Bercerita tentang kisah cinta segitiga antara Mayra , Rama dan Marcel' sahabat Rama
Setahun berpacaran akhirnya Rama mempersunting Mayra, di usia pernikahan pertama Mayra tengah hamil buah cinta mereka dan akhirnya Mayra melahirkan putra kecilnya yang diberi nama Darren Adiguna
Pada usia pernikahan ke-4 masalah besar datang melanda keluarga kecil itu, dari masalah perusahaan yang akan diakuisisi serta masalah Darren harus dirawat dirumah sakit karena sakit parah.
Itu semua membuat Rama frustasi, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Akhirnya Rama meminta bantuan pada Marcel sahabat yang sekarang menjadi musuhnya. Marcel bersedia membantu Rama dengan syarat Rama harus menukarnya dengan istri tercintanya. Entah setan apa yang merasuki Rama sampai ia menerima syarat dari Marcel "Kamu bisa membawa Mayra setelah putraku mendapatkan donor sumsum tulang belakang"
🌹Next in bacanya ya readers 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu_Merdeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedekatan
Hari ini tepat sepuluh hari aku merawat Rama, dan hari ini pula Rama sudah diperbolehkan pulang kerumahnya, tetapi tetap harus melakukan check up seminggu sekali sampai keadaannya benar-bebar pulih.
Di rumah sakit
Aku membantu mamanya Rama mengepak pakaian dan barang-barang pribadi milik Rama, setelah itu aku membantu membawakan babang-barang itu keluar, sedangkan mamanya Rama membantu Rama mendorong kursi rodanya keluar dari rumah sakit menuju lobi.
Setelah sampai di lobi, aku memberikan semua barang-barang Rama pada pak Ino, lalu kita semua membantu Rama naik ke dalam mobil.
Akupun ikut naik kedalam mobil, karena mamanya Rama memaksaku untuk ikut mengantar mereka pulang kekediamannya.
Didalam mobil mamanya Rama mulai menginstruksikan sesuatu padaku
"Mayra nanti di depan suamiku kamu jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya lagi, karena suamiku tidak suka dengan orang yang terlalu merendahkan dirinya. Kamu bisa panggil kami dengan sebutan Om sama Tante, atau nggak kamu juga bisa panggil Mama dan Papa. Apa kamu mengerti?" titah mamanya Rama dengan tegas
"Baik Tante" ucapku pura-pura menurut
"Huh... bercanda macam apa ini, bisa-bisa aku makin terjebak dengan keluarga ini. Tetapi kalau aku tak menuruti perkataan mereka, aku akan terkena masalah yang besar lagi, aku harus gimana dong... kenapa kehidupan ku jadi seperti drama sinetron Maju Kena Mundur Kena" celotehan ku dalam hati
"May kamu jangan gugup gitu, Papa ku orangnya baik kok, sifatnya hampir mirip sama aku. Kemarin kamu belum sempat melihat papaku karena beliau pergi ke Australia untuk perjalanan bisnis, dan pagi tadi beliau baru bisa pulang." kata Rama memegang kedua tanganku, ia mencoba menenangkan perasaan ku yang tak karuan
Akhirnya kita sampai di kediaman keluarga besar Adiguna, rumah yang sangat megah dengan nuansa kastil berwarna putih. Halaman rumahnya pun terlihat luas dipenuhi dengan rumput dan tanaman hias. Di samping rumah juga ada lapangan golf yang sangat luas, benar-benar rumah yang sangat mewah. "Luarnya aja bagus begini, apalagi dalamnya" kataku dalam hati sambil melirik kesana-kemari
"Ayo masuk May, anggap saja rumah sendiri" kata Rama menggandeng tanganku sambil merangkulkan tangannya di pundak ku, lalu kita masuk ke dalam rumahnya.
Ya benar di dalam rumah terlihat lebih fantastis lagi, banyak furniture mewah yang bernuansa Eropa dengan corak emas dan perak, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah keluarga Adiguna, sepertinya aku akan canggung menghadapi tuan Adiguna beserta keluarganya.
"Papa kita pulang, kenalin pah ini Mayra yang sering Mama ceritakan." ucap Mama Rama sambil memeluk suaminya, setelah itu ia memperkenalkan identitas ku
"Siang Om, aku Mayra." ucapku singkat
Aku bisa melihat secara langsung siapa tuan Adiguna sebenarnya, beliau memang seumuran dengan almarhum ayahku, wajah beliau putih dan masih terlihat tampan meskipun umurnya sudah kepala 60an
"Oooohhh... ini ya yang namanya Mayra, cantik dan sederhana. Papa suka punya menantu seperti ini, panggil saja Om Adi atau Papa juga boleh, biar lebih akrab." ucap Om Adi sambil membalas jabatan tanganku
"Om Adi bisa aja. Hehehe!" jawabku malu-malu, entah kenapa aku merasa bisa lebih akrab dengan Om Adi ketimbang istrinya
"Nggak papa, nggak usah malu. Anggap saja Om Adi seperti papahmu sendiri. Kamu sebentar lagi juga akan menjadi bagian keluarga besar kita, jadi kamu harus membiasakan diri untuk lebih mengenal kita semua." ucap Om Adi dengan wajah sumringahnya
Aku benar-benar dibuat mati kutu oleh perkataan Om Adi, aku hanya bisa memandang ke arah Rama, sebelah kiri mata Rama berkedip sepertinya ia tau kode yang aku arahkan padanya. "Pah... kita masih mau pacaran dulu, kalau aku sih pengennya cepat-cepat bisa nikahin Mayra, tapi sepertinya Mayra masih meragukan cinta ku, jadi aku mau meyakinkan dia kalau aku benar-benar tulus mencintainya." ucap Rama
"Deg" jantungku sepertinya berhenti berdetak, entah peran apa yang kumainkan ditengah-tengah keluarga ini. Aku bingung...!
"Ya sudah terserah kalian saja, satu pesan Papa... kalian jangan terlalu lama berpacaran, Papa nggak mau ada gosip tak sedap yang memberitakan keluarga kita lagi" ucap papanya Rama, beliau memang tak mau kejadian satu bulan lalu terulang lagi. Dilansir dari majalah popular kalau keluarga Adiguna membatalkan pertunangan putranya, karena putranya mengetahui skandal perselingkuhan calon tunangannya seminggu sebelum acara dimulai.
"May... tolong kamu antar Rama ke kamarnya, Tante mau bicara sama Om." titah mamanya Rama
Akupun mengangguk lalu memegang tangan Rama naik tangga menuju lantai atas "Dimana kamarmu?" tanya ku saat sudah berada di lantai atas
"Itu..." Rama menunjuk ke salah satu ruangan, kita pun masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar Rama ukurannya sangat besar seperti ukuran satu rumah ku dikampung.
Kemudian aku membantu Rama duduk di tempat tidur king size-nya "May... maukah kamu menjadi pacar ku, bagimu mungkin aku lelaki brengsek atau apalah, tapi aku jujur dari lubuk hati ku yang paling dalam May." ucap Rama sambil memegang tangan ku, ia mulai mengeluarkan isi hatinya, aku menatap matanya saat ia berbicara padaku. Aku lihat kejujuran dari bola matanya, entah itu hanya perasaan ku atau hanya bayangan semu.
"Ram... aku sebenarnya juga baru saja putus dengan pacarku, sepertinya aku belum bisa menerima mu karena aku nggak mau mereka bilang aku gadis gampangan, yang suka gonta-ganti pacar. Mulai sekarang lebih baik kita menjaga jarak, toh kesepakatan kita juga sudah berakhir." penjelasan ku yang mungkin telah menyakiti hati Rama
"Kita sama-sama sudah dewasa May, tolong jangan pikirkan omongan orang lain. Mending kamu dengarkan dan ikuti kata hati mu saja, karena kata hati tidak akan pernah berbohong." ucap Rama tetap kekeuh meyakinkan ku.
Sebenarnya aku bingung dengan perasaanku sekarang, Selama aku dekat dengannya, dia sangat lembut dan perhatian dengan ku. Selain ketampanannya, dia memiliki begitu banyak kelebihan yang membuat ku tak pantas untuk bersanding dengannya
"Kamu jangan pernah berfikir seperti itu, keluarga ku tak pernah membedakan status seseorang, jadi kamu jangan pernah berpikir kalau kamu tak pantas menjadi pendamping ku" ucapan Rama membuat ku shock, sepertinya dia bisa membaca pikiran ku.
"Kenapa kamu tahu apa yang kupikirkan sekarang ini?" tanya ku penasaran
"Kan aku udah bilang, kamu itu jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk ku. Jadi aku tau lah semua tentang mu, bahkan isi dalam hati dan pikiran mu pun aku mengetahuinya hehehe..."
"Nggak lucu tau" pekikku sambil memukul bahu Rama
"Auw... sakit!" Rama kesakitan sambil memegang bahunya
"Maaf...maaf tidak sengaja" ucap ku mengusap bahunya yang kesakitan akibat pukulan ku yang refleks
kalo di pikir 2semua nya gk kesalahan Rama aja,,