Gebi baru saja mengetahui kalau sang Papa mengidap kanker otak, dan sebagai permintaan terakhirnya. Gebi harus menikah dengan pria yang tidak ia kenal.
Jadi meskipun keberatan Gebi tetap menyetujui permintaan Papanya, namun ia tak menyangka bahwa keputusan nya adalah hal yang ia sesali, ketika mengetahui suaminya sudah memiliki kekasih.
Terperangkap dalam pusaran kebohongan, N@fsu dan pengkhianatan. Akankah Gebi mempertahankan pernikahan nya ??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 07~Masuk Rumah Sakit
Sudah lewat jam dua dan Gebi baru saja terbangun dari tidurnya. Seluruh tubuh nya terasa sakit sekali, terutama bagian bawah nya.
Gebi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Lambat laun, rasa frustrasi menguasai perasaan nya ketika ia tidak melihat orang yang ia harapkan.
Memangnya apa yang bisa Gebi harapkan? Itu semua terjadi karena n@fsu. Ia dan Kean hanya terbawa oleh panasnya keadaan. tidak lebih dan tidak kurang.
"AHH!" Gebi berteriak ketika ia mencoba untuk duduk dan jatuh kembali ke tempat tidur.
Sialan!
Gebi tidak tahu itu akan sangat menyakitkan. Ia tidak mencoba untuk bergerak lagi, ia hanya membiarkan dirinya berbaring.
Sepertinya nasibnya sangat buruk hari ini. Gebi pikir dirinya mungkin juga terkena flu. Ia tersenyum pahit. "Dan suamiku tidak ada di sisiku setelah apa yang terjadi dengan kami" bisik nya pelan.
Gebi ingin menangis, tapi ini salahnya. Ia biarkan tubuhnya menjadi budak sentuhan dan ciuman Kean.
"Mungkin dia sedang bersama kekasihnya sekarang, dan melakukan hal yang sama," kata Gebi kesal.
Gebi berusaha mengabaikan apa yang berkecamuk di pikirannya dan beristirahat. Ia butuh lebih banyak istirahat, ia tidak perlu berpikir berlebihan. dengan lembut Gebi membungkus tubuhnya dengan selimut karena merasa tubuhnya sangat dingin.
Baru saja Gebi memejamkan mata, tiba-tiba ponsel nya berdering. Ia tidak bisa membuka mata, jadi ia hanya mencari dari mana suara itu berasal. Ketika sudah menemukan ponselnya, Gebi langsung menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menelpon.
"H- halo?" Ucap Gebi kelelahan.
Karena keadaan nya yang tidak sehat, Gebi bahkan tidak mengerti apa yang dikatakan penelepon. Ia melepaskan ponselnya dan membiarkan kegelapan membungkus dirinya.
*******
Gebi terbangun di sebuah ruangan bernuansa putih. Penglihatan nya masih kabur, tetapi ia yakin kalau saat ini ia berada di rumah sakit.
"Kak, dia sudah bangun." Gebi mendengar seseorang berkata.
"Sayang kamu baik- baik saja?" sebuah suara yang sangat Gebi kenal berbicara.
Ia merasa seperti berhalusinasi. Hingga memejamkan mata lagi, dan kegelapan kembali ia rasakan.
Ketika Gebi bangun lagi, ia merasa sedikit lebih baik. Hanya tubuh bagian bawah nya yang masih sakit, tetapi penglihatan nya sudah membaik, jadi ia kaget ketika melihat Kean duduk di samping ranjang tempat tidurnya. Kean masih mengenakan pakaian kantor, membuat Gebi tahu kalau pria itu belum pulang.
“Kean... ” panggil Gebi pelan. Perlahan, matanya melebar. Kean dengan cepat berdiri dan menyentuh bahu, lengan, dan tangan Gebi..
"Di mana yang sakit? Aku akan menelepon dokter," jawab Kean panik.
"Aku baik- baik saja, tidak perlu memanggil dokter" Gebi meyakinkan Kean
Kean menghela nafas, seolah ada duri yang ditarik keluar dari dadanya, lalu duduk lagi. Ia memegang tangan Gebi, membuat wanita cantik itu sedikit bingung.
"Maafkan aku !" Ucap Kean tulus.
"Untuk?"tanya Gebi
"Kalau bukan karena kebodohanku, kamu tidak akan dirawat di rumah sakit," balas Kean lagi semakin merasa bersalah.
Alis Gebi terangkat. "Apa maksudmu? Wajar jika seseorang sakit Kean Kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."
Kean ragu- ragu untuk menatap Gebi, dan kembali menurunkan pandangannya.
"Itu karena aku mengambil keperaw@nan mu, itu sebabnya kamu ada di sini, dengan luka gores. Seharusnya aku menahan semuanya"
Mendengar hal itu Gebi menutup wajahku karena malu.
Astaga!
Jadi ia dirawat di rumah sakit karena itu? Gebi sakit karena habis melakukan itu sama Kean ?
Kean melepaskan tangan Gebi dari wajah nya, Dia menatap Gebi dengan serius, lalu menyelipkan rambut Gebi ke belakang telinga. “Dokter bilang kamu perlu istirahat sekitar seminggu. Kamu tidak boleh bergerak dulu biar cepat sembuh,” ucapnya, lalu meremas tangan Gebi.
Gebi hanya menjawab dengan anggukan.
"Aku akan membeli makanan kita dulu, aku tahu kamu belum makan," sambung Kean, membuat Gebi tersenyum tipis.
"Apakah kamu tidak punya pekerjaan?" tanya Gebi membuat Kean kembali menatapnya.
"Sekretarisku akan mengurus itu, untuk saat ini aku akan menjagamu dulu, sampai kamu baik- baik saja," jawab Kean.
Gebi kembali memberinya senyum palsu dan kemudian mengalihkan pandangan nya.
Sekarang Kean punya waktu untuk merawat nya karena sedang sakit, Setelah ia sembuh nanti, Gebi yakin Kean tidak akan peduli lagi.
******
Beberapa hari berlalu, yang Gebi lakukan hanya tidur sepanjang hari, duduk hanya untuk makan. Dokter mengatakan bahwa ia bisa pulang dan sembuh., tetapi Kean tetap ngotot ingin Gebi di rawat di rumah sakit.
Hari pertama Gebi di rumah sakit sangat menyiksa, ia menangis setiap kali ia pipis karena sakit. Untungnya, seiring berjalannya waktu, rasa sakitnya berangsur- angsur berkurang.
Kean tidak masuk kerja selama seminggu, ia hanya mengerjakan semuanya melalui laptopnya.dan Kean juga yang mengurus perusahaan keluarga Gebi..
Keduanya tidak banyak bicara tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Akhirnya, hari ini Gebi keluar dari rumah sakit. Keesokan harinya, Gebi dan Kean langsung pergi ke kantor, Kean membantu Gebi hal- hal yang tidak Gebi mengerti.
"Kamu teman yang tidak berguna, kamu bahkan tidak meneleponku setelah pernikahanmu, dan sekarang kamu menggunakan alasan bahwa kamu sakit," ucap Elda.
Saat ini Gebi dan Elda berada di kafe tua yang biasa mereka kunjungi bersama.
"Maaf," ucap Gebi sambil memasang ekspresi lucu.
Elda hanya terkekeh dan menatap Gebi dengan serius.
"Jadi, bagaimana bulan madumu?"
Gebi langsung memuntahkan semua kopi dari mulut nya saat mendengar pertanyaan Elda.
"Apa- apaan Geb. Ini Menjijikkan." Elda mengeluh sambil menyeka wajahnya.
"Brengsek! Jangan tanyakan itu," kata Gebi kesal. Padahal ia mencoba untuk melupakan apa yang terjadi, tetapi Elda kembali mengingatkan.
"Apa?" Ucap Gebi saat Elda menunjuk wajahnya menggunakan jari telunjuknya.
"Apa sesuatu telah terjadi, apakah rasanya enak? Ya kamu pasti sangat menikmatinya. HAHA"
"Kau benar- benar teman sialan" Gebi semakin kesal saja.
"Tunggu, kamu dirawat di rumah sakit setelah pernikahanmu. Hmmmm, jangan bilang kamu dirawat di rumah sakit karena kamu habis melakukan itu sama Kean ?"
Gebi bisa merasakan panas di wajah nya atas apa yang dikatakan Elda. Insting sahabatnya itu memang bagus.
"Ya ampun! Apakah pusakanya sangat besar ?Atau apakah punyamu yang begitukecil. HAHAHA ?"
Gebi memberinya tatapan mematikan, meskipun ia ingin tertawa namun Geb berusaha menyembunyikannya.
"Oke, oke serius. Jadi hubungan kalian baik- baik saja sekarang ?" Tanya Elda lagi dan kali ini cukup serius.
Gebi terdiam sejenak, lalu memberinya senyum palsu, ia mengangkat bahu.
"Memang sesuatu terjadi pada kami, tapi ingat dia punya kekasih" jawab Gebi mengingatkan Elda.
"Tap Kamu sudah menikah dengannya, kamu punya hak lebih"
"Aku tidak punya hak, karena di antara kami berdua, aku bukan yang pertama. kami memang menikah, tetapi kami tidak memiliki hubungan sebelumnya sementara mereka punya." Ucap Gebi lirih saat mengingat bagaimana hubungannya dengan Kean selama ini.
"Setelah aku keluar dari rumah sakit, dia tidur di kamar tamu. Kami juga tidak banyak bicara, jika tidak ada hal penting, jadi aku pikir Kean memberi jarak"
Elda menggelengkan kepalanya saat mendengar cerita Gebi
"Apa kamu mencintainya?" Tanya Elda lagi
Gebi tercengang dengan pertanyaan Elda.
"Kurasa tidak. Mungkin itu semua hanya n@fsu. Dia laki- laki, tentu tidak ada laki- laki yang akan menolak perempuan," Gebi beralasan meski dalam hati, ia juga bingung dengan perasaan nya sendiri.
kalu gebi udah tanda tangan surat dari sofie
jujur aja k kean gebi
mungkin gebi kira kean yg suruh..
up lg kk
waktu sofi datang?