NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Gedung pusat Halim Group pagi itu seperti sedang dikepung badai. Puluhan wartawan sudah berkerumun di lobi, mencium aroma skandal besar. Di dalam ruang rapat utama, suasana jauh lebih mencekam. Aldric Halim duduk di kursi direktur utamanya dengan wajah pucat, sementara Shania terus-menerus memoles riasannya untuk menutupi tangannya yang gemetar.

"Ayah, tenanglah. Begitu investor dari Singapura itu tanda tangan, kita bisa langsung cabut ke luar negeri," bisik Shania, mencoba menenangkan ayahnya—sekaligus dirinya sendiri.

Aldric hanya mengangguk kaku. Namun, harapan itu hancur saat pintu ganda ruang rapat ditendang terbuka dari luar.

*BRAK!*

Bukan investor Singapura yang masuk, melainkan alzena—yang dipanggil semua orang sebagai . Dia melangkah masuk dengan gaun hitam elegan, mantel bulu putih di bahu, dan tatapan yang seolah siap menguliti siapa pun di depannya. Di belakangnya, Keano berjalan dengan keangkuhan seorang penguasa, diikuti oleh Evan dan Virel.

"Pagi, Papa. Pagi, benalu," sapa Alzena dengan nada santai tapi mematikan.

Aldric berdiri dengan kasar. "Alzena! Apa-apaan ini?! Ini rapat tertutup!"

"Rapat tertutup buat nipu orang lagi maksudnya?" Alzena berjalan santai, lalu dengan gaya bar-bar, dia duduk di atas meja rapat tepat di depan Aldric, menyilangkan kakinya yang jenjang. "Investor Singapura yang Papa tunggu? Maaf ya, mereka nggak bakalan dateng. Karena perusahaan itu... punya gue."

Seluruh ruangan hening. Shania memekik, "Nggak mungkin! Kamu cuma istri pajangan Winchester! Dari mana kamu punya uang buat bikin perusahaan cangkang?"

Alzena menoleh, memberikan senyum miring yang sangat menyebalkan. "Shania, sayang... lo kelamaan main drama sampai lupa kalau otak gue jauh lebih mahal dari semua koleksi tas lo. Gue bukan Alzena yang bisa lo begoin lagi."

Keano melangkah maju, meletakkan setumpuk dokumen di depan para pemegang saham. "Bapak dan Ibu sekalian, audit mandiri yang dilakukan istri saya membuktikan bahwa Tuan Aldric telah menggelapkan dana yayasan keluarga selama sepuluh tahun. Secara hukum, posisi direktur utama sudah tidak sah lagi."

Aldric terjatuh kembali ke kursinya. "Ini fitnah! Keano, jangan biarkan dia menghancurkan keluarganya sendiri!"

"Keluarga?" Alzena tertawa renyah, tapi matanya sedingin es. "Keluarga mana yang buang anaknya sendiri cuma karena takhayul? Keluarga mana yang bakar panti asuhan buat ngilangin jejak darah dagingnya?"

Kalimat itu membuat Aldric mematung. Wajahnya berubah jadi seputih kertas. "Kau... kau tahu apa..."

"Gue tau semuanya, 'Pa'," bisik Alzena, mencondongkan tubuhnya ke arah Aldric. "Polisi sudah di jalan ke sini. Dan buat lo, Shania... surat pembatalan adopsi lo udah gue tandatanganin. Mulai sekarang lo bukan lagi bagian dari Halim. Keluar dari sini sebelum pengawal Winchester seret lo ke selokan!"

Shania menangis histeris, mencoba meraih tangan Virel. "Kak Virel, tolong aku! Aku nggak tau apa-apa!"

Virel menepis tangan Shania dengan dingin. "Lo tau semuanya, Shania. Lo cuma pura-pura bego buat dapet kemewahan. Pergi dari sini."

Setelah kekacauan itu berakhir dengan Aldric yang dibawa polisi dan Shania yang diusir paksa, ruangan direktur itu kini hanya menyisakan Alzena, Keano, dan Virel.

Alzena berdiri di balkon, menatap kota dengan perasaan kosong. Di tangannya, dia meremas foto bayi kembar yang diberikan Papa Adrian tadi malam.

"Puas?" tanya Keano, berdiri di sampingnya.

Alzena menghela napas panjang. Dia menatap foto itu lagi, lalu menatap alamat di Calveron. "Gue ngerasa ada yang aneh, Keano. Soal Arcelia—maksud gue, adik gue yang dibuang itu."

Keano mengernyit. "Maksudmu?"

"Jejak Arcelia yang asli seolah dipaksa hilang dari dunia ini," Alzena bicara dengan nada serius, tidak lagi bar-bar seperti tadi. "Kenapa panti asuhan itu harus dibakar habis sampai nggak ada saksi? Kenapa Papa Adrian bisa simpan foto ini selama sepuluh tahun dan baru kasih sekarang? Kenapa foto ini ada di tangan keluarga Winchester, bukan keluarga Halim?"

Keano terdiam. Pertanyaan itu masuk akal. "Ayah bilang dia menemukannya di arsip lama."

"Nggak mungkin, Keano," sahut Alzena cepat. "Papa Adrian itu orang yang sangat teliti. Dia nggak mungkin 'nggak sengaja' nemu sesuatu. Gue ngerasa, ada rahasia yang jauh lebih gelap daripada sekadar penggelapan dana Papa gue. Ini bukan cuma soal bisnis, ini soal sesuatu yang disembunyikan dua keluarga besar kita."

Alzena menatap Keano tajam. "Alamat di Calveron ini... gue ngerasa ini kunci buat tau apakah Arcelia beneran mati, atau sebenernya dia sengaja 'dihilangkan' oleh orang yang lebih berkuasa dari Papa Aldric."

Virel yang mendengar itu mendekat. "Zen, Kakak dapet kabar dari Bi Asih. Ada orang namanya **Baron** di Calveron. Dia yang ngurus semua 'pembersihan' jejak panti asuhan dulu. Ayah sering kirim uang ke dia."

Alzena mengepalkan tangannya. "Baron... Oke. Kalau gitu tujuan kita ke Calveron besok bukan cuma buat liburan atau pamer jabatan. Kita ke sana buat cari tau siapa sebenernya yang pengen Arcelia mati."

Keano memegang bahu Alzena, memberikan kekuatan. "Apapun yang kita temukan di sana, meskipun itu melibatkan masa lalu keluargaku, aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian, Alzena."

Alzena menatap suaminya itu cukup lama. "Gue nggak butuh pahlawan, Keano. Gue cuma butuh lo nggak kaget kalau ternyata dunia lo nggak sebersih yang lo kira."

"Aku sudah tahu itu sejak pertama kali aku menikahimu," balas Keano dengan senyum tipis, lalu mencium kening istrinya dengan lembut.

****************

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!