NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamat yang Terlambat

Udaranya dingin dan terasa mencekam di dalam Balai Desa Dukuh Parang. Lampu neon panjang yang tergantung di langit-langit kayu berdesung pelan, memancarkan cahaya putih agak samar yang memantulkan bayangan orang-orang di atas ubin semen. Bau tembakau kering, asap rokok murahan, dan tanah basah sisa hujan deras dua jam lalu mengendap tebal di udara, membuat dada Devi terasa makin sesak seolah dihimpit batu berukuran raksasa.

Devi meringkuk di atas kursi kayu berkaki rapuh. Tangannya yang dingin mendekap erat tas kulit kusam, satu-satunya barang berharga yang ia bawa dari rumah untuk bekerja di pabrik. Tubuhnya bergetar hebat. Setiap pasang mata warga desa yang berjejer melingkar di sekeliling ruangan memandangnya dengan tatapan benci, jijik, dan penuh tuduhan.

Bagi mereka, Devi bukan lagi gadis lugu berusia dua puluh satu tahun yang rajin bekerja demi membantu ekonomi keluarganya, melainkan sesosok pendosa yang telah mencoreng nama baik desa.

"Bagaimana, Devi? Kami tidak punya waktu semalaman hanya untuk menunggu tangisanmu reda," suara Pak Mulyono, Kepala Desa yang bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang, bergema menembus keheningan yang tegang.

Beliau menggetok meja kayu tua dengan ketukan jari-jarinya yang mantap. "Pilihan sudah jelas. Nikah siri malam ini juga dengan pemuda di sebelahmu itu, atau warga akan menjalankan hukum adat: kalian berdua ditelanjangi dan diarak keliling kampung sampai batas desa!"

"Jleb!"

Kata-kata itu rasanya menusuk tepat di ulu hati Devi. Airmata yang sempat mengering kembali meleleh panas di pipinya yang pucat. Bisikan-bisikan dari kerumunan warga terdengar bak dengungan lebah yang menusuk gendang telinga. Ada ibu-ibu yang menggeleng-gelengkan kepala sambil menyilangkan tangan di dada, ada pemuda-pemuda desa yang tersenyum menyeringai mesum, dan ada pula para tetua yang menatap dengan pandangan dingin tanpa ampun.

Devi menoleh perlahan ke samping. Di sana, berjarak tak sampai dua meter darinya, berdiri seorang pria asing yang baru ia temui satu jam lalu. Pria itu, Devan, tampak sangat santai, seolah-olah sidang rakyat yang menentukan nasib hidup dan matinya ini hanyalah pertunjukan tontonan gratis di pasar malam.

Pria itu mengenakan jaket kulit hitam yang sudah mengelupas di bagian sikunya, celana jins dengan sobekan di bagian lutut, dan kaus oblong hitam yang agak melar di bagian leher. Dari balik celah kelim kausnya, terlihat sapuan tinta hitam berbentuk lekukan sisik tato naga yang menjalar hingga ke lehernya.

Pria itu berpenampilan persis seperti preman jalanan yang biasa meresahkan warga di terminal bus kota. Dan pria inilah yang beberapa detik lalu secara mengejutkan berkata (“Saya tidak keberatan, nikahkan saja kami malam ini”) dengan nada suara sesantai orang yang sedang memesan secangkir kopi di warung.

"K-kamu ... kamu gila ya ..." suara Devi bergetar parau. Napasnya naik turun tak beraturan. "Kenapa kamu malah setuju?! Kamu sengaja mau merusak hidupku, hah?!"

Devan tidak membalas makian itu. Ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Devi. Manik matanya yang berwarna hitam legam tampak tenang, begitu dalam hingga Devi tidak bisa membaca apa yang sebenarnya ada di pikiran pria asing tersebut. Devan kemudian kembali memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, mengabaikan tatapan kebencian dari gadis di sebelahnya.

Tepat saat suasana di balai desa semakin mendesak dan Pak Mulyono hendak mengetukkan jarinya lagi untuk mengetok keputusan akhir, terdengar deru suara mesin sepeda motor tua dari arah jalan luar.

Breeemm! Breet ... breet ... klotok-klotok!

Suara mesin yang terengah-engah itu meraung nyaring, membelah malam yang sunyi, disusul suara decitan rem aus yang memekilkan telinga di pelataran balai desa.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang berlari tergesa-gesa terdengar mendekati pintu utama.

"Buka jalan! Kasih jalan!"

Seorang pemuda menerobos kerumunan warga di pintu masuk dengan napas terengah-engah. Baju kaus oblong warnanya yang semula putih kini kusam berbercak noda oli hitam dan keringat. Celana bahannya ternoda lumpur kering di bagian bawah. Wajahnya yang kotor oleh jelaga dan minyak mesin tampak panik dan pucat pasi.

Itu Raka. Kakak kandung Devi.

"Devi!" teriak Raka dengan suara serak begitu matanya menangkap sosok adiknya yang duduk terpuruk di tengah ruangan.

"Kak Raka!" Devi melompat berdiri dari kursinya. Seluruh pertahanan mentalnya runtuh seketika. Tanpa memedulikan tatapan tajam warga, Devi berlari memeluk Raka erat-erat. Ia menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya, menangis terisak-isak sampai bahunya berguncang hebat. "Kak ... tolong Devi, kak ... Devi takut... Devi nggak salah apa-apa, kak..."

Raka mengelus kepala adiknya dengan tangan yang gemetar dan ternoda oli hitam. Hatinya rasanya dicabik-cabik melihat Devi menangis histeris seperti itu.

"Maafin kakak, Dek... Maafin kak Raka..." bisik Raka dengan suara tercekat, menahan air mata yang mendadak menggenang di pelupuk matanya.

Raka mengepalkan tangannya rapat-rapat. Tadi, ia berjanji akan menjemput Devi setelah pekerjaan Devi selesai lembur di depan gerbang gudang pabrik tempat adiknya baru bekerja selama dua hari. Namun di tengah jalan sepi dekat perbatasan hutan jati, ban belakang sepeda motor bebek tuanya tiba-tiba meletus dahsyat. Tidak ada satu pun bengkel yang buka di sepanjang jalan sepi itu. Raka terpaksa menuntun motor tuanya sejauh tiga kilometer di bawah guyuran hujan deras yang lebat.

Saat ia akhirnya menemukan sebuah bengkel tambal ban kecil di pinggir jalan utama, ia mendengar percakapan heboh dari dua orang warga yang sedang berteduh. Mereka membicarakan tentang penggerebekan sepasang muda-mudi yang ketahuan berduaan di dalam gubuk kosong di tengah sawah dan sedang diseret ke balai desa untuk diarak. Firasat buruk langsung mencengkeram dada Raka.

Tanpa memikirkan ban motornya yang baru selesai ditambal dan oli mesin yang belepotan di tangannya, Raka memacu motornya secepat mungkin menuju Balai Desa Dukuh Parang. Dan ketakutan terbesarnya benar-benar menjadi kenyataan.

Raka mengusap air mata adiknya, lalu menyuruh Devi berdiri di belakang tubuhnya. Raka memasang badan, melangkah maju satu langkah untuk melindungi Devi, lalu menatap Kepala Desa dan para tetua dengan pandangan penuh amarah dan pembelaan.

"Pak Kades! Pak RT! Ada apa-apaan ini?!" bentak Raka, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap-luap. "Kenapa adik saya ditahan di sini seperti seorang kriminal?! Adik saya ini anak baik-baik, Pak! Dia tidak pernah macam-macam!"

Pak Mulyono menghela napas panjang, merapikan letak pecinya sebelum menjawab dengan nada dingin. "Raka, kami tahu kamu kakaknya. Tapi hukum adat di Desa Dukuh Parang ini berlaku untuk siapa saja tanpa terkecuali. Adikmu ketahuan berada di dalam gubuk kosong tengah malam bersama seorang laki-laki yang bukan muhrimnya. Gubuk itu tertutup pintu dan jendela. Di mata warga dan aturan desa kita, itu adalah perbuatan yang melanggar kesusilaan!"

"Tunggu dulu, Pak!" potong Raka dengan nada tinggi

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!