NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: "Yang Ngejar Dia Banyak"

"Kenapa?" Laras akhirnya berhasil bertanya.

Arkan melepas pipinya. "Memastikan."

"Memastikan apa?"

"Kamu benar-benar istriku. Sejak tadi pertanyaanmu aneh."

Ia berbalik membawa kantong belanja ke dapur, meninggalkan Laras yang berdiri dengan satu tangan menutupi pipi. Bekas sentuhannya tidak sakit, tetapi panasnya menyebar sampai telinga.

"Cara memastikan orang itu lihat buku nikah," protes Laras sambil mengikuti.

"Terlalu jauh. Kamu ada di depan mata."

Jawaban Arkan terdengar begitu wajar hingga Laras tidak tahu harus membalas apa.

Di dapur, ia membantu mengeluarkan belanjaan. Ketika melihat struk panjang di atas meja, Laras meraih ponsel.

"Totalnya berapa? Aku transfer setengah."

"Nggak perlu."

"Ini belanja kita berdua."

"Aku juga makan camilanmu."

"Kamu bahkan tadi mau membatasi biskuitku."

Arkan membuka kulkas dan mulai menyusun bahan makanan. "Setelah menikah, uang yang masuk ke rekening rumah tangga itu memang untuk kita. Kamu nggak perlu menghitung setiap struk."

"Tapi kartu itu belum pernah kupakai."

"Itu masalahmu. Bukan berarti semua harus dibayar terpisah."

Laras masih hendak membantah, tetapi Arkan mengambil struk dari tangannya dan melipatnya.

"Kalau mau adil, cuci sayuran."

Ia lalu memakai celemek abu-abu, memanaskan wajan, dan mengeluarkan dua potong daging. Gerakannya jauh lebih terampil daripada yang Laras bayangkan. Mentega, bawang putih, dan rosemary mengeluarkan aroma hangat begitu menyentuh wajan. Arkan membalik daging pada waktu yang tepat, lalu membiarkannya beristirahat sebelum dipotong.

"Kamu belajar masak di mana?" tanya Laras.

"Waktu sekolah terbang. Kalau nggak masak, pengeluaran habis untuk makan di luar."

"Kupikir hidupmu sejak kecil sudah serba ada."

"Serba ada bukan alasan untuk nggak bisa mengurus diri."

Laras mencicipi satu potong daging. Bagian tengahnya masih merah muda dan lembut. Ia mengangkat ibu jari.

Arkan duduk di seberangnya. "Sore ini aku terbang ke Denpasar."

"Pulang malam?"

"Menginap. Besok ada sektor lanjutan."

Ada rasa kecewa kecil yang muncul terlalu cepat. Laras menunduk dan memotong kentang.

"Aku juga mau ketemu Kirana malam ini."

"Teman tower?"

"Iya."

"Kabari kalau sudah sampai rumah."

Laras mengangguk. Kali ini ia tahu kalimat itu bukan pesan yang salah alamat.

Malamnya, Kirana hampir menjatuhkan gelas kopi di sebuah kafe pusat perbelanjaan ketika Laras menunjukkan cincin dan foto buku nikah.

"Tunggu." Kirana mengangkat telapak tangan. "Tunggu dulu. Kamu bilang akad?"

"Iya."

"Akad nikah?"

"Memangnya ada akad apa lagi?"

Kirana membuka mulut, menutupnya, lalu meraih ponsel Laras untuk memperbesar foto.

"Arkananta Wibisana?"

Beberapa pengunjung menoleh. Laras buru-buru menarik lengan sahabatnya.

"Pelan-pelan."

"Bagaimana aku bisa pelan? Kamu menghilang beberapa hari, lalu sekarang bilang sudah menikah dengan Kapten Arkan?"

"Suaranya jangan seperti pengumuman tower."

"Kalau di tower, aku lebih tenang. Ini jauh lebih darurat."

Laras tertawa gugup. Ia menceritakan perjodohan dua ibu, pertemuan singkat, keputusan Arkan, dan akad sederhana. Ia sengaja tidak menceritakan buku harian atau alasan sesungguhnya mengapa nama Arkan sudah tinggal begitu lama di hatinya.

Kirana mendengarkan dengan kedua tangan menempel di pelipis.

"Ras, kamu tahu suamimu itu siapa?"

"Pilot."

"Aku tahu dia pilot." Kirana mendekat. "Dia jadi kapten A330 umur dua puluh lima. Sekarang baru dua puluh sembilan. Rekornya bersih, keluarganya Wibisana, dan separuh orang penerbangan tahu namanya. Yang ngejar dia banyak banget. Pilot, pramugari, anak pemilik bisnis, semuanya ada."

Laras mengaduk kopi yang gulanya sudah larut sejak tadi.

"Aku nggak pernah tanya."

"Tentu saja nggak. Kamu langsung menikah dengannya."

Nada Kirana mengandung kagum dan khawatir sekaligus. Ia menggenggam tangan Laras di atas meja.

"Aku senang. Serius. Tapi begitu ini terbuka, kamu bakal jadi musuh bersama, Ras. Orang yang bahkan nggak kenal kamu akan merasa lebih pantas berdiri di sebelah dia."

Bayangan Tiara melintas di pikiran Laras. Tiga kata di reuni itu masih terasa seperti duri yang tertinggal di bawah kulit.

"Makanya untuk sekarang aku mau low profile," katanya. "Di kantor juga belum diumumkan. Cuma Rosa yang tahu."

"Bagas?"

"Belum."

Kirana mengembuskan napas. "Itu mungkin pilihan paling tenang untuk sementara. Dunia kita kecil, Ras. Orang tower kenal orang approach, orang approach punya teman di airline, lalu satu foto bisa pindah ke lima grup sebelum makan siang."

"Aku nggak mau pernikahan ini jadi bahan penilaian di ruang kerja."

"Benar. Tapi jangan sampai low profile berubah jadi kamu harus bersembunyi." Kirana menunjuk cincin Laras. "Kamu menikah secara sah. Kamu nggak mengambil milik siapa pun. Kalau nanti orang tahu, yang harus menyesuaikan diri itu mereka, bukan kamu."

Laras menyentuh cincin itu dengan ibu jari. Kalimat tersebut tidak menghapus ketakutannya, tetapi memberi batas yang jelas. Ia boleh memilih waktu untuk bicara tanpa harus merasa malu.

"Untuk sekarang, aku mau menikmati rumah yang masih sepi dari komentar orang," katanya.

"Silakan. Tapi aku menuntut satu makan malam khusus karena jadi teman terakhir yang dikasih tahu."

"Deal."

Kirana akhirnya mengangguk. "Baik. Rahasiamu aman. Tapi kalau ada yang ganggu, bilang aku."

Setelah berpisah, Laras masuk ke mobil dan teringat permintaan Arkan. Ia mengirim kabar bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang, lalu menambahkan pertanyaan yang jarang ia ajukan lebih dulu.

Laras:

Penerbanganmu lancar?

Balasan datang dua menit kemudian.

Arkan:

Muter empat puluh menit baru bisa mendarat.

Laras:

Cuaca lagi?

Arkan:

Traffic. Setelah landing, taxi juga panjang.

Laras:

Yang penting sudah aman.

Arkan:

Aku di hotel sekarang.

Percakapan itu sederhana. Namun, Laras membaca setiap balasan dengan senyum yang sulit disembunyikan. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya bertukar jadwal atau instruksi rumah. Mereka benar-benar saling memberi kabar.

Setelah Laras tiba di rumah, ponselnya berdering. Nama Arkan muncul di layar.

"Halo?"

"Sudah masuk rumah?"

"Sudah."

Di kamar hotel Denpasar, Arkan berdiri dekat jendela sambil melonggarkan kerah. Beberapa menit sebelumnya, petugas operasi meneruskan permintaan klarifikasi dari layanan pelanggan. Seorang penumpang mengeluhkan pesawat yang dianggap berputar-putar terlalu lama sebelum mendarat dan waktu taxi yang panjang.

"Ada penumpang komplain," katanya.

"Tentang apa?"

"Katanya kami sengaja muter empat puluh menit dan bikin dia terlambat."

"Sengaja? Memangnya pilot bisa parkir sembarangan di langit?"

Arkan terdiam.

Laras semakin kesal. "Kalau traffic padat, ya harus ikut sequencing. Taxi juga menunggu clearance dan antrean. Masa dia mau kamu potong jalur pesawat lain supaya cepat sampai gate?"

"Customer service cuma minta penjelasan operasi."

"Tetap saja. Kamu sudah bawa mereka mendarat aman. Orang cuma lihat jamnya, nggak lihat keputusan yang harus kamu buat di depan."

Arkan tidak segera menjawab. Ia sudah mendengar banyak keluhan penumpang selama bertahun-tahun dan biasanya hanya menulis laporan faktual. Tidak pernah ada orang di rumah yang ikut kesal atas namanya.

"Arkan?" panggil Laras. "Kamu masih di sana?"

"Iya."

Suaranya turun, lebih pelan daripada tadi.

"Kamu... marah buat aku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!