Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pintu sebuah ruangan tertutup terbuka perlahan. Dokter Malcom masuk dengan langkah kaku. Wajah pria paruh baya itu terlihat pucat. Tangannya masih menggenggam erat tali tas yang sejak tadi tidak pernah dilepaskan.
Begitu pintu kembali tertutup, Malcom menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun yang dikenalnya di sana. Dadanya semakin sesak. Beberapa saat sebelumnya, ia baru saja keluar dari bandara ketika dua pria menghampirinya. Mereka berbicara dengan tenang, tetapi ada sesuatu dalam tatapan mereka yang membuat Malcom tidak berani menolak ketika diminta mengikuti mereka.
Kini Pria paruh baya itu berada di sebuah ruangan asing tanpa mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi.
"Silakan duduk, Dokter Malcom," ujar Alex sambil menunjuk kursi di depan meja.
Malcom tidak langsung menurut. Ia menatap Alex dengan wajah penuh kecemasan.
"Siapa kalian? Kenapa saya dibawa ke sini?" tanyanya dengan suara bergetar.
Alex hanya menatapnya tenang. "Anda akan mendapatkan jawabannya setelah duduk."
Malcom menelan ludah. Ia akhirnya menarik kursi dan duduk perlahan.
Beberapa saat kemudian, pintu kembali terbuka. Killian masuk dengan langkah santai. Tidak ada kemarahan yang terlihat di wajahnya. Tidak ada pula nada mengancam ketika ia berjalan menuju kursi di seberang Malcom. Justru ketenangan itu membuat Malcom semakin gelisah.
"Dokter Malcom," sapa Killian sambil duduk.
Malcom menatapnya dengan kening berkerut. "Anda siapa?"
Killian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya orang yang ingin menanyakan beberapa hal tentang pasien Anda."
Malcom langsung menggeleng. "Saya tidak bisa memberikan informasi pasien kepada orang lain. Itu melanggar kerahasiaan medis."
Killian tersenyum tipis. Ia menggeser sebuah map tipis ke tengah meja.
"Saya sudah menduga Anda akan mengatakan itu. Karena itu, saya tidak akan meminta Anda langsung menjawab."
Malcom menatap map tersebut dengan penuh curiga. "Saya hanya ingin melihat apakah Anda masih bisa berbohong setelah melihat apa yang ada di dalamnya," ujar Killian tenang.
Wajah Malcom langsung menegang. "Berbohong?" tanyanya.
Killian mengangguk. "Ya."
Alex membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen yang berkaitan dengan proses bayi tabung Vivienne Laurent dan Dominic Ashcroft.
Malcom langsung mengenali nama-nama itu. Sorot matanya berubah, meskipun hanya sesaat.
Killian tidak melewatkan perubahan tersebut. "Anda mengenal mereka," kata Killian sambil memperhatikan wajah Malcom.
Malcom segera mengalihkan pandangan. "Saya menangani banyak pasien. Saya tidak mungkin mengingat semuanya."
Killian tersenyum kecil. Ia mengambil sebuah lembar dokumen dari dalam map.
"Kalau begitu, mungkin Anda juga tidak mengingat proses bayi tabung pasangan ini?" tanya Killian.
Malcom diam.
Killian meletakkan dokumen itu di atas meja. "Vivienne Laurent dan Dominic Ashcroft, "ujarnya sambil menunjuk nama tersebut.
Ia kemudian mengangkat wajah dan menatap Malcom tepat di mata. "Anda dokter yang menangani proses mereka, bukan?" tanyanya.
Malcom menarik napas panjang. "Saya memang pernah menangani mereka."
"Bagus," ujar Killian. "Berarti kita bisa bicara."
Malcom menggenggam kedua tangannya di atas paha. "Apa yang ingin Anda ketahui?" tanyanya hati-hati.
Killian tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajah Malcom selama beberapa detik. "Apakah sel telur Vivienne yang digunakan dalam proses bayi tabung tersebut?" tanya Killian akhirnya.
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak terasa sunyi. Malcom membeku. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Killian tetap tenang.
"Jawab," katanya singkat.
Malcom mengusap wajahnya. "Saya tidak bisa membicarakan itu."
"Kenapa?" tanya Killian.
"Karena itu rahasia medis."
Killian mengangguk pelan. "Baik." Ia berdiri dan berjalan beberapa langkah mengitari meja. "Kalau begitu, saya akan bertanya dengan cara lain," ujar Killian.
Kembaran dari Estelle itu berhenti tepat di belakang kursi Malcom. "Apakah Anda yakin tidak ada kesalahan dalam proses tersebut?" tanyanya.
Malcom menundukkan kepala. "Setiap prosedur dilakukan sesuai aturan," jawabnya pelan.
"Benarkah?" tanya Killian.
"Ya."
"Kalau begitu, kenapa wajah Anda terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu?" ujar Killian sambil menatapnya dari belakang.
Malcom langsung mengangkat kepala.
"Saya tidak menyembunyikan apa pun," bantah Malcom.
Killian tersenyum tipis. Ia kembali duduk "Dokter, saya tidak datang ke sini untuk menuduh Anda. Saya hanya ingin tahu kebenarannya."
Malcom terdiam.
Killian membuka dokumen lain. "Anda sedang cuti dan beberapa hari lagi akan kembali bekerja," ujar Killian. "Saya juga tahu kapan proses bayi tabung Vivienne dan Dominic dilakukan."
Malcom mengerutkan kening. "Bagaimana Anda tahu?" tanyanya.
"Itu tidak penting," jawab Killian tenang. "Yang penting adalah apa yang terjadi pada hari ketika proses itu dilakukan."
Malcom menarik napas panjang. "Kami melakukan prosedur sesuai permintaan pasien," jawabnya.
"Permintaan siapa?" tanya Killian.
Malcom langsung diam.
Killian mempersempit tatapannya. "Vivienne?" tanyanya.
Malcom tidak menjawab.
"Dominic?" tanya Killian lagi.
Malcom langsung menegang. Alex yang berdiri di samping meja ikut memperhatikan reaksinya.
Killian tersenyum dingin. "Jadi, saya benar," katanya.
Malcom menggeleng cepat. "Saya tidak tahu apa-apa tentang pria itu."
"Anda baru saja menunjukkan bahwa Anda tahu," ujar Killian.
"Saya hanya terkejut mendengar namanya," bantah Malcom.
Killian mencondongkan tubuhnya sedikit. "Dokter, jangan membuat saya mengulang pertanyaan yang sama," katanya dengan suara rendah.
Malcom menundukkan kepala. Keringat mulai muncul di pelipisnya. "Saya..." Suaranya tercekat.
dan Grace adik satu ibu beda Ayah 😱
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡