Perjodohan adalah hal keramat yang paling tidak aku sukai. Menurutku di jaman serba modern seperti sekarang ini tidak perlu yang namanya jodoh menjodoh.
Hal yang tidak aku suka malah menghampiriku, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka.
Bagaimana kisah mereka?
Novel ini merupakan kelanjutan MBA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shy. ineng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APARTEMENT
"Lo banyak berubah ya, ngak kayak Nasya yang dulu." Varel membuka obrolan, memecahkan kesunyian diantara mereka berdua. Mereka saat ini sedang berada didalam mobil, Varel hendak mengantar Nasya pulang.
"Biasa aja ah, memangnya dulu gue gimana?"
"Dulu lo tuh nyebelin, alay, manja, anak Mami banget deh pokoknya. Sering banget ngerepotin gue."
"Terus gue yang sekarang gimana?"
"Lo yang sekarang kebalikan lo yang dulu, yang sekarang mah cantik,baik, idaman para lelaki deh."
"Lo suka gue yang dulu apa yang sekarang?"
"Yang sekaranglah."
"Oh gitu,"
"Maksudnya,gue lebih suka lo yang sekarang bukan berarti lo yang dulu jelek atau apa."
"Hmmm,"
"Yakin nih kita langsung pulang?"
"Iya."
"Arsenal main loh malam ini."
"Hah, masa sih." Mengambil ponselnya dan mengecek sesuatu. "Astaga, iya Arsenal main, tapi mainnya tengah malam, gue ngak bisa nonton deh." Mengembalikan ponselnya dengan raut wajah kecewa.
"Kenapa ngak bisa nonton?"
"Mami pasti ngak bolehin, gue kalau udah nonton bola pasti teriak-teriak."
"Nobar di cafe yang kemaren aja yuk."
"Mau sih, tapi gue ngak boleh pulang larut malam."
"gue akan minta ijin sama Paman kenzo, dia pasti mengijinkan kalau gue bersama lo."
"Lo berani nelpon Papi?"
"Demi berdua denganmu, gue akan berani menghadapi apapun.Jawab Varel sekenanya.
"Maksudnya?"
"Gue akan telpon Paman kenzo sekarang juga."
"Coba aja kalau berani."
"Oke, siapa takut."
Varel menepikan mobilnya di pinggir jalan, mengambil ponselnya.
"Halo... " Suara kenzo di seberang sana.
"Paman Ken, Ini Varel." Berbicara dengan gugup
"Iya paman juga tahu, ada apa?"
"Begini Paman, aku dan Nasya mau Nobar di cafe. Kemungkinan pulangnya agak larut.
"Baiklah, Paman ijinkan. Jaga anak Paman baik-baik ya."
"Sip Paman, aku akan mengantar Nasya pulang setelah Nobarnya selesai."
"Iya."
"Terima kasih Paman, selamat malam dan selamat istirahat. Ucap Varel sebelum mematikan telponnya.
Bukan Kenzo namanya membiarkan anaknya pergi tanpa pengawal kepercayaannya. Dia meminta orang kepercayaannya mengikuti Varel dan Nasya.
"Bagaimana, di bolehkan? Tanya Nasya penasaran.
"Hmmm... Sengaja supaya Nasya tambah penasaran.
"Apaan sih, di ijinin ngak?"
"Aman, lo di ijinin karena bareng gue."
"Yey.. Teriak gembira.
"Kita berangkat sekarang aja, sisa 45 menit lagi pertandingannya akan di mulai."
"Ayo, buruan." Ajak Nasya bersemangat.
Varel melaju mobilnya menuju Cafe SD yang biasa mengadakan Nobar pertandingan sepak bola.
"Aduh, penuh." Ucap Nasya dengan muka kecewanya.
"Gimana dong, kita masuk aja atau cari tempat lain aja?" Tanya Varel.
"Mau masuk sesak, gue ngak nyaman kalau penuh sesak begini. Cari tempat lain tidak memungkinkan 20 menit lagi pertandingan akan dimulai.Guman Nasya pasrah.
"Jadi, kita pulang aja?"
"Apartemen," Celetuk Nasya.
"Kita ke Apartemen ku aja, ngak jauh kok ada disekitar sini. 10 menitan nyampe."
"Iya udah kita ke Apartemen lo aja."
"ini Apartemen lo?" Tanya Varel ketika mereka sudah tiba di area Apartemen Nasya.
Edho kan tinggal di sini juga,batin Varel
"Iya, Kenapa?"
"Teman gue juga tinggal di Apartemen ini."
"Oh gitu,"
"Lo masih ingat Edho?"
"Edho? Anaknya Bibi Clara itu?"
"Iya Edho."
"Ingat gue, si pendiam dan dingin itu. Gimana sekarang rupanya?"
"Tampan pastinya, tapi lebih tampan gue lah."
"Narsis lo, nanti kita bertiga ngumpul bareng ya. Gue jadi ingat waktu kita bocah."
Nasya membuka pintu Apartemennya dan mempersilahkan Varel masuk.
"Wah, Apartemen lo bagus ya."
"Biasa aja, ngak bagus-bagua amat."
"Ayo kita langsung nonton aja, sisa 3 menit sebelum pertandingan di mulai." Ajak Nasya.
Varel hanya mengikuti saja langkah kaki Nasya, mereka memasuki kamar Nasya.
"Kok di kamar?" Tanya Varel, baru menyadari bahwa mereka sedang berada di kamar.
"TV cuma ada di kamar, jadi kita nonton disini aja."
"Ya sudah," mendaratkan bokongnya di sofa yang terdapat di kamar tersebut.
"Lo nyalain TV nya, cari remote TV di meja nakas samping kasur itu."
"Lo kemana?" Melihat Nasya yang hendak keluar kamar.
"Gue ambil cemilan dan minuman di dapur."
Berlari ke arah dapur. membuka lemari es dan mengambil beberap cemilan.
"Nasya cepatan, udah mau mulai nih." Teriakan Varel.
Mendengar teriakan Varel, Nasya cepat mengambil cemilan dan tak lupa minumannya. Dia tidak ingin terlewatkan pertandingan malam ini.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, Nasya ikut duduk disamping Varel dan meletakan bawaannya di meja kaca yang berada didepannya.
Tak lama kemudian pertandingan yang ditunggunya mulai, mereka larut dalam keasikan menonton bola. Tak ada kecangungan lagi di antara mereka, teriak, pukul memukul satu sama lain mereka lakukan seakan-akan mereka adalah teman akrab.
"Hmm,"
Varel salah fokus, ketika tanpa sadar Nasya mengengam erat tangannya.
"Yey.. golll." Teriak Nasya mengangkat tangannya ke atas, tentu saja bersamaan dengan tangan Varel yang di gengamnya.
"Aduh sorry," Ucap Nasya malu setelah menyadari dia mengengam tangan Varel.
"Ngak apa-apa." Ucap Varel gugup, dia sibuk mengatur irama jantungnya yang berdebar cepat.
"Aku yakin Arsenal mampu membalas gol dari lawannya." Ucap Nasya semangat.
"Iy..iya." Varel masih merasa gugup.
Bodoh nah, kenapa sih gue segugup ini.
Varel menarik nafas dan mengeluarkannya lewat hidung, untuk menenangkan dirinya.
"Lo kenapa? Tanya Nasya merasa aneh karena Varel tiba- tiba terdiam.
"Enggak apa-apa."
mereka kembali fokus dengan pertandingan bola yang mereka tonton. Sesekali Varel memcuri pandang pada Nasya yang duduk disampingnya.
"Yah udah selesai," ucap Nasya kecewa karena pertandingab bola tersebut telah usai. Dia berdiri membereskan meja yang berantakan.
"Udah jam 01.00 gue langsung antar lo pulang ya." kata Varel memperhatikan kesibukan Nasya.
"Iya habis ini." Meneruskan kesibukannya.
"Ayo," Ajak Nasya setelah selesai membersihkan meja.
"Ayo," Varel meraba baju dan celananya mencari kunci mobilnya yang entah di mana.
"Kok diam,ayo antar aku pulang." Nasya mulai kesal karena Varel hanya diam di tempat sambil mencari-cari sesuatu.
"Bentar, kunci mobil gue hilang."
"Hilang? Kok bisa, lo taruh di mana tadi?"
" Ngak tau, gue pikir ada di saku celana tetapi ngak ada."
"Yakin lo," Nasya menghampiri Varel dan ikut meraba area saku celana Varel.
Spontan Varel menahan tangan Nasya. Menatap Nasya yang berada sangat dekat dengannya.
"Jangan begini, lo kayak mau bangunin buaya tidur tau." melepaskan kembali tangan Nasya.
"Buaya apaan sih, gue cuma mau bantuin lo nyariin kunci mobil. Cuek, terus meraba saku Varel.
Cup...
Varel mendaratkan bibirnya di bibir ranum Nasya.
Nasya terkejut dan diam mematung di tempat dengan muka bersemu merah bagaikan kepiting rebus.
"Kan gue udah bilang, jangan bangunin buaya yang lagi tidur."
.
.
.
.
.