Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.
Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.
Narendra tak pernah repot membantah.
Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.
Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.
Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.
Bukan sekadar ingin menyentuhnya.
Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.
Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.
“Katanya kamu tidak bisa?”
Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Semangkuk Wedang Jahe
Narendra berdiri di depan lemari selama sepuluh menit.
Kaus lama terlihat terlalu santai. Kemeja terlihat seperti hendak rapat. Ia akhirnya memilih polo abu-abu, lalu menggantinya dengan kaus hitam karena Eyang pasti akan menertawakan jika tahu ia berdandan hanya untuk berjalan tiga langkah.
Kaus hitam itu kemudian terasa terlalu disengaja. Narendra kembali mengenakan polo abu-abu, menyisir rambut, lalu mengacak bagian depan agar tidak tampak baru berdiri lama di depan cermin. Ia bahkan menyemprot parfum, menyesal, lalu membuka jendela supaya aromanya berkurang.
Di meja, obat, termometer, dan segelas air menunggu. Ia menelan obat setelah sepotong biskuit, memeriksa suhu, kemudian berlatih sekali lagi.
Selamat pagi. Saya tetangga seberang.
Terlalu kaku.
Eyang bilang kamu pindah ke sini.
Terdengar seperti pengawasan.
Pada akhirnya ia memutuskan mengetuk tanpa menyiapkan apa pun.
Keputusan itu tidak membuat jantungnya lebih tenang. Tiga langkah menuju pintu Sekar terasa lebih panjang daripada koridor menuju rapat pemegang saham mana pun.
Suaranya masih serak. Hidungnya tersumbat, tetapi suhu tubuh sudah turun.
Pukul tujuh lewat lima, Narendra membuka pintu.
Lorong lantai dua puluh dua sunyi. Pintu seberang tertutup rapat. Ia sudah melatih dua kalimat sejak Subuh, tetapi ketika tangannya terangkat, semua terdengar bodoh.
Ia tetap mengetuk.
Pintu terbuka sedikit. Sekar muncul dengan rambut disanggul asal dan wajah tanpa riasan. Keterkejutan langsung memenuhi matanya.
"Mas Narendra?"
"Pagi."
"Mas ngapain di sini?"
Pertanyaan yang wajar. Narendra justru membutuhkan waktu untuk menjawab.
"Unit ini milik adik saya. Kadang saya menginap."
Sekar melihat pintu kanan, lalu kunci di tangannya. "Jadi Mas cucu Eyang yang tinggal di seberang?"
"Salah satunya."
Ia tidak menjelaskan bahwa unit Sekar milik Bagas dan dirinya memiliki lebih dari cukup rumah. Lebih mudah membiarkannya menganggap ia hanya pria yang menumpang di apartemen adik.
"Eyang bilang unit ini disewakan," lanjut Narendra. "Saya sempat khawatir beliau dibujuk orang aneh. Ternyata kamu. Saya lega."
Sekar menegang. "Saya tidak membujuk Eyang."
Narendra baru sadar kalimatnya salah. "Bukan begitu maksud saya."
"Sewanya tetap pakai kontrak. Saya bayar deposit dan tiga bulan."
"Saya tahu. Eyang percaya kamu. Kalau begitu saya juga."
Nada suaranya terlalu serak. Sekar memperhatikan wajahnya lebih saksama.
"Mas sakit?"
"Cuma masuk angin."
"Suaranya hampir hilang. Sudah makan?"
Narendra belum makan. Ia juga belum berpikir menggunakan sakit sebagai alasan untuk masuk, tetapi kesempatan datang sendiri.
"Belum."
Sekar membuka pintu lebih lebar. "Masuk sebentar. Saya buat wedang jahe."
Unit itu masih setengah kosong. Koper terbuka di lantai, dua kardus berada dekat dinding, dan satu mukena terlipat rapi di sudut. Narendra melepas sepatu dan duduk di sofa.
Dari dapur terdengar bunyi pisau memukul talenan. Aroma jahe yang digeprek bercampur gula jawa mulai memenuhi ruangan.
"Maaf berantakan," kata Sekar.
"Tidak. Lebih hidup daripada unit sebelah."
Sekar kembali membawa mangkuk putih bermotif bunga biru. Uap hangat naik dari permukaan cokelat kemerahan.
"Pelan-pelan. Panas."
Narendra mengulurkan tangan bersamaan dengannya.
Jari mereka bersentuhan.
Ujung jari Sekar dingin. Telapak Narendra panas karena sisa demam. Perbedaan suhu itu mengirim kejutan kecil sampai ke bahunya.
Sekar menarik tangan terlalu cepat. Wedang jahe bergoyang dan hampir tumpah.
Narendra memegang mangkuk dengan kedua tangan. "Kamu kena?"
"Nggak."
Sekar menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. Uap menutupi sebagian wajahnya, tetapi pipi yang memerah tetap terlihat.
Narendra menyesap minuman. Pedas jahe menyentuh tenggorokan, disusul manis gula jawa. Hangatnya turun sampai dada.
"Enak," katanya.
"Resep biasa."
"Tetap enak."
Sekar duduk di kursi seberang. Jarak mereka tidak sampai dua meter, tetapi kesunyian di antara mereka terasa penuh.
"Eyang sering menyewakan tempat semurah ini?" tanya Sekar.
Narendra hampir tersedak. "Tidak tahu."
"Saya takut beliau rugi."
"Kalau Eyang sudah memutuskan, tidak ada yang bisa mengubah."
"Mas dekat dengan Eyang?"
"Beliau yang membesarkan saya."
Sekar memandangnya dengan perhatian baru. "Pantas Mas langsung datang waktu diminta ambil kebaya."
Narendra menyesap wedang jahe untuk menyembunyikan rasa bersalah. Ketaatan kepada Eyang memang masuk akal, tetapi ia datang ke sanggar bukan hanya karena itu.
"Eyang bilang Mas sering makan tidak teratur," kata Sekar.
"Beliau bilang begitu?"
"Waktu menawarkan unit. Katanya cucunya sibuk dan sering sendirian. Saya kira cucu yang punya unit ini."
"Bagas memang sering di luar kota. Saya juga jarang tinggal di sini."
"Kerja di mana?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Narendra berhati-hati. "Urus bisnis keluarga. Kebanyakan di SCBD."
"Oh, orang kantoran."
Narendra, yang pagi itu memiliki tiga rapat direksi dan tanda tangan bernilai ratusan miliar, mengangguk. "Kurang lebih."
Sekar masuk ke dapur lagi dan kembali membawa roti panggang serta telur rebus. "Makan sedikit sebelum minum obat."
"Saya tidak mau merepotkan."
"Rotinya sudah ada. Telurnya juga tinggal rebus."
Narendra menerima piring. Sudah bertahun-tahun orang menyiapkan sarapannya sebagai pekerjaan. Di rumah utama ada staf. Di kantor ada pantry khusus. Namun dua potong roti yang pinggirnya sedikit gosong terasa berbeda karena Sekar memperhatikan ia belum makan.
"Kamu sendiri?" tanyanya.
"Tadi mi instan."
"Itu bukan sarapan."
Sekar mengangkat alis. "Mas yang sakit, kenapa malah menasihati saya?"
Narendra membagi satu telur dan meletakkan separuh di piring kecil. "Makan."
Sekar sempat menolak, tetapi akhirnya duduk. Mereka berbagi sarapan pertama di antara kardus-kardus yang belum dibuka. Tidak ada musik. Tidak ada pelayan. Hanya suara sendok mengenai piring dan dengung kota dari balik kaca.
Narendra ingin pagi itu berjalan lebih lambat.
"Mas harus kerja?" tanya Sekar.
"Rapat jam sembilan."
"Kalau masih demam, istirahat."
"Sudah turun."
Sekar berdiri mengambil termometer digital dari kotak obat bawaannya. "Cek dulu."
Narendra menurut tanpa membantah, hal yang akan membuat seluruh direksi Grup Adiwangsa terkejut. Angka 37,4 muncul setelah bunyi pendek.
"Masih hangat. Minum air dan jangan terlalu banyak kopi."
"Baik."
Sekar tertawa kecil. "Kok nurut?"
"Karena kamu benar."
"Mas tidak keberatan punya tetangga?"
"Kalau tetangganya kamu, tidak."
Kalimat itu keluar sebelum sempat disaring.
Sekar menunduk. Narendra menatap permukaan minuman, menyembunyikan kepuasan kecil karena berhasil membuatnya kehilangan kata.
Ia menghabiskan wedang jahe perlahan meski tenggorokannya sudah terasa lebih baik. Pergi terlalu cepat berarti kehilangan alasan duduk di ruangan yang sama.
Sekar berdiri hendak mengambil mangkuk kosong. Jari mereka nyaris bersentuhan lagi, tetapi kali ini keduanya berhenti bersamaan.
Permukaan minuman bergetar membentuk lingkaran kecil.
Narendra menatap tangannya sendiri, masih mengingat dingin ujung jari Sekar.
"Kepanasan?" tanyanya pelan.
Sekar menyembunyikan tangan itu di balik punggung.
Ia tidak menjawab.
Tidak mampu menjawab tepatnya.
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰