Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Baris Kode yang Memisahkan dan Menyatukan
Dunia anak SMP dan SMK memang terpisah oleh dinding yang tebal, namun bagiku, dinding itu mulai retak sejak aku mulai berkutat dengan proyek pameran budaya sekolah. Tugas ini bukan sekadar membuat poster, tapi membangun website pameran yang interaktif. Aku menggunakan Ibis Paint X untuk mendesain asetnya, tapi saat harus menggabungkannya ke dalam kode HTML dan CSS agar tampilannya responsif, aku benar-benar buntu.
Syntax error. Itu adalah musuh terbesarku minggu ini.
Aku duduk di perpustakaan sekolah pada jam istirahat, menatap layar laptop dengan frustrasi. Flexbox yang seharusnya membuat elemen gambarku berada di tengah, justru berantakan ke mana-mana. Rasanya aku ingin menyerah. Saat itulah, sebuah pesan muncul di notifikasi ponselku dari Luq. Kami sudah sering bertukar pesan akhir-akhir ini, membahas hal-hal acak, Bermain Game online bersama sampai akhirnya dia tahu aku sedang berjuang dengan web development.
[Kak Luq] : "Masih mentok di layout CSS-nya? Kalau kamu pakai display: flex; jangan lupa justify-content: center; sama align-items: center;. Itu kunci biar nggak pusing."
Aku membaca pesan itu dengan mata berbinar. Bagaimana dia bisa tahu persis di mana letak kesalahanku tanpa melihat layarku?
Andrea: "Udah dicoba, kak. Tapi elemen gambarnya tetap geser kalau dibuka di HP. Responsive-nya nggak jalan."
[Kak Luq] : "Ah, mungkin media query kamu yang kurang spesifik. Ribet jelasin via chat. Gue ada urusan di kafe deket sekolah kamu siang ini, Pas banget di jam pulang sekolah. Kalau mau, bawa laptop kamu ke sana. Gue bantu benerin."
Sore itu, jam di sekolah seolah bergerak lebih lambat karena aku tidak sabar ingin segera selesai. Sesampainya di kafe, aku melihat Luq sudah duduk di sudut ruangan, di depannya ada laptop terbuka dengan baris kode yang rumit. Saat aku mendekat, dia tersenyum—senyum yang selalu terasa hangat, seperti senyum seorang kakak yang bangga melihat adiknya belajar hal baru.
"Sini, Rea. Taruh laptop kamu di sini," sapanya santai, lalu menggeser kursi di sebelahnya.
Kami mulai bekerja. Luq benar-benar sabar. Dia tidak hanya memperbaiki kodenya, tapi dia menjelaskan logika di baliknya. "Lihat, Rea," katanya sambil menunjuk layar. "Coding itu kayak ngatur barisan di bengkel. Kalau lo nggak kasih batasan (width/height), semuanya bakal tabrakan. kamu pinter juga, desainnya udah bagus, tinggal teknisnya aja yang perlu dipoles dikit."
Selama satu jam, kami bekerja dengan kompak. Luq bukan hanya membantu sebagai "teman Hazel", tapi sebagai sosok kakak yang ingin aku berhasil. Sesekali dia bercanda, "Gue dulu pas seumuran kamu, bikin web begini aja udah pusing setengah mati. Rea hebat deh bisa sejauh ini."
Saat tampilan website-ku akhirnya berhasil rapi dan responsif di layar ponsel, aku melonjak kegirangan. "Wah! Kak Luq, keren banget! Makasih banyak!"
Luq tertawa melihat reaksiku. Dia mengacak pelan rambutku—sebuah gerakan yang sangat natural, benar-benar seperti kakak yang sedang gemas melihat adiknya. "Sama-sama, Rea. Belajar yang rajin ya. Nanti kalau ada yang susah, tanya aja. Gue seneng kok bantuin kamu."
Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka. Suara tawa yang familiar terdengar. Kak Hazel masuk bersama beberapa teman sekolahnya. Hazel menoleh ke arah sudut ruangan dan matanya langsung tertuju pada kami.
Alih-alih marah atau curiga, Hazel justru tersenyum lebar. Dia berjalan menghampiri kami dengan santai. "Wih, lagi belajar coding ya?"
"Iya, Zel. Rea minta ajarin bikin web buat pameran sekolahnya," jawab Luq tanpa beban sambil menutup laptopnya. "Adik lo pinter, Zel. Logic-nya jalan, tinggal butuh pembiasaan aja."
Hazel menarik kursi dan duduk di dekat kami, sama sekali tidak ada rasa curiga. Dia justru menepuk bahuku dengan bangga. "Bagus itu, Rea. Luq emang jago urusan komputer dan jaringan. Belajar yang bener dari dia, biar lo makin pinter."
"Iya, Kak Hazel. Kak Luq emang ngebantu banget," sahutku sambil tersenyum.
Momen itu terasa sangat nyaman. Tidak ada ketegangan, tidak ada cemburu, hanya ada sebuah lingkaran persahabatan yang suportif. Aku merasa beruntung. Luq bukan hanya teman abangku, tapi dia juga menjadi kakak bagiku.
Sebelum pulang, Hazel memesankan kami minuman tambahan. Kami menghabiskan waktu sore itu dengan mengobrol ringan. Luq bercerita tentang pengalamannya di SMK, tentang bagaimana dia belajar coding secara otodidak di sela-sela jam praktek laboratorium. Aku mendengarkan dengan kagum, sementara Hazel sesekali meledek Luq yang terlalu serius kalau sudah membahas teknologi..
Saat kami berpisah di depan kafe, Luq menepuk bahuku sekali lagi. "Hati-hati di jalan ya, Rea. Belajar yang bener, jangan begadang buat push rank. kamu itu adek yang pinter, jadi harus jaga kesehatan."
"Iya, Kak Luq. Makasih ya buat hari ini!" jawabku tulus.
Hazel Dengan Bercanda, Bibir nya membentuk cemberut yang dramatis "Gak mau Kasih motivasi ke Gue juga?".
"Minta AI semangatin lu aja, Zel." Ujar Luq sambil tertawa.
Kak Hazel Mendengus Sebal, Tapi Aku tau Dia gak beneran kesal.
Aku pulang dibonceng Hazel. Di sepanjang jalan, aku menatap punggung kakakku dengan perasaan hangat. Aku sadar, memiliki seseorang yang peduli, yang mau membimbing, dan yang menganggapku sebagai adik kesayangan—itu jauh lebih berharga dan lebih menenangkan.
Malam itu, saat aku membuka laptop, aku tidak lagi merasa sendirian. Aku punya tujuan, aku punya proyek yang kusukai, dan aku punya dua orang hebat di hidupku: Hazel yang selalu menjagaku, dan Luq yang selalu siap membimbingku. Dan itu, bagiku, sudah lebih dari cukup untuk membuat duniaku terasa lengkap dan penuh dengan kemungkinan.