Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Membiasakan Memanggilmu
Di ruang belakang, area yang dikhususkan untuk mencuci piring dalam jumlah besar, terlihat Ratna dan Sagara tengah berdebat. Keduanya tidak ada yang mau mengalah, sampai sayup-sayup suara perdebatan mereka terdengar oleh Nara yang baru saja pulang membawa spons cuci piring yang baru saja dibelinya.
"Biar Saga saja, Bu. Ibu mending pergi mandi terus nonton tv atau istirahat saja di kamar sembari menunggu makan malam. Masa kerja terus, Ibu tidak capek. Dari pagi buta Ibu bangunnya, mana nggak tidur siang pula."
"Seharusnya Ibu yang bilang begitu sama kamu, kamu juga bantuin Ibu dari pagi, terus lanjut kerja sama Pak Bagja. Lebih baik kamu yang pergi mandi, bersih-bersih, ini biar Ibu yang urus."
Nara tiba di sana, semakin jelas mendengar perdebatan keduanya. Tidak ada yang ingin mengalah, keduanya sama-sama bersikeras untuk mencuci perkakas kotor tersebut. Nara bingung ingin bereaksi seperti apa, tapi hatinya terasa mencelos.
Baru ia sadari, bahwa ia tidak pernah seperhatian itu pada ibunya. Sedangkan pria yang baru dikenalnya ini, begitu perhatian pada sang ibu. Membuatnya sadar bahwa selama ini ibunya bekerja dari pagi buta hingga menjelang malam untuk memenuhi kebutuhannya selama ini, tetapi apa yang ia lakukan untuk ibunya? Nara menunduk, bahkan hadiah pun jarang ia berikan.
Nara menarik napas, menghembuskannya perlahan. Melonggarkan rasa sesak di dadanya dengan mata yang sudah memanas. "Ehem, biar aku saja," sela gadis itu setelah sedikit tenang. Sontak tatapan Sagara dan Ratna langsung tertuju ke arahnya. Nara menampilkan senyum tipis. "Ibu sama Sagara istirahat saja, ini bisa aku yang selesaikan," lanjutnya, berjalan mendekat. Kemudian duduk di bangku pendek untuk mulai mencuci perkakas tersebut.
Ratna berkacak pinggang, menunduk melihat anaknya itu. "Naraaa," panggilnya, membuat anaknya mendongak. "Sudah Ibu ingatkan sebelumnya, jangan panggil suamimu dengan namanya saja. Itu tandanya kamu tidak menghormati suamimu. Kamu pernah dengar Ibu panggil nama bapakmu dengan namanya saja, tidak kan?! Ibu ingatkan lagi, Ibu tidak mencontohkan hal-hal buruk pada mu, Nak." Ratna menatap dalam mata anaknya, tangannya yang awalnya berkacak pinggang terkulai lemas. Wajah kuyunya semakin terlihat lelah, lelah menasehati anaknya itu.
Sagara sendiri tampak diam saja, tidak ingin menyela, hanya sebagai pengaman diantara ibu dan anak. "Kamu tahu, Nak. Ridho seorang istri itu ada pada suaminya. Kamu harus menghormatinya, karena dialah imammu." Nara tampak diam, kepalanya kembali menunduk, bahkan lebih dalam.
"Ibu bukanya apa mengatakan hal itu, hanya ingin mengingatkanmu saja. Karena tidak ada bapakmu di sini, jadi Ibu yang melakukannya. Semata hanya demi kebaikanmu dan rumah tanggamu, Nak," ujar perempuan paruh baya itu dengan suara tercekat tak kala mengingat suaminya. Pandangannya beralih pada Sagara, menatap menantunya itu dengan lekat.
Dapat Sagara lihat wajah mertuanya itu penuh dengan pengharapan dan permohonan.
"Dan untuk kamu, Nak. Ibu harap kamu bisa membimbing istrimu di biduk rumah tangga kalian. Tolong tegur dia jika berbuat salah, tapi Ibu mohon jangan sesekali main tangan dengannya. Tolong nasehati dia sampai dia paham dan mengerti akan kesalahannya."
Ujaran mertuanya itu membuat Sagara refleks memegang kepala, mengingat kembali perlakuan istrinya yang menjambak rambutnya.
Nara sendiri langsung mengangkat wajah melihat pria itu. Wajahnya sedikit meringis, bukan Sagara yang main tangan, tapi dirinya. Bahkan sejak sebelum menikah, akibat banyaknya kesalahpahaman.
"Ikatan pernikahan ini tidak seperti saat kalian masih menjadi sepasang kekasih." Ratna menatap bergantian pada Sagara dan Nara. "Lebih dari itu, semuanya akan terlihat dan terbuka. Tapi Ibu harap, kalian berdua dapat menerima satu sama lain, saling melengkapi atas kekurangan masing-masing. Saling menerima dan menguatkan."
Sejenak pasutri itu tampak diam, lalu sesaat kemudian keduanya mengangguk hampir bersamaan.
"Iya, Bu," ujar mereka serentak.
"Maafkan Nara, Bu. Maafkan Nara, A," lanjut Nara memandang ibunya, lalu pada Sagara sang suami.
Mendengar panggilan itu, si pria sedikit terbelalak, jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Reaksi yang begitu berlebihan menurutnya, hanya karena panggilan itu, dirinya sampai berdebar.
Sagara segera menguasai diri. Ia mengangguk singkat sebagai balasan untuk Nara.
"Ibu hanya ingin kamu menjadi lebih baik, Nak. Dan rumah tangga kalian langgeng."
Baik Nara maupun Sagara kembali mengangguk. Ratna pun kemudian pamit pada keduanya, tidak lagi memaksa untuk mencuci piring. Meninggalkan Nara bersama suaminya.
Sejenak keheningan menguasai diantara keduanya, sampai suara tarikan bangku oleh Sagara memecah keheningan tersebut.
"Aku bantu," ujar pria itu singkat, tangannya pun mulai bekerja. Nara sama sekali tidak menolak, mulai mengikuti pria itu.
"Aa," suara Nara terdengar di tengah decitan suara piring dan lainnya beradu.
"Aa," ulangnya.
"Hm," sahut Sagara, merasa di panggil.
"Aa Sagara,"
"A Saga,"
"Aa, A, Aa Gara," sibuk Nara mengulang-ulang, Sagara yang dipanggilnya sampai menaikkan alis. Panggilan gadis itu tidak baik untuk jantungnya yang kian berdebar.
"Ada apa Nara?" potong Sagara pada Nara yang sibuk sendiri.
Merasa namanya dipanggil, Nara menoleh ke arah Sagara. "Hm?" dehemnya, bertanya dengan wajah polos. Tidak menyadari telinga Sagara yang seketika memerah saat wajah keduanya berhadapan.
Pria gondrong itu sedikit salah tingkah. "Kenapa kamu memanggilku berulang kali?" tanyanya cepat.
Nara tidak mengerti, merasa tidak melakukan. Sampai ... "Ouhw, aku hanya berlatih untuk memanggilmu. Bagaimana? Tidak terdengar menggelikan kan?" tanyanya serius.
"Maksudmu? Jadi, namaku menggelikan?" Memang dasar jantungnya yang gampangan berdebar, panggilannya terdengar menggelikan oleh gadis ini!
"Ehhh, bukan begitu maksudku ... A, cuman agar terbiasa saja, saat diucapkan di lidah," jelas Nara dengan wajah panik, takut pria itu tersinggung dan semakin marah.
Sagara mendengus, kembali melanjutkan pekerjaannya. Tidak lagi menanggapi gadis itu.
Mulut Nara terbuka, lalu kembali tertutup. Lalu terbuka lagi, ingin mengatakan sesuatu.
"Aa," cicitnya setelah mengumpulkan keberaniannya. Sagara tidak menanggapinya, apalagi menoleh. Membuat Nara kembali memanggilnya. "Aa Sagara Radetya Adhiyaksa." Nara tersenyum tak kala pria itu menoleh ke arahnya.
"Kamu tahu nama panjangku?" alis pria itu tertaut.
"Heh, tentu saja aku menghafal nama panjang suamiku. Saat penghulu memanggil namamu, aku langsung mengingatnya."
"Hah? Langsung mengingatnya? Dalam satu kali panggilan itu?" tanya pria itu seolah tidak percaya.
"Hm," angguk Nara, helaian rambutnya ikut menarik mengikuti gerakan anggukannya. Sagara sampai tertegun dibuatnya.
"Kataku dalam hati saat itu, inilah pria yang akanku bagikan beban hidup ini, suka dan duka. Tidak perlu lagi bekerja terlalu keras, khawatir akan biaya hidup, dia telah datang untuk menanggung semuanya," ujar Nara lalu tersenyum jenaka. Pikiran itu memang sempat terlintas di kepalanya saat itu, jika saja mereka memang menikah karena cinta.
"Heh! Dasar kamu!" mata Sagara yang tanpa sadar sempat terpesona seketika mendelik. Ia menoyor dahi gadis.
"Aa! Busanya nanti kena mataku!"
***
Bersambung ...