Bahagia karena telah memenangkan tiket liburan di kapal pesiar mewah, Kyra berencana untuk mengajak kekasihnya liburan bersama. Namun siapa sangka di H-1 keberangkatan, Kyra justru memergoki kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya.
Bara Elard Lazuardi, CEO tampan nan dingin, berniat untuk melamar tunangannya di kapal pesiar nan mewah. Sayangnya, beberapa hari sebelum keberangkatan itu, Bara melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ternyata mengkhianatinya dan tidur dengan lelaki lain yang merupakan sepupunya.
Dua orang yang sama-sama tersakiti, bertemu di kapal pesiar yang sama secara tak sengaja. Kesalahpahaman membuat Kyra dan Bara saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu. Namun, siapa sangka setelah itu mereka malah terjebak di sebuah pulau asing dan harus hidup bersama sampai orang-orang menemukan mereka berdua.
Mungkinkah Bara menemukan penyembuh luka hatinya melalui kehadiran Kyra? Atau malah menambah masalah dengan perbedaan mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Silau, sinar lampu yang sangat terang membuat Kyra seketika menutup matanya kembali. Aroma ruangan yang wangi membuat pikirannya berkecamuk, terakhir kali ia menutup mata adalah di dalam gua usai membantu monyet itu melahirkan bayinya.
Dengan tenaganya yang tersisa, Kyra membuka matanya sekali lagi. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kamar yang asing telah menjadi tempatnya bangun hari ini. Kasur ini... Kyra mengangkat tubuhnya untuk menguji apakah ia tidak sedang bermimpi. Dan ketika tubuhnya membal di atas ranjang empuk itu, seketika itu pula ia menjerit tertahan. Ia berhasil selamat!! Ia telah meninggalkan pulau itu!!
Tapi... tunggu, di mana ini?
Kyra beringsut duduk dan mengenakan kacamatanya yang tergeletak di meja nakas. Ia lantas memperhatikan seisi kamar yang memiliki interior yang sangat elit dan mahal. Ketika melihat sebuah kertas notes di meja nakas yang memiliki embos nama sebuah hotel di bagian atas lembarannya, barulah Kyra paham bila saat ini ia sedang berada di hotel.
Tunggu, hotel?
Kyra buru-buru menurunkan kakinya dan beranjak mencari Bara. Bila memang seseorang menyelamatkannya, harusnya Bara juga berada di tempat yang sama dengannya saat ini.
"Bara ..." panggil Kyra lemah karena ia sangat kelaparan.
Hening, tak ada siapapun di ruangan besar ini selain dirinya sendiri. Kyra kembali ke ranjang untuk mencari petunjuk apapun yang bisa ia gunakan untuk mengetahui di mana Bara berada. Namun nihil, Kyra tak menemukan apapun selain tas ransel kecilnya yang teronggok di sofa dan hei, bukankah ini kopernya yang ia bawa di kapal? Bagaimana bisa barangnya ini sekarang berada di hotel ini juga??
Kyra masih berpikir keras sebelum kemudian ia tersadar akan sesuatu, ia harus mengabari ayahnya! Dengan tangan gemetar, Kyra merogoh isi tas ransel untuk mencari ponselnya. Alih-alih menemukan ponsel, tangan mungil itu justru meraba sebuah kertas, dengan ragu Kyra mengeluarkan kertas itu. Sebuah surat, dari Bara.
-Hei, Kyra. Ini Bara.
Ketika kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berada di pesawat menuju Indonesia. Maaf, aku harus secepatnya pulang karena ada hal mendesak yang harus aku selesaikan secepatnya.
Maaf juga karena selama ini aku banyak merepotkanmu.
Dua hari lagi aku akan menjemputmu ke Singapore, tolong tunggu aku sebentar saja, oke?!
FYI, aku sudah membayar bill hotel. Aku juga meninggalkan kartu kreditku di laci nakas, kamu bisa menggunakannya untuk membeli keperluanmu selama di sana.
Bersenang-senanglah karena akhirnya impianmu untuk kembali pulang sudah terwujud. Sampai jumpa dua hari lagi!-
Kyra meremas kertas itu dengan jantung berdegup kencang. Bill hotel? Kartu kredit? Driver macam apa yang sanggup membayar hotel semahal ini bahkan meninggalkan kartu kreditnya seperti meninggalkan snack!!
Dengan tubuh yang masih gemetaran karena menahan lapar dan kaget, Kyra menarik laci nakas di samping ranjang. Sebuah black card dengan embos nama bank Internasional membuat Kyra menganga tak percaya. Siapa sebenarnya Bara ini? Mengapa dia dengan gampangnya memberi Kyra sesuatu yang sangat mahal tanpa berpikir panjang.
Alih-alih senang, Kyra justru ketakutan setengah mati. Ia pikir hidupnya akan bebas setelah berhasil selamat, namun nyatanya ia malah terjebak semakin dalam di hubungan yang aneh bersama Bara. Tidak, ini bukan suatu hubungan, ini adalah ikatan yang secara tidak langsung ditali oleh Bara. Dengan gerakan cepat, Kyra mendorong laci itu agar tertutup kembali.
Untuk sementara, lebih baik ia ke kamar mandi untuk membilas tubuhnya yang terasa lengket ini. Dan tunggu, siapa yang telah mengganti pakaiannya? Bukankah terakhir kali Kyra masih mengenakan pakaian berlumuran darah monyet itu? Oh, tidak! Jangan bilang Bara melihatnya telanjjang lagi?? Ya Tuhan! Ini memalukan!!
Usai mandi, Kyra memutuskan untuk memesan makanan di Restoran Indonesia secara online. Ia tak menggunakan fasilitas yang diberi oleh Bara meskipun dengan begitu ia harus merogoh tabungannya sendiri. Sambil menunggu makanannya tiba, Kyra mencoba menghubungi nomor ayahnya. Bukan main bahagianya Roni begitu mengetahui Putrinya berhasil diselamatkan, ia berkali-kali mengucap syukur sambil menangis ketika Kyra menceritakan pengalamannya selama terjebak di pulau. Obrolan mereka harus berakhir ketika makanan yang Kyra pesan akhirnya datang, ia pun menyantap nasi yang sudah sangat ia rindukan selama beberapa hari ini. Dengan kalap, Kyra menghabiskan seporsi nasi goreng, seporsi ayam goreng dan mie kwetiaw kesukaannya.
Dan setelah perutnya kenyang, Kyra mulai berpikir untuk segera pulang ke Indonesia. Tidak, ia tidak mau menunggu Bara karena seharusnya hubungannya dengan lelaki itu selesai tepat setelah mereka pergi dari pulau. Sesuai janjinya, Kyra ingin melupakan kejadian selama di pulau dan tak ingin terikat lagi dengan lelaki manapun.
Sambil merapikan barang-barangnya, Kyra mulai memesan tiket pesawat menuju Indonesia. Beruntung, masih ada 1 tiket tersisa untuk penerbangan nanti malam. Ia segera melakukan payment dengan menggunakan sisa uang tabungan miliknya dan beringsut menarik selembar kertas. Ia menulis surat untuk Bara.
- Dear, Bara
.........
...****************...
gengsi aja di gedein pake ga ada cinta
di abaikan dikit udah kesel hahah
wkwkwkwwk