Menikah dengan orang yang aku cintai, hidup bahagia bersama, sampai akhirnya kami dikaruniai seorang putra tampan. Nyatanya setelah itu justru badai perceraian yang tiba-tiba datang menghantam. Bagaikan sambaran petir di siang hari.
Kehidupanku seketika berubah 180 derajat. Tapi aku harus tetap kuat demi putra kecilku dan juga ibu serta adikku.
Akankah cinta itu kembali datang? Sementara hatiku rasanya sudah mati rasa dan tidak percaya lagi pada yang namanya cinta. Benarkah cinta sejati itu masih ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Rahasia Takdir Pertemuan
Pagi ini Awan menggantikan mamanya untuk berbelanja ke pasar. Bukan sebuah hal yang tabu bagi para lelaki di keluarga Awan untuk berbelanja ke pasar, karena kebetulan Papa dan kakak laki-laki Awan juga memiliki usaha rumah makan. Jadi mereka sudah terbiasa untuk berbelanja, baik ke pasar maupun supermarket.
Selesai berbelanja dan menata semua barang belanjaannya di sepeda motor, tiba-tiba pandangan Awan tertuju pada seorang ibu-ibu yang berjalan sedikit sempoyongan dengan membawa barang belanjaan yang lumayan banyak di tangan kanan dan kirinya.
Melihat ibu-ibu tersebut yang hampir terjatuh Awan pun segera berlari menghampiri beliau dan membantunya.
"Astaghfirullah hal adziim," pekik lirih ibu-ibu tersebut, yang ternyata beliau adalah Aminah.
"Ibu," panggil Awan seraya memegangi Aminah yang hampir terjatuh. "Ibu tidak apa-apa kan?" tanya Awan khawatir.
"Untung ada kamu, nak. Alhamdulillaah ibu nggak pa-pa kok," balas Aminah seraya tersenyum.
"Duduk disana dulu yuk, Bu," ajak Awan yang diangguki oleh Aminah.
Awan kemudian memapah Aminah dan membantunya duduk di kursi panjang yang terdapat di depan warung makan di samping tempat parkir tersebut. Awan juga segera memesankan satu gelas teh hangat untuk Aminah.
"Ini, Bu, diminum dulu. Biar agak segeran," kata Awan seraya mengangsurkan segelas teh hangat kepada Aminah.
"Terima kasih ya, nak," ucap Aminah menerima segelas teh dari Awan. "Bismillah hirrohmaan nirrohiim."
Setelah mengucap basmalah, Aminah kemudian meminum teh hangat tersebut.
"Alhamdulillaah," ucap Aminah lega setelah meminum setengah gelas dari teh hangat tersebut.
"Ibu kenapa? Ibu sakit kah?" tanya Awan masih khawatir.
"Enggak kok, nak. Cuma tadi agak sedikit pusing aja. Mungkin karena capek keliling-keliling tadi di pasar," jawab Aminah dengan kembali menunjukkan senyumnya, tidak ingin membuat pemuda di depannya lebih mengkhawatirkan dirinya.
"Ibu sendirian saja ya?"
"Iya. Tadi dianterin sama anak ibu. Terus anak ibu lanjut berangkat kerja."
"Kalau gitu biar saya anterin ya, Bu, pulangnya," tawar Awan.
"Eh, nggak usah, nak. Ibu biasa pulang naik becak kok. Ini tadi juga lagi nungguin becak langganannya ibu. Mungkin masih nganterin penumpang lain," tolak Aminah halus, tidak ingin merepotkan.
"Ya udah, kalau gitu biar saya temenin sampai becak langganannya ibu datang, ya," kata Awan kemudian, tidak ingin memaksa juga.
"Ya sudah kalau begitu, boleh deh," balas Aminah seraya tersenyum.
Awan ikut tersenyum. Hatinya merasa damai melihat senyuman ibu-ibu di depannya tersebut.
"Maaf, boleh tau nama ibu siapa? Biar lebih enak manggilnya," tanya Awan sopan.
"Nama ibu Aminah. Panggil saja Bu Aminah."
"Oh, Bu Aminah. Kalau gitu perkenalkan nama saya Awan, Bu."
"Oh, nak Awan, ya?"
"Iya, Bu. Bu Aminah tinggalnya jauh kah dari sini?"
"Nggak begitu jauh kok, nak Awan. Paling cuma sekitar lima kilometer saja."
"Oh, gitu ya, Bu."
"Nak Awan lagi belanja juga, ya?"
"Hehe, iya, Bu."
"Wah, tumben loh anak laki-laki seperti nak Awan ini mau belanja, apalagi ke pasar kayak gini."
"Kalo Awan sih udah biasa, Bu. Kebetulan kan punya kafe juga, jadi udah biasa belanja-belanja kayak gini."
"Nak Awan punya kafe sendiri?"
"Alhamdulillaah iya, Bu. Ya walaupun masih kecil-kecilan sih, Bu."
"Wah, hebat ya. Ibu salut banget sama pemuda yang mandiri seperti nak Awan ini," puji Aminah.
"Hehe, terima kasih, Bu. Tapi Awan masih belum sehebat itu kok," balas Awan merendah.
Dan perbincangan antara Awan dengan Aminah masih terus berlanjut sampai akhirnya becak langganan Aminah datang. Setelah itu Aminah pun berpamitan kepada Awan.
Baik Awan maupun Aminah sama-sama tersenyum dan mengucap syukur dalam hati, senang karena bisa berjumpa dengan satu sama lain dan saling berbagi cerita.
☘️☘️☘️
Hari ini kebetulan Shofi lembur dua jam dan pulang ketika sudah hampir masuk waktu Maghrib. Dan tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba saja sepeda motor Shofi sedikit oleng. Shofi kemudian menepikan sepeda motornya untuk memeriksa apa yang terjadi.
"Astaghfirullah hal adziim. Kok bisa kempes? Padahal tadi masih baik-baik saja," keluh Shofi begitu melihat ban belakang motornya kempes.
Shofi mengesah pelan. Kondisi jalanan yang sedang dilewatinya saat ini sangat sepi karena masih sedikit jauh dari pemukiman warga dan kebetulan juga sudah mendekati waktu Maghrib.
Dengan terpaksa akhirnya Shofi mendorong sepeda motornya tersebut. Shofi ingat kalau di ujung jalan sana ada sebuah bengkel motor. Dan Shofi berharap semoga bengkel itu masih buka saat ini.
Sekitar lima menit kemudian, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang melintas. Pengendara sepeda motor tersebut kemudian menepi dan berhenti sekitar satu meter di depan Shofi yang juga sudah ikut menghentikan langkahnya dari mendorong motornya.
Pengendara sepeda motor tersebut kemudian melepaskan helm-nya lalu turun dari sepeda motornya dan menghampiri Shofi.
"Loh, kenapa didorong motornya, Mbak?" tanya pengendara sepeda motor tersebut.
"Eh, i-ini, ban-nya kempes, Mas," jawab Shofi sedikit gugup, antara lega dan juga waspada.
"Boleh saya periksa dulu?" tawar pemuda pengendara sepeda motor tersebut, yang ternyata adalah Awan.
"I-iya, boleh. Silahkan, Mas."
Awan kemudian mengambil alih sepeda motor yang sedang dipegang oleh Shofi dan men-standar-kan sepeda motor tersebut dengan standar dua ( tengah ). Awan lalu mengecek ban belakang sepeda motor Shofi yang kempes dengan memutarnya pelan.
"Ah, kena paku ini, Mbak. Bocor ini," kata Awan setelah menemukan sebuah paku berukuran sedang tertancap di ban belakang sepeda motor Shofi.
"Astaghfirullah hal adziim," keluh Shofi pelan.
"Gini aja, di depan sana ada bengkel motor, punya teman saya itu. Mbak duluan aja kesana naik motor saya. Biar motor Mbak-nya saya yang dorong aja," kata Awan.
"Eh, saya jadi ngerepotin Mas dong," balas Shofi tidak enak hati.
"Nggak pa-pa Mbak, santai aja. Nggak ngerepotin kok. Lagian kalau Mbak yang tetep dorong motornya terus apa gunanya saya sebagai cowok?" kata Awan lagi, meyakinkan Shofi.
"Mmm, tapi,,," Shofi masih nampak ragu.
"Udah Mbak, keburu Maghrib nanti. Udah mau gelap loh ini."
Melihat keadaan di sekitarnya, Shofi membenarkan perkataan pemuda di depannya itu. Situasi memang sangat sepi dan sudah mulai gelap juga.
"Ya udah deh, Mas. Saya duluan ke bengkel pakai motornya Mas, ya," kata Shofi pada akhirnya.
"Iya, Mbak. Kuncinya masih disana, nggak saya cabut kok."
"Iya. Kalau gitu saya duluan ya, Mas. Makasih banyak sebelumnya. Assalamu'alaikum."
"Iya, Mbak, sama-sama. Wa'alaikumsalam."
Shofi pun kemudian mengendarai sepeda motor milik awan untuk sampai di bengkel terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Awan sudah sampai di bengkel motor tersebut dengan mendorong sepeda motor milik Shofi. Shofi dan pemilik bengkel pun segera menghampiri Awan.
"Maaf ya, Mas, ngerepotin," kata Shofi tidak enak hati.
"Nggak pa-pa, Mbak, santai aja," balas Awan.
"Capek Lo, Wan? Keringetan gitu. Minum dulu gih di dalem," kata Arif, pemilik bengkel yang kebetulan adalah teman SMA Awan dulu.
"Iya, entar gue ambil. Nih, Lo cek dulu motornya. Tadi sih pas gue cek ban belakangnya bocor kena paku."
"Oke-oke. Serahin aja sama gue."
Dan tiba-tiba saja terdengar suara dering ponsel dari saku jaket milik Awan. Awan kemudian mengambil ponselnya di dalam saku jaketnya.
"Mama telepon. Bentar ya, gue angkat dulu," pamit Awan.
"Oke," balas Arif.
Awan kemudian sedikit menjauh dari Shofi dan Arif. Sementara Arif juga langsung menangani sepeda motor milik Shofi tersebut.
Tidak lama kemudian Awan kembali mendekati Shofi dan Arif.
"Bro, gue langsung cabut ya. Mama bilang Bang Langit sama istri dan anak-anaknya datang, mau ngajakin makan malam," kata Awan.
"Oke deh," balas Arif yang sudah berkutat dengan sepeda motor milik Shofi.
"Mbak maaf ya saya nggak bisa nungguin, masih ada urusan lain. Tapi tenang aja, sama teman saya ini aman kok, udah jinak dia, udah ada pawangnya soalnya," pamit Awan kepada Shofi yang diakhiri kelakar.
"Eh, asem Lo, Wan. Gue panggilin bini gue juga nih buat jitak kepala Lo itu," sewot Arif.
"Wkwkwk, masih emosian aja Lo, Bro. Bercanda,,, kayak nggak kenal siapa gue aja, Lo," kata Awan menanggapi dengan cekikikan.
Mau tidak mau Shofi pun ikut tersenyum kecil mendengar perdebatan dua sahabat itu.
"Oh iya, ini kunci motornya, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Mas," kata Shofi seraya menyerahkan kunci motor milik Awan.
"Iya, Mbak, sama-sama. Saya duluan, ya. Assalamu'alaikum," pamit Awan lagi kepada Shofi.
"Iya Mas, hati-hati. Wa'alaikumsalam," jawab Shofi juga.
"Iya, Mbak. Bro gue cabut. Salam aja buat bini Lo. Assalamu'alaikum," pamit Awan juga kepada Arif.
"Oke. Wa'alaikumsalam," balas Arif dengan mengacungkan jempolnya.
Awan kemudian mengendarai sepeda motornya dan meninggalkan Shofi di bengkel milik Arif tersebut.
Dan lagi-lagi Awan tersenyum sendiri, entah kenapa beberapa hari ini dirinya seakan selalu bertemu dengan orang-orang yang mampu membuat hatinya memiliki getaran yang berbeda.