Perasaan mereka seolah terlarang, padahal untuk apa mereka bersama jika tidak bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaseona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Can We? Episode 07.
...« Adek mau di bawa ke mana? »...
Satu minggu setelah kambuhnya Arasya, gadis itu bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Arasya tidak tahu-menahu tentang penyakit itu. Kesehatan mental yang terguncang begitu kuat di hari pemakaman kedua orangtua Arasya, membuatnya memiliki gangguan mental yang di diagnosis oleh dokter yaitu kepribadian ganda.
Sedangkan Gavan mengalami keterkejutan yang tinggi setelah sang Mami menjelaskan gangguan mental yang di alami oleh Arasya malam itu.
Gavan sedikit menjaga jarak dari Arasya, merasa takut jika gadis tersebut mengalami gejala yang berakibat kambuh. Apalagi Gavan sekarang sedang berusaha menyembuhkan hatinya yang entah kenapa akan terasa tertusuk apabila melihat Arasya.
“Apa harus jual sesuatu, ya?” gumam Arasya yang sedang berdiri di depan pintu gudang.
Harta yang di tinggalkan kedua orangtuanya sangat cukup bagi Arasya untuk kedepannya. Tetapi yang namanya manusia, selalu khawatir jika tiba-tiba membutuhkan uang banyak di masa mendatang. Juga karena Arasya sama sekali tidak diperbolehkan bekerja oleh sang Mami, membuat Arasya ketakutan sendiri memikirkan pengeluaran setiap hari tetapi tidak ada pemasukan.
“Cari barang yang lama deh. Takutnya aku masih butuh sama barang yang baru.”
Arasya melangkahkan kakinya memasuki gudang itu. Memilah barang yang menurutnya tidak akan Arasya gunakan. Lalu membawa ke ruang tamu tiga buah barang yang layak jual secara bergiliran.
Radio, pengeras suara dan sebuah televisi kecil.
“Okay, waktunya jual online.” Ucap Arasya bersemangat. Gadis tersebut mengambil ponselnya di atas meja, kemudian memotret barang yang akan di jual. Lalu mendudukkan diri ke sofa panjang di ruang tamu itu.
Arasya terfokus membuat kalimat agar menarik para pembeli, sepertinya ia sudah sangat handal menjadi penjual. Apa Arasya harus membuka toko saja?
Arasya menggelengkan kepalanya. “Gak mungkin lah.”
“Apanya yang gak mungkin?”
Arasya terlonjak kaget mendengar suara lain di dalam rumahnya. “Eh, Mas Gavan.”
Buru-buru Arasya berdiri, “kenapa, Mas?” tanyanya sopan.
“Mas mau keluar. Mau ikut gak?”
Arasya memindai penampilan Gavan yang terkesan sangat rapi. Memakai seragam formal, padahal biasanya Gavan selalu memakai baju kelewat santai di mana pun tempatnya.
“Anu, enggak, Mas. Aku di rumah aja.” Tolak Arasya.
“Di rumah gak ada siapa-siapa. Ikut aja.” Ujar Gavan sembari fokus menatap mata Arasya yang bergerak liar. Seakan enggan melihat ke arahnya.
“Kayaknya nanti temen aku ada ke sini, Mas. Jadi gak akan sendirian.”
Gavan mendengus, matanya beralih tatap ke barang-barang yang berjejer di depannya. “Buat apa ini?” tanyanya dengan alis menyatu.
“Hah?” Arasya gelagapan saat mendadak ditanya. Dirinya belum menyiapkan jawaban yang pas untuk itu.
“Buat apa, Dek?” tanya Gavan lagi dengan nada yang lebih ditekan.
“Itu, Mas--- buat... Enggak.” Arasya menggelengkan kepalanya panik. “Aku tadi beres-beres gudang, terus lihat ini jadinya aku keluarin.” Lanjutnya buru-buru.
Gavan menelisik ekspresi wajah Arasya. Pria tersebut tahu jika gadis itu sedang berbohong padanya. Tetapi Gavan memilih untuk berhenti dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Ganti baju, ikut Mas aja. Mas tunggu di depan.”
Belum sempat Arasya mengajukan penolakan kembali, Gavan sudah lebih dulu pergi dari hadapannya.
“Arghh!! Apasih Mas tuh maunya!! Ngeselin banget, Mami!!!” teriak Arasya tertahan. Tidak ingin terlalu keras, sehingga orang yang dibicarakannya mendengar.
“Aku aduin Mami pokoknya!” gumam Arasya sembari menghentakkan kakinya kesal. Kemudian ia berlari ke kamarnya untuk menuruti perintah dari Gavan.
Memakai baju dan celana kebesaran, tidak lupa membawa tas kecil berbentuk kepala kelinci yang berisi dompet serta ponselnya.
Setelah selesai, Arasya berlari menuruni tangga. Cepat-cepat keluar rumah dan tidak lupa mengunci pintu. Arasya disambut Gavan yang sedang berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka.
“Masuk.” Titah Gavan sembari menghendikkan dagunya ke arah dalam mobil.
Arasya menahan agar tidak mencibir atau mendengus di hadapan Gavan. Ketakutan yang sebelumnya masih sebesar batu kerikil kini bertambah menjadi sebuah batu karang di sekitar pantai.
Gavan menutup pintu mobilnya setelah memastikan Arasya duduk dengan nyaman. Berlari ke sisi seberang dan ikut memasuki mobil tersebut, Gavan bertugas mengendalikan kemudi.
Keduanya berdiam diri selama perjalanan itu. Otak Arasya sibuk menebak-nebak ke mana mereka akan pergi sekarang. Apalagi melihat kendaraan yang di pakai adalah mobil milik Devan. Kembali bertanya-tanya tentang ke mana perginya motor kesayangan milik Gavan.
“Tempatnya masih jauh, tidur aja dulu.”
Arasya semakin terdiam, harusnya tadi ia bersikeras menolak ajakan Gavan. Sebenarnya sejauh apa tujuan mereka berada?
“Tadi sarapan apa?” Gavan kembali membuka suara. Sepertinya pria tersebut sedang berusaha untuk memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
Arasya ingin sekali mendengus seperti jika dirinya kesal terhadap Devan. Tetapi karena ketakutannya yang berubah lebih banyak kepada Gavan, entah dorongan dari siapa, Arasya hanya bisa menggigit bibir bagian dalam.
“Tadi sarapan sama Mami.” Jawab Arasya. Berdoa agar Gavan mengerti maksudnya dan berhenti bertanya lagi.
“Oh, sarapan di rumah?”
Arasya menganggukkan kepalanya. Jelas sekali jika Gavan tidak tahu saat Arasya sarapan di rumahnya. Lelaki tersebut memilih mempertahankan bunga mimpi daripada harus melakukan sarapan bersama.
Saat diberitahu Mami jika Gavan habis lembur bekerja, Arasya otomatis menghela nafas lega. Entah apa alasannya, Arasya harus menghindari lelaki disampingnya itu.
“Udah laper belum, Dek? Kalau iya, kita mampir dulu buat makan.”
“Masih kenyang, Mas.” Jawab Arasya.
Arasya mendengar Gavan menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia melirik takut-takut ke arah lelaki itu.
“Mas laper, ya? Gapapa kok kalau mau makan dulu.” Arasya yang tahu situasi segera meralat ucapannya. Ia tidak ingin tiba-tiba diturunkan di tengah jalan oleh Gavan karena sejak tadi menolak inisiatif pria tersebut.
“Tapi Adek masih kenyang.” Gavan fokus menatap jalanan yang lengang, jemarinya mengetuk setir mobil secara berirama. Ia merasakan jika Arasya semakin menjaga jarak dengannya. Walaupun keduanya sama-sama di kondisi itu. Saling menjaga jarak.
Hanya saja, Gavan menyadari ketidaksukaan yang muncul setelah menyadari Arasya semakin menjaga jarak terhadapnya. Melebihi yang dulu.
“Gak kok, Mas. Aku tiba-tiba laper hehehe. Tapi kalau makan mie boleh gak? Ramen. Satu kali aja deh.”
Sekalian saja Arasya mengabulkan keinginannya sejak kemarin. Sudah lama dirinya tidak memakan mie racikan itu.
“Boleh.”
Kegirangan sendiri, Arasya tersenyum lebar setelah Gavan menuruti kemauannya. Ia menatap luar jendela dan bersenandung ria. Membalikkan suasana yang tadinya hening dan mencekam, kini penuh keceriaan.
Gavan tertular senyum itu, tetapi yang keluar hanya senyum tipis di bilah bibir Gavan. Sudah tidak terlalu kesal akibat Arasya yang terus-terusan membuat tembok agar Gavan tidak bisa menerobos.
...« Terima kasih sudah membaca »...