NovelToon NovelToon
Terjerat Pernikahan

Terjerat Pernikahan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam / Nikahkontrak / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Angst / Menikah dengan Musuhku / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ismi Sima Simi

Jika menikah hanya dijadikan sebuah alat pertukaran yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa didasari rasa cinta, akankah kebahagiaan itu tercipta?

Kinara seorang gadis yang selalu pesimis dengan masa depannya. Ia memutuskan menikah dengan Gema Putra Mahardika laki-laki yang sudah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hal tersebut rela ia lakukan demi kelangsungan hidup seorang gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang menggantungkan hidupnya hanya pada Kinara.

Akankah cinta hadir di antara mereka meski semua bermula dari terpaksa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tunggu Hasilnya

"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap dingin seorang wanita pada Gema yang masih mematung di depan pintu.

Gema membalikkan badannya, dia menatap Kinara yang baru saja datang dan berdiri tepat di belakang Paman Sam. Kilatan emosi masih jelas terlihat dari sorot gadis muda itu.

"Apa yang ingin kau lakukan pada adikku?" tanya Kinara lagi melangkah lebih dekat ke arah Gema.

"Aku hanya ingin melihatnya."

"Aku sudah meminta dokter untuk mengautopsi orang tuaku, tunggu saja kabar selanjutnya." Kinara melangkah melewati Gema begitu saja setelah berbicara.

Kinara hendak membuka pintu ruangan yang tepat di samping Gema. Tapi tiba-tiba dia merasakan tangannya di pegang dengan erat. Gadis itu menoleh, Gema sudah menatap lekat ke arahnya. Pria itu memegang pergelangan tangan Kinara dengan sekuat tenaga. Kinara mencoba melepaskan genggaman tangannya, tapi kekuatan Kinara tak sebanding dengan Gema.

"Lepaskan tanganku!" pekik Kinara menghempaskan tangan Gema.

"Jangan lakukan itu," ucap Gema dengan nada datar.

"Heh!" Kinara menyunggingkan senyum sinis.

"Apa kau bisa mengembalikan nyawa orang tua kami?" tanyanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Gema terdiam, pria itu menatap nanar manik mata Kinara yang sudah mulai lembab karena air mata. Merasakan genggaman tangan Gema yang mulai melemah, Kinara menghempaskan dengan kuat tangan kekar itu. Dia melangkah masuk ke dalam ruangan meninggalkan dua orang yang masih terdiam di depan pintu begitu saja.

Braak!

Kinara menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang nyaring. Paman Sam sampai memejamkan matanya karena terkejut mendengar suara pintu tersebut.

Gema masih mematung di tempatnya, tangannya mengepal erat. Netranya terus tertuju pada punggung Kinara yang duduk di samping ranjang adiknya. Punggung Kinara terlihat berguncang hebat, sepertinya gadis itu sedang menangis tersedu bersama adiknya yang memeluk erat Kinara. Gadis kecil yang terlihat sangat lemah dan pucat pasi itu menenggelamkan wajahnya di dada Kinara.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika sampai berita ini tercium media ... ayah pasti akan membunuhku. Tapi mereka ....

Netra Gema ikut berkaca melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Otaknya terasa buntu, dia tidak mampu memikirkan apapun lagi sekarang. Pria itu melempar pandangan pada Paman Sam yang masih berdiri di belakangnya.

"Anda tidak perlu khawatir, dia tidak akan melakukan apapun." Paman Sam berkata dengan yakin.

Pria berumur itu menggeser posisinya memberikan isyarat pada Gema untuk meninggalkan tempat tersebut. Gema hanya berdecak dengan isyarat yang Paman Sam berikan, tapi tidak lama dia juga melangkah pergi. Sesekali dia menengok ke belakang melihat Kinara yang masih terisak.

Gadis itu tidak sanggup membendung air matanya saat memberitahukan tentang orang tuanya pada Kiyana. Apalagi saat melihat reaksi Kiyana yang langsung histeris mendengar kabar tersebut, Kinara menjadi lemas tubuhnya seolah dihantam gelombang. Sangat sulit bagi gadis itu untuk tetap terlihat seolah tegar dihadapan adiknya. Pada akhirnya kudua anak yang bernasib malang itu hanya saling menguatkan.

"Kenapa mereka meninggalkan Yana, Kak? hiks ...." Tangisan Kiyana terdengar begitu memilukan.

"Bukankah seharusnya aku yang Alloh panggil duluan, aku ingin ikut ibu, Kaak ...." Kinara menangis tertahan mendengar ucapan adiknya, hatinya terasa sakit, sangat sakit bahkan melebihi rasa sakit dari sayatan pisau.

"Jangan berkata seperti itu. Kau tidak boleh meninggalkan Kakak, Kakak cuma punya Yana." Kinara mendekap erat tubuh ringkih Kiyana.

"Istirahatlah, Dek. Kakak akan selalu bersamamu. Kakak sangat menyayangimu. Jangan berkata seperti itu lagi," ucap Kinara di sela isakan tangisnya. Dia mencium lembut puncak kepala Kiyana yang ada di dalam dekapannya.

Tok-tok-tok!

Kinara menoleh saat mendengar suara ketukan pintu. Dengan segera gadis muda itu mengusap air mata yang masih mengalir deras di pipi mulusnya. Dia melemparkan senyum manis pada perawat yang baru saja membuka pintu. Bu Dewi adalah perawat yang sudah merawat adiknya sejak masuk rumah sakit. Meskipun sudah tidak muda lagi, tapi Bu Dewi masih terlihat cantik. Dia juga sangat sabar dan telaten merawat pasien-pasiennya.

"Selamat malam, Mbak. Ini jadwal untuk pemeriksaan Yana," ucap perawat sambil berjalan menghampiri Kiyana yang masih menangis terisak.

"Iya, Bu, silahkan," jawab Kinara sambil membaringkan tubuh Kiyana kembali. Gadis kecil itu awalnya enggan untuk melepaskan pelukan kakaknya, tapi dengan bujukan Kinara dan perawat yang sangat sabar itu akhirnya Kiyana mau kembali berbaring.

"Mbak Nara, dokter bilang ingin berbicara dengan Anda jika Anda sudah senggang," ucap perawat tadi di sela kesibukannya mengganti botol infus Yana.

"Ada apa, Bu?" tanya Kinara penasaran.

Perawat itu hanya menaikkan bahunya sambil tersenyum simpul untuk merespon pertanyaan Kinara. Kinara melempar pandang pada Kiyana yang baru saja diberikan suntikan oleh perawat.

"Apa dia akan tertidur lagi?" tanya Kinara sambil terus menatap Yana yang sesekali masih terisak.

"Biasanya seperti itu, karena efek obatnya."

"Baiklah, saya titip Yana ya, Bu. Saya harus mengurus pemakaman orang tua saya."

"Iya, saya turut berbelasungkawa atas musibah yang menimpa orang tuamu, Ra. Kamu harus ikhlas, kamu harus kuat buat adikmu," ucap Bu Dewi menepuk bahu Kinara pelan.

"Iya, Bu. Nara juga berterima kasih sama Bu Dewi udah baik banget sama kita." Kinara menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya.

Kinara segera bersiap setelah mendapat anggukan kepala dari Bu Dewi. Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai bantuan, segala sesuatu harus bisa dia selesaikan sendiri. Kinara menatap lekat wajah Yana, gadis kecil itu sudah mulai terbuai alam mimpinya. Dia mengecup lembut kening Yana sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Matahari sudah mulai mengintip dari balik cakrawala. Tanah basah akibat derasnya air hujan yang mengguyur semalam, membuat tunik putih yang Kinara kenakan menjadi kotor di bagian ujungnya. Tapi gadis itu tidak memperdulikan hal tersebut. Dia terlihat lemah dan lelah dengan kantong mata yang terlihat jelas menaburkan bunga di atas makam orang tuanya. Kinara terduduk diam di antara kedua makam orang tuanya yang bersebelahan tersebut.

Tangis Kinara pecah saat para pelayat yang kebanyakan adalah tetangga kontrakannya sudah pergi meninggalkan tempat itu. Ya, Kinara sendiri, tidak ada siapapun yang menemaninya. Dia hanya pendatang di Jakarta. Mereka memutuskan pindah dari Kediri ke Jakarta demi pengobatan sang adik. Berharap semuanya menjadi lebih baik saat di Jakarta, tapi nasib berkata lain. Kinara harus kehilangan orang tuanya di kota yang menjadi kota impiannya saat masih kecil itu.

"Ibu, aku tau dunia ini memang kejam. Tapi aku baru tau dunia ini sangat kejam, dia tidak memberikan ruang sedikitpun untukku bernapas lega. Aku harus bagaimana, Bu, Yah? Aku harus gimana sekarang ... hiks ... hiks ... hiks ...." Kinara tertunduk dalam-dalam di hadapan batu nisan ibunya.

Tanpa dia sadari dua pasang mata mengawasi dirinya dari kejauhan. Pria muda berkaca mata hitam, dan memakai hem berwarna hitam dengan lengan yang digulung hingga siku itu memperhatikan Kinara dengan lekat.

Bersambung ....

1
Shifa Burhan
berani novelis wanita buat cerita kayak gini tapi dibalik istri yang berantem dengan sahabat wanita suaminya dan suami tidak membela siapapun

berani tidak author buat scen kayak gini
raqeela cantiq
sebel nsnsk lampir
raqeela cantiq
bagus bgt ceritanya
raqeela cantiq
cerita nya bagus thor
Siti qomariah
karya yang nagus
Siti qomariah: karya yang bagus
total 1 replies
shadowone
sangat rekomended, ceritanya bagus, cerita kekeluargaan tanpa pelakor. Jadi bagi lima bintang.
shadowone
aku panasaran kisah cintanya tahta. lepas ini akan survey tahta.
shadowone
🤣🤣🤣🤣
shadowone
jangan2 farel kecelakaan juga.
shadowone
terpaksa komentar jadi takut sama parang ibu ibu itu hahahahah.
shadowone
160 itu suda tinggi apalagi kalu badan kurus. yg munggil itu 150-155
ririe
tdk bertele²
Dwi Budianti
gak kuat 😭😭😭😭
Deo FR
bagus
Maya Ratnasari
tembakan hanya mengenai jantung, itu bukan "hanya" Thor, itu mah langsung menyebabkan kematian. mungkin maksudnya, nyaris mengenai jantung.
Maya Ratnasari
aku.
aku paling sebel kalo BAB kepanjangan. selain itu, kalo mau beralih ke cerita baru pun, aku akan cari episode yg tidak terlalu panjang, kalo bisa di bawah 100 chapters.

Jadi, episodenya pendek, cerita per BAB/chapter nya juga pendek. setelah itu baru deh berharap cerita nya bagus.
Maya Ratnasari
GPS
Maya Ratnasari
oh. ukuran pintu segitu ya Thor, aku ngga pernah tau ukuran standar untuk pintu.
Maya Ratnasari
itu yg ngancem pake panci, visual nya kak simi?
Maya Ratnasari
tadi dua puluh dua tahun, sekarang dua puluh tahun. yang bener yang mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!