"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PRIA KETIGA
"Mas...itu?" mataku terlalu awas melihat sosok perempuan berboncengan dengan motor Nin*ja, memeluk erat si cowok. Dilihat dari postur tubuh jelas bukan Arfi, cowok yang dipeluk Evelyn sekarang tinggi dan agak gendut. Siapa lagi?
"Bisa gitu ya, ganti cowok tiga kali durasi per jam?" gumamku masih menatap punggung Evelyn, hanya berjarak kurang lebih 50 meter, jelas itu Evelyn. Aku hanya begidik ngeri melihat posisinya, memeluk erat lalu dagunya diletakkan di pundak si lelaki.
Tristan tertawa geli, bahkan sampai menarik kepalaku dengan tangan bebasnya. Usil memang.
"Bisa lah, buktinya sekarang dia ganti sama siapa entahlah, bukan Arfi kan?
"Bukan lah, yang dipeluk gendut gitu. Arfi kan posturnya bagus."
Aku tahu Tristan tidak mau aku terlibat lebih banyak dengan Evelyn.Mungkin dia tahu siapa Evelyn sebenarnya tapi menutupi, dan sialnya aku selalu memergoki Evelyn dengan pria lain. Entah suatu kebetulan atau cara Allah untuk menegurnya melalui aku? entahlah.
"Eh apa kamu bilang barusan?" tanya Tristan bahkan sampai injak rem.
"Ngomong apa?"
"Badan Arfi?"
"Bagus."
"Kamu puji cowok lain depan aku? udah berani?" tantangnya jengkel, dan aku sih santai aja toh emang kenyataannya gitu.
"Dih...kenapa juga gak berani. Aku mah bicara fakta."
Tristan menghembuskan nafas berat, "Melas amat jadi cowok. Kalau ngomong body cewek lain yang aduhai dicemburuin, marah-marah, ngambek gak jelas, bilang putus seenaknya. Lah dia gak sadar diri muji cowok lain depan pacar. Sabar...sabar."
Aku tertawa ngakak, bener juga omongan Tristan. Membahas masalah Evelyn saja aku kadang uring-uringan gak jelas, tapi Tristan selalu sabar dan menimpali dengan senyuman. "Meski aku bilang badan Arfi bagus bukan berarti aku suka kali."
"Ya sama, aku bilang cewek X cantik juga bukan berarti aku suka," balasnya tak mau kalah.
"Ya beda dong, kalau cowok sampai muji cewek laim apalagi masalah body bisa jadi kebawa sampai mimpi basah dan kering."
Tristan tertawa terbahak, sampai kapan pun Aku akan negative thinking pada pembahasan cewek yang dipuji Tristan, apapun alasannya. Sebagai pertahanan diri aja, jangan sampai kedekatan Tristan melebihi batas. Untuk urusan hati, Aku sangat egois.
"Kamu tuh aneh, masih aja belum percaya kalau aku tuh cinta banget sama kamu. Cuma kamu loh cewek yang dekat sama aku gak melirik harta."
"Belum saatnya lah aku kuasain harta kamu."
"Dan aku yang akan menyerahkan semua hartaku padamu terlebih dulu sebelum kamu minta. Termasuk adikku."
Kulirik tajam seringai jahilnya, aku paham maksud ucapannya. Mentang-mentang nikah sebentar lagi mulai berani bahas 21+ rupanya.
"Dih, mesum."
"Heleh, sekarang aja bilang mesum. Kalau udah tahu rasanya, pasti gak mau jauh. Pengennya dipegang mulu."
Aku diam, kalau ditimpali makin jauh tuh travelotaknya. "Aku jadi curiga sama kamu, Mas."
"Curiga apalagi sih. Heran deh, kamu tuh sering curiga sama aku, tapi kenapa aku tambah sayang ya."
"Seriusan, gak usah gombal deh. Kamu udah pernah ngelakuin ya?"
"Ngelakuin apa?" tanyanya bingung.
"Itu..."
"Itu apa?"
Kesalahan sepertinya aku memancing Tristan dengan pembahasan ini, semakin didesak maksud 'itu' wajahku terasa panas.
"Gak jadi deh."
"Hubungan suami istri?" Oh rupanya dia paham arah pembicaraanku, dan aku mengangguk. Sekarang aku menyesal kenapa tanya hal itu, hatiku belum siap kalau ia mengaku jujur. Topik 21+ sangat aku hindari dulu, karena aku takut sering membahas topik itu, Tristan malah meminta. Hih...amit-amit.
"Belum pernah." Singkat, padat dan jelas. "Tapi aku udah gak perjaka."
Mataku melotot, ingin marah. "Sama siapa?" bingung duh, tadi bilang gak pernah berhubungan suami istri, tapi mengaku udah gak perjaka, ini gimana sih. Pikiranku semakin buruk tentang Tristan. Kalau boleh mundur sekarang masih bisa kali ya.
"Nanti kamu pasti tahu, aku ajarin malah."
"Mas, gak usah bohong. Jujur aja mulai sekarang, biar aku menyiapkan hati menerima bekas wanita lain." Sungguh aku tak bisa membayangkan, diriku yang kujaga sekuat tenaga mendapatkan barang sisa perempuan lain, meski masa lalu tetap saja kecewa karena tidak menjadi yang pertama.
Duh...aku ingin tabok Tristan, kesal banget. Dia menganggap enteng status gak perjakanya itu, dan aku yang menangis pun ditanggapi dengan tawa.
"Sayang, aku tuh melakukannya pakai ini," ujarnya sembari mengangkat telapak tangannya yang lebar.
"Maksudnya?" aku gak nyambung, sambil menangis aku merespon Tristan, tapi semakin ditertawakan.
"Udah ayo turun, udah malam Ibu nanti marah. Ayo aku antar."
"Kaya' gini nih, semakin membuatku overthinking sama kamu. Gak usah diantar, besok aku naik motor." Mode ngambek on.
Cup
Main sosor aja di pipi, kuhapus dengan kasar kecupannya. Malas banget dikecup sama dia.
"Gak usah marah, kalau udah nikah aku kasih tahu."
*****
Giliranku ikut rapat devisi marketing, menamani Mbak Tika bagian marketing virtual. Baru saja duduk, Tristan datang. Udah biasa sih, kami rapat bersama. Hanya saja yang membuatku mengerutkan kening adalah sosok Evelyn berjalan di sampingnya, dan sempat tertangkap Evelyn mengucapkan terimakasih.
"Hai semua," sapa Tristan langsung membuka meeting dan meminta laporan serta follow up untuk meningkatkan promosi produk. Masing-masing ketua tim memaparkan kinerja dan programnya per periode. Aku mencatat sesekali membantu Mbak Tika untuk presentasi.
Ekor mataku tak bisa dialihkan dari Evelyn. Ia berusaha dekat dengan Tristan. Sungguh ucapannya di pujasera memenuhi pikiranku, meski dalam hati meyakinkan Tristan tak akan terjebak.
"Baik, laporan semua tim sudah saya terima, masih ada beberapa yang perlu direvisi, terlebih target bulan depan saya naikkan 2% dari sekarang. Saya harap targetnya terlampaui. Terimakasih, selamat siang."
Tristan berlalu diikuti Lulu, sang sekertaris, dan tak lama kemudian Evelyn. Segera saja aku beranjak mengekori Evelyn, dan tebakanku benar perempuan itu masuk ke lift menuju lantai ruangan Tristan, aku pun menghalangi pintu lift yang akan tertutup dan langsung masuk. Tampak wajah terkejut Evelyn akan kedatanganku.
"Ke lantai mana?" tanyanya basa basi, ketus.
"Ke ruangan Pak Tristan," jawabku tak kalah ketus juga.
"Gue dulu, gue ada urusan sama Pak Tristan."
"Silahkan."
Evelyn tersenyum sinis, merasa menang karena lebih dulu ke ruangan Tristan. Entah drama apa yang akan ia lakoni. Maaf, aku mulai suudzon pada Evelyn semenjak kasusnya dengan Pak Dar mencuat. Diam-diam aku mengirim chat pada Tristan, dan sengaja berjalan lambat di belakang Evelyn ketika pintu lift terbuka.
Evelyn begitu percaya diri mengetuk pintu ruangan Tristan setelah dipersilahkan Lulu. Aku pun langsung mendekat ke Lulu.
"Ta, kaget gue," keluhnya sambil memegang dada. "Mau masuk?"
"Masih ada Evelyn," jawabku. Meski dada bergemuruh tetap akalku masih waras untuk tidak ikut campur urusan Tristan. Mau bagaimana pun Tristan seorang pemimpin perusahaan yang pasti punya kepentingan tertentu dengan beberapa pihak, termasuk Evelyn, salah satu karyawannya.
"Masuk aja, gak takut kalau Pak Tristan digoda?"
Aku hanya tersenyum, "Kalau sampai tergoda ya tinggal mun---"
"Sayang ayo masuk." Tristan membuka pintu dan langsung memintaku masuk. Aku bingung, kulihat Lulu sebentar, meminta pendapat lewat sorot mata dan dia mengangguk.
"Maaf Evelyn, saya sengaja meminta Ata ikut, gak pa-pa kan, toh kamu bilang ini urusan pribadi."
Tak kuhiraukan raut Evelyn, aku sudah muak. Biar saja dia kesal akan kehadiranku, aku tak peduli. Aku hanya melindungi calon suamiku agar tidak menjadi pria ketiganya, eh....keberapa ya????
yg jelas ditunggu kelanjutannya