NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — DARAH YANG TIDAK BISA BERBOHONG

​Sinar matahari sore menembus celah-celah daun pinus di Taman Barat Istana Valerian, melukiskan pola-pola bayangan emas di atas tanah berkerikil. Udara sejuk berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan kelopak bunga lili yang mulai gugur.

​Di balik naungan gazebo batu berukir, Pangeran Adrian duduk membisu. Di tangannya, selembar laporan strategi militer perbatasan utara terbentang, namun matanya sama sekali tidak membaca baris-baris angka di sana. Tatapan mata abu-abu pekatnya terkunci lurus pada lapangan rumput kecil berjarak lima puluh meter di depannya.

​Di sana, Elian sedang bermain sendirian.

​Anak laki-laki berusia tujuh tahun itu mengenakan kemeja katun biru muda dan celana panjang cokelat. Ia sedang sibuk menyusun batu-batu kecil membentuk benteng mainan di atas tanah. Dari kejauhan, cara Elian berlutut, gerakan tangannya yang cermat saat menata batu teratas, hingga caranya mengerutkan kening saat susunan batu itu runtuh... semuanya memancarkan ketelitian alami yang luar biasa.

​Adrian memperhatikan anak itu tanpa berkedip. Sejak pertemuan emosional di kamar Alena kemarin sore—saat ia menemukan liontin batu mawar perak yang masih tersimpan rapi—seluruh keraguan di kepala Adrian telah musnah. Namun, ada satu perasaan baru yang tumbuh dan mengakar kuat di dalam jiwanya: sebuah ikatan gaib yang tak kasat mata, yang menarik seluruh nalurinya untuk melindungi dan mengakui anak itu.

​Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung merpati kejutan memecah keheningan taman.

​Elian yang terkejut mencoba berdiri terburu-buru. Namun, kaki kecilnya tersangkut pada akar pohon pinus yang menyembul dari tanah. Anak itu hilang keseimbangan dan terjatuh cukup keras ke atas jalan setapak berkerikil tajam.

​"Aduh!" jerit Elian pelan.

​Sebelum dua pengawal di dekat gazebo sempat bereaksi, Pangeran Adrian sudah berdiri dari kursinya. Dalam gerakan refleks yang begitu cepat tanpa memedulikan protokoler atau martabat Putra Mahkota, Adrian melompati undakan batu gazebo dan berlari mendekati anak itu.

​"Elian!" panggil Adrian, suaranya dipenuhi kecemasan yang belum pernah terdengar dari bibirnya selama bertahun-tahun.

​Elian terduduk di atas tanah, memegangi lutut kirinya. Celana kainnya robek sedikit, memperlihatkan goresan merah di kulitnya yang mengeluarkan sedikit darah. Air mata bening mulai menggenang di pelupuk mata abu-abu anak kecil itu, menahan rasa perih.

​Adrian berlutut di atas satu kaki di atas tanah kotor, tepat di hadapan Elian. Pria tegap berzirah perak itu tidak memedulikan jubah beludru mewahnya yang menyentuh debu.

​"Jangan disentuh dulu, Elian," kata Adrian lembut, menyapu jemari kecil Elian dari luka tersebut. "Biarkan aku melihatnya."

​Elian mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Adrian. Rasa takut dan perih yang dirasakannya mendadak mereda saat melihat raut wajah Adrian yang dipenuhi perhatian murni.

​"Pangeran Adrian..." bisik Elian parau, menahan isak. "Lututku berdarah. Nanti Ibu pasti khawatir..."

​"Ibumu tidak akan marah jika kita membersihkannya sekarang," ujar Adrian pelan.

​Adrian merogoh saku dalam jubahnya, mengeluarkan sehelai saputangan sutra putih bersih bersulamkan benang perak berbentuk lambang elang Valerian. Dengan gerakan yang teramat hati-hati—seolah-olah sedang memegang porselen paling rapuh di dunia—Adrian menyapu debu dan menekan luka kecil di lutut Elian dengan saputangannya.

​"Tahan sedikit, ini agak perih," bisik Adrian.

​Elian meringis pelan, jemari tangan mungilnya secara refleks meraih dan menggenggam erat lengan kemeja Adrian untuk menahan rasa sakit.

​Sentuhan jemari mungil Elian pada lengannya membuat dada Adrian berdesir hebat. Gelombang kehangatan yang asing namun teramat dahsyat meluap dari dasar jiwanya. Ada rasa ingin memeluk anak ini, menyembunyikan wajahnya di rambut cokelat keemasannya, dan berjanji bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang boleh menyakitinya lagi.

​Ini darahku, batin Adrian menjerit dengan kepastian mutlak. Anak ini adalah darah dagingku.

​Elian menatap Adrian yang sedang mengikatkan saputangan sutra itu di sekeliling lututnya dengan rapi. Senyuman polos dan jernih perlahan terbit di wajah anak laki-laki itu, memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih.

​"Terima kasih, Yang Mulia Pangeran," kata Elian tulus, suara cemprengnya memecahkan ketegangan di antara mereka. "Anda baik sekali. Kain ini harum wangi kayu."

​Adrian membeku seketika. Ia menatap senyuman Elian. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun yang dipenuhi kegelapan, rasa benci, dan kehampaan... sebuah senyuman tipis dan tulus mengembang di bibir Putra Mahkota Aveloria.

​"Sama-sama, Elian," jawab Adrian, suaranya agak parau oleh emosi yang membendung di tenggorokannya. Tangannya terangkat pelan, mengusap helai rambut bergelombang Elian dengan kelembutan yang teramat sangat.

​Di kejauhan, di balik bayangan pilar Paviliun Barat, Alena berdiri membeku.

​Ia baru saja keluar bersama Mira setelah mendengar suara jeritan kecil Elian. Namun langkah kakinya terhenti total di atas pelataran. Dari balik dedaunan, Alena melihat bagaimana Pangeran Aveloria yang paling ditakuti itu berlutut di tanah kotor, mengikatkan saputangan pribadinya pada luka Elian, dan menatap putranya dengan pendar mata yang dipenuhi cinta seorang ayah.

​Air mata hangat meluncur deras melintasi pipi Alena. Dinding dada Alena serasa dihantam oleh kenyataan yang membakar: sejauh apa pun ia melarikan diri, sesempurna apa pun kebohongan yang ia karang selama tujuh tahun... ikatan darah antara Adrian dan Elian tidak akan pernah bisa dihapuskan.

​Darah tidak bisa berbohong.

​Alena memegangi dadanya yang sesak, menangis diam-diam di balik bayangan pilar, menyadari bahwa masa-masa bersembunyi telah berakhir sepenuhnya.

​Malam harinya, kegelapan tebal kembali menyelimuti Ruang Kerja Putra Mahkota.

​Lilin-lilin lebah menerangi meja kayu ek yang tertutup berkas-berkas hukum kerajaan. Pangeran Adrian berdiri di dekat jendela batu yang terbuka, menatap lurus ke arah rembulan yang bersinar pucat di atas langit Aveloria. Saputangan sutranya yang bernoda darah kecil milik Elian terbaring di atas mejanya.

​Suara ketukan kaku tiga kali bergema di pintu kayu tebal.

​"Masuk," perintah Adrian tanpa membalikkan badan.

​Gareth melangkah masuk, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya. Kepala pengawal pribadi itu menunduk hormat, memegang seberkas dokumen terlipat yang tersegel.

​"Anda memanggil saya, Yang Mulia?" tanya Gareth.

​Adrian memutar tubuhnya perlahan. Wajah kaku dan dinginnya kini telah kembali, namun matanya yang berwarna abu-abu pekat memancarkan ketetapan hati yang sangat berbahaya—sebuah ketetapan hati dari seorang calon penguasa yang siap meruntuhkan Kerajaan Aveloria demi keluarganya.

​Adrian melangkah mendekati meja kerjanya, menatap Gareth dengan pandangan yang menembus jiwa.

​"Gareth," panggil Adrian, suaranya tenang, dalam, dan tidak memberi ruang untuk penolakan. "Aku punya satu perintah rahasia untukmu. Perintah ini tidak boleh diketahui oleh Dewan Kerajaan, Ratu, apalagi orang-orang keluarga Ardent."

​Gareth menegakkan punggungnya, raut wajahnya mengeras profesional. "Sebutkan perintah Anda, Yang Mulia."

​Adrian menyandarkan kedua tangannya di atas meja, menunduk sedikit, dan menatap Gareth tepat di matanya.

​"Cari tahu siapa ayah kandung dari Elian Virelle," perintah Adrian.

​Gareth menahan napas sekilas, matanya berkedip pelan. "Apakah Anda mencurigai seseorang dari masa lalu Lady Alena di desa atau di istana ini, Yang Mulia?"

​Adrian menatap keluar jendela batu, ke arah Paviliun Barat yang lampunya masih menyala redup di tengah kegelapan malam. Senyuman dingin dan penuh ikrar terukir di bibirnya.

​"Aku tidak mencurigai orang lain, Gareth," jawab Adrian, suaranya memotong keheningan malam bagai belati baja. "Aku mencurigai diriku sendiri."

​Ruang kerja itu mendadak menjadi teramat hening. Gareth membeku, menyadari bahwa Putra Mahkota telah melintasi garis batas yang selama ini ditakuti oleh seluruh dewan kerajaan.

​Sementara itu, di dalam kamar Paviliun Barat, Alena berdiri di depan tempat tidur Elian yang sudah tertidur lelap dengan saputangan sutra milik Adrian masih terikat lembut di lututnya. Alena memandangi wajah polos putranya sembari menangis diam-diam dalam kegelapan malam.

​Alena meremas liontin batu mawar perak di tangannya erat-erat, berbisik pada keheningan:

​"Maafkan Ibu, Elian... Badai itu akhirnya telah tiba."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!