NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Keira tidak berencana ikut balapan hari itu.

Ia hanya datang ke Sentul International Circuit karena Mira mengirim pesan panik sejak pagi: Dimas muncul di acara komunitas otomotif kampus dan terus bertanya apakah Keira akan datang. Keira tahu Dimas bukan ancaman besar, tetapi nama kampus, nama Tan, dan nama Lim Richard sudah terlalu sering berada dalam satu kalimat belakangan ini.

Ia perlu memastikan tidak ada panggung baru yang dipakai orang bodoh.

Sentul siang itu panas. Bau aspal, bensin, dan karet ban memenuhi udara. Deru mesin membuat dada bergetar. Mahasiswa, sosialita muda, dan beberapa pengusaha hobi balap berkumpul di paddock. Keira datang dengan kemeja putih, celana jeans, dan kacamata hitam. Terlalu sederhana untuk disebut pembalap, terlalu tenang untuk disebut penonton biasa.

Mira menyambutnya dengan wajah cemas. "Gue cuma ngajak nonton. Tiba-tiba Dimas sok jadi panitia, terus banyak orang mulai ngomong lo takut datang."

"Takut pada Dimas?"

"Iya, kedengarannya memang menghina kecerdasan."

Keira tertawa kecil.

Dimas melihatnya dari kejauhan dan langsung pucat. Setelah kejadian wisuda, ia tidak berani mendekat. Masalahnya bukan Dimas.

Masalahnya pria asing yang berdiri di dekat mobil sport merah.

Rambut cokelat gelap, kulit sedikit tan, senyum terlalu santai. Ia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung dan berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen campur yang sulit ditempatkan. Ketika mata pria itu bertemu mata Keira, senyumnya melebar.

Seolah ia sudah lama menunggu.

"Siapa itu?" tanya Keira.

Mira mengikuti arah pandangnya. "Katanya Charles Navarro. Sponsor baru acara. Mixed, tajir, agak sinting. Kenapa?"

Nama itu belum berarti apa-apa bagi Keira.

Namun tubuhnya memberi peringatan lebih dulu.

Charles berjalan mendekat. "Tan Keira, right?"

Keira melepas kacamata. "Kita kenal?"

"Belum. Tapi aku suka orang yang bikin keributan akademik lalu keluar sebagai pemenang." Ia tersenyum. "Itu elegan."

Mira langsung memasang wajah tidak suka.

Keira tersenyum sopan. "Terima kasih, tapi saya tidak suka keributan."

"Pembohong."

Kata itu diucapkan ringan, hampir seperti pujian.

Keira menatapnya lebih tajam.

Charles tertawa. "Relax. Aku cuma bercanda. Mau coba satu putaran? Mobilku kosong."

"Tidak."

"Takut?"

Dimas yang berdiri tidak jauh langsung menoleh. Beberapa orang ikut mendengar. Satu kata itu cukup untuk memancing panggung lagi.

Keira tahu ia seharusnya menolak. Ia juga tahu kemampuan mengemudinya tidak boleh terlalu cepat terlihat. Tetapi ada sesuatu pada mata Charles yang membuatnya yakin pria itu tidak akan berhenti hanya karena ditolak.

"Satu putaran," kata Keira.

Mira hampir tersedak. "Kei, lo bisa bawa mobil sport?"

"Bisa sedikit."

"Definisi sedikit lo kadang kriminal."

Keira hanya tersenyum.

Lima menit kemudian, ia sudah duduk di balik kemudi mobil sport biru pinjaman panitia. Charles mengambil mobil merahnya sendiri. Jalur yang disepakati hanya putaran demonstrasi, bukan balapan resmi. Namun begitu lampu start menyala, Charles melaju terlalu agresif.

Keira mengikuti.

Di tikungan pertama, Charles mencoba memotong jalur. Keira membiarkannya. Di tikungan kedua, ia menempel dari sisi luar, cukup dekat untuk membuat penonton berteriak. Tangannya tenang di setir. Napasnya stabil. Dunia menyempit menjadi garis lintasan, suara mesin, dan jarak mobil merah di depannya.

Ia belajar mengemudi bukan untuk gaya.

Dulu, setelah Papa meninggal, Keira pernah diam-diam ikut kelas defensive driving karena takut suatu hari harus kabur sendiri. Keluarga Tan mengira itu hobi. Keira tahu itu persiapan.

Di putaran kedua, sesuatu berubah.

Lampu indikator di dashboard berkedip aneh. Radio komunikasi mengeluarkan bunyi statis. Dari speaker kecil, suara Charles masuk.

"Keira, menurutmu kalau mobil kehilangan kendali di tikungan, orang akan menyebutnya kecelakaan?"

Darah Keira mendingin.

"Apa maksudmu?"

"Aku cuma ingin lihat apakah ratu kecil keluarga Tan bisa bertahan."

Mobil Charles tiba-tiba memperlambat di depan, memaksa Keira mengerem keras. Pada saat bersamaan, ban belakang mobil Keira terasa tidak stabil. Ada yang salah dengan tekanan ban atau sistem rem. Ini bukan demonstrasi.

Ini jebakan.

Di paddock, Mira berteriak, tetapi suaranya tenggelam oleh mesin.

Keira menggigit bibir. Ia tidak punya waktu takut. Tikungan berikutnya mengarah ke sisi lintasan dekat danau buatan kecil di kompleks sirkuit. Charles mencoba menutup jalur keluar. Kalau Keira menghindar terlalu lambat, mobilnya akan menghantam pembatas.

Maka ia memilih menyerang.

Keira menurunkan gigi, membiarkan mobil sedikit melebar, lalu masuk dari sudut yang tidak disangka Charles. Bagian depan mobilnya menyentuh sisi belakang mobil merah. Bukan tabrakan penuh. Hanya dorongan presisi, cukup untuk membuat mobil Charles kehilangan garis.

Mobil merah itu berputar.

Penonton menjerit.

Charles mencoba mengendalikan setir, tetapi Keira menekan lagi dari sisi yang sama. Mobil merah keluar lintasan, menghantam pagar rendah, lalu meluncur ke arah danau dangkal di sisi area.

Air menyembur tinggi.

Keira menghentikan mobil beberapa meter setelahnya. Tangannya masih di setir. Napasnya baru terdengar setelah mesin mati.

Di radio, suara Charles batuk lalu tertawa.

"Now that's interesting."

Keira melepas sabuk pengaman dengan tangan gemetar.

Tim keamanan berlari ke arah danau. Mira berlari ke arah Keira lebih dulu, wajahnya pucat.

"Lo gila? Lo beneran gila? Lo hampir mati!"

Keira keluar dari mobil. Lututnya lemas, tetapi ia memaksa berdiri. Orang-orang mengelilinginya. Ada yang bertanya apakah ia terluka. Ada yang merekam. Dimas tampak seperti ingin pingsan.

Salah satu panitia mencoba mengambil kunci mobil dari tangan Keira. Ia menggenggamnya lebih erat.

"Jangan sentuh mobil itu sebelum ada pemeriksaan," katanya.

Panitia terkejut. "Nona?"

"Remnya bermasalah. Ban belakang juga. Kalau kalian buru-buru memindahkannya, semua bukti hilang."

Nada suaranya masih gemetar, tetapi isi kalimatnya membuat orang-orang berhenti. Mira menatapnya dengan mata membesar.

"Kei, lo baru hampir mati dan masih mikirin bukti?"

"Kalau tidak, nanti disebut kecelakaan biasa."

Mira menutup mulutnya, kali ini bukan karena ingin bercanda.

Di sisi danau, Charles dibantu keluar oleh dua orang staf. Kemeja hitamnya basah menempel di tubuh, rambutnya meneteskan air, tetapi pria itu tidak terlihat kalah. Ia justru tertawa pelan, seperti anak kecil yang baru menemukan permainan baru.

"You drive like someone running from death," katanya cukup keras.

Keira menatapnya. "Dan kamu menyerang seperti orang yang ingin ditangkap."

Senyum Charles melebar.

"Mungkin aku ingin dilihat olehmu."

Kalimat itu membuat kulit Keira merinding. Ini bukan godaan biasa. Ada obsesi yang terlalu cepat, terlalu gelap, dan sama sekali tidak peduli pada orang-orang di sekitar mereka.

Keira mengambil satu langkah mundur. Mira langsung berdiri di depannya.

"Bang, kalau mau caper, caranya jangan bikin orang hampir mati," bentak Mira.

Charles hanya menatap Keira, bukan Mira. "Kita akan bertemu lagi."

Sebelum keamanan sempat menahannya lebih lama, seorang pria berjas dari tim Charles datang membawa dokumen izin acara dan berkata mereka harus membawa Charles ke rumah sakit. Semua bergerak terlalu rapi. Terlalu siap.

Keira tahu ia baru saja bertemu ancaman yang berbeda dari Vanya dan Kevin.

Jason pasti akan menyebut ini insiden keamanan. Richard mungkin menyebutnya percobaan mencelakai. Polisi mungkin akan menyebutnya kelalaian acara bila bukti tidak cukup.

Keira menyebutnya salam pembuka.

Charles tidak ingin membunuhnya hari ini. Kalau ingin, ia bisa memilih cara yang lebih bersih. Ia ingin melihat reaksinya, mengukur batasnya, dan meninggalkan tanda bahwa ia bisa menyentuh ruang yang seharusnya aman. Orang seperti itu tidak berhenti setelah satu kecelakaan gagal.

Mira menggenggam lengan Keira lebih kuat. "Lo gemetar."

"Aku tahu."

"Duduk, Kei."

"Sebentar."

Keira memaksa dirinya menatap mobil biru yang ia kendarai. Bagian depan penyok, ban belakang miring, tetapi kabin masih utuh. Kalau ia mengambil sudut sedikit terlambat tadi, mobil itu yang akan masuk danau. Bukan Charles.

Kesadaran itu akhirnya datang.

Lutut Keira hampir menyerah.

Mira cepat menahannya. "Nah, kan. Sok kuat terus."

Keira duduk di kursi lipat yang didorong panitia. Tangannya dingin sekali sampai ponsel terasa licin. Ia menatap layar, mencari satu nama yang sejak beberapa minggu terakhir mulai menjadi refleks tubuhnya.

Di kejauhan, Charles sudah masuk ke mobil timnya. Sebelum pintu tertutup, ia menempelkan telunjuk ke bibir, lalu menunjuk Keira. Rahasia. Janji. Ancaman. Semua terasa sama dari gerakan itu.

Keira memotret plat mobil tim Charles dengan cepat.

Mira melihatnya dan nyaris menangis karena marah. "Lo ini benar-benar harus disita HP-nya."

"Nanti. Setelah aku kirim ke Jason."

"Ke Richard dulu."

Keira menatap kontak Om Lim yang sudah terbuka. Untuk sekali ini, Mira benar.

Keira hanya mengambil ponsel.

Tangannya menekan kontak Om Lim sebelum ia sempat berpikir.

Richard mengangkat dalam satu dering.

"Keira?"

Suara Keira pecah. Kali ini tidak seluruhnya akting.

"Om..."

Richard langsung berubah. "Apa yang terjadi?"

Keira melihat mobil Charles yang setengah tenggelam. Pria itu sudah ditarik keluar, basah kuyup, tetapi masih menatapnya sambil tersenyum dari kejauhan.

"Saya di Sentul."

"Di mana tepatnya?"

"Sirkuit."

Suara Richard turun menjadi sangat dingin. "Jangan bergerak. Aku datang."

"Om, saya..."

"JANGAN BERGERAK."

Panggilan terputus.

Keira menatap layar ponsel, lalu menatap Charles.

Pria itu mengangkat dua jari ke arahnya, seperti memberi salam.

Untuk pertama kalinya sejak mimpi profetiknya, Keira merasa ada orang lain di luar papan catur yang bisa melihat bentuk permainannya.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!