✦ JERAT TIGA SISI ✦
"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"
Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.
Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.
Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.
Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.
Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Delusi dan Pelarian Tanah Mati
Brakk!!
Pintu kayu jati berukir megah milik kediaman kuno Gavin hancur berantakan menjadi kepingan kecil setelah dihantam oleh tendangan ganda dari dua pengawal bertubuh kekar milik Baskara.
Serpihan kayu berhamburan di atas lantai marmer yang dingin dan lembap. Dalam hitungan detik, moncong senjata laras pendek milik pasukan khusus taktis Prayoga Group telah mengarah ke segala penjuru ruangan yang minim cahaya tersebut.
Baskara melangkah masuk terlebih dahulu. Jubah mantel hitamnya berkibar pelan, senada dengan aura mematikan yang menguar kuat dari tubuh tegapnya. Di belakangnya, Farhan menyusul dengan napas memburu dan tatapan mata yang liar, menyapu seluruh sudut ruangan demi mencari keberadaan Azira.
"Geledah setiap sudut! Jangan lewatkan satu celah pun!" perintah Baskara. Suaranya menggelegar dingin, memecah keheningan mencekam di dalam bangunan tua itu.
Namun, di luar dugaan mereka, tidak ada baku tembak sengit. Tidak ada perlawanan brutal dari mantan militer sewaan Gavin seperti yang mereka bayangkan sepanjang jalan. Rumah kuno itu justru terasa kosong secara ganjil.
Di ruang tengah aula yang luas, hanya ada lima orang pelayan paruh baya berseragam suram yang langsung menjatuhkan diri, berlutut ketakutan di atas lantai. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin sambil gemetar hebat melihat kedatangan pasukan bersenjata tersebut.
Baskara melangkah mendekat, sepatu pantofelnya menimbulkan ketukan bergaung yang meneror pendengaran. Matanya yang tajam mendadak terpaku pada tengah ruangan. Di sana, sebuah kursi kayu tua berdiri dengan sisa lilitan tali nilon yang terpotong.
Tepat di bawahnya, di atas lantai marmer yang kotor oleh pecahan vas bunga, tergeletak selembar kain rajut berwarna krem yang telah robek. Itu syal pemberiannya. Syal yang beberapa jam lalu ia kalungkan ke leher Azira di dapur penthouse-nya.
Baskara membungkuk, mengambil kain yang telah koyak itu dengan tangan yang gemetar menahan amarah. Cengkeramannya pada syal krem itu mengencang hingga buku jarinya memutih.
Detik itu juga, rahangnya mengeras sempurna dan urat-urat lehernya menegang parah. Baskara melangkah lebar, mencengkeram kerah salah satu pelayan pria senior dan mengangkat tubuhnya dengan paksa.
"Di mana Gavin?! Di mana dia menyembunyikan Azira?!" bentak Baskara dengan suara bariton yang bergetar hebat oleh murka yang meledak-ledak.
Mendengar nama 'Gavin' disebut dari bibir Baskara, reaksi para pelayan itu sungguh di luar dugaan. Tubuh mereka serentak menegang ketakutan. Pelayan pria yang dicengkeram Baskara langsung pucat pasi, matanya melotot penuh teror yang teramat sangat, dan bibirnya terkunci rapat.
Gestur tubuh mereka sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesetiaan terhadap sang majikan, melainkan sebuah trauma psikologis yang mendalam. Mereka tampak seperti sekumpulan budak yang telah dijinakkan oleh teror sadis bertahun-tahun.
"B-bicara, bajingan! Atau aku akan meratakan tempat ini sekarang juga!" ancam Baskara, amarahnya sudah berada di ubun-ubun.
Farhan segera maju dan memegang kuat lengan Baskara, mencoba menahan emosi sang CEO yang hampir lepas kendali menjadi aksi pembunuhan.
"Baskara, hentikan! Jangan bunuh dia! Lihat mereka! Mereka tidak sedang menyembunyikan rahasia karena setia pada Gavin. Mereka mengalami trauma. Gavin pasti telah melakukan hal yang sangat mengerikan jika mereka berani membuka mulut."
Farhan kemudian beralih berjongkok di depan seorang pelayan wanita yang sedang menangis terisak sambil memeluk lututnya di lantai. Farhan menggunakan suara baritonnya yang tenang, mencoba menyentuh sisi psikologis pelayan tersebut sebagai seorang dokter.
"Kami di sini bukan untuk menyakiti kalian. Kami hanya ingin menyelamatkan wanita yang dibawa ke sini beberapa jam lalu. Tolong, katakan pada kami di mana dia," bujuk Farhan lembut.
Namun, ruangan tetap hening. Para pelayan itu hanya menggeleng kuat sambil menangis ketakutan, membayangkan hukuman sadis apa yang akan Gavin berikan jika monster itu mengetahui mereka telah berkhianat.
Di saat keputusasaan mulai merayap di antara Baskara dan Farhan, seorang pelayan muda yang duduk meringkuk di sudut paling belakang perlahan bangkit berdiri dengan langkah gontai. Tubuhnya kurus, wajahnya kuyu dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya, mencerminkan penderitaan mental yang telah lama ia pendam di rumah terkutuk ini.
Ia melangkah maju, membelah barisan temannya yang mencoba menarik ujung bajunya untuk menghentikannya bertindak nekat.
Pelayan muda itu menatap langsung ke dalam manik mata Baskara yang tajam, suaranya bergetar namun ada nada kepasrahan yang nekat di sana.
"Jika... jika aku memberitahu Anda ke mana Tuan Gavin membawa Nona Azira pergi..." pelayan muda itu menelan ludah dengan susah payah, suaranya parau. "...apakah Anda bisa menjamin keselamatan dan kebebasanku? Bisakah Anda membawaku keluar dari kota ini agar Tuan Gavin tidak bisa menyentuhku lagi?"
Baskara menurunkan cengkeramannya dari pelayan senior, beralih menatap lekat pelayan muda tersebut dengan otoritas mutlaknya.
"Aku adalah Baskara Prayoga. Aku bisa memberimu identitas baru, uang yang lebih dari cukup untuk seumur hidupmu, dan perlindungan total dari Prayoga Group yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh Gavin. Katakan sekarang!"
Pelayan muda itu menghela napas panjang, air mata kelegaannya menetes seolah sebuah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundaknya. Ia sudah teramat lelah berada di dalam sangkar kegilaan Gavin yang dipenuhi aturan sadis dan siksaan batin.
"Tuan Gavin baru saja pergi lewat pintu rahasia di bawah tanah sepuluh menit yang lalu, sesaat setelah alarm penyusup berbunyi merah," bisik pelayan muda itu dengan cepat.
"Nona Azira diseret dalam keadaan setengah sadar. Tuan Gavin membawanya menuju dermaga pribadi di belakang kompleks industri ini. Dia memiliki kapal cepat (speedboat) yang siap membawanya ke sebuah pulau terpencil di laut utara. Jika Anda tidak bergegas sekarang... Anda tidak akan pernah bisa melihat Nona Azira lagi."
Mendengar informasi krusial itu, Baskara tidak membuang waktu sedetik pun. Ia mengantongi syal krem yang rusak itu ke dalam jubahnya, lalu menoleh ke arah kepala pengawalnya.
"Bawa pelayan ini ke mobil aman. Berikan dia perlindungan penuh seperti janjiku." Detik berikutnya, Baskara berbalik dan berlari kencang menuju rute bawah tanah yang ditunjukkan, diikuti oleh Farhan dan pasukannya yang kembali mengokang senjata mereka dengan tegang.
......................
Beberapa menit sebelumnya di dalam ruangan remang-remang berdebu itu, sebuah konfrontasi emosional yang menyakitkan baru saja terjadi antara Gavin dan Azira, tepat sebelum pintu depan rumah dihancurkan.
Saat alarm tanda bahaya dari sistem keamanan luar kediaman kuno mendadak berbunyi merah, Gavin tidak langsung panik.
Pria itu justru berlutut di hadapan Azira yang masih terikat erat di kursi kayu. Sorot matanya yang semula meledak-ledak karena amarah akibat hardikan Azira serta kebenciannya pada syal krem Baskara, tiba-tiba meredup.
Kilat kegilaan itu berganti menjadi tatapan sendu yang penuh dengan kerinduan mendalam—sebuah transisi emosi yang ganjil dan justru membuat Azira semakin merinding ketakutan.
Gavin mengulurkan tangan, jemarinya yang gemetar menyentuh lembut pipi Azira yang basah oleh air mata.
"Kenapa kamu menatapku seolah-olah aku ini orang asing yang jahat, Zira?" bisik Gavin. Suaranya kembali melembut, sangat halus, persis seperti suara anak laki-laki yang dulu pernah Azira kenal di masa kecil mereka.
"Apa kamu benar-benar sudah melupakan segalanya? Melupakan tempat ini, melupakan rintik hujan, dan... melupakan janji suci kita?"
Azira memalingkan wajahnya dengan kasar, mencoba menghindari sentuhan jemari Gavin yang sedingin es. "Apa yang kamu bicarakan, Gavin?! Lepaskan aku! Kamu sudah gila!"
Gavin terkekeh lirih, sebuah tawa pilu yang sarat akan kekecewaan mendalam dari jiwanya yang sakit. "Ternyata benar. Kamu sudah melupakannya, Azira."
Gavin menarik kembali tangannya, lalu menatap langit-langit ruangan yang tinggi dengan mata menerawang ke masa lalu.
Delapan bekas tahun yang lalu. Di bawah pohon marina belakang rumah lama kita, sebelum malam keberangkatanku ke luar negeri bersama orang tuaku. Hari itu kamu menangis sekencang-kencangnya, memelukku, dan menolak melepaskan kemejaku karena tidak ingin aku pergi."
Jantung Azira tiba-tiba berdegup ganjil. Sebuah memori usang yang selama belasan tahun ini terkubur sangat dalam di sudut otaknya mendadak berputar lambat, ditarik paksa ke permukaan.
"Kamu memintaku berjanji untuk cepat kembali ke Indonesia," lanjut Gavin, matanya kini kembali mengunci manik mata Azira dengan tatapan yang tajam.
"Dan di bawah rintik gerimis hari itu, kita saling mengaitkan jari kelingking kecil kita. Kita berjanji... bahwa saat kita dewasa nanti, setelah aku sukses dan kembali, kita akan menikah. Kamu berjanji akan menungguku, Azira. Hanya aku."
Azira tersentak hebat. Matanya membelalak sempurna, menatap sosok Gavin dengan rasa tidak percaya yang bercampur baur dengan kengerian. Ingatan itu... memori masa kecil yang samar-samar kini mendadak benderang di kepalanya.
Pria di hadapannya ini memang adalah teman masa kecilnya yang sangat dekat, anak laki-laki yang dulu selalu mengalah, mendengarkan ceritanya, dan melindunginya di taman bermain sebelum akhirnya terbang ke luar negeri dan menghilang tanpa kabar selama belasan tahun.
"K-kamu... anak laki-laki itu?" bisik Azira, suaranya tercekat di tenggorokan oleh rasa syok yang luar biasa. "Tapi Gavin... itu sudah sangat lama sekali! Kita masih anak-anak saat itu! Itu hanya janji main-main, janji bodoh anak kecil yang sedang bermain rumah-rumahan! Kamu tidak bisa menggunakannya sekarang!"
"BAGIKU ITU BUKAN MAIN-MAIN!" bentak Gavin tiba-tiba dengan suara menggelegar, membuat tubuh Azira yang terikat kembali tersentak mundur ketakutan.
Napas Gavin memburu naik turun, matanya memerah menahan badai emosi dan dendam yang telah ia pendam selama belasan tahun di negeri orang.
"Sejak hari itu, hidupku di luar negeri sangat keras dan berdarah, Azira! Tapi setiap kali aku ingin menyerah dan mati, aku selalu mengingat wajahmu. Aku mengingat janjimu di bawah gerimis! Aku bertekad menghancurkan setiap batasan, belajar siang dan malam, dan membangun kerajaan finansialku sendiri hanya untuk satu tujuan: menjadi pria terbaik yang pantas bersanding denganmu! Aku sukses demi kamu!"
Gavin maju mencengkeram kedua lengan kursi kayu Azira, wajahnya mengeras egois karena rasa sakit hati yang teramat satu.
"Tapi apa yang kudapatkan saat aku kembali ke negara ini dengan seluruh kesuksesanku?! Apa yang kupandangi dari jauh selama berbulan-bulan ini?!" Gavin tertawa getir, suaranya bergetar hebat oleh delusi gila.
"Aku melihatmu tersenyum manis pada Farhan, dokter yang dengan lancang mencoba masuk ke dalam hidupmu! Aku menahan diri, Azira! Aku terus memantau setiap gerak-gerikmu dari kegelapan malam, meyakinkan diriku bahwa kamu hanya kesepian karena aku terlambat pulang! Tapi puncaknya... puncaknya adalah saat pria arogan bernama Baskara itu mengumumkan pertunangan kontrak denganmu di depan seluruh media! Kamu memakai cincin pria lain di jarimu, Azira! Kamu mengkhianati janji kelingking kita!"
Azira menggelengkan kepalanya dengan air mata yang kian deras mengalir, membasahi pipinya yang masih sedikit memar. "Gavin, kamu gila... Aku bahkan tidak ingat! Kamu tidak bisa mengikat paksa hidupku ini hanya karena ucapan polos anak kecil belasan tahun lalu!"
"Aku tidak peduli!" desis Gavin, wajahnya kini kembali dingin, datar, dan tanpa ampun sedikit pun.
"Saat aku melihatmu berdiri di altar pertunangan itu bersama Baskara, sesuatu di dalam kepalaku pecah. Aku tidak akan membiarkan siapa pun di dunia ini memilikimu, Azira. Jika aku harus menjadi monster paling kejam untuk membawamu kembali ke sisiku, maka aku akan melakukannya."
Bip! Bip! Bip!
Sinyal alarm di ponsel khusus milik Gavin bergetar kencang, menandakan bahwa pasukan bersenjata Baskara telah berhasil menjebol benteng gerbang luar kompleks rumah kuno tersebut.
Gavin langsung berdiri tegak, menyeka helai rambutnya yang berantakan ke belakang dengan gestur yang sangat dingin dan kalkulatif.
Tanpa memedulikan jeritan dan penolakan histeris dari Azira, Gavin mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, memotong tali nilon yang mengikat tubuh wanita itu ke kursi hingga terlepas, lalu dengan kasar merenggut dan menyeret lengan Azira yang sudah lemas menuju pintu rahasia di balik lemari buku besar.
"Lepaskan aku, Gavin! Tolong! Baskara!! Farhan!!" jerit Azira histeris. Ia menyuarakan nama dua pria yang kini menjadi satu-satunya harapan keselamatannya di dunia, sementara tubuhnya diseret paksa turun ke dalam lorong bawah tanah yang gelap, lembap, dan dingin.