Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterlibatan 2
Benar apa yang dikatakan oleh nenek Emma, Sebenci apa pun atau sekuat apa pun kau menolak, jika sudah tiba waktunya, maka kebenaran dengan kenyataan sebenarnya akan muncul dengan sendirinya mau kau suka atau tidak, siap atau tidak siap.
Logika yang selalu saja melakukan penolakan, kini bagai mendapat pecutan keras dari kata hati yang hanya berniat untuk bertanggung jawab atas sebuah kata profesionalisme dalam bekerja. Tanpa sadar berlari, entah apa sebenarnya yang dikatakan hati saat ini, karena kegelisahan begitu sangat menyiksa hingga menimbulkan rasa cemas yang tak terbendung.
(TING TONG) (TING TONG) Bunyi bel yang berbunyi.
Aarrgh! Kenapa di saat seperti ini kakak pergi bersama kakak ipar untuk memeriksa kandungannya! nenek juga pergi bersama teman-temannya, Giselle si rubah licik itu pun! Tidak bisa dihubungi kembali! Menyebalkan! Gumam Irene dalam hatinya, penuh kekesalan.
(BEEP) “Irene? Ada apa kemari?” tanya Hendrik terkejut, dari sambungan kamera keamanan.
“Maaf, aku terpaksa meminta Giselle menanyakan apartmentmu pada Bastian. Hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja ... kau jatuh saat jam kerja, maaf seharusnya aku be—”
“MOMMY! ... MOMMY! ... MOMMY,” teriak kedua kembar secara serempak ketika keluar dari pintu lift, berlari ke arah Irene yang kini begitu kikuk akan rasa paniknya.
“Hu-hunny, kenapa kemari? Bukankah Mom bilang tunggu di mobil sebentar? Ada pekerjaan yang harus Mommy ker—”
“Mobil sudah aku kunci, Mommy ... tekan tombol ini bukan?” ucap Xander sembari menunjuk salah satu simbol dan mengarahkan kunci mobil pada Irene.
“Mommy, ini rumah siapa? Pekerjaan apa yang Mommy lakukan di sini?” tanya Xavia, diikuti Xander yang tiba-tiba mengerutkan alisnya dengan tatapan menggemaskan.
(BEEP) (KLIK) Bunyi pintu kunci keamanan yang langsung terbuka.
“Kalian kemari? Untuk melihat keadaanku?” tanya Hendrik terkejut saat berjalan keluar dari apartmentnya. Tatapan Hendrik begitu menjurus pada Irene dan kedua kembar.
Lengkap sudah kini penderitaan Irene yang hanya berniat untuk singgah selama beberapa menit dan langsung pulang tanpa perlu berbasa-basi. Keranjang berisi buah yang sengaja dibawa Irene pun menjadi percuma, tak kala kedua kembar begitu antusias melihat Hendrik saat ini.
“PAMAN?? Mommy, Mommy, dia adalah Paman itu,” ucap Xavia terkejut, dengan polos menunjuk pada Hendrik dengan telunjuk kecilnya. Xavia terlihat tersenyum penuh bahagia.
“Paman tinggal di sini? Enak sekali dekat taman ... Wow, rumah Paman besar dan rapi, apa Paman diam-diam suka main ayunan dan pasir di sana? Aku selalu membuat benteng atau me—”
“Xander ... jaga sikapmu,” sentil Irene pada Xander yang terlihat penasaran, mencoba mencuri pandang mengitari ruangan Hendrik dari balik pintu yang terbuka. Melihat kedua kembar yang begitu lucu, tak kuasa membuat Hendrik tersenyum.
“Hey ... princess Xavia, dan kau ... hmm, ksatria raja? ... Xander?” ucap Hendrik secara bersamaan mengangkat tangan dan menepuk telapak tangan satu sama lain dengan Xander.
“Maaf mengganggumu beristirahat, aku terpaksa membawa mereka karena tidak ada yang menjaga ... ini ada buah-buahan, semoga kau lekas sembuh,” Irene menundukkan sedikit kepalanya, seraya melihat sekilas pada perban dikaki dan salah satu tangan Hendrik.
“Hunny, kita pulang sekarang ... say bye-bye,” lanjut Irene sembari menggandeng tangan kedua kembar, yang melambai pada Hendrik yang tersenyum ramah penuh rindu.
Irene berjalan bersama kembar untuk masuk kembali ke dalam lift dan langsung menuju parkiran mobil. Tentu jiwa Hendrik pun memberontak, karena begitu sangat ingin menahan mereka atau bahkan jika perlu tidak mengijinkan mereka untuk pulang sama sekali.
Namun menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya, Hendrik terpaksa menahan diri dan membiarkan Irene pulang bersama kedua anaknya. Kembali masuk ke dalam, Hendrik melanjutkan pembicaraan dengan Bastian yang sempat tertunda.
Disatu sisi lainnya, meski Hendrik sudah sangat bertindak hati-hati dan menjaga jarak, tangkapan kamera dari orang suruhan Anna, berhasil mengambil gambar saat Irene masuk ke dalam mobil selepas bermain bersama Xavia di taman dan berniat untuk menjemput Xander.
“Mobil merah ini ... bisa kau fokuskan pada sosok di dalamnya?” pinta Anna kepada orang suruhannya melalui panggilan video.
Begitu terkejut dengan apa yang ditemukannya, bagai terkena petir di siang hari, Anna terduduk terkulai lemas pada kursi kerjanya dengan memijit ruang antara kedua alisnya. Merasa segala upaya sudah ia coba lakukan, mengapa Hendrik dan Irene masih saja bertemu.
Anna semakin merasa depresi tak kala melihat sosok seorang anak yaitu Xavia yang kala itu terduduk di sebelah Irene. Sungguh bagai hilang akal di saat tahu Irene memiliki seorang anak perempuan, jauh dari itu Anna tidak tahu bahwa sebenarnya Irene melahirkan bayi kembar.
Kepanikan mulai menghampiri Anna dengan segala pikiran-pikiran yang membayangi. Rencananya selama beberapa tahun yang sudah hampir berhasil, akan menjadi suatu kegagalan begitu saja jika sampai Hendrik dan Irene kembali bersama.
“Kenapa kau tidak segera menikahkan Hendrik dengan anakmu, Sarah? Bukankah dia bekerja sebagai manager di perusahaan ini?” tanya Mr. JK melalui panggilan video lainnya.
“Pikirmu aku tidak mengupayakan itu?! Aku bahkan sudah merencanakan sebuah rencana untuk menjebaknya, tapi tidak semudah itu berhadapan dengan Hendrik!” balas Anna kesal.
“AHAHAHA ... Anna, kau benar-benar wanita tua yang tidak berguna! Berbisnis saja sulit dengan Hendrik, apa lagi kau berniat menikahkannya dengan anakmu?! AHAHHAA ... konyol sekali! Setidaknya cari cara lain,” balas Mr. JK sembari memiringkan sedikit kepalanya.
“Apa maksudmu?!” tanya Anna kembali penuh kesal dan kebingungan.
“Entah siapa ayah dari anak Irene itu, tapi memang akan menjadi masalah besar jika Hendriklah ayah kandungnya. Anggap saja kau bermain-main, maka kau harus berani bertaruh besar dan jangan menjadi pengecut seperti tikus kecil!” balas Mr. JK kembali dengan nada menyudutkan.
“Maksudmu ... aku harus membunuh Irene?” tanya Anna kembali dengan nada tingginya.
“Ayolah, dimana titik kesenangan jika harus langsung membunuhnya? ... Kau seharusnya menangkap anak Irene, dan dari situ jelas kau bisa melihat kemana arah rencana ini bukan?” Mr. JK memberikan usulan dengan Anna yang langsung memutar otaknya, menelaah maksud perkataan Mr. JK.
Namun Anna berpikir lain dengan Mr. JK sama seperti yang keluarga Kessler lakukan, tidak ada membuang waktu percuma. Dalam pikiran Anna, untuk apa menculik anak Irene jika ternyata bukanlah anak dari Hendrik. Anna justru merasa hanya langsung menuju ke titik perhatian Hendrik jika ingin membuat Hendrik gelisah dan amarah yang membutakannya.
“Kau, cari informasi siapa ayah dari anak itu dan segera laporkan padaku!” perintah Anna pada orang suruhannya yang masih terhubung melalui panggilan video.
“Baik,” balas pria itu dengan langsung mematikan panggilan video.
Pria itu kembali beraksi dengan terus menyelidiki Hendrik secara diam-diam bahkan mencari informasi mengenai anak Irene. Namun informasi yang ingin mereka temukan berakhir buntu tak kala Irene dan keluarganya sengaja menyembunyikan identitas kelahiran kedua kembar.
Pria suruhan Anna terus mencoba mencari informasi anak Irene dan tanpa sadar menjadi lengah akan Hendrik yang bisa mengetahui bahwa sejak beberapa hari, ia mengikuti Hendrik dan mengirimkan laporannya pada seseorang. Hendrik sangat geram dan dengan mudah menangkap pria itu saat di parkiran basement apartmentnya.
(BHHAAKKK) (BHUUKK) (UUGGHH!) Pukulan yang diberikan Hendrik pada pria suruhan Anna.
“Sudah cukup, untuk apa kau mengotori tanganmu seperti itu ... seharusnya aku saja yang mengurusnya,” ucap Bastian dengan nada datar, berdiri dibelakang Hendrik yang tertunduk menekuk lantai, menghujam lantang akan sebuah pukulan.
“Berani sekali kau mengambil foto istriku?! Kepada siapa kau mengirimnya? Anna?!” Hendrik meninggikan suaranya namun tatapan Hendrik bagai pembunuh berdarah dingin.
“Aaa-ampun Tuan, ampuni aku ... benar, Anna yang memintaku untuk menyelidikimu dan juga mantan istrimu ... sungguh,” balas pria itu dengan kesadaran yang tersisa.
“Anaknya! Kau juga diminta untuk menyelidiki anaknya bukan?!” Hendrik kembali bertanya dengan tegas, menarik jaket pria itu hingga tercekik cukup keras.
“Be-benar Tu-Tuan ... tapi aku— tidak menemukan, apa pun ... sungguh,” balas pria itu kembali dengan terbata-bata sulit untuk menjelaskan pada Hendrik karena sulit bernafas.
“Hentikan, kau bisa membunuhnya! Serahkan saja ini padaku,” Bastian mengambil alih dengan menarik Hendrik untuk berdiri dan menjaga jaraknya beberapa mundur langkah. Menyuruh Hendrik untuk menenangkan diri, namun Hendrik tetap terlihat begitu terbawa api amarah.
Bastian membawa pria itu masuk ke dalam mobil dan tersenyum pada Hendrik saat melewatinya. Hendrik membiarkan Bastian berlalu pergi dengan pria itu dengan kembali mencoba mengendalikan emosi di dalam dirinya. Namun entah mengapa, Hendrik tetap merasa bagai hilang akal.
Tak kuasa membendung pikirannya, Hendrik mengendarai mobilnya dan berkendara menuju kediaman Irene. Tanpa sadar kakinya melangkah dengan jiwa yang mengambang seolah pergi melayang meninggalkannya, Hendrik tidak perduli akan pandangan disekitarnya, yang kini berdiri mematung di depan pintu kediaman Irene.
“Nak ... Hendrik?” ucap Nenek Emma yang terkejut saat membukakan pintu.
“Nenek, apa kabarmu? Maafkan aku, bisakah aku menemui Irene sebentar saja? Hanya sebentar setelah itu aku akan pergi kembali ... aku mohon Nek,” Hendrik pun begitu sangat memelas.
Dengan penuh kebingungan Nenek Emma pun mempersilahkan Hendrik untuk masuk dan memanggil Irene untuk turun ke bawah menuju ruangan tamu. Dengan kedua kembar yang ikut berjalan bersamanya, kejadian tak terduga terjadi tanpa ia sadari di saat Hendrik menghampiri dan tiba-tiba memeluk Irene dengan begitu erat.
“Aa-apa yang kau lakukan?! Hendrik lepaskan aku! Hendrik? Kau tidak dengar? Lepaskan aku!” sentak Irene begitu terkejut, mendorong tubuh Hendrik yang terasa semakin erat memeluknya.
Entah tatapan atau pikiran apa yang saat ini menyudutkannya. Bagi Hendrik yang sempat berpangkut nyawa atas kejadian sebelumnya, keberadaan Irene yang baik-baik saja merupakan anugerah terbesar baginya. Pertimbangan akan kebimbangan dalam diri Hendrik pun kembali muncul akan,
Haruskah tetap berada disampingnya, atau pergi meninggalkannya kembali? Bisakah kebahagiaan itu hadir jika kehadiran ini hanya membawa beban baginya? Apakah rasa cinta itu ternyata masih ada?