Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Menghadapi Empat Pembunuh Iblis Langit
Ni Kirana menatap pria dengan kumis melintang. Gadis itu tidak menyembunyikan rasa jijik pada pandangan matanya.
Pria dengan kumis tebal melintang itu malah tersenyum mesum pada Ni Kirana.
"Siapa kalian ? Minggirah, jangan halangi jalan kami." Danang Wesi berkata dengan suara dilampiri energi mendalam.
Pria dengan kumis tebal melintang itu malah tertawa merendahkan.
"Hoo... Ternyata kau punya sedikit kepandaian. Sehingga bacot mu terdengar cukup nyaring.
Kami adalah kelompok Carok Setan dan akulah Carok Semiring penguasa ujung rawa malang."
"Oooh ternyata ternyata hanya sekelompok maling ayam dari kampung kecil, ha ha ha haa...
Menjauhlah Carok Semiring. Atau ini adalah hari terakhir bagi mu dan kelompok mu bisa menghirup udara di dunia ini."
"Anjing kurap belang tujuh. Matilah untuk tuan mu ini...!" Carok Semiring mencabut goloknya dan melesat menyerang Danang Wesi.
Melihat serangan itu, Danang Wesi tidak mau menunggu. Pemuda itu mencabut keris pusaka Wesi Ireng dan melesat lebih cepat.
Ni Kirana juga mencabut pedangnya dan menerjang kelompok Carok Setan. Jerit kematian segera terdengar. Dua anggota Carok Setan langsung tewas dengan leher hampir putus.
Carok Semiring tertegun. Tidak pernah dia bayangkan pemuda yang menggunakan keris bisa bergerak jauh lebih cepat dari dirinya.
Craaaaaazzzss...! Huuukkk...!!
Carok Semiring tersengal tiba tiba. Keris pusaka Wesi Ireng menembus dan membelah perutnya.
Carok Semiring jatuh berdebam. Kedua lututnya menikam tanah. Darah merah kental tumpah ruah dari luka besar diperutnya. Bahkan lambung dan ususnya sobek dan putus putus. Dia menatap Danang Wesi dengan tidak percaya dan penyesalan. Sesaat kemudian kepala rampok itu tidak bernafas lagi. Dia tewas dalam rasa sesal dan penasaran.
Sementara itu, Ni Kirana telah membantai belasan anggota rampok Carok Setan. Hanya tinggal lima orang anggota. Semua lalu membuang senjata dengan tergesa dan berlutut, menyerah.
Ni Kirana dan Danang Wesi menampar keras lima anggota Carok Setan yang tersisa. Tentu saja setelah mereka bersumpah demi ibu mereka dan berjanji akan kembali kejalan yang benar.
Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana segera melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka menyusuri jalanan di sepanjang pinggiran sungai malang.
Namun hanya berjarak waktu dua kali menanak nasi. Empat orang berpenampilan aneh telah menghadang jalan mereka.
Empat orang berpenampilan aneh dan unik itu terdiri dari tiga pria dan satu wanita. Yang pertama seorang pria, tubuhnya biasa saja, rambut agak panjang. Memakai ikat kepala kuning. Selain wajahnya yang kaku dan beku, ada codet dari kening kiri hingga ke pipi. Mata kirinya picak. Dia dikenal dengan Iblis Maut Picak.
Pria kedua, seorang pria yang mengenakan baju putih. Wajahnya sebetulnya lumayan ganteng. Namun raut wajahnya terlihat sangat sedih. Kesaktian pria kedua ini hampir sama dengan Iblis Maut Picak. Mereka berdua sangat kuat, dan berda ditingkat pendekar langit tengah. Pria berwajah sedih itu dikenal dengan Iblis Duka.
Orang ketiga adalah seorang wanita. Meski aslinya sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Dia sangat awet muda, terlihat seperti gadis berusia dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya sungguh sangat menawan. Lekuk dan tonjolan begitu menawan. Ditambah dengan wajah yang cantik, namun terlihat genit. Sulit seorang pria menghindar dari pesona sensual nya yang sangat kuat. Jika diperhatikan, ada sedikit tarikan disudut bibirnya yang menunjukkan bahwa wanita itu adalah seorang yang sangat kejam. Dia dikenal dengan Wanita Mawar Hitam. Wanita ini selalu muncul dengan pakaian warna hitam yang ketat. Terlihat sangat menantang hasrat setiap lelaki.
Orang keempat masih belum terlalu tua. Wajahnya tampan namun tidak menimbulkan rasa senang dihati saat melihatnya. Meski merupakan orang paling muda, namun kemampuannya sedikit diatas Wanita Mawar Hitam yang berada ditingkat pendekar langit awal.
Orang keempat sangat ditakuti. Karena sangat kejam dan sadis. Dia cendrung menganiaya dan menista target sebelum membunuh mereka.
Rimba hijau dunia persilatan Jawa Dwipa mengenal orang termuda ini dengan nama Setan Tangan Besi. Seorang pesilat tangguh yang berada ditingkat pendekar langit setengah langkah tingkat pendekar langit tengah.
Mereka berempat dikenal dengan nama Empat Pembunuh Iblis Langit. Mereka akan melakukan pekerjaan untuk membunuh siapa pun juga asal pembayaran sesuai. Bahkan seorang pangeran anom pun, mereka tidak ragu untuk membunuhnya.
Begitu Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana menghentikan kuda mereka. Iblis Maut Picak bertanya dengan suara yang menyeramkan.
"Siapa diantara kalian yang bernama Pandeka Pedang Suling Kumala ?"
Danang Wesi dan Ni Kirana kaget. Mereka berbisik dalam hati. Romo benar, banyak yang akan menjadi penghambat perjalanan mereka.
Bagaga Alam memajukan kudanya selangkah. Dia menatap tajam kepada empat orang aneh yang berdiri menutupi jalan.
"Aku Pandeka Pedang Suling Kumala. Siapa kalian dan ada urusan apa dengan ku ?"
Iblis Maut Picak menatap tajam kepada Pandeka Pedang Suling Kumala. Pemimpin dari Empat Pembunuh Iblis Langit mencoba menakar Bagaga. Wanita Mawar Hitam menatap wajah tampan Bagaga dengan penuh minat. Ada seulas senyum penuh niat dibibir Wanita Mawar Hitam.
Setan Tangan Besi terlihat acuh tak acuh. Namun niat membunuh yang kental merambat keluar dari tubuhnya. Hanya Iblis Duka yang terlihat aneh. Dia menatap Pandeka Pedang Suling Kumala penuh kesedihan mendalam.
"Kakak Iblis Maut Picak. Aku mau main-main dulu dengan Pandeka ini sebelum kita ambil nyawanya."
Danang Wesi dan Ni Kirana tertegun. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Iblis Maut Picak ? Dia adalah orang pertama dan pemimpin Empat Pembunuh Iblis Langit. Mereka sangat terkenal karena sejak kemunculannya. Empat Pembunuh Iblis Langit tidak pernah gagal menjalankan misi pembunuhan mereka.
"Benarkah kami sedang bertemu dengan Empat Pembunuh Iblis Langit ?" Danang Wesi bertanya dengan bimbang.
"Bagus kau sudah mendengar nama kami. Kalian berdua mundurlah. Kami harus menyelesaikan urusan kami dengan Pandeka Pedang Suling Kumala."
"Tunggu... Dia bukan Pandeka Pedang Suling Kumala. Dia adalah Pendekar Suling Perak."
Ni Kirana maju memberikan penjelasan kepada Empat Pembunuh Iblis Langit.
"Huh...! Nona aku tidak kenal dengan mu. Aku juga tidak peduli jika pemuda itu Pandeka Pedang Suling Kumala atau seperti yang kau katakan, dia adalah Pendekar Suling Perak. Yang pasti dia harus bermain dengan ku dan harus bisa membuat aku puas. Mungkin dengan begitu nyawanya masih bisa diperpanjang sampai aku bosan.
"Walaupun kami berdua tidak akan bisa mengalahkan kalian. Tapi kami tidak akan membiarkan kalian mengganggu Pendekar Suling Perak." Danang Wesi sadar, jangan kan dia dan Ni Kirana. Ayahnya ki Ageng yang juga merupakan pendekar langit tinggi. Tidak akan mampu menghadapi Empat Pembunuh Iblis Langit.
Namun demikian Danang Wesi tetap berkata dengan tegas dan tidak terlihat sedikitpun rasa takut.
"Ya. Langkahi dulu mayat kami. Jika kalian berani." Ni Kirana ikut bicara.
Bagaga cukup tersentuh dengan sikap kakak beradik Danang Wesi dan Ni Kirana. Pendekar super sakti itu tersenyum dan berkata.
"Danang dan Ni Kirana. Kalian berdua mundurlah. Biarkan aku yang menghadapi mereka."
Pandeka Pedang Suling Kumala atau Pendekar Suling Perak meloncat kedepan kudanya.
"Kalian berdua mundurlah. Bawa mundur kuda ku juga."
"Tapi Kang mas..."
"Tidak apa-apa Ni Kirana. Tolong kamu mundur dan bawa kuda ku mundur."
Akhirnya Danang Wesi dan Ni Kirana terpaksa mundur dan membawa juga kuda tunggangan Bagaga.
"Katakan siapa yang membayar kalian untuk membunuh ku."
"Hee... Pandeka Pedang Suling Kumala. Tidak ada gunanya bagi mu mengetahui siapa yang sangat menginginkan nyawa mu. Karena sebentar lagi kau juga akan mati."
Bagaga mengangguk kecil. Dia menatap sekilas kearah semua anggota Empat Pembunuh Iblis Langit. Kemudian dia berucap dengan tenang. Suara datar tanpa intonasi. Terasa dingin menusuk hati orang yang bicara dengannya.
"Kalau begitu kalian berempat majulah. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian."
\=\=\=\=\=***\=©