Hervinda Serana Putri, seorang gadis dengan kesabaran setebal baja. Hidup dengan keluarga angkat yang tidak pernah menganggapnya keluarga. Hidup terlunta dan diperlakukan seperti pembantu. Bahkan, dia seperti membiayai kehidupannya sendiri. Suka, duka dan bahkan segala caci makian sudah diterimanya.
Kejadian besar menimpa Hervinda ketika saudaranya, Rensi kabur dari rumah ketika hari pernikahannya. Seluruh keluarga bingung. Akhirnya, mereka menjadikan Hervinda sebagai ganti tanpa sepengetahuannya.
Michael yang merupakan calon Rensi sudah sangat bahagia. Sayangnya saat dia tau wanita yang dinikahinya bukanlah Rensi, emosinya meluap. Dia berjanji akan menyiksa Hervinda dan mendapatkan kembali Rensinya.
"Apapun untuk mendapatkannya. Kamu bukan yang aku inginkan. Bahkan melukaimu pun aku sanggup."
-Michael Adithama-
"Setidaknya tatap aku dan belajarlah mencintaiku."
-Hervinda Serana Putri-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 7_Protes
Hervinda menatap gerbang tinggi berwarna hitam dihadapannya. Butuh satu jam untuk dia sampai di rumah megah tersebut. Setelah memarkirkan sepedanya, matanya mulai mengamati sekitar. Tidak ada satpam atau penjaga di rumah tersebut. Vinda mengintip dari lubang kecil yang ada di gerbang.
Sepi. Bahkan tidak ada orang sama sekali. Biasanya ada beberapa orang yang berjejer dengan kemeja putih berbalut jas yang dengan tegap selalu ada di gerbang pintu masuk. Namun, kali ini tidak ada. Vinda mengerutkan kening heran. Kemana perginya orang-orang dengan kabel yang selalu terpasang di telinga?
Vinda menegakan badan dan menghela nafas. Kenapa mendatangi Tuan Adelardo seperti mendatangi presiden? Pengawasan yang ketat dan juga jadwal yang padat membuat siapa pun yang ingin bertemu menjadi sulit.
Vinda kembali menatap ke arah gerbang. Tanganya tanpa sadar menekan tombol di sebelah gerbang. Sudah berulang kali bel tersebut ditekan, tetapi tidak ada juga yang datang membukakan gerbang.
“Permisi. Spada,” sapa Vinda dengan suara lantang karena bel rumah tersebut tidak juga ada jawaban.
Vinda menatap bel tersebut dan meneliti cermat. “Apa ini mati? Kalau mati, terus aku manggilnya gimana, dong?” keluh Vinda dan langsung duduk di pinggir gerbang. Mungkin jika dia menunggu, saat Tuan Adelardo datang, dia akan menyempatkan waktu untuk berbicara.
Cuaca terik tidak melunturkan semangatnya. Dengan kekeh, Vinda tetap menunggu. Mau berapa lama dia di sana? Bahkan sudah hampir satu jam dia duduk di depan gerbang seperti gembel. Namun, semangatnya tidaklah luluh karena dia harus mempertahankan apa yang sudah diyakininya.
_____
“Adam, kemari,” panggil seorang pria berusia empat puluh lima tahun yang saat ini tengah menatap layar komputer dengan penuh selidik.
Sudah satu jam dia menatap layar komputer yang ada di ruang kerjanya. Sebuah kejutan karena matanya menatap seorang gadis yang tengah duduk di depan rumahnya dan tertangkap CCTV yang memang dipasang di setiap pojok rumahnya.
Seorang pria dengan setelan jas dan headset bluetooth yang terpasang langsung berjalan mendekati pria yang sudah mulai beruban tersebut. Wajahnya masih kaku dan tidak mnampilkan sedikit senyum sama sekali.
“Ada apa, Tuan?” tanya Adam ketika sampai dihadapan pria dewasa tersebut.
“Kamu tau dia siapa? Sudah satu jam dia ada di depan rumah,” ucap pria tersebut dengan tatapan bingung, “apa aku memiliki janji dengan gadis belia hari ini?”
Adam langsung menggeleng. “Hari ini anda tidak memiliki jadwal apapun, Tuan. Untuk gadis di depan, saya tidak tau. Tetapi, jika anda terganggu, saya akan mengusirnya.”
Adelardo menatap layar komputernya kembali. Menatap Vinda yang masih duduk di depan rumah dengan tangan yang beberapa kali mengipas, mencoba menghilangkan perasaan gerah yang sudah mampir. Belum lagi, keringat yang bercucuran.Adelardo memperhatikan lekat dan menatap Adam kembali.
“Suruh dia pergi dari depan rumah. Tetapi, tanyakan dulu kenapa dia datang dan untuk menemui siapa,” titah Adelardo tegas
“Baik, Tuan.” Adam langsung berbalik dan meninggalkan ruangan Adelardo.
_____
Vinda masih menunggu di depan rumah Adelardo, ketika bunyi gerbang terbuka. Perasaannya benar-benar lega dan helaan nafas riang terdengar. Tubuhnya dengan cepat langsung bangkit dan menatap antusias siapa yang ada di balik gerbang tersebut.
Tidak terbuka lebar dan hanya cukup untuk satu orang saja dan saat yang bersamaan, seorrang pria berpakaian layaknya body guard muncul dari dalam. Wajahnya keras dan tidak ada senyum yang terulas. Apa seisi rumah tersebut berisi orang dengan tampang tegang? Apa Tuan Adelardo juga memiliki wajah yang sangar?
Vinda menghela nafas, mencoba menenangkan hatinya yang sudah kacau. Keberaniannya seperti menguap ketika menatap pria bernama Adam tersebut. Namun, kakinya masih terus melangkah mendekati Adam yang masih setia berdiri dan menatapnya tajam.
“Permisi. Saya…”
“Ada perlu apa anda di sini, Nona?” potong Adam dengan nada tajam.
Vinda kembali menelan salivanya susah payah. Belum juga dia menyapa, sudah mendapatkan pertanyaan dengan nada dingin dan tatapan menusuk. Mungkin akan berbeda saat pria dihadapannya ini menyapanya dengan suara ramah dan hangat. Vinda akan dengan mudah menjawab dan mengumbar senyum.
Vinda *** tangan dan menghilangkan degup jantung yang terus berdetak. Dihembuskannya nafas keras dan menatap dengan senyum terulas.
“Maaf, saya ingin bertemu Tuan Adelardo. Apakah beliau ada di rumah?” tanya Vinda dengan suara lembut. Padahal biasanya dia selalu cempreng dan bertingkah seenaknya.
“Untuk apa anda mencari Tuan Adelardo?” Bukannya menjawab, Adam malah bertanya balik.
Vinda baru akan menjawab, tetapi Adam sudah memotong ucapannya kembali dan membuat gadis tersebut menghela nafas pasrah.
“Jika anda tidak memiliki kepentingan dan belum membuat janji, sebaiknya anda pulang. Tuan Adelardo sedang tidak ada di rumah,” ucap Adam dan langsung masuk ke dalam. Namun, baru dia berbalik, tangannya sudah dicekal Vinda dan membuatnya harus berbalik.
“Tolong. Saya harus bertemu Tuan Adelardo,” ucap Vinda dengan wajah memelas. Dia rela menundukan diri agar bisa bertemu dengan Adelardo, apapun caranya.
“Tuan Adelardo tidak ada di rumah. Anda silahkan pergi dari sini,” Adam melepaskan tangan Vinda dan siap menekan remot untuk menutup gerbang. Namun, lagi-lagi Vinda menghalanginya dan siap menerobos masuk.
“Tolong, anda jangan memaksa,” kata Adam dan menghalangi Vinda masuk ke halaman depan rumah.
“Tolong juga pertemukan kami. Semua ini demi masa depan saya.” Vinda juga masih kekeh dan berusaha menerobos masuk. Dia yakin, Adealrdo ada di rumah tersebut.
Adam masih tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia tidak tau apakah gadis dihadapannya ini adalah orang baik atau orang yang sengaja dikirim oleh musuh bosnya. Dia tidak mau ambil resiko dengan membiarkannya bertemu dengan Adelardo. Sedangkan Vinda sendiri masih tetap kekeh dengan apa yang diinginkannya. Dia hanya ingin membuat protes dan meminta keadilan di sini. Apa salahnya sampai harus dikeluarkan dari kampus?
Saat suasana masih terasa panas, sebuah deheman dengan suara berat membuat keduanya diam dan menatap ke arah sumber suara. Adam yang melihat langsung berdiri tegap dengan wajah dingin dan juga kaku. Sedangkan Vinda, dia menatap bingung karena suasana tiba-tiba menjadi sunyi dan lumayan mencekam. Apa dia Tuan Adelardo?
“Ada perlu apa sampai kamu memaksa masuk ke rumah saya?” tanya Adelardo dengan mata tajam dan wajah santai, tetapi tegas. Meski sudah berusia empat puluh lima tahun, Adelardo tetap tampak muda dengan garis wajah yang hanya terlihat samar.
Vinda menghela nafas pelan dan menatap pria dihadapannya. “Saya ingin berbicara dengan anda. Semua ini menyangkut masa depan saya.”
“Siapa nama kamu?” Adelardo menatap semakin tajam.
“Hervinda. Hervinda Serana putri,” jawab Vinda sembari merutuki kesalahannya. Kenapa juga dia tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu?
Adelardo diam sejenak dan meneliti penampilan Vinda yang tampak asal. Hanya memakai celana jeans dengan kaos dan kemeja yang terbuka tiga kancing. Belum lagi rambut yang hanya dikuncir kuda dan sepatu kets yang dikenakan.
“Jadi, ada perlu apa kamu, Hervinda?” tanya Adelardo karena penampilan gadis dihadapannya saat ini benar-benar kacau.
Vinda diam dan membuka tas, mengambil amplop coklat yang tadi diberikan. Matanya menatap dengan senyum terulas dan menyodorkan kepada Adelardo. Adam yang melihat bersiap menyerang, dia takut bahwa itu hanya jebakan. Namun, sekali lagi tatapan tajam dari bosnya membuat tubuhnya kembali diam.
“Apa ini” Adelardo menerima amplop tersebut dengan bertanya-tanya. tangannya langsung membuka tali yang melilit di atasnya dan melihat isi dari amplop tersebut.
“Itu adalah bukti bahwa saya berprestasi dan membanggakan di Tama University. Universitas keluarga anda,” jelas Vinda dengan mata yang mengamati Adelardo dengan cermat. Memperhatikan setiap gerakan dari pria tersebut.
Adelardo tersenyum simpul. Jadi ini gadis yang selalu dibicarakan oleh teman-temannya? Dia merasa beruntung memiliki mahasiswi yang begitu berprestasi. Lalu, kenapa dia memberikannya? Adelardo menatap Vinda dengan tanya. Apa gadis dihadapannya ini meminta imbalan karena sudah membuat Universitas keluarganya semakin baik?
“Saya datang hanya meminta keadilan dan penjelasan. Kenapa anda mengeluarkan saya dari kampus padahal tidak ada kesalahan yang diperbuat. Apa saya tanpa sadar membuat kesalaan, Tuan?” jelas Vinda membuat Adelardo membelalak tidak percaya.
“Apa?!” Adelardo *** amplop kosong yang ada ditangannya. Matanya melebar dengan bibir terkatup rapat.
Vinda yang melihat langsung diam tanpa bicara. Apa dia melakukan kesalahan? Apa dia salah bicara.
Adelardo berbalik dengan amarah yang kian memuncak. Siapa yang berani mengeluarkan mahasiswi terbaiknya tanpa alasan? Dia sendiri tidak pernah mengeluarkan keputusan tersebut. Satu-satunya yang mengetahui adalah rektor di kampusnya.
“Ikut ke ruanganku,” ucap Adelardo seraya meninggalkan Vinda yang masih membeku ketakutan.
Adam yang menyadari langsung mengajak Vinda masuk ke dalam rumah dan memasukan sepedan gadis tersebut. Setelahnya, dia menutup gerbang dan menuntun tamunya masuk ke dalam rumah.
_____
ael apakabar, gak pingin bales tuh
masa bacanya Michael bintangbintangbintang kertas 😑🙄