Shen Qingci, dokter bedah jenius dari masa kini, kembali hidup di masa lalu dan dipaksa menikah dengan Lu Heng, Pengawas Istana yang dikira sekarat. Ternyata ia tak sakit, melainkan diracun. Dan pernikahan ini bukan akhir—melainkan awal dari segala kebenaran, dendam, dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Belakang Toko Sutra—Kau Tahu Lorong Rahasia Istana?
Saat mereka berbelok ke halaman belakang toko sutra, suara pengejaran di belakang sudah teredam oleh tikungan gang.
Shen Qingci bersandar di tembok terengah-engah, dadanya naik turun seperti bellow. Tenggorokannya penuh rasa pedas dari bubuk tadi—saat menaburkan, ia juga sempat terhirup, dan kini masih terbatuk-batuk.
"... Ti-tidak ada yang mengejar?"
Lu Heng berdiri setengah langkah di depannya, memasang telinga mendengar suara di luar.
"... Untuk sementara sudah terlepas."
Shen Qingci duduk di atas batu di sudut tembok, membalik lengan bajunya—bubuk habis, tiga bungkusan kosong.
"... Habis." Ia mendongak menatapnya, "Semua sudah kupakai. Kalau gelombang berikutnya datang, aku cuma punya tinju."
Lu Heng menunduk menatapnya. Cahaya dari atas tembok jatuh di wajahnya yang mendongak, di pelipisnya ada goresan abu-abu entah kapan terkena, matanya masih berbinar.
"... Kalau begitu jangan biarkan mereka menyusul."
"Bicara gampang!" Shen Qingci berdiri menepuk debu di roknya, "Aku tak bisa lari lebih cepat dari tiga ribu prajurit baju besi hitam cuma dengan kaki. Kau harus cari cara lain."
Lu Heng terdiam.
"... Aku tahu satu jalan."
"Jalan apa?"
"Jalan ke istana."
Shen Qingci terkejut: "... Kau serius? Tembok kota sudah ditutup—"
"Bukan lewat tembok kota."
"Lewat mana?"
Lu Heng berbalik menuju gudang kecil di sudut paling belakang halaman yang penuh barang bekas. Ia mendorong pintu kayu yang setengah terbuka—di dalamnya penuh gulungan sutra berdebu dan rak kayu usang. Ia berjalan lurus ke dinding paling dalam, menekan suatu tempat di permukaan dinding—
Dinding itu meluncur ke dalam tanpa suara.
Sebuah tangga batu menurun terbuka. Gelap, sempit, dengan debu tebal, seperti sudah lama tak dilewati.
Shen Qingci berdiri di pintu, menjulurkan kepala melihat ke dalam.
"... Ini?"
"Lorong bawah tanah menuju istana." Lu Heng mengeluarkan pemantik api dari dadanya dan menyalakannya, cahaya kuning menerangi debu di tangga batu dan celah-celah bata usang, "Waktu kecil, kalau aku salah, aku bersembunyi di sini dari hukuman Ibu. Kemudian... Putra Mahkota juga pernah menggunakannya."
Hati Shen Qingci sedikit menegang.
"... Kakakmu juga tahu jalan ini?"
"... Dia tahu." Suara Lu Heng di lorong gelap terdengar lebih lembut dari biasanya, "Malam dia pergi, aku mengantarnya keluar—dia meninggalkan istana lewat jalan ini."
Shen Qingci tak bertanya lebih lanjut.
Ia berjalan mendekat, berdiri di sisinya, menunduk melihat tangga batu yang membentang ke dalam gelap, lalu mengulurkan tangan menggenggam ujung jarinya dengan lembut.
"... Ayo."
Lu Heng menunduk meliriknya. Api berkedip di dasar matanya.
"... Ayo."
Mereka berdua masuk satu per satu ke balik pintu rahasia. Tangga batu sangat sempit, hanya cukup untuk satu orang. Lu Heng berjalan di depan, Shen Qingci mengikuti di belakangnya, tangannya memegang kain di pinggangnya—memastikan tak terpisah dalam gelap.
Tangga batu di bawah kaki tertutup debu tebal, tapi setiap langkah terasa kokoh.
"... Sudah berapa lama jalan ini tak dilewati?" tanya Shen Qingci pelan.
"Tiga tahun."
"Setelah Putra Mahkota pergi, kau tak pernah kembali?"
"... Iya."
Sunyi beberapa saat dalam gelap.
Tangan Shen Qingci yang memegang kain di pinggangnya sedikit mengencang.
"Sekarang kau kembali." Katanya, "Membawaku."
Langkah di depan berhenti sejenak, lalu melanjutkan turun.
"... Iya."
Lorong itu ditempuh sekitar setengah batang dupa, permukaan di bawah kaki berubah dari tangga batu menjadi lantai bata. Di depan muncul pintu rendah, dari celah pintu terlihat cahaya sangat samar. Lu Heng mematikan pemantik, menempelkan telinga di pintu mendengarkan sebentar.
"... Ruang kerja Kaisar." Katanya.
Jantung Shen Qingci berdetak lebih cepat.
"Ayahanda di dalam?"
"Seharusnya."
"Raja Ning?"
"Juga."
Lu Heng menoleh. Dalam gelap ia hanya bisa melihat siluetnya, tapi suaranya lebih jelas dari tadi:
"... Nanti masuk, jangan lakukan apa pun. Lihat dulu, baru bergerak."
"Paham. Kau kasih isyarat, aku baru bertindak."
"Iya."
Perlahan ia mendorong pintu rendah itu.
Cahaya dari celah pintu semakin terang, dari luar terdengar suara samar—seseorang sedang bicara, suaranya tak tinggi tak rendah, dengan tekanan yang tenang.
"... Kakak." Suara itu berkata, "Kau sudah terlalu lama duduk di kursi ini. Saatnya berganti orang."
Shen Qingci menempelkan mata ke celah pintu—
Di balik meja naga ruang kerja Kaisar duduk seorang pria paruh baya berbaju naga hitam, wajahnya agak mirip Kaisar, tapi alisnya lebih tajam dan lebih keras. Raja Ning. Ia memegang cangkir teh, bersandar di kursi, di hadapannya—di kursi Kaisar, seseorang terikat.
Jubah naga kuning terlipat oleh tali, wajah Kaisar pucat keabu-abuan tapi di matanya menyala api kemarahan yang tak padam.
"... Lu Chong'an," suara Kaisar serak seperti digosok ampelas, "kau berani membunuh kaisar?"
"Membunuh kaisar?" Raja Ning tersenyum, "Adik tak berani. Adik cuma ingin Kakak menandatangani sesuatu—surat turun takhta. Tandatangani, Kakak tetap menjadi Kaisar Emiritus. Kalau tidak..."
Ia meletakkan cangkir teh, merapikan ujung lengan bajunya dengan santai.
"... Adik harus pakai cara lain."
Jari Shen Qingci yang memegang ujung lengan Lu Heng mengencang.
"... Kau lihat?" Suara Lu Heng sangat rendah.
"Aku lihat." Ia menghela napas pelan, "... Dia tak buru-buru membunuh. Dia menunggu Ayahanda menandatangani."
"Jadi kita masih punya waktu."
"Iya."
Shen Qingci mundur setengah langkah, bersandar di dinding bata yang lembap dalam gelap. Ia memejamkan mata, otaknya berputar cepat:
Tak ada bubuk di lengan. Hanya Lu Heng, sebilah pisau rampasan dari panglima, dan dirinya sendiri.
Tak apa.
Dulu saat bahkan tak punya tabung bambu, ia berani menusuk dada orang.
Sekarang setidaknya ada pisau, dan keberanian yang tak pernah kalah seumur hidup.
"... Lu Heng," katanya dalam gelap, "nanti kau keluar, jangan langsung menyerang. Kau bicara."
Lu Heng menatapnya dalam gelap.
"Saat aku bicara—"
"Aku cari kesempatan melepas tali Ayahanda." Ia menepuk jarum perak kecil di lengan bajunya yang entah sejak kapan ia simpan, "Selalu kubawa. Pernah menjahit lukamu, juga menjahit orang lain. Hari ini mau dipakai untuk pekerjaan lain."
Lu Heng terdiam.
"... Baik."
Ia mengulurkan tangan, dalam gelap dengan tepat menggenggam pergelangan tangannya—tekanan sangat ringan, sekadar memastikan ia masih ada. Lalu ia melepaskannya.
"... Ayo."
Pintu rendah terbuka tanpa suara.
Cahaya membanjiri masuk.