Faris baru saja menyelesaikan pendidikan S1. Ia direkrut untuk bekerja diperusahaan milik sepupunya dikota.
Karena belum memiliki cukup uang untuk mengontrak Rumah, Faris tinggal bersama Sepupunya Rizal Pangkubowo dan istrinya Vannesa.
Tinggal bersama sepupu dan iparnya membuat Faris merasakan dilema, bagaimana tidak? jika dirumah Faris tergoda dengan kecantikan Vanes sementara dikantor Faris mengetahui perselingkuhan Rizal.
Entah benar atau salah, Faris ingin menyelamatkan Vanes dari rumah tangga toxicnya.
Akankah Faris bisa menyelamatkan Vanes? atau malah Faris terjebak dalam rumah tangga sepupunya selamanya?
Update setiap hari, kalau suka jangan lupa like vote dan komen yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Rizal masih berdiri ditempatnya, menunggu jawaban dari Faris dan Vanes dimana keduanya hanya diam saja belum menjawab.
Faris sendiripun terlihat bingung, Ia tak tahu harus menjawab apa, Ia merasa seperti ketahuan berselingkuh dengan iparnya sendiri.
"Nggak bisa tidur mas jadi minum coklat hangat sambil ngobrol dikit biar kami nggak canggung lagi." balas Faris asal.
"Ohh, kalau udah selesai buruan masuk. Udara diluar dingin nanti kalian masuk angin." kata Rizal.
Faris mengangguk dan segera pergi meninggalkan Vanes sementara Vanes memilih kembali duduk ditempatnya.
"Nggak mau masuk?" tanya Rizal yang kini berjalan mendekati Vanes.
"Nanti, masih mau disini."
"Ohh sengaja biar disamperin sama Faris lagi?"
Vanes menatap Rizal tak percaya, bisa bisanya Rizal mengatakan itu padanya padahal selama ini Vanes menjaga diri agar tidak dekat dengan pria manapun.
"Jangan bersikap murahan." ucap Rizal lalu berjalan meninggalkan Vanes, memasuki rumah.
Vanes tersenyum sinis, "Ucapannya sangat cocok untuk dirinya sendiri."
Vanes menghabiskan segelas coklatnya, setelah itu Ia masuk kedalam rumah. Vanes melihat Faris dan Rizal tengah menonton televisi diruang tengah.
Vanes melewati begitu saja, tak peduli dengan Rizal yang sempat menatap ke arahnya tajam.
Vanes berbaring diranjangnya, semenjak menikah Ia memiliki penyakit imsomnia dimana Ia akan susah tidur saat malam hari bahkan Ia pernah tak tidur semalaman.
Tidak bisa tidur membuat Vanes stres apalagi Vanes selalu memikirkan banyak hal negatif saat tidak bisa tidur.
Vanes mengambil obat pereda sakit kepala dilaci mejanya. Ia menelan satu buah agar mengantuk karena hanya ini yang selalu dilakukan Vanes untuk segera tidur meskipun Vanes tahu jika minum obat sembarangan bisa membahayakan kesehatan namun Vanes tidak memiliki pilihan lain.
Beberapa menit setelah menelan pil pahit, kantuk mulai menyerang dan Vanes segera terlelap.
Sementara diluar, Faris sudah mulai mengantuk namun Rizal memintanya untuk menemani menonton televisi dan Faris tidak ada pilihan untuk menolak ajakan Rizal.
"Aku pikir kalau acara ke pesta lama mas." ucap Faris yang langsung diangguki oleh Rizal.
"Biasanya juga lama, gegara si Mira, gue nggak jadi kesana."
"Kok gitu mas?" Faris semakin penasaran.
"Iya Si Mira sakit perut jadi terpaksa batalin pergi ke pesta."
Faris berohh ria, "Kenapa nggak pergi sendiri aja mas?"
"Males kalau pergi sendiri."
Faris mengangguk mengerti, kini Ia bisa menebak jika Rizal cinta mati dengan Mira hingga tidak akan pergi jika tidak bersama dengan Mira.
"Aku pikir mas bakal ngajak Mbak Vanes." sindir Faris memberanikan diri.
Rizal terdiam cukup lama membuat Faris sempat tidak enak karena mengajukan pertanyaan yang berani namun semenit kemudian Rizal akhirnya menjawab, "Nggak, gue nggak pernah ajakin Vanes kemanapun."
Faris mengepalkan tangannya, entah mengapa rasanya kesal sekali dengan ucapan Rizal.
"Lo nggak tahu kan kalau gue sama Vanes dijodohin?" tanya Rizal yang langsung digelengi oleh Faris meskipun sebenarnya Faris sudah tahu dari mulut Nisa.
"Gue udah bilang sama nyokap kalau nggak mau sama Vanes, gue maunya nikah sama Mira tapi nyokap gue nggak setuju. Tahu sendiri kan gimana galaknya Nyokap gue?" cerita Rizal dengan senyuman hambar "Mira itu cinta pertama gue semenjak gue kuliah. Kita udah pacaran bertahun tahun, dia udah ngasih segalanya buat gue jadi gue nggak bisa ninggalin dia."
Kini akhirnya Faris mengerti betapa beratnya pilihan Rizal namun tetap saja Rizal salah jika menduakan Vanes.
"Gue dan Vanes punya perjanjian, kalau selama setahun kita nikah dan belum ada rasa cinta, kita bakal cerai. sekarang udah jalan 6 bulan tinggal 6 bulan lagi waktu kita bersama." ungkap Rizal.
"Kalau mas Rizal nggak buka hati buat Mbak Vanes, tetap susah untuk jatuh cinta sama Mbak Vanes." komentar Faris.
"Bukannya nggak mau buka hati Ris, gue cuma nggak mau nyakitin Mira."
Faris menatap Rizal, "Jadi emang Mas nggak mau buka hati buat Mbak Vanes? Mas cuma menunggu waktu buat cerai?"
Rizal menganggukan kepalanya, "Gue nggak ada pilihan lain Ris, makanya gue nggak berani nyentuh Vanes karena gue ngerasa hubungan kita nggak akan lama jadi setelah cerai dia bisa balik jadi gadis lagi dan nggak ngerasa dirugiin sama gue." ucap Rizal.
Faris hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya, rasanya Ia ingin mengumpati kebodohan Rizal yang sudah menyianyiakan gadis secantik dan sebaik Vanes.
Jika Ia berada di posisi Rizal tentu Ia akan tetap memilih bersama Vanes dan menjaganya dengan baik.
"Gue berharap Vanes bisa ketemu cowok baik, enggak cowok brengsek kayak gue." tambah Rizal.
"Bener emang harusnya mbak Vanes dapet cowok yang lebih baik dari Mas Rizal yang tidak memiliki pendirian." batin Faris.
Kini Faris dan Rizal sama sama diam, mata mereka menatap layar televisi namun pikiran mereka melayang jauh dari tempatnya.
Rizal sudah menceritakan segalanya pada Faris namun ada hal lain yang tidak diketahui oleh Faris, alasan lain Rizal mau menikah dengan Vanes adalah karena Saham.
Ya setelah menikah dengan Vanes, Ayah mertua Rizal memberi hadiah saham yang nilainya cukup fantastis dan dengan saham itu kini perusahaan Rizal semakin berkembang pesat.
Setelah satu tahun, mereka akan bercerai jika saham itu diminta kembali pun Rizal tidak akan mempermasalahkannya karena kini Rizal memiliki banyak saham lain.
"Mas, aku ngantuk nih. Tidur duluan ya?" pamit Faris karena merasa muak dengan Rizal setelah mendengar cerita dari Rizal.
"Ya sudah sana, sorry kalau ganggu waktu Lo!"
Faris menggelengkan kepalanya, "Enggak kok mas,"
Faris beranjak dari duduknya, sebelum Ia ke kamar sempat melihat ke sekitar, memastikan jika Vanes tidak berada disana mendengar cerita Rizal.
"Aman." batin Faris lalu masuk ke kamarnya.
Faris berbaring diranjang, matanya memandan ke atas langit langit kamarnya. "Mas Rizal nggak bisa cinta sama Mbak Vanes, bentar lagi mereka akan cerai jadi nggak masalah dong kalau gue deketin Mbak Vanes?" gumam Faris lalu tertawa hambar.
"Gila emang mas Rizal, bisa bisanya dia sia siain cewek kayak Mbak Vanes." tambah Faris lalu menarik selimutnya dan segera memejamkan matanya.
Sementara diluar, Rizal masih duduk didepan televisi yang masih menyala.
Pikirannya melayang, masih memikirkan tentang hubungan segitiga antara dirinya, Mira dan Vanes.
Awalnya Rizal sudah bisa menebak jika Faris akan tahu hubungannya dengan Mira namun Ia tak menyangka jika secepat ini.
Setidaknya kini Faris tahu akan posisinya dan mungkin bisa memaklumi perasaannya.
Rizal tak lagi harus sungkan jika Ia bermesraan dengan Mira didepan Faris.
Rizal juga tidak harus memikirkan tatapan sinis Faris saat Ia berduaan dengan Mira dikantor.
Ya Faris pasti sudah memaklumi perasaannya karena Faris juga seorang pria.
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen yaaa