Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Alamat di Surabaya
Masa depan anaknya baru saja berbelok lagi.
Kertas kecil itu berkali-kali dibuka dan dilipat di tangan Bu Yati sampai sudutnya mulai lemas. Dari kecamatan, mereka tidak langsung pulang ke Cirebon. Bu Yati membeli tiga tiket menuju Surabaya dengan uang yang ia simpan di kantong dalam tas kainnya.
Bagus langsung protes di depan loket. "Bu, kita ini baru keluar dari kampung. Mbak Tari harus pulang, mandi benar, istirahat. Aku juga ada urusan kerja. Kenapa malah muter ke Surabaya?"
Bu Yati menoleh.
"Karena ada anak perempuan lain minta tolong."
"Tapi itu bukan urusan kita."
Tamparan Bu Yati tidak keras seperti saat ia menghajar Anto, tetapi cukup membuat Bagus terdiam dan orang di belakang antrean menoleh.
"Kemarin kalau orang bilang Tari bukan urusan mereka, kamu mau apa?" tanya Bu Yati.
Bagus memegang pipinya. Wajahnya panas, bukan hanya karena ditampar. Ia melirik Tari yang berdiri kurus dengan jaket kebesaran. Adiknya tidak bicara, tetapi matanya sudah cukup.
"Iya, Bu," gumam Bagus. "Aku ikut."
Perjalanan ke Surabaya melelahkan. Tari lebih banyak diam, tertidur sebentar lalu terbangun setiap ada suara laki-laki keras di lorong gerbong. Bu Yati membiarkannya menyandarkan kepala di bahunya. Setiap kali Tari tersentak, tangan Bu Yati langsung menepuk punggungnya pelan.
"Sudah, Nduk. Ini kereta. Bukan rumah Bu Sarinem."
Tari mengangguk, tetapi jarinya tetap menggenggam ujung jaket.
Mereka tiba di Surabaya saat udara siang terasa tebal dan panas. Kota itu lebih ramai dari Cirebon. Kendaraan mengalir tanpa henti, suara klakson bertumpuk, dan Bagus beberapa kali hampir salah arah karena terlalu sibuk mengeluh tentang ongkos angkot.
Alamat di kertas membawa mereka ke area Kodam V/Brawijaya.
Bagus berhenti lebih dulu saat melihat gerbang dan penjagaan. "Bu... ini markas tentara."
Tari menelan ludah.
Bu Yati sendiri merasakan telapak tangannya berkeringat. Ia sudah sering berurusan dengan tetangga kasar, menantu tidak tahu diri, bahkan polisi kecamatan. Tapi berdiri di depan gerbang TNI berbeda rasanya. Ada pagar tinggi, pos jaga, seragam loreng, dan tatapan prajurit yang membuat orang biasa otomatis meluruskan punggung.
Seorang prajurit jaga mendekat. "Ada perlu apa, Bu?"
Bu Yati menunjukkan kertas itu dengan dua tangan. "Kami dari Cirebon, Pak. Ini titipan dari seorang gadis di Desa Karanganyar. Katanya harus disampaikan ke Hendro Wibowo."
Prajurit itu membaca nama di kertas. Wajahnya berubah sedikit, lalu ia meminta mereka menunggu di sisi pos.
Bagus berbisik, "Kalau ini masalah besar, kita bisa repot."
"Kalau masalah kecil, gadis itu tidak akan gemetar menitip pesan pada orang asing," jawab Bu Yati.
Tari menatap gerbang. "Ma, kalau keluarganya benar-benar cari dia?"
"Kita sudah sampai di pintu yang tepat. Selebihnya biar orang rumahnya yang bergerak."
Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang prajurit lain datang dan membawa mereka masuk ke sebuah kantor sederhana. Lantainya bersih, dindingnya dipenuhi papan pengumuman dan foto kegiatan. Bu Yati duduk dengan punggung kaku. Bagus mencoba terlihat santai, tetapi lututnya tidak berhenti bergerak.
Laki-laki yang masuk kemudian tidak memakai banyak kata.
Tinggi, rapi, kulitnya gelap terbakar matahari, matanya tajam tapi tidak kasar. Seragamnya membuat ruangan seolah mengecil. Di dada kirinya tertulis nama: Hendro.
"Saya Hendro Wibowo," katanya. "Ibu yang membawa surat ini?"
Bu Yati berdiri. "Saya, Pak. Maryati. Ini anak saya, Lestari. Ini anak saya juga, Bagus."
Hendro mengangguk sopan, lalu menatap Tari sebentar. Bukan tatapan laki-laki yang menilai wajah perempuan. Tatapan itu seperti orang mencari kebenaran dari saksi yang masih gemetar.
"Gadis yang menitip surat ini bagaimana keadaannya?"
Tari menarik napas. Suaranya kecil pada awalnya, tetapi makin lama makin jelas. Ia menceritakan kampung itu, rumah-rumah yang saling mengawasi, perempuan yang takut bicara, anak gadis berkerudung hijau yang menyelipkan kertas sebelum angkot berangkat. Ia tidak melebih-lebihkan. Justru karena suaranya pelan, setiap kata terdengar berat.
Hendro mendengarkan tanpa memotong.
Ketika nama Putri disebut, rahangnya mengeras.
"Adik saya," katanya pelan.
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Yati melihat tangan Hendro di atas meja. Jari-jarinya mengepal perlahan, sampai buku-bukunya memutih. Tapi suaranya tetap terkendali.
"Kami kehilangan kabar bertahun-tahun. Orang tua saya bilang semua baik-baik saja, hanya dia tidak mau pulang. Saya sedang cari jalur untuk mengecek sendiri."
Bu Yati menangkap sesuatu di balik kalimat itu. Orang tua. Baik-baik saja. Tidak mau pulang. Alasan yang terlalu rapi sering kali menyembunyikan luka.
"Pak," kata Bu Yati, "kalau adik Bapak di kampung seperti anak saya kemarin, jangan tunggu izin orang yang mengirim dia ke sana."
Hendro menatapnya.
Untuk pertama kalinya, wajah keras itu retak oleh rasa sakit.
"Terima kasih, Bu."
Ia tidak banyak berjanji. Justru itu membuat Bu Yati percaya. Hendro segera memanggil anak buah, meminta alamat lengkap Desa Karanganyar, mencatat nama kepala desa, nama beberapa warga, dan nomor Polsek yang kemarin menangani laporan Tari. Cara kerjanya rapi, cepat, tanpa pamer kuasa.
Bagus yang sejak tadi diam akhirnya berbisik pada Tari, "Kalau tentara semua begini, Kuncoro bisa kencing berdiri."
Tari hampir tertawa, lalu buru-buru menutup mulut.
Hendro sempat mendengarnya. Sudut bibirnya bergerak sedikit. "Semoga tidak perlu sampai begitu, Mas. Yang penting adik saya pulang hidup-hidup."
Kata adik membuat Tari menunduk. Entah mengapa, ia terlihat seperti baru saja mendengar kalimat yang selama ini ia harapkan dari saudara laki-lakinya sendiri.
Sebelum mereka pulang, Hendro mengantar sampai halaman kantor. Ia meminta prajurit menyiapkan mobil dinas untuk mengantar mereka ke stasiun. Bahkan tiket kereta eksekutif menuju Cirebon sudah dibeli.
Bu Yati menolak. "Pak, kami bisa bayar sendiri."
"Ibu sudah membawa kabar yang tidak bisa dibeli," jawab Hendro. "Biarkan saya membalas sedikit."
Bagus langsung berhenti menolak. "Kalau begitu, terima kasih, Pak."
Bu Yati menyikutnya pelan.
Di mobil dinas, Tari duduk sangat rapi, takut mengotori jok. Ia beberapa kali melirik kaca spion, tempat bayangan Hendro makin jauh di belakang. Bu Yati melihat semua itu, tetapi pura-pura sibuk merapikan tas.
Kereta eksekutif malam itu membuat Bu Yati merasa seperti masuk dunia orang kaya. Kursinya lebar, bisa direbahkan, selimutnya bersih, dan petugas memanggil penumpang dengan suara halus. Untuk perempuan yang sepanjang hidup terbiasa duduk di bangku keras dan membawa bekal sendiri, kenyamanan itu terasa hampir tidak masuk akal.
Ia merebahkan kursi sedikit, lalu tertawa kecil.
Tari menoleh. "Mama kenapa?"
"Kursinya empuk sekali. Kalau orang tua tidur begini tiap perjalanan, pantas tidak gampang marah."
Tari akhirnya tertawa. Suaranya masih lemah, tetapi lebih hidup daripada kemarin. Bu Yati menatap wajah anaknya di bawah lampu gerbong. Pipi itu masih tirus. Bibirnya masih sering pucat. Tapi warna hidup mulai kembali, setipis cahaya di ujung lorong.
Bagus sudah tidur dengan mulut sedikit terbuka. Sesekali ia mendengkur pelan.
Bu Yati mencondongkan badan ke arah Tari. "Perwira tadi, menurutmu bagaimana?"
Tari berkedip. "Hah?"
"Hendro. Orangnya lumayan, kan?"
Wajah Tari langsung memerah. "Mama ini ngomong apa, sih. Kami baru ketemu."
"Aku cuma tanya matamu masih sehat atau tidak."
"Ma..."
Bu Yati tersenyum, tetapi di balik senyum itu pikirannya bergerak lebih gelap. Dalam ingatan lamanya, laki-laki bernama Hendro Wibowo memang pernah menjadi tempat Tari pulang. Tapi orang tua laki-laki itu, Pak Wibowo dan Bu Nur, bukan orang yang mudah dihadapi.
Ia menatap jendela kereta yang memantulkan wajahnya sendiri.
Kalau takdir ingin mendekatkan Tari pada Hendro lagi, kali ini Bu Yati akan memastikan anaknya tidak masuk rumah orang dengan kepala menunduk.