahkan oleh regu komando militer sekalipun.
Namun, ada satu variabel tak terduga yang luput dari kalkulasi taktis mereka: struktur atap ruko-ruko di kawasan Palmerah yang saling menempel rapat, berjejer vertikal, dan membentuk jalur labirin udara yang sangat disukai oleh para pencinta olahraga ekstrem... atau dalam kasus hari ini, oleh permaisuri daster mereka sendiri, Alya Putri.
Semua ini bermula pada hari Rabu pagi yang cerah ketika seekor kucing persia putih milik Ibu RT sebelah ruko melompat kabur ke atas atap akibat terkejut mendengar suara klakson bajaj. Sebagai tetangga yang menjunjung tinggi kerukunan warga dan diplomasi antar-lingkungan, Alya tidak bisa tinggal diam mendengar tangisan Ibu RT di bawah.
Tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan unit komando suaminya, Alya nekat memanjat tangga jemuran ruko, membuka palka atap, dan melangkah keluar ke area udara terbuka dengan daster batik motif parang warna oranye menyala yang dikat kedua ujung bawahnya di paha agar tidak membatasi ruang gerak.
Di ruang kendali siber lantai bawah, Marc sedang asyik memantau pergerakan bursa saham Eropa ketika sensor giroskopik dan deteksi tekanan beban di atap ruko mendadak berkedip-kedip merah di layar monitornya.
"Deteksi anomali pada sensor getaran atap," lapor Marc melalui radio internal, suaranya yang datar mendadak naik satu oktaf karena terkejut. "Massa beban sekitar empat puluh lima kilogram... bergerak dengan kecepatan linier yang tidak wajar di atas genteng seng. Ini bukan pergerakan taktis musuh, polanya terlalu... acak dan tidak beraturan."
Lucien yang sedang menikmati kopi hitamnya langsung menaruh cangkir porselennya dengan hentakan keras. "Julien, Etienne, periksa kamera eksternal lantai tiga sekarang!"
Etienne melompat dari sofa, meraih tablet kendali kamera publik, lalu memutar sudut pandang lensa CCTV perimeter atas sejauh 180 derajat. Seketika itu juga, mata Etienne membelalak lebar, es kopi susu di mulutnya hampir saja menyemprot layar tablet.
" Mon Dieu... " gumam Etienne dengan tangan gemetar. "Lucien, Marc, Julien... kalian harus melihat ini. Ini tidak masuk akal secara biologis. Istri kita... dia sedang terbang di atas ruko tetangga!"
Di layar monitor, tampak sosok Alya Putri sedang melakukan gerakan cat leap—melompat dari bibir atap ruko Aegis menuju ke langkan jendela ruko konveksi di sebelahnya yang berjarak hampir dua meter. Kain dasternya berkibar tertiup angin Jakarta, menampilkan kombinasi gerakan kaki yang sangat lincah, ringan, dan penuh presisi layaknya seorang atlet parkour profesional Prancis yang biasa berlatih di pinggiran kota Evry.
BRAK!
Julien menendang pintu akses lantai tiga hingga terbuka lebar. Dia, Lucien, dan Etienne melompat keluar ke area balkon atas, menatap ke arah atap ruko tetangga dengan jantung yang berpacu kencang karena cemas setengah mati.
"Alya! Turun sekarang juga! Itu berbahaya!" teriak Lucien, wibawa kepemimpinannya yang biasanya mampu membungkam para bos mafia Eropa kini terdengar sangat panik dan penuh ketakutan akan keselamatan istrinya.
Alya, yang saat itu sedang berjongkok di atas bubungan atap ruko lantai tiga milik warga sambil memegangi kucing persia putih yang ketakutan di dalam dekapannya, menoleh ke arah balkon ruko Aegis dengan wajah tanpa dosa.
"Bentar, Bang Lucien! Ini mpus-nya Ibu RT kasihan meler banget idungnya ketakutan di atas sini! Tanggung, dikit lagi saya sampai ke tangga jemuran sebelah sana!" sahut Alya berteriak balik, suaranya bersaing dengan riuh gemuruh suara lalu lintas jalanan Palmerah di bawah.
Sebelum Lucien sempat membalas, kucing di pelukan Alya mendadak mencakar kecil tangan Alya karena kaget melihat burung dara yang lewat. Refleks, Alya mundur satu langkah. Namun, kakinya menginjak bagian genteng yang rapuh karena pelapukan cuaca.
KRETEK... PYAR!
Genteng semen itu hancur. Tubuh mungil Alya langsung kehilangan keseimbangan dan merosot jatuh dari ketinggian atap lantai tiga menuju ke arah kanopi kain terpal toko kelontong di bawahnya yang berjarak hampir enam meter.
"ALYA!" teriak keempat kembar De Calvi secara serentak dari posisi mereka masing-masing. Etienne bahkan sudah bersiap untuk melompat dari balkon demi menjadi bantalan manusia bagi istrinya.
Namun, apa yang terjadi dalam waktu dua detik berikutnya benar-benar membuat teori fisika dan taktik militer milik klan De Calvi jungkir balik.
Alih-alih jatuh berdebam dengan tragis, Alya memanfaat momentum gravitasi dengan sangat genius. Dia melakukan gerakan safety roll—berguling secara diagonal di atas kanopi kain terpal yang lentur untuk meredam kejut hantaman, memanfaatkan gaya pegas terpal untuk melentingkan tubuhnya kembali ke udara, lalu tangan kirinya dengan sangat akurat mencengkeram pipa besi tiang papan reklame toko obat yang menonjol di dinding.
Dengan satu ayunan tubuh yang anggun ( lache ), Alya berputar 360 derajat di tiang besi tersebut, melepaskan cengkeramannya pada waktu yang tepat, lalu mendarat dengan kedua kaki rapat ( precision landing ) di atas kap mesin sebuah mobil pikap sayur yang sedang berhenti di lampu merah bawah ruko.
DUG!
Alya berjongkok di atas kap mobil, satu tangannya menyentuh besi kap untuk menjaga keseimbangan, sementara tangan kanannya masih mendekap erat sang kucing putih dengan aman. Napasnya terengah-engah, helai rambut hitamnya berantakan, namun matanya berbinar penuh adrenalin yang meledak-ledak.
"Gokil! Ternyata tontonan video YouTube abang-abang parkour Prancis seminggu kemarin ada gunanya juga buat dipraktikin!" seru Alya pada dirinya sendiri dengan senyum puas yang sangat lebar.
Satu menit kemudian, area lampu merah Palmerah mendadak gempar. Bukan karena ada kecelakaan, melainkan karena empat pria asing bertubuh jangkung, tegap, dengan wajah setampan model majalah Vogue Paris, berlari kencang menerobos kemacetan jalanan hanya untuk mengepung sebuah mobil pikap sayur yang mengangkut kangkung dan sawi.
Lucien langsung mengangkat tubuh Alya turun dari kap mesin mobil dengan kedua tangannya yang gemetar hebat karena syok. Dia mendekap tubuh istrinya itu begitu erat ke dada bidangnya, seolah-olah jika dia melepaskannya sedetik saja, Alya akan kembali terbang ke langit Jakarta.
"Kau gila, Alya... kau benar-benar kelewat batas," bisik Lucien dengan suara baritonnya yang bergetar penuh emosi yang campur aduk antara marah, panik, dan lega yang luar biasa. "Jika kau terluka atau... atau jatuh ke aspal tadi, aku bersumpah akan meratakan seluruh ruko di kawasan ini dengan tanah."
"Aduh, Bang Lucien, sesek nih pelukannya, pelan-pelan napah!" omel Alya, meskipun dia tetap menyandarkan kepalanya di dada Lucien yang berdetak sangat cepat. "Lagian saya kan selamat, nih mpus-nya juga sehat walafiat cuma rontok dikit bulunya."
Julien mengambil kucing itu dari tangan Alya dengan satu tangan, lalu menyerahkannya pada Ibu RT yang berlari mendekat sambil menangis haru. Setelah itu, Julien kembali menatap Alya dengan pandangan matanya yang dingin namun dipenuhi kilatan analisis taktis yang dalam.
"Gerakan safety roll di atas kanopi terpal tadi... sudut kemiringan tubuhmu berada pada angka empat puluh lima derajat, tepat untuk membuang energi kinetik jatuh bebas," urai Julien dengan nada datar yang sangat serius. "Dan teknik lache di tiang papan reklame membutuhkan kekuatan otot inti ( core muscle ) yang luar biasa untuk ukuran wanita sipil tanpa latihan militer. Alya, siapa sebenarnya yang melatih refleks motorikmu selama ini?"
"Nggak ada yang latih, Bang Julien! Itu namanya refleks emak-emak kalau liat barang diskonan mau diambil orang, atau refleks pas dikejar anjing herder komplek waktu kecil!" jawab Alya asal, merapikan dasternya yang penuh noda debu genteng semen.
Etienne maju, langsung mengambil selembar tisu basah dari saku jas kasualnya dan mengusap noda hitam di pipi Alya dengan sangat telaten, meskipun wajah ketampanannya masih tampak pucat karena syok. "Ah, permaisuriku... pesonamu sebagai ahli parkour jalanan daster memang sangat eksotis, tapi tolong jangan pernah ulangi lagi. Jantungku yang berharga ini rasanya hampir copot dan menggelinding ke selokan Palmerah tadi melihatmu berputar di tiang besi itu."
Marc yang memantau dari kejauhan melalui saluran komunikasi nirkabel akhirnya melangkah keluar dari pintu ruko Aegis dengan laptop di tangan. Wajahnya tampak sangat lelah secara psikologis menghadapi tingkah laku istrinya yang selalu berada di luar jangkauan logika algoritma komputer.
"Aku sudah menghapus tiga klip rekaman video amatir dari ponsel warga sekitar yang sempat merekam aksi melompatmu di atas ruko tadi," kata Marc sambil membetulkan letak kacamatanya. "Judul video yang mereka siapkan di media sosial adalah 'Spiderman Versi Daster Palmerah'. Jika video itu viral, sistem deteksi identitas interpol akan langsung mengarahkan satelit pemantau ke ruko kita dalam waktu dua jam."
Alya menyengir kuda, merasa bersalah setelah melihat keempat suaminya benar-benar terpukul secara mental akibat aksi nekatnya menyelamatkan seekor kucing. Dia berjalan mendekati Marc, lalu menggandeng lengan pria genius itu dengan manja.
"Iya, iya, maafin Alya ya abang-abang sayang... Alya janji nggak bakal main lompat-lompatan di atap lagi deh," bujuk Alya dengan nada suara yang sengaja dibuat seimut mungkin, sebuah senjata pemungkas domestik yang selalu berhasil meluluhkan kedinginan para penguasa bawah tanah Eropa ini. "Sebagai gantinya, siang ini saya masakin sop buntut sapi yang kuahnya bening, kaldunya gurih, plus sambal ijo yang pedasnya nampol! Gimana? Mau ya?"
Mendengar menu makanan rumah tangga buatan Alya, pertahanan mental taktis klan De Calvi langsung runtuh seketika tanpa sisa. Rasa panik dan amarah mereka menguap bersama angin siang Jakarta yang mulai menyengat.
Lucien menghela napas panjang, merangkul pundak Alya untuk menuntunnya kembali masuk ke dalam ruko yang aman. "Baiklah. Tapi mulai hari ini, Julien akan memasang jaring pengaman taktis di sekeliling palka atap, dan kau... dilarang menonton video kompilasi olahraga ekstrem di YouTube tanpa pengawasan dari Marc."
"Yah, kok diproteksi banget sih, Bang? Padahal saya baru mau belajar teknik wall run buat naik ke lantai dua kalau kunci ruko ketinggalan," protes Alya manja.
"Tidak ada wall run di rumah ini, Alya!" sahut Lucien, Marc, Julien, dan Etienne secara bersamaan dengan nada yang sangat mutlak, memicu tawa renyah dari Alya yang menggema membelah hiruk-pikuk kawasan Palmerah.
Dan hari itu, markas Aegis kembali ke rutinitas domestiknya yang penuh kehangatan. Dinasti mafia paling berbahaya di Eropa yang ditakuti oleh seluruh kartel internasional, hari ini harus mengakui keunggulan taktis dari seorang gadis Jakarta berpakaian daster yang ternyata memiliki bakat terpendam sebagai ahli parkour ekstrem kelewat batas demi menyelamatkan seekor kucing persia tetangga.