Itu bukan kesalahan ku, kenapa aku harus menanggungnya? ~Anggi
Aku gak mau tau!! kita menikah secepatnya, setelah kekasihku sembuh aku akan menceraikan mu. ~Arbi
Ini Pernikahan Bapak?? bukan sebuah permainan atau lelucon belaka....
Hai, namaku Anggi....aku terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak pernah aku impikan sebelum, menikah dengan Dosenku sendiri.
Arbian, tampan dan kaya itu Adalah Dosenku..Kami menikah bukan karena perjodohan, bukan pula karena kesalahan satu malam, ataupun saling cinta.
Tapi.....ah sudahlah ikuti saja kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa??
Arbi berjalan menuju ruang operasi, dengan pikiran yang semrawut dan tidak tenang. Dia tidak mau kalau terjadi apa apa dengan kekasihnya Sasa.
Laki laki tampan itu berhenti, ketika dia sudah berada di depan ruangan yang masih tertutup itu.
Arbi mondar mandir ke kiri dan ke kanan, memikirkan apa yang terjadi dengan nasib Sasa setelah operasi. Apakah selamat atau tidak?? karena Arbi sendiri belum bertemu dengan Dokter atau perawat yang bisa memberikan nya informasi.
Niat hati ingin memberikan kejutan kepada kekasihnya tetapi malahan dia yang terkejut.
*****
Sedangkan di sebuah ruang inap. Tampaklah seorang laki laki yang sedang duduk di samping gadis cantik yang masih tak sadarkan diri.
"Ha...us...."
Dito yang mendengar suara dari Anggi langsung tersenyum dan mengambil air.
"Minum dulu Nggi. Pelan pelan saja."
Ujar Dito yang dengan sabar membantu Anggi untuk duduk.
"Masih pusing?"
Tanya Dito lagi. Khawatir kalau sahabat nya itu kenapa kenapa.
"Udah enggak sih Di. Tapi badan ku pegel semua nya.."
Jawab nya lirih, dan melihat ke segala ruangan yang serba putih ini.
"Ih kenapa gue di sini?"
"Kalau gak ke sini, lo mau nya di mana?? kuburan?? enak saja....amal mu belum cukup kalau ke sana."
Anggi hanya menyunggingkan senyum nya, dia lalu mengingat ingat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Bro...motor gue gimana?? duh ringsek deh pastinya...."
Ucapnya dengan sendu. Masih saja memikirkan bagaimana keadaan motornya.
"Lo tuh ya, badan lo di pikirin, bukan motor lo aja. Motor lo aman, tetapi mungkin ringsek iya.."
"Aduh gimana....??"
Anggi nampak memikirkan sesuatu, kalau beneran ringsek gimana? mau memperbaiki pake uang apa??karena uang tabungan nya juga sudah untuk mencicil hutang di bank bulan depan. Tapi kalau gak ada motor, gimana dia pergi bolak balik ke kampus dan juga cafe.
"Gak usah di pikirin tuh motor. Gue bisa beliin yang baru. Atau pake saja mobil gue. Lo udah lama gue tawarin buat make mobil, tapi selalu menolaknya.."
"Gu gak mau ngrepotin lo lagi. Sudah banyak yang lo lakuin untuk gue. Kalau diitung pake tangan gak muat jari gue. Kalau diitung pake kalkulator juga nol nol banyak bnaget.."
"Ya udah kalau gitu gak udah di hitung. Gampang kan?"
"Iya gampang, wong belakangnya pake ng coba ganti kan beda nanyi hasilnya."
Jawab Anggi yang masih saja ngeles. Sakit saja begini apalagi kalau waras coba.
"Di..seingat gue, gue di tabrak ya?? terus bagaimana dengan orangnya?? wah parah tuh orang, gue harus minta pertanggungjawaban nya. Apalagi kalau motor gue sampai kenapa kenapa."
Ucap Anggi dengan menggeebu gebu. Dia belum tau soal keadaam seseorang yang menabrak nya.
"Huss jangan begitu. Kasian juga orang yang nabrak lo. Ini semua musibah. Kamu ataupun dia tidak mau kejadian seperi ini terjadi. Tetapi yang namanya musibah, tidak dapat dielak lagi."
Dito menjelaskan panjang lebar kepada Anggi, dia tau kalau sahabatnya itu pikirannya masih labil, belum bisa mikir jernih.
Tampak Anggi memikirkan sesuatu dan mengangguk. Perkataan membuatnya sadar, kalau tak ada satu orangpun yang mau celaka di dunia.
Seperti bpjs, lebih baik membayar dari pada kita yang sakit. Itung itung juga sedekah tiap bulannya.
"Lo seharusnya bersyukur, karena masih di beri kesehatan dan keselamatan. Apa lo tau kondisi dari orang yang menabrak lo?"
Anggi menggeleng, "Parah ya?? sebelum pingsan, gue sempat liat mobil terguling beberapa kali.."
Anggi jadi ngeri sendiri membayangkan kejadian yang barusan dialaminya.
"Ya ya ya seharusnya gue bersyukur.", Sambung Anggi.
Dito nampak terdiam, dia baru ingat kalau wanita si penabrak Anggi itu belum ada keluarga nya sama sekali. Ingin rasany melihat ke sana, tetapi Anggi belum ada yang menemani.
Ceklek.
Pintu ruang inap di buka.
Terlihat dua orang wanita berbeda generasi itu sedang menghapus air matanya dan ada guratan kesedihan.
"Anggi....."
Bunda Ani yang baru tiba dan melihat kondisi Anggi langsung memeluk putri semata wayangnya.
"Bunda. Anggi tidak apa apa. Bunda gak usah sedih."
Anggi tau kalau Bunda nya pasti sedih melihat keadaan nya.
"Kamu tidak apa apa nak?"
Bunda Ani meneliti setiap bagian tubuh Anggi, tidak ada apa apa memang, hanya kepala nya saja yang di perban.
"Aman Bun. Hanya motor ku saja yang rusak. Ya kan Di?"
Anggi melirik ke arah Dito, namun Dito hanya diam saja.
"Kamu ya Nggi masih saja ngurusin motormu. Motor gampang itu. Yang penting kamu nya.."
"Tapi kan itu motor satu satu nya Anggi Bun. Untuk ke kampus dan ke cafe. Hufff...."
Bunda Ani mengusap lembut kening Anggi, dia bisa merasakan bagaimana anaknya selama ini ikut banting tulang untuk membayar cicilan hutang pada bank yang entah sampai kapan akan lunas itu.
"Motor gampang Nggi, gue beliin. Kalau gak mau beli, pakai mobil gue. Di garasi banyak, tinggal pilih. Punya sahabat kaya kok bingung kamu."
"Dihh sombongnya. Bawa ke bengkel saja motor nya Di. Kali ini gue gak nolak bantuan lo, tapi jangan di jual tuh motor ya.?"
"Hmmm terserah...."
Akhirnya Anggi mau menerima bantuan Dito, tentunya setelah pikir panjang kali lebar. Mungkin bagi orang lain senang dengan semua tawaran yang sahabat nya berikan, tetapi tidak untuk Anggi. Gadis itu sudah banyak berhutang budi kepada laki laki yang bernama Dito..sahabat kecilnya.
"Udah Nggi, gak usah di pikirin. Lo udah gue anggap kayak adek gue sendiri."
Anggi mengangguk, sudah pasrah tidak bisa berbuat banyak, memang dia saat ini sedang berhemat untuk membayar cicilan bank.,namun sayank....musibah tak bisa di elak kan.
"Gue tinggal dulu. Sekalian urus administrasi."
Dito mengusap rambut Anggi dengan sayangnya, kemudian bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Bunda, Dito keluar sebentar. Bunda di sini saja dulu, tidak usah berpikiran macam macam."
"Terimakasih Dito."
Bunda menepuk pundak Dito, dan tersenyum. Kemudian meninggalkan ruang inap Anggi.
Keluar dari ruang inap Anggi, Laki laki tampan itu langsung menuju ke ruang operasi, di mana wanita yang belum di ketahui nama nya itu di sana.
Dito masih kepikiran dengan wanita itu, karena dia juga belum tau apakah ada pihak keluarga nya yang menunggu atau tidak.
Tap...tap...tap
Sesegera mungkin laki laki tampan berjalan menuju ruang operasi untuk melihat bagaimana kondisi dari nya.
Langkah kaki Dito berhenti tepat di depan ruang operasi, dia melihat seseorang yang sudah mondar mandir di depan ruangan yang tertutup.
Laki laki itu siapa?
Apakah dia keluarga nya?
ASATAGAAA NGAPAIN JUGA DUA TAHUN,
RADA" LAH OTAKMU THOR .
rada" otakmu Thor😪