Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 18- Tangisan tengah malam
Ep. 18- Tangisan tengah malam
Sore berganti malam yang kian larut, menyelimuti rumah besar itu dengan kegelapan yang pekat dan dingin.
Jam dinding di koridor utama berdentang pelan membentur angka sebelas, menandakan seluruh penghuni rumah seharusnya sudah terlelap.
Namun, ketenangan malam itu buyar oleh tangisan yang tak kunjung reda dari arah lorong kamar belakang.
Aura terus menangis. Tangisannya bukan lagi jeritan biasa anak balita yang menginginkan mainan, melainkan isakan panjang yang pilu, dan sarat akan kerinduan yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata.
Mungkin ingatan kecilnya tentang sosok ibu kandungnya yang biasa menidurkannya di malam hari kini mengusik nalurinya.
Rasa asing di rumah besar itu, ditambah dengan kebingungan atas penolakan Kirana tadi sore, membuat jiwa balita itu terguncang hebat.
"Ssssh... cup, cup, Sayang... Nggak boleh nangis terus ya, Nak... Ini Mbok Darmi di sini..." bisik Mbok Darmi, sambil mengayun-ayunkan tubuh Aura yang basah oleh keringat dan air mata di dalam gendongannya.
Di sampingnya, Mbak Tuti mengipasi tubuh Aura dengan kipas anyaman bambu, sementara Mbak Yem mencoba menyodorkan botol berisi susu hangat. Namun, Aura menepis botol susu itu hingga terjatuh ke lantai.
"Gak mauuu! Ibuuu... Owa mau Ibuuu... Hwaaaaa!" jerit Aura melengking, kedua tangan kecilnya menggapai-gapai ke udara, seolah mencari pelukan hangat yang telah pergi selamanya ke liang kubur.
"Aduh, bagaimana ini, Mbok? Susunya tidak mau, ditimang-timang juga makin keras menangisnya. Kalau Ibu Kirana terganggu dan makin marah bagaimana?" bisik Mbak Tuti dengan raut wajah panik dan tidak tega melihat kondisi Aura yang mulai lemas karena terus menangis.
Mbok Darmi menghela napas berat, lalu mengusap dahi Aura yang terasa hangat. "Sabar, Ti... Anak sekecil ini mana mengerti apa-apa. Dia cuma rindu ibunya. Kita ganti Pampers nya dulu, mungkin dia gerah."
Segala upaya telah dilakukan para ART. Mereka menggendongnya bergantian, mengitari area dapur, mengusap punggungnya dengan minyak kayu putih, hingga menyanyikan lagu nina bobo dengan suara berbisik, namun tak satu pun berhasil menenangkan balita yang merindukan ibunya itu.
Sementara itu, di lantai dua, ruangan kamar utama terasa sangat luas dan sunyi.
Kirana duduk di tepi tempat tidur yang berukuran king-size. Ia mengenakan gaun tidur bahan sutra berwarna biru tua. Lampu tidur di sudut meja memancarkan cahaya temaram yang kuning hangat, memantulkan bayangan tubuhnya yang tirus di dinding porselen.
Kirana termenung. Tatapannya tertuju kosong pada jendela kaca besar yang memperlihatkan pekatnya malam di luar sana.
Namun, kendati pintunya terpasang rapat dan ruangan itu berpendingin udara, gema isakan dan tangisan Aura dari lantai bawah masih terdengar tipis-tipis membentur keheningan kamarnya.
Suara tangisan itu bagaikan ketukan jarum di kepalanya. Setiap kali isakan Aura melengking, ingatan Kirana terlempar kembali pada momen tadi sore, pada tatapan mata bulat yang bersedih dan terluka saat ia merebut boneka kelinci dari tangan mungil anak itu.
Ada bisikan nurani di dalam dadanya yang merintih geliat rasa bersalah. "Dia cuma anak kecil, Kirana... Dia tidak tau apa-apa tentang dosa orang tuanya... Kenapa kamu melampiaskan kemarahanmu pada balita dua tahun?"
Namun, secepat rasa bersalah itu hadir, suara pengacara tadi pagi kembali bergema di telinganya, menutupi rasa ibanya dengan tembok kebanggaan yang dingin.
"Tidak. Aku harus bersikap tegas. Jika aku menaruh iba pada anak itu, aku akan kehilangan batas untuk melindungi hak Keisya."
Di tengah kecamuk pikiran dan perdebatan batin yang tak kunjung usai, perhatian Kirana tiba-tiba teralihkan oleh derit halus dari daun pintu kamar utamanya yang perlahan merenggang terbuka.
Krieeek...
Kirana menolehkan kepalanya. Di balik celah pintu yang terbuka sedikit, muncul sosok mungil Keisya.
Gadis kecil itu berdiri mematung sambil memeluk erat boneka kelinci merah mudanya. Keisya mengenakan piyama bermotif beruang, matanya yang bulat tampak masih segar dan dipenuhi rasa takut akan kegelapan koridor luar.
Melihat kehadiran putri tunggalnya, ketegangan di raut wajah Kirana langsung mencair seketika. Rona kelembutan seorang ibu kembali menghiasi parasnya.
"Sayang... Belum tidur, Nak?" tanya Kirana dengan nada suara yang sangat lembut dan hangat. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan melambaikan jemarinya agar Keisya mendekat. "Kenapa belum merem? Katanya tadi sudah diantar Suster Rina ke kamar?"
Keisya melangkah masuk dan menyapu lantai kamar dengan telapak kaki telanjangnya yang mungil. Ia berjalan menghampiri tempat tidur, lalu menatap ibunya dengan raut polos yang menggemaskan.
"Keisya nggak bisa tidur, Ma..." bisik Keisya sambil memiringkan kepalanya. "Keisya denger suara Aura menangis terus dari bawah. Keisya kasihan... Keisya jadi takut."
Kirana terdiam sejenak mendengarkan ucapan putrinya. Ia menghela napas, lalu meraih tubuh mungil Keisya dan mengangkatnya ke atas tempat tidur yang empuk.
"Mama, Keisya boleh tidur sama Mama?" tanya Keisya polos, matanya menatap Kirana dengan penuh harapan.
"Boleh... Tentu saja boleh, Sayang," sahut Kirana.
Tanpa membuang waktu, Keisya merangkak naik ke tengah kasur, lalu merebahkan tubuhnya di samping Kirana. Kirana ikut berbaring dan menaruh kepalanya di atas bantal yang sama, lalu merengkuh tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Tangannya yang hangat ditarik membalut selimut tebal bernuansa krem untuk menutup tubuh mereka berdua.
Keisya menyandarkan kepala kecilnya di atas dada Kirana, menghirup aroma wangi vanila dari tubuh ibunya yang selalu memberinya rasa aman terhebat di dunia.
Kedua tangan mungil Keisya memeluk pinggang Kirana dengan erat, sembari tetap menyelipkan boneka kelincinya di antara mereka.
"Mama..." bisik Keisya dari dalam pelukan Kirana, suaranya terdengar makin tenggelam oleh rasa kantuk yang mulai menyerang.
"Iya, Sayang?" Kirana mengusap helai-helai rambut halus Keisya lalu mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa Aura nangis terus dari tadi? Aura kangen sama mamanya ya, Ma?" tanya Keisya lirih.
Jemari Kirana terhenti sejenak di rambut Keisya. Rasa sesak kembali merayap pelan di tenggorokannya, namun Kirana dengan cepat menenangkan detak jantungnya agar Keisya tidak merasakannya.
"Aura... cuma belum biasa saja, Sayang," jawab Kirana, memilih kalimat yang paling aman. "Nanti kalau sudah capek, Aura juga tidur. Keisya tidak usah memikirkan itu ya... Sekarang Keisya merem, ada Mama di sini."
Keisya mengangguk pelan di atas dada Kirana. "Iya, Ma... Keisya sayang banget sama Mama. Mama jangan pernah pergi meninggalkan Keisya ya..."
"Mama tidak akan pernah pergi, Keisya," bisik Kirana. Tangannya memeluk tubuh mungil itu makin erat dan membiarkan napas teratur Keisya perlahan-lahan menjadi tanda bahwa putrinya telah tenggelam ke dalam mimpi yang indah.
"Mama tidak akan pernah meninggalkanmu."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗