NovelToon NovelToon
Villain'S Mother Change

Villain'S Mother Change

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:866.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: eka zeya257

Zella, gadis bar-bar yang baru berumur 19 tahun, sekaligus pemilik sabuk hitam karate. dia terkenal di kalangan anak seusianya karena memiliki sifat ceria dan blak-blakan serta tak kenal takut.

Hingga suatu hari saat dia hendak berangkat ke tempat latihannya, dia tersandung batu dan membuat tubuhnya nyungsep ke dalam selokan dan meninggal di tempat.

Zella kira dia akan masuk ke dalam alam baka, namun takdir masih berbaik hati membiarkan dia hidup meski di tubuh orang lain.

Zella bertransmigrasi ke dalam novel yang sudah lama dia baca, dan menjadi tokoh antagonis yang selalu menyiksa anaknya.

Akankah Zella mampu mengubah sebutan 'Penjahat' pada dirinya? dan meluluhkan hati anaknya yang sudah di penuhi dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

...Luarnya rapih, dalamnya rapuh. Kamu hebat dengan versimu sendiri....

...>Zella<...

.......

...☠️☠️☠️...

"ARZEN! AWAS." Teriak Zella, sambil berlari ke arah putranya.

Drap.

Drap.

Drap.

GREP.

Zella menahan belati itu dengan tangannya, namun ujung belati tersebut berhasil menembus telapak tangan Zella. Tanpa memperdulikan lukanya sendiri, Zella langsung menoleh ke arah Arzen dan menanyakan kondisinya.

"Kalian berdua nggak terluka, kan? Lebih baik kalian turun dulu, sepertinya mereka tidak bisa di biarkan begitu saja."

"Tapi tangan, Tante?" ujar Orvie menatap nanar telapak tangan Zella yang berdarah.

Zella mengikuti arah pandang Orvie, dia tersenyum tipis lalu menjawab.

"Nggak papa, nanti bisa di obati. Kalian pulang duluan aja biar Tante yang urus mereka." Sahut Zella tak ingin membuat anak itu khawatir.

Orvie mengangguk patuh berbeda dengan Arzen yang tetap bungkam, Arzen menarik pergelangan tangan Orvie dan mengajaknya turun lebih dulu. Begitu Arzen sudah cukup jauh, Zella langsung menarik belati yang menancap di telapak tangannya dengan kasar.

"Ssstt," Zella mendesis lirih, saat rasa perih mulai menyebar dari telapak tangannya.

Dia merobek bagian kaosnya lalu mengikat sobekan kain itu di telapak tangannya agar darahnya bisa berhenti meski sedikit, Zella menghela nafas kasar dia merasa nasibnya benar-benar sial.

"Baru juga gue hidup lagi, udah dapat luka segini banyaknya." Gerutu Zella.

Selepas dia selesai mengurus telapak tangannya, Zella berjalan menghampiri pria yang tadi melempar belati.

Saat dia sampai di depan pria itu, Zella berjongkok lalu menarik rambut pria itu hingga kepalanya mendongak ke atas.

"Gue nggak percaya lo bisa sebodoh itu, tau gini tadi gue bikin lo nggak bernafas aja sekalian." Ucap Zella tanpa ekspresi.

"Bedebah licik! Siapa kau sebenarnya?" sentak pria tersebut.

"Bukannya tadi lo udah denger yah, gue ibunya Arzen apa lo tuli?"

"Sialan! Kau benar-benar banyak-"

Sreeet.

Tanpa pria itu duga, Zella memasukan belati ke dalam mulut pria itu dan merobek paksa mulut pria tersebut hingga menyentuh ujung telinganya.

"AAARRRGHH." Teriakan pria itu menggema hingga terdengar ke lantai bawah.

Zella semakin kalap, dia tak bisa lagi menahan emosinya. Zella kembali berdiri, dia berjalan ke arah belakang pria tersebut lalu menginjak punggung pria itu.

"Ini akan menjadi malam terakhir buat lo dan teman-teman lo." Tukas Zella.

Dia membungkukkan badannya kembali, lalu meraih dagu dan rambut pria itu. Zella memegang erat kepala pria tersebut hingga dalam hitungan detik kepala pria itu di putar ke belakang hingga lehernya patah

KREEK.

Raut wajah Zella tak berubah sama sekali, tetap datar tanpa ekspresi. Zella melakukan hal yang sama pada kedua pria yang tersisa, setelah memastikan mereka bertiga tewas. Zella berjalan menuju pintu di belakang mereka, begitu pintu terbuka, Zella melihat satu jerigen bertulis gas.

Tanpa pikir panjang dia membawanya keluar, lalu menyiramkan gas itu ke seluruh ruangan dan terakhir dia menyiram ketiga tubuh pria tersebut.

"Gue nggak tau cara ngilangin jejaknya secara bersih, tapi gue harap ini bisa membantu gue biar tetap aman." Gumam Zella.

Zella mengeluarkan korek api dari saku celananya, dia mulai menyalakan korek itu lalu melemparnya ke tubuh ketiga pria tersebut. Seketika kobaran api mulai membakar jasad ketiga orang itu, Zella berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Di depan pintu Zella mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, kebiasaan buruk yang dulu pernah dia lakukan sebelum menjadi Atlet kini kembali kambuh, semua berawal sejak kemarin malam dimana dia merasa sangat frustasi berada di tubuh baru.

Zella mulai menyesap rokoknya, kepulan asap mengiringi langkah kaki Zella menuruni tangga. Meninggalkan kobaran api yang semakin besar di dalam ruangan tersebut.

...***...

Di halaman gedung Edelweis, Arzen belum pergi sedangkan Orvie sudah pulang lebih dulu. Entah kenapa dia justru menunggu kedatangan Zella, tadinya dia berniat pergi begitu saja namun tiba-tiba dia melihat kepulan asap dari atas gedung di susul kobaran api yang kian membesar.

Awalnya Arzen tak perduli, akan tetapi perasaannya seketika berubah aneh. Dia penasaran dengan keadaan Zella dan ingin memastikan sendiri apakah ibu tirinya masih hidup atau tidak.

Hingga tak berselang lama, dia melihat sosok Zella keluar dari gedung. Pakaiannya berlumuran darah dan sebagian telah robek, bukan hanya itu yang membuat Arzen terkejut tapi sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya semakin menambah rasa penasaran yang Arzen miliki.

'Apa yang sebenarnya terjadi di atas? Mengapa kondisinya sangat berantakan, dan sejak kapan wanita itu merokok?' batin Arzen.

Semua pertanyaan itu terpendam di dalam kepalanya, saat mata mereka saling bertatapan Zella memberikan senyum tipis pada Arzen, Zella membuang rokoknya ke tanah lalu menghampiri putranya yang sedang duduk di atas motor.

"Aduh senangnya di tungguin anak ganteng, makasih udah nungguin Mommy, Sayang." Ucap Zella dengan pedenya.

Arzen menaikan satu alisnya, dia lalu menjawab, "Jangan kepedean, saya nggak nungguin anda dan jangan panggil saya sayang! Jijik tau."

"Aish, nggak usah malu-malu. Mommy seneng loh di perhatiin sama kamu," Sahut Zella sambil menaik turunkan kedua alisnya.

Arzen bergidik ngeri, tanpa menjawab dia menyalakan motornya dan berlalu dari hadapan Zella.

Melihat kepergian putranya, senyum miris terpatri di wajah Zella, "Apa gue sanggup mengubah takdir berat ini? Baru segini aja gue rasanya hampir mati."

Zella mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, dia tidak boleh mengeluh seperti ini masih banyak hal yang harus dia selesaikan, termasuk meluluhkan hati putranya.

Dia melanjutkan langkahnya menuju mobil, begitu masuk ke dalamnya Zella langsung menyalakan mobil dan pergi menuju kediamannya.

...***...

Beberapa saat kemudian, Zella sudah berada di dalam kamarnya. Dia sedang mengobati luka di telapak tangannya, Zella tidak memanggil dokter atau pun pelayan dia tidak ingin membuat kegaduhan di tengah malam.

Selang beberapa menit, perban sudah melilit telapak tangan Zella. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dia menatap hampa ke atas langit-langit kamarnya, malam ini menjadi malam yang cukup berat baginya.

Seluruh tubuh Zella terasa sakit, dan beberapa lebam keunguan muncul di sebagian tubuhnya termasuk wajah.

Netra Zella mulai terasa berat, dalam sekejap rasa lelah yang melanda tubuhnya membuat dia langsung terlelap tanpa membereskan peralatan obat yang tadi dia gunakan.

Suara desiran angin menemani keheningan malam itu, tanpa Zella sadari seseorang bergerak masuk ke dalam kamarnya dari arah balkon.

Terlihat orang tersebut menggenggam sesuatu di tangannya, orang tersebut semakin mendekat ke arah Zella.

"Ternyata kamu masih memiliki kebiasaan yang sama, Zel! Bahkan sekarang kamu lebih menarik." Gumam orang tersebut.

Tatapannya turun ke arah telapak tangan Zella, perlahan dia meraih tangan itu dan mengamati perban yang melilitnya.

"Siapa yang berani melukai tanganmu, Zella? Apakah bedebah itu lagi?" lanjut orang tersebut.

Zella mulai merasa terusik kala tangannya di kecup lembut oleh pria itu, dia perlahan membuka kedua kelopak matanya. Begitu kesadarannya pulih, sontak kedua pupil matanya melebar. Di depannya terlihat seorang pria sedang tersenyum hangat padanya, tatapan penuh kasih sayang serta nampak jelas di wajah pria tersebut.

"Selamat malam, Sayang. Apakah aku membangunkan mu hm?" tanya pria tersebut lembut.

"L-lo..."

1
Jessica _ ica Ica
Luar biasa
Mary Randaging
aku tidak suka dengan akhir ceritanya.knpa zela mati di tangan silla yg tidak punya kekuatan?
Zee✨: hehe mf ya, pas bikin ini lg gak mood makanya endingnya kurang memuaskan hehe
total 1 replies
kalea rizuky
males ma endingnya tau
kalea rizuky
langsung dor selesai arvie tolol/Curse//Curse/
kalea rizuky
males klo ceritanya muter
kalea rizuky
wah jalang di rebutin dih najia
kalea rizuky
halah lu aja doyan kan
kalea rizuky
wih jd suami nya selingkuh bentar kok baru kuliah umurnya brp
kalea rizuky
arzen cwek kah
kalea rizuky
visual arsen mana
Annisa Feby
Luar biasa
Nana Nana
sungguh membagongkan mati diselokan 🫣🫣🤣🤣
Tri Haryanto
Luar biasa
Nana Niez
kl season 1 aja sdh sad ending,, mau lanjut season 2 terasa berat
Nana Niez
baru ini pemeran cewek nya kuat tapi berakhir mati,, pengaruh banget lhow Thor sm mood yg bc,, bs jdi sad seharian
Nana Niez
apa zella mati,, jdi ikut parno sblm bab akhir
Nana Niez
lha kok malah penulisnya ikutan jugaaaa
Nana Niez
bukan gw yg bunuh dia jatuh sdri,,, 🤣🤣🤣🤣🤣bnr bnr deh
Nana Niez
lha siapa lagi itu,,, knp banyak yg masuk novel yaaaa,, jgn jgn si bapak yg anaknya ditolong
Nana Niez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣memang out of the box,,, kl zella mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!