Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 7 Hadiah Dari Orang Tersayang
Kediaman Nasya.
Nasya memberitahu ibunya, kalau minggu depan sekolahnya akan berkunjung ke sekolah tetangga, tujuannya untuk mempererat tali silaturahmi. Ibunya pun memberikan izin kepada Nasya untuk mengikuti acara kunjungan tersebut.
Nasya pun pergi ke kamar tidurnya. Setibanya di kamar tidurnya, dia melihat tas yang berada di atas mejanya. Tas tersebut sangat cantik dengan beberapa motif bunga mawar.
"Milik siapa tas cantik ini?" tanya Nasya seraya mengambil tas tersebut.
Di tas tersebut terdapat surat kecil yang terselip di restleting. Surat kecil tersebut bertuliskan
"Dear Nasya."
Tiba-tiba terdengar suara ibunya dari arah belakang Nasya.
"Apakah kamu suka?" tanya Ibunya Nasya.
Lalu Nasya menoleh ke arah belakang dan melihat ibunya mengukir senyuman manis seraya melihat dirinya. Lalu Nasya pun menghampiri dan memeluk ibunya.
"Apakah tas cantik ini pemberian Ibu?" tanya Nasya yang masih kurang percaya.
"Iya sayang. Besok kan hari ulang tahunmu, jadi hadiahnya Ibu beli dari awal. Takutnya besok Ibu kelupaan," ungkap Ibu sambil mengecup Nasya.
Nasya pun berterima kasih kepada Ibunya. "Terima kasih Bu."
Hari sudah mulai malam, seperti biasa Nasya merapikan buku-bukunya yang akan di bawanya besok. Tidak lupa Nasya memindahkan bukunya ke tas pemberian ibunya. Nasya pun membaringkan tubuhnya di atas kasur dan mulai terlelap dalam keheningan.
****
SEKOLAH
"Nasya cantik, selamat ulang tahun yah!" teriak Agnes dari arah depan pintu kelas.
Mendengar ucapan tersebut, Nasya terkejut karna Agnes berteriak sangat keras seakan dunia ini serasa miliknya.
Semua teman sekelasnya pun sontak melihat Nasya. Lalu Nasya hanya terdiam dan tertunduk malu.
Kemudian teman-teman sekelasnya memberikan ucapan selamat kepadanya. Semua temannya menjabat tangannya satu persatu. Rasanya sudah seperti resepsi pernikahan saja, yang kurang cuma pengantin laki-lakinya.
"Semoga panjang umur Nasya," ucap teman-temannya.
"Terima kasih ... terima kasih."
Tetapi Nasya tidak melihat keberadaan Aditya di dalam kelas.
"Apa yang kamu pikirkan Nasya, berharap Aditya memberi ucapan kepadamu?" tanya Nasya dalam hati.
"Tet tet tet." Bel sekolah pun berbunyi, seperti biasa seluruh siswa keluar kelas dan berbaris di lapangan.
Setelah selesai berbaris, semua siswa pun kembali ke dalam kelas masing-masing.
Lalu Nasya langsung menuju ke dalam ruangan kelas, namun tiba - tiba ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
"Itu pasti si Agnes," gumam Nasya dalam hati. Lalu Nasya menoleh ke belakang dan ternyata yang mengikutinya adalah Aditya.
"Eh ... Aditya."
"Selamat ulang tahun ya Cya." Senyum Aditya seraya menarik tangan Nasya untuk bersalaman.
"Terima kasih Adi," jawab Nasya yang agak terkejut dan di sertai dengan pipinya yang merah karena tersipu malu.
Semua siswa pun kembali ke kelas masing - masing, begitu juga dengan Aditya dan Nasya.
.
.
.
Ruangan Kelas.
Lalu Nasya segera menuju ke tempat duduk. Ia melihat Agnes sudah ada di tempat duduknya.
"Ih ... tas baru yah." Ledek Agnes sambil melirik Nasya.
Nasya hanya tersenyum manis dan memeluk tas yang merupakan hadiah dari ibunya tersayang.
"Oh, tas ini hadiah dari ibu saya," ucap Nasya dengan senyuman kecil.
Selang beberapa menit, masuk pak Leo wali kelas Nasya. Pak Leo adalah guru yang mengajar pelajaran matematika. Matematika merupakan pelajaran yang sebagian besar tidak di sukai oleh siswa.
Tapi berbeda dengan Nasya yang menyukai pelajaran matematika, walaupun tidak begitu pintar. Dia menilai bahwa matematika adalah ilmu pasti.
Nasya pun meraba laci untuk mengambil tempat pensilnya. Tiba-tiba Nasya menemukan kotak kecil yang ada di lacinya. Kotak tersebut ternyata hadiah yang berwarna merah. Di kotak tersebut terdapat tulisan "Selamat ulang tahun Nasya."
"Hadiah dari siapa ini?" tanya Nasya pada Agnes.
"Mungkin ini dari penggemar rahasiamu Cya," sahut Agnes pada Nasya.
"Benarkah?"
Lalu Nasya menoleh ke arah teman-teman sekelasnya. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan memastikan siapa yang menyelipkan kado ini dalam lacinya.
Nasya pun menyimpan hadiah tersebut dalam tasnya, karna sekarang merupakan jam pelajaran pak Leo.
Waktu menunjukkan pukul 13:00 WIB. Para siswa merapikan buku-buku dan alat tulis mereka dan bersiap untuk segera pulang ke rumah.
Seperti biasa Nasya dan Agnes beserta dua temannya Mira dan Priskila pulang bersama-sama. Hari ini Nasya akan pulang menggunakan ojek online di karenakan tidak ada yang menjemput Nasya hari ini.
Sesampainya Nasya dan Agnes di gerbang sekolah, mereka pun terpisah. Agnes jalan kaki sedangkan Nasya menggunakan ojek yang di pesan nya.
Ojek online pesanan Nasya pun datang. "Silahkan naik, Neng."
"Iya Pak."
Dalam perjalanan Masya senyum-senyum sendiri seraya melihat kado dari penggemar rahasianya.
.
.
.
Rumah Nasya.
Setibanya Nasya di rumah, Nasya pun membuka kotak yang dari tadi di pegangnya di kamarnya. Lalu Nasya membuka sedikit demi sedikit hadiah tersebut, dan terlihat sebuah jam tangan yang berwarna merah muda yang sangat cantik.
Nasya melihat dan membolak-balik kotak tersebut, namun tidak ada nama pengirimnya.
"Ya ... sudahlah kalau memang tidak ada nama pengirimnya. Jam tangan ini besok saya pakai," ucap Nasya sambil mencocokkan jam tersebut di pergelangan tangannya.
Waktu menunjukkan pukul 08:00 WIB malam.
Nasya pun belajar di kamarnya. Setelah selesai belajar, Nasya langsung merapikan buku-bukunya dan alat tulis yang akan di bawanya besok.
Nasya pun merebahkan tubuhnya di ranjang tidurnya. Dengan berbalut selimut tebal, Nasya langsung memejamkan mata dan tidur di dalam keheningan.
.
.
.
Pagi Hari.
Matahari mulai menampakkan cahaya, sinar dari matahari mulai memasuki ruang kamar Nasya. Nasya pun terbangun dari tempat tidurnya dan mulai bersiap-siap untuk ke sekolah.
Tidak lupa Nasya memakai jam tangan dari pemberian seseorang yang tidak Ia kenal.
.
.
.
Sekolah.
Kemudian Nasya berjalan menuju ke ruangan kelasnya. Seperti biasa, di depan pintu gerbang sekolah terlihat Agnes yang sedang menunggunya.
Setibanya di kelas, Nasya sedikit memamerkan jam tangannya kepada teman sekelasnya karna dia ingin tahu siapa yang memberikan jam tangan tersebut. Namun tidak ada yang merespon jam tangan yang di pakainya.
"Cya, kamu jadi ikut kunjungan ke sekolah nggak?" tanya Agnes dengan suara kecil.
"Ikut Nes. Kamu ikut gak?" tanya balik Nasya pada Agnes.
"Jika kamu ikut, aku juga ikut," ungkap Agnes seraya merangkul Nasya.
****
Bu Nur pun masuk ke dalam ruangan kelas, karena mata pelajaran hari merupakan pelajaran Bahasa Indonesia.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia saat ini masih dengan sesi percakapan.
"Yang kemarin sudah selesai percakapan di persilahkan ke perpustakaan untuk mencari buku tentang percakapan," ujar Bu Nur.
"Yes ..." bisikan hati Nasya yang terlihat senang.
"Semangat yah Nes. Saya tinggal dulu ya," ujar Nasya yang menyemangati Agnes seraya berjalan keluar kelas.
Kebetulan Nasya dan Aditya kemarin sudah maju ke depan. Jadi mereka berdua menuju ke perpustakaan.
Selama di perjalanan mereka tidak berbicara satu kata pun. Nasya ingin sekali bertanya tentang gadis kemarin, tapi karna sifat dingin dan cuek Aditya membuat Nasya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Aditya.
Bersambung.
Semoga harimu menyenangkan💫
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini