Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
"...Karena aku tidak ingat, kapan pertemuan
pertama kita terjadi. Namun mengapa kau
selalu menghantui pikiranku... "
Ucu Irna Marhamah
***
Shica dan teman sekelasnya sudah rapi dengan pakaian olahraga mereka. Mereka sedang duduk di tepi lapangan voli menunggu guru mata pelajaran.
Namun sudah setengah jam guru mata pelajaran olahraga tidak muncul.
"Kalau Pak Bastian tidak datang, masa kita tidak olahraga." gerutu Arvian, ketua kelas F.
"Iya, bosan kita menunggu terus seperti ini." gerutu Andrew.
Terdengar suara derap langkah kaki menuju lapang voli. Siswa siswi kelas F menoleh, ternyata anak-anak kelas B yang juga akan berolahraga. Ternyata jam olahraga mereka berbarengan.
Raihan yang berjalan lebih depan menabrak Arvian yang berdiri. Padahal Arvian tidak menghalangi jalan mereka.
Shica terlihat geram melihat tingkah mereka semua. Di belakang, siswi kelas B menyusul.
"Menyebalkan sekali mereka," gerutu Dera.
"Apalagi yang depan itu," kata Shica dengan tatapan tertuju pada Raihan.
Raihan juga menatap kesal pada Shica.
Raihan dan temannya menguasai lapangan. Mereka memulai voli.
"Sepertinya guru mata pelajaran olahraga yang membimbing mereka juga tidak hadir. Makanya mereka lancang bermain tanpa izin. Padahal jelas kita lebih dulu berada di lapangan ini," kata Yoga sambil mendengus dingin.
Bola terlempar kearah kerumunan siswa kelas F. Deris menangkap bola tersebut.
Raihan menggerakkan jari tengahnya kearah siswa F.
"Kalau kalian berani, sini masuk arena, jangan hanya duduk manis seperti perempuan." kata Ragil kelas B.
Tentu saja ucapan Ragil membuat anak F kesal dan merasa tertantang.
"Siapa takut!" geram Aditya sambil berdiri. Arvian menahan bahu Aditya.
"Raihan kapten voli.. Dia bisa mengalahkan siswa kelas kami.. Belum lagi dia begitu arogan.. Dasar menyebalkan, belum lagi kelas B memang memiliki banyak penghargaan dari olahraga ini.. Seandainya ada kak Regar disini,aku akan memintanya melawan mereka. Kakakku bahkan bisa melawan mereka berenam walau sendirian." geram Shica dalam hati.
Siswa F masuk lapangan. Peluit berbunyi, voli dimulai. Pukulan kelas B pada bola mengarah pada wajah member voli F. Itu memberatkan kelas F.
"Hei! Itu curang! Mereka mengarahkan bolanya ke wajah!" gerutu Shica sambil membenarkan kacamatanya. Raihan menoleh kearanya kemudian tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Shica mendengus pelan.
"Hei, jangan hanya menonton, ayo lawan kami." kata Diana kelas B.
Siswi kelas F saling pandang. Mana bisa mereka bermain voli. Tidak ada satupun diantara mereka yang bisa bermain voli.
"Hei gadis berkacamata, bukankah kau adiknya kak Regar? Dia 'kan kapten voli, kau pasti bisa melawan kami." kata Nadia. "Meski Regar kapten voli, bukan berarti aku juga bisa voli 'kan!" batin Shica menjerit.
Tapi Shica tidak mau kelasnya diejek. Mereka harus berusaha demi nama kelas F.
Shica dan 5 temannya masuk lapangan. Mereka pun bermain voli.
Shica tidak bisa bermain voli. Bola mengenai wajahnya dan kacamatanya terbelah.
Dera dan Siska menghampiri Shica. "Shica kamu gapapa? Apa kacamatamu melukaimu?" tanya Siska.
Rena dan Tiara juga menghampirinya.
"Haha lihat si culun itu, dia sudah kehilangan teropong besarnya" ledek Raihan sambil tertawa terbahak-bahak. Teman-temannya yang lain juga tertawa.
Shica yang kesal dia menendang bola kearah Raihan dan berhasil mengenai area sensitifnya.
"Awww!" Raihan meringis sambil memegang area pribadinya. Shica terkejut. Dia segera berlari pergi karena takut Raihan balas dendam padanya.
"Hei! Jangan kabur!" teriak Raihan sambil mengejar Shica.
Raihan kehilangan jejak. Dia memasuki kelas Shica. Tidak ada siapa-siapa didalam.
Raihan menggeleng pelan kemudian berlalu.
Shica yang bersembunyi dibawah meja bisa mendengar langkah Raihan menjauh, Shica keluar dari persembunyiannya.
Dia menghela napas lega. Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya.
"Awww!" Shica meringis kemudian mendongkak ternyata Raihan.
Shica gemetar ketakutan. Kedua alis Raihan terangkat melihat wajah Shica tanpa kaca mata.
Mata hazel Shica yang begitu terang membuat Raihan terpaku.
Shica mengalihkan pandangannya karena takut dengan tatapan Raihan.
"Manis juga dia," batin Raihan.
Raihan tersenyum geli melihat ekspresi Shica namun kemudian dia mengubah ekspresinya menjadi datar.
"Beraninya kau menyakiti bagian kemaluanku!" geram Raihan.
"Aku.. Aku tidak sengaja.. Sungguh.." kata Shica.
"Minta maaf sekarang," kata Raihan.
Shica menatap Raihan dengan tatapan penuh kekesalan. "Maaf kau bilang? Kau sendiri belum meminta maaf padaku! Aku tidak mau!" bentak Shica.
"Memangnya apa salahku?" tanya Raihan polos sambil melipat kedua tangan didepan dada.
Shica menatap Raihan dengan tatapan membunuh. Raihan juga tidak mau kalah. Dia menatap Shica dengan tatapan penuh rasa kesal.
Mereka membuang muka berbarengan.
Shica berlalu, tapi lengannya dicekal Raihan.
"Mau kemana! Kau belum minta maaf," gerutu Raihan.
"Memangnya apa salahku?" tanya Shica sambil menirukan gaya Raihan.
Dia menepis tangan Raihan. Tapi Raihan mencengkram kuat kedua lengan Shica.
"Mau kemana? Jika kau tidak meminta maaf, aku akan.. " Raihan menggantungkan kalimatnya.
"Akan apa?!" tanya Shica panik.
"Apa ya?" Raihan tampak berpikir membuat Shica takut.
Shica tampak berpikir bagaimana jika Raihan akan menyakitinya?
"Bagaimana jika kita ke kelasku? Disana akan lebih leluasa dari pada disini," tanya Raihan sambil menyeringai licik.
Keringat dingin mengalir membasahi dahi Shica. Dia ketakutan. Sangat ketakutan.
Raihan tersenyum tampan. Shica mendorong dada Raihan.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau!" tangis Shica. Dia berhasil mendorong Raihan.
"Aku benci padamu Raihan benci sekali!" teriak Shica kemudian berlalu pergi.
"Ada apa dengan perempuan aneh itu? Padahal aku mau menyuruhnya mengerjakan PR Kimiaku" gerutu Raihan.
Sepulang sekolah, Shica mengunjungi kantor ayahnya. Dia sendiri yang datang kesana dengan naik taksi sepulangnya dari sekolah.
Shica berdiri didepan pintu ruangan pribadi ayahnya.
Shica mengetuk pintu tersebut.
"Masuk," sahut ayahnya dari dalam ruangan.
Shica membuka pintu dan memasuki ruangan ayahnya.
Didalam ada Ridan bersama seorang pria tampan berjas. Dia duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Shica? Tumben kamu kemari sini duduk," kata Ridan sambil menepuk kursi kosong disampingnya.
Shica pun mencium tangan ayahnya. Kemudian dia duduk disamping ayahnya.
"Perkenalkan, ini putriku. Namanya Rastani, tapi dia lebih senang di panggil Shica." kata Ridan.
"Oh iya, hai." sapa pria itu. Shica mencium tangan pria itu juga.
"Jangan mencium tanganku gadis muda" kata pria itu.
"Itu tradisi kami tradisi umat islam.. Orang yang lebih muda jika bertemu yang lebih tua harus bersalaman mencium tangan " kata Ridan.
"Oh iya, maaf aku tidak tahu." kata pria itu. Ridan tersenyum memaklumi.
"Dan sayang, Tuan ini bernama Aryatama Adiwijaya, dia ini klien Papa, perusahaannya bergerak dibidang properti." kata Ridan.
"Hebat sekali," kata Shica sambil tersenyum kecil.
"Terimakasih, ayahmu lebih hebat, memegang 2 perusahaan sekaligus." kata Tama.
"Tuan Aryatama ini menikahi seorang dokter Meisalia. Kau masih ingat? Itu dokter yang merawatmu saat demam berdarah dulu. Saat itu kau masih berusia 7 tahun." kata Ridan.
"Oh iya, aku ingat. Benarkah Tuan? Oh aku sembuh karena dokter Salia." kata Shica semangat.
Tama tersenyum. "Iya dia istriku. Jadi kamu mengenalnya?" tanya Tama.
"Iya, apa Tuan bisa menyampaikan salamku untuk dokter cantik?" tanya Shica.
"Tentu saja akan aku sampaikan," jawab Tama.
"Sejak kecil Shica memang senang memanggil dokter Salia dengan sebutan dokter cantik," kata Ridan.
Tama tertawa. "Ada-ada saja.. Baiklah aku harus kembali. Lain kali aku akan kemari lagi ya," kata Tama sambil menjabat tangan Ridan.
"Iya, sampai jumpa." kata Ridan.
"Sampai jumpa Tuan Mahali, dan gadis manis." kata Tama sambil membelai rambut Shica.
Shica tersenyum ramah. Tama pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kudengan dokter Salia sedang mengandung," kata Ridan.
"Waaahhh.. Anaknya pasti manis sekali" kata Shica sambil memegang kedua pipinya sendiri.
"Oh ya, ada apa kamu kemari? Apa Regar tidak menjemputmu?" tanya Ridan.
Ekspresi Shica berubah menjadi sedih. Ridan mengerutkan keningnya.
"kenapa, sayang?" tanya Ridan sambil membelai pipi Shica.
"Aku.. Aku mau pindah sekolah dari SMP Nusa Bangsa" jawab Shica.
"Apa? Tapi kenapa?" tanya Ridan. Shica menghela napas dalam-dalam lalu melanjutkan bicara.
"Aku hanya merasa bosan, aku mau pindah ke Bandung." kata Shica.
"Kita tidak bisa ke Bandung sayang. Bagaimana jika kamu pindahnya ke SMP yang masih di sekitaran Jakarta?" usul Ridan.
"Emmm.. Baiklah Pa." jawab Shica.
Shica menghela napas lega. Setidaknya dia tidak akan bertemu lagi dengan Raihan.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya