NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK

Tiga hari setelah perang mulut di warung, Kepling NATO datang ke bengkel membawa map hijau, senyum lebar, dan dua kalimat pembuka yang tidak dibutuhkan siapa pun.

“Pembangunan lingkungan,” katanya, “harus melibatkan putra-putra terbaik daerah.”

Aku sedang membersihkan kipas meja. Binsar menyusun obeng berdasarkan warna karena menurutnya ukuran terlalu membingungkan. Liza duduk di meja kas dengan buku pembayaran. Pak Tor menyolder kabel radio sambil pura-pura tidak mendengar.

Kepling Rahmat Syahputra Nasution berdiri di depan papan Konslet Medan seolah sedang meresmikan gedung pemerintahan. Perutnya mendorong kemeja safari, dan cincin batu di jarinya memantulkan cahaya.

Fadli, yang baru turun dari motor, berbisik kepadaku, “No Action, Talk Only datang.”

“Pelankan.”

“Aku sudah pelan. Suaranya saja yang suka cari jabatan.”

Kepling menoleh. “Apa itu?”

“Motor saya, Pak. Knalpotnya bicara sendiri.”

Knalpot Fadli, seolah merasa dipanggil, jatuh ke tanah dengan bunyi besi. Kepling mengangguk seperti kejadian itu bagian dari laporan pembangunan.

Ia membuka map. Di dalamnya ada gambar tiang lampu gang, daftar titik, dan lembar anggaran.

“Lampu gang kita banyak mati,” katanya. “Warga sudah mengeluh. Malam gelap, keamanan terganggu, anak sekolah takut pulang, ibu-ibu merasa tidak nyaman.”

Mak Sendok menyahut dari warung, “Ibu-ibu tidak nyaman karena orang buang sampah malam-malam, bukan karena lampu.”

Kepling tertawa. Matanya tidak ikut. “Itulah, Mak. Semua saling berkaitan.”

Ia menyerahkan kertas kepada Liza. “Saya ingin memberi kesempatan kepada usaha lokal. Konslet Medan bisa mengerjakan.”

Aku menegakkan badan. Proyek lingkungan. Namanya resmi. Walaupun anggarannya tidak besar, papan kami akan disebut dalam rapat warga. Setelah tiga pelanggan membatalkan dan utang Rinso kembali menghantui, pekerjaan seperti itu terdengar lebih indah daripada mestinya.

“Berapa titik?” tanyaku.

“Dua belas. Ganti lampu, rapikan sambungan, pastikan terang.”

Liza membaca angka satu per satu. “Material ditanggung siapa?”

“Dari anggaran.”

“Spesifikasinya?”

“Nanti disesuaikan.”

“Jadwal pembayaran?”

“Fleksibel.”

“Kontrak?”

Kepling tersenyum makin lebar. “Kita ini satu lingkungan. Jangan terlalu kaku.”

Liza menatapku. Itu tatapan yang berarti ia sudah menemukan sesuatu yang bau meskipun belum ada kabel terbakar.

Kepling mengeluarkan satu lembar kuitansi kosong. “Ini ditandatangani dulu. Angka nanti kita sesuaikan setelah belanja.”

Liza tidak menyentuhnya. “Kuitansi kosong tidak kami tanda tangani.”

“Bukan kosong. Belum diisi.”

“Itu definisi kosong.”

Aku menyikut meja pelan. “Bisa dibicarakan, Za.”

“Sudah dibicarakan.”

Kepling memiringkan kepala. “Anak muda sekarang memang teliti. Bagus. Tapi jangan semua hal dipersulit. Anggaran pemerintah ada alurnya.”

“Kalau ada alurnya, tulis alurnya,” kata Liza.

Fadli menutup mulut dengan tangan. Binsar pura-pura mencari tang, tetapi telinganya mengarah ke percakapan.

Aku mengambil lembar anggaran. Totalnya cukup untuk membeli material, membayar tenaga, dan menyisakan sedikit untuk sewa. Sedikit itu penting. Surat Mak Sendok masih menempel di belakang lemari: dua minggu menuju tenggat.

“Pak Kepling,” kataku, “kami kerjakan kalau uang muka material dibayar.”

“Nanti saya usahakan. Yang penting mulai dulu. Warga melihat.”

“Kalau mulai, kami perlu kuitansi.”

Kepling menepuk pundakku. “Kau ini teknisi. Urusan kertas serahkan kepada orang yang biasa.”

Liza menarik kuitansi kosong dari tangannya, melipatnya sekali, lalu meletakkannya kembali di atas map.

“Kami juga biasa dengan kertas,” katanya. “Karena yang menanggung kalau angkanya berubah adalah usaha kami.”

Senyum Kepling menipis. “Tidak ada yang memaksa.”

“Bagus,” jawab Liza.

“Tapi saya kira usaha baru seperti ini butuh dukungan lingkungan.”

Aku mendengar perubahan kecil dalam suaranya. Masih sopan, tetapi kata dukungan terdengar seperti pintu yang bisa ditutup.

“Memang butuh,” kataku cepat. “Kami cuma perlu aturan jelas.”

Kepling memandang papan nama, rak material, lalu surat keterangan usaha yang masih kami urus dan ditempel dalam plastik di dinding.

“Izin usaha kelen belum lengkap, kan?”

Liza menutup bukunya. “Sedang diproses.”

“Proses itu bisa cepat. Bisa juga lama, tergantung kelengkapan dan rekomendasi.” Ia mengangkat map. “Saya cuma mengingatkan.”

Aku menggertakkan gigi. “Jadi proyek ini syarat rekomendasi?”

“Jangan salah paham. Saya tak pernah bilang begitu.”

“Karena kalau bilang begitu, namanya ancaman,” kata Liza.

Kepling tertawa lagi. Tidak ada garis di sekitar matanya. Pak Tor menghentikan solder.

“Rahmat,” panggil Bapak.

Kepling menoleh. “Pak Tor.”

“Kalau pekerjaan jelas, buat surat kerja. Kalau anggaran jelas, tulis angka. Jangan suruh anak-anak ini menebak.”

Kepling menghela napas seperti orang sabar menghadapi keluarga keras kepala. “Orang tua memang suka prosedur lama.”

“Prosedur tidak tua.”

Kepling menutup map. “Baiklah. Saya beri waktu berpikir sampai besok. Kalau Konslet Medan tidak sanggup, banyak yang mau.”

Ia melangkah keluar. Sebelum naik mobil, ia menatap papan nama sekali lagi.

Begitu mobilnya pergi, aku memukul meja pelan. “Kita butuh proyek itu.”

Liza merapikan kuitansi. “Kita butuh uang. Bukan masalah baru.”

“Semua orang pakai kuitansi begini.”

“Semua orang siapa?”

Aku tidak punya daftar nama. Yang kupunya cuma rasa takut kehilangan pekerjaan.

Pak Tor mencabut solder. “Berhati-hati pada orang yang tertawa tanpa menggerakkan mata.”

Fadli memungut knalpotnya. “Kalau orang tak tertawa sama sekali?”

“Itu Liza,” kata Binsar.

Liza menatapnya.

Binsar langsung mengubah kalimat. “Maksudku, Kak Liza hemat ekspresi. Efisien.”

Malamnya, kami menutup bengkel lebih cepat. Aku masih menghitung-hitung anggaran Kepling di kepala. Kalau harga lampu ditekan, kami bisa mendapat sisa. Kalau pembayaran terlambat, kami tenggelam. Kalau menolak, izin usaha bisa dipersulit. Semua pilihan terasa seperti kabel kusut yang ujungnya tidak kelihatan.

Sekitar pukul sembilan, terdengar teriakan dari gang.

“Jepot!”

Aku keluar. Lampu gang di depan bengkel mati. Hanya rumah-rumah yang menyala dari balik jendela. Warga berdiri di jalan dengan ponsel sebagai senter.

Mak Sendok berkacak pinggang. “Baru siang Kepling datang, malam ini gelap. Cemana ini?”

Seorang bapak menunjuk papan kami. “Konslet Medan kan ahli listrik. Masa lampu depan bengkel sendiri mati?”

“Bukan instalasi kami,” kataku.

“Teknisi selalu punya alasan,” sahut orang lain.

Tia sudah mengangkat ponsel. “Bang, jangan marah dulu. Banyak yang lihat.”

“Aku tidak marah.”

“Wajahmu sudah seperti MCB mau jatuh.”

Dari ujung gang terdengar suara seseorang, “Kalau tak sanggup, panggil Rinso saja!”

Beberapa warga mengangguk. Nama itu membuat darahku naik lebih cepat daripada arus pendek.

Aku mengambil kotak alat. Liza keluar membawa senter dan buku catatan.

“Tidak ada kontrak,” katanya.

“Kalau kita diam, besok satu gang bilang kita tak bisa kerja.”

“Kalau kita kerja tanpa catatan, besok Kepling bilang kita setuju proyeknya.”

Aku menatap lampu gelap di atas kami. Di belakang, warga terus menggerutu.

“Periksa dulu,” kataku. “Bukan berarti menerima.”

Liza tidak tampak setuju, tetapi ikut berjalan. Binsar membawa tangga. Fadli mendorong motornya karena knalpot masih diikat tali.

Saat kami mendekati tiang pertama, aku mencium bau kabel lama dan debu panas. Lampu itu tidak sekadar putus. Seseorang telah membuat seluruh gang menunggu kami bergerak.

Dan sebelum sempat menyentuh tangga, seorang warga berteriak, “Nah, itu Konslet Medan datang. Kelen yang bertanggung jawab, kan?”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!