Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Tidak berselang lama, Mama Wina dan Lara masih dengan muka bantal nya, datang dan bergabung di meja makan.
"Wih, tumben mbak masak enak buat sarapan kita semua, gak lagi mimpi kan?" Tanya Lara dengan tidak tahu malu nya.
"Udah makan aja, memang udah kewajiban nya sebagai istri dan menantu untuk melayani kita!" Mama Wina berkata sambil memasuk kan nasi ke dalam piring nya.
Maira hanya tersenyum smirk, dia tidak perduli dengan apa yang mereka katakan. Pagi ini Maira sengaja mengalah dan menekan ego nya, membuat mereka bahagia agar tujuan nya lebih mudah tercapai.
Azam yang seperti nya juga baru bangun tidur, langsung duduk di meja makan.
"Wah, makan enak nih!" Azam langsung mengambil sarapan dan menyantap nya.
"Sayang, hari ini Ayu pengen keluar, tapi mas belum gajian. Pinjemi mas uang ya?" Azam membujuk Maira.
"Gak banyak kok sayang, cuma 3 juta. Nanti setelah mas gajian mas akan bayar ya!" Bujuk Azam lagi.
"Boleh deh mas!" Jawab Maira sambil tersenyum.
Bayu tersenyum puas, karena berhasil mendapatkan uang dari Maira untuk menyenangkan selingkuh nya. Maira sengaja memberikan pinjaman itu, dengan begitu dua yakin semua orang pasti akan ikut keluar.
"Mama ikut deh, Mama bosen di rumah terus!" Mama Wina berkata sambil mengunyah makanan nya.
"Aku juga ikut pokok nya!" Lara ikut bersuara.
Maira hanya tersenyum melihat nya, rencana nya untuk membuat mereka pergi dari rumah berjalan dengan lancar. Maira langsung pergi ke kamar nya, dia memberi tahu Arini bahwa rencana nya berhasil. Maira segera menyiapkan uang sebesar 3 juta, seperti yang di minta oleh Azam.
Maira melihat sendiri, mereka yang langsung bersiap untuk pergi. Azam bahkan sengaja memesan taksi online untuk membawa mereka semua, mereka sengaja ingin pergi tanpa Maira.
"Ini mas uang nya!" Azam menyerahkan semua uang itu tepat di depan semua orang.
"Makasih Mai, nanti setelah gajian mas akan langsung bayar!" Kembali Azam berkata.
"Selamat bersenang - senang!" Maira berkata sambil melambaikan tangan nya.
Mereka semua segera keluar, karena taksi online yang di pesan oleh Azam sudah datang.
"Tumben istri mu gak ngereog, mas?" Tanya Nia saat mereka semua sudah berada di dalam mobil.
"Iya nih, kesambet apa tuh. Biasa nya gak pernah mau ngeluarin duit lagi. Tiba - tiba aja sekarang jadi baik!" Lara ikut heran dengan kakak ipar nya.
"Entah lah, aku juga tidak tahu!" Azam mengangkat bahu nya.
"Sudah lah, terserah dia mau apa. Yang penting kita bisa senang - senang hari ini!" Mama Wina menengahi anak dan menantu nya.
"Benar banget itu, ngapain juga ngomongin si mandul itu!" Ujar Lara lagi.
Mereka semua segera pergi bersenang - senang, sementara Maira langsung menelepon Arini.
"Hallo Rin, mereka semua udah pergi, sekarang kau bisa datang ke rumah ku!" Maira berkata pada Arini melalui sambungan telepon.
"Ok deh Mai, aku bakalan bawa Wisnu datang ke rumah mu!" Jawab Arini dari seberang sana.
"Aku tunggu sekarang juga ya!" Ujar Maira lagi.
"Ok Mai!" Jawab Arini dari seberang.
Maira menunggu kedatangan Arini ke rumah nya, dia duduk santai sambil menscrol sosial media milik nya. Dia mengintip sosial media milik suami dan keluarga nya, dia ingin tahu kemana saja mereka pergi.
"Mbak, nanti kalau Arini dan teman nya datang, panggil aku di kamar ya. Mereka akan memasang cctv di rumah ini!" Maira berkata pada mbak Rini.
"Baik Non!" Jawab mbak Rini sambil mengangguk kan kepala nya.
Maira segera kembali ke kamar nya, sedangkan mbak Rini meneruskan pekerjaan nya membereskan rumah. Maira mengecek sada sebuah pesan email yang masuk, dari seseorang yang tertarik dengan mobil nya.
Beberapa waktu yang lalu, Maira memang mempromosikan mobil nya di grup jual beli. Dan sekarang sudah ada yang tertarik ingin membeli nya, Maira membuat janji untuk bertemu sore ini. Calon pembeli itu setuju, Maira senang sekali karena sebentar lagi mobil nya akan terjual.
"Non Maira, Non Arini nya sudah datang, dia menunggu di ruang tamu!" Mbak Rini berkata pada Maira.
"Makasih ya mbak, tolong buatkan minuman dan juga cemilan untuk mereka!" Maira memberikan perintah pada mbak Rini.
"Baik non!" Mbak Rini pun segera pamit untuk pergi ke belakang.
Maira bergegas menemui tamu nya, Arini dan 2 orang laki - laki sudah berada di ruang tamu rumah nya.
"Udah nyampe Rin!" Sapa Maira basa - basi.
"Barusan aja, oh ya Mai, kenalkan, ini Dika sepupu aku dan ini Tio, teknisi di toko nya!" Arini memperkenalkan mereka berdua.
"Saya Maira, silahkan duduk mas!" Maira memperkenalkan diri nya.
Mereka ngobrol sejenak, Maira menceritakan keinginan nya untuk memasang cctv di beberapa titik di rumah nya. Dia ingin cctv yang kecil dan tidak di sadari oleh mereka semua, cctv yang bisa di koneksi kan dengan ponsel nya.
Mbak Rini keluar membawa minuman lengkap dengan cemilan nya, Maira mempersilahkan mereka minum dulu sebelum mulai bekerja.
Maira memasang kamera cctv hampir di semua sudut rumah nya, dari dapur, ruang tamu, ruang keluarga, kamar Nia, kamar nya sendiri dan juga kamar ibu mertua nya.
Semua kamar itu pintu nya sengaja mereka kunci, tapi Maira sebagai pemilik rumah tentu saja dua memilki semua kunci pintu yang ada di rumah nya. Maira tidak main - main, dia akan membongkar kebusukan suami dan juga keluarga nya di depan orang banyak.
Dika dan Tio memasang semua kamera di tempat yang tersembunyi, sesuai dengan keinginan Maira. Maira dan Arini tampak bicara banyak hal sambil menunggu semua nya selesai.
"Rin, mobil aku udah ada yang nawarin. Sore ini dia minta ketemuan sambil lihat langsung barang nya, kamu sibuk gak? Kalau gak temani aku ya!" Maira berkata pada Arini.
"Boleh, boleh rin. Nanti aku temani kamu ketemu sama orang nya!" Arini setuju untuk menemani sahabat nya.
"Semua nya sudah mbak, tinggal kita setting program nya saja!" Dika berkata pada maira.
"Oh ya udah mas, langsung saja setting nya sama ponsel aku saja!" Maira menyerahkan ponsel nya.
Dika menerima ponsel Maira, setelah sebelum nya dia mengatur settingan nya di laptop milik nya, kini dia mengatur nya di ponsel Maira.
"Udah mbak, seperti ini ya mbak!" Dika lalu mulai menunjuk kan cara membuka semua nya satu persatu.
Maira mengerti dengan cepat apa yang di jelas kan oleh Dika, benar saja kamera itu tidak terlihat oleh siapa pun. Tapi kualitas gambar dan suara nya juga sangat bagus, bahkan di dalam gelap sekalipun.
"Makasih banyak ya, bayaran nya saya transfer saja!" Maira berkata pada Dika.
"Boleh mbak!" Dika lalu memberikan nomor rekening nya pada Maira.
Setelah semua urusan Cctv selesai, Dika dna Tio langsung pamit dari rumah Maira. Kini tinggal lah Maira dan Arini, kedua nya berniat untuk bertemu dengan calon pembeli nya mobil Maira.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE