Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Peringatan dari Masa Lalu
Perjalanan menuju rumah Pak Ian terasa lebih panjang dari jarak sesungguhnya, masing-masing dari mereka tenggelam dalam pikiran sendiri, mempersiapkan diri menghadapi kebenaran yang mungkin akan mengubah segalanya. Malam itu, atas permintaan mereka, Pak Ian akhirnya bersedia menceritakan semuanya di rumahnya sendiri, jauh dari lingkungan sekolah yang menurutnya "punya terlalu banyak telinga." Rumahnya sederhana, dipenuhi rak buku fisika dan beberapa foto lama yang sebagian besar menghadap ke bawah, seolah sengaja disembunyikan dari pandangan.
"Tiga puluh tahun lalu, saya, Raka, dan seorang gadis bernama Sari adalah sahabat dekat,"
Pak Ian memulai ceritanya, suaranya bergetar mengenang masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam.
"Kami bertiga sama-sama menemukan bahwa kami punya kemampuan aneh, tidak jauh berbeda dengan kalian sekarang. Raka bisa mengeluarkan energi saat terancam, saya bisa merasakan kehadiran hal-hal yang tidak seharusnya ada, dan Sari bisa melihat sekilas masa depan lewat mimpinya."
Josh, Veron, dan Brandon saling pandang, menyadari betapa miripnya pola itu dengan kemampuan mereka sendiri.
"Kami melakukan eksperimen di laboratorium sekolah, mencoba memahami dari mana kemampuan itu berasal," lanjut Pak Ian.
"Kami menemukan semacam anomali energi sebuah celah kecil yang menghubungkan waktu-waktu berbeda, seperti retakan tipis di dinding realita. Kami pikir kami bisa mengendalikannya, mempelajarinya dengan aman."
"Tapi kalian salah," gumam Veron.
Pak Ian mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Malam itu, sesuatu keluar dari celah itu. Bukan hanya energi biasa, tapi sesuatu yang punya kesadaran, punya niat. Ia mencoba masuk ke tubuh kami bertiga, mencoba mengambil alih. Raka, yang paling kuat di antara kami, mengorbankan dirinya untuk mendorong kami berdua keluar sebelum ia sepenuhnya terjebak bersama entitas itu di dalam ruangan yang kemudian terbakar habis."
"Entitas apa itu sebenernya?" tanya Josh, suaranya nyaris tak terdengar.
"Kami tidak pernah tahu pasti," jawab Pak Ian.
"Kami hanya menyebutnya 'Yang Tak Terlihat' sesuatu yang hidup di celah waktu, yang butuh tubuh manusia dengan kemampuan seperti kami untuk bisa sepenuhnya masuk ke dunia ini. Ia butuh tiga orang sekaligus, karena kekuatannya terbagi tiga jenis berbeda, sama seperti kemampuan kami."
Brandon merasa tubuhnya semakin dingin mendengar penjelasan itu, tengkuknya meremang hebat seolah sesuatu sedang mendengarkan percakapan mereka saat ini juga.
"Sari, sahabat Bapak yang satu lagi, di mana dia sekarang?" tanya Gibran.
Wajah Pak Ian semakin muram.
"Dia pindah keluar kota tidak lama setelah kejadian itu, mencoba menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan sekolah ini. Kami masih berkomunikasi sesekali, tapi dia menolak mentah-mentah untuk membicarakan malam itu lagi. Saya menghormati keputusannya."
"Terus kenapa sekarang, Pak? Kenapa baru sekarang dia muncul lagi, nyari kita bertiga?" tanya Josh.
Pak Ian menghela napas panjang, tangannya gemetar saat meraih secangkir teh yang sudah dingin di mejanya.
"Karena siklusnya. Setiap tiga puluh tahun, celah itu terbuka kembali, mencari tiga jiwa baru dengan kemampuan serupa untuk melengkapi apa yang gagal kami selesaikan. Raka terjebak sebagai penjaga sekaligus tawanan celah itu selama ini, mencoba memperingatkan siapa pun yang mendekat, sementara entitas itu terus menunggu kesempatannya."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu. Josh menatap kedua sahabatnya, menyadari betapa besarnya beban yang kini mereka pikul bersama bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi mungkin menghentikan siklus yang telah memakan korban selama puluhan tahun.
"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" tanya Veron akhirnya.
Pak Ian menatap mereka bertiga dengan tatapan penuh beban, sebelum menjawab dengan suara yang nyaris berbisik, seolah takut didengar oleh sesuatu yang tidak seharusnya mendengar.
"Kalian harus masuk ke ruangan itu tepat saat celah terbuka penuh, dan kalian harus berhasil melakukan apa yang gagal kami lakukan menutup celah itu selamanya. Tapi saya harus memperingatkan kalian, entitas itu akan mencoba memanfaatkan ketakutan terbesar kalian masing-masing untuk memecah belah kalian bertiga. Kalau kalian terpecah, walau sedetik saja, dia akan menang."
Keheningan panjang menyelimuti ruang tamu itu setelah kalimat terakhir Pak Ian, hanya diselingi suara detak jam dinding miliknya sendiri yang berdetak normal, mengingatkan mereka betapa berharganya setiap detik yang mereka miliki sebelum siklus itu kembali mencapai puncaknya.
Gibran menggenggam bahu Josh erat, sebuah gestur sederhana yang entah kenapa terasa begitu berarti di tengah ketakutan yang menggantung berat di udara. Sebelum mereka pamit pulang malam itu, Pak Ian menyerahkan salinan catatan lama miliknya sendiri kepada Josh, halaman-halaman yang berisi perhitungan dan diagram yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun sejak kejadian tiga puluh tahun lalu.
"Pelajari ini baik-baik," katanya, suaranya masih bergetar.
"Mungkin ada sesuatu yang saya lewatkan dulu, sesuatu yang bisa membantu kalian berhasil di mana kami gagal."
Saat mereka berjalan menuju pintu keluar, Brandon yang berjalan paling belakang tiba-tiba berhenti, tubuhnya kaku, matanya menatap jendela ruang tamu yang menghadap ke halaman gelap.
"Pak," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar, "tadi Bapak bilang cuma bertiga yang tahu soal kekuatan ini, kan? Bapak, Raka, sama Sari?"
"Betul," jawab Pak Ian, bingung dengan arah pertanyaan itu.
"Terus kenapa," Brandon menelan ludah, matanya masih terpaku pada jendela,
"dari tadi ada yang berdiri di halaman Bapak, merhatiin kita dari luar sana?"
...****************...