NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Petir dan Ikatan Darah

Perlahan-lahan, sepasang kelopak mata pemuda itu terbuka, memancarkan kilatan

cahaya emas tipis yang sangat tajam di dalam kegelapan goa batu yang sunyi.

"Manusia kecil... aku bisa merasakan pendaran energi kontrak setara itu telah

terbentuk sempurna di dalam lautan jiwamu," suara dengungan lemah Kirin raksasa

kembali terdengar langsung di dalam kepala Luo Chen melalui transmisi jiwa.

"Jiwa kita telah terhubung sejenak, dan aku tahu kau akan memegang janjimu dengan

tulus."

"Saya berjanji, Tuan Kirin. Saya telah menguasai Seni Ikatan Harmoni Jiwa,"

sahut Luo Chen merangkak mendekat, menatap wajah Kirin raksasa yang kini

sisik-sisiknya mulai meredup kehilangan kilau cahayanya. "Saya akan merawat anak

Anda sebagai saudara jiwa saya sendiri. Dia tidak akan pernah menjadi budak

manusia."

Satu embusan napas panjang yang sangat lemah keluar dari hidung Kirin raksasa

tersebut, menyebarkan sisa-sisa kehangatan terakhir di dalam goa yang dingin. Ia

menggunakan ujung moncongnya untuk mendorong sebuah kotak batu abu-abu kecil

berukir kuno yang sejak tadi disembunyikannya di bawah tumpukan rumput spiritual

kering.

"Ambil kotak ini. Di dalamnya terdapat satu-satunya warisan yang tersisa dari

ras kunoku, termasuk sebuah Cincin Ruang kelas Langit yang belum terikat," bisik

suara Kirin tersebut untuk terakhir kalinya di dalam kepala Luo Chen sebelum

matanya yang besar perlahan-lahan terpejam sepenuhnya.

Butiran cahaya emas murni berukuran jutaan bintik kecil mendadak melesat keluar

dari seluruh permukaan tubuh Kirin raksasa tersebut, menerangi langit-langit goa

batu bagai hamparan bintang malam yang berkilauan. Jasad binatang spiritual kuno

itu melarutkan dirinya sendiri sepenuhnya menjadi energi spiritual murni bumi,

menyatu kembali dengan alam agar sisa-sisa tubuhnya tidak bisa dijarah oleh para

praktisi sekte yang serakah di luar sana.

Di atas tanah goa yang kini kosong, menyisakan kotak batu abu-abu kecil dan bayi

Kirin yang terus mengeluarkan suara mencicit parau seraya mengendus tumpukan

pasir tempat ibunya baru saja memudar.

"Cincin Ruang kelas Langit ini memiliki kapasitas ruang penyimpanan yang sangat

luar biasa luas," batin Luo Chen membuka kotak batu tersebut dan

mengambil sebuah cincin perak berukir pola awan emas dari dalamnya. "Aku harus

segera mengikat cincin ini menggunakan setetes darahku agar tidak bisa diakses

oleh orang lain."

Dengan mengalirkan sedikit energi fisik tahap keempat ke ujung jari telunjuknya,

ia menekan permukaan cincin perak tersebut hingga setetes darah merah segar

terserap habis ke dalam logamnya.

"Ratusan batu roh kualitas rendah di dalam Kantong Semesta kelas Langit ini...

jumlahnya sangat melimpah," batinnya memeriksa isi dimensi penyimpanan di

dalam cincin tersebut yang kini telah terhubung dengan kesadarannya. "Ini jauh

lebih dari cukup untuk membayar lempengan kuningan kuno milik pedagang tua

misterius itu esok hari, sekaligus membeli persediaan bahan alkimia dasar

di kota."

Sambil meraba gulungan slip giok kuno berwarna biru tua yang juga tersimpan di

dalam cincin tersebut, ia menyalurkan sedikit energinya untuk membaca barisan

aksara yang terpahat di permukaannya.

"Langkah Petir... sebuah teknik mobilitas gerak cepat kelas Bumi," batin Luo

Chen mempelajari sirkulasi energi yang tergambar di dalam slip giok

tersebut. "Teknik gerakan kaki ini memanfaatkan pelepasan energi fisik secara

eksplosif dari otot paha dan betis, memicu percikan energi Qi putih yang bisa

membuat tubuh melesat instan layaknya kilat. Ini adalah teknik melarikan diri

dan menyerang yang sangat taktis."

Sambil mengenakan jubah biru tua berpola sulaman emas yang juga ditemukannya di

dalam cincin ruang tersebut, Luo Chen melangkah mendekati bayi Kirin kecil yang

masih terduduk lemas di atas tumpukan pasir. Jubah mewah tersebut melekat sangat

pas pada postur tubuh fisiknya yang kini tampak tegap dan gagah setelah

menerobos ke tahap keempat.

"Mulai hari ini, namamu adalah Xiao Lin," ujar Luo Chen berlutut dan

mengulurkan telapak tangan kanannya yang bersih ke hadapan anak Kirin tersebut.

"Kita adalah saudara jiwa. Aku akan melindungimu, dan kau akan membantuku tumbuh

menjadi lebih kuat."

Satu tetes darah segar dikeluarkan dari ujung jari Luo Chen, melayang di udara

sebelum menyatu dengan setetes darah merah keemasan dari dahi bayi Kirin

tersebut melalui perantara "Seni Ikatan Harmoni Jiwa". Kilatan cahaya emas tipis

berbentuk simbol pusaran spiritual mendadak terbentuk di antara mereka, sebelum

akhirnya membelah diri menjadi dua bagian dan masuk mengunci ke dalam kening

mereka masing-masing sebagai segel persaudaraan jiwa yang murni.

Suara mencicit parau yang gembira terdengar dari mulut Xiao Lin melompat

ringan ke atas pundak kanan Luo Chen, menggosokkan kepala kecilnya yang berbulu

emas ke pipi pemuda tersebut dengan sangat akrab.

"Bahaya datang dari arah sela-sela batu tebing goa," batin Luo Chen saat

merasakan adanya getaran langkah kaki yang sangat cepat dan berisik dari arah

kegelapan celah batu di belakang mereka. "Aroma residu energi spiritual emas

dari kematian induk Kirin tadi sepertinya telah memancing kedatangan hewan liar

di dalam goa ini."

Dari sela-sela celah batu yang gelap, belasan tikus gua liar berukuran sebesar

kucing dewasa dengan mata merah menyala dan sepasang gigi taring kuning yang

tajam melompat keluar secara bersamaan, mengincar tubuh Xiao Lin yang berada di

atas pundak Luo Chen.

"Akan ku gunakan Langkah Petir untuk menguji kecepatan gerak fisikku yang baru!" batin

Luo Chen menurunkan tubuhnya dalam posisi kuda-kuda rendah.

Satu sentakan kaki Luo Chen ke atas lantai batu goa memicu pelepasan energi

fisik secara eksplosif dari otot betisnya, melepaskan "Langkah Petir". Percikan

cahaya putih keperakan setebal beberapa milimeter mendadak meledak di sekitar

pergelangan kakinya, membuat tubuhnya melesat instan sejauh tiga meter ke

samping layaknya kilatan petir malam, menghindari terkaman belasan tikus gua

liar dengan sangat mudah.

Hantaman telak kepalan tangan kanan dari "Tinju Dasar klan Luo" tahap keempat

mendarat lurus ke arah kepala tikus gua terbesar yang memimpin kawanan tersebut.

Benturan keras itu seketika meremukkan tengkorak kepala hewan liar itu hingga

hancur berantakan di atas lantai batu, menyebarkan noda darah hitam ke

sekeliling area pertarungan.

"Gerakan Langkah Petir ini benar-benar sangat cepat, tetapi konsumsi energi

fisiknya hampir menghabiskan sepertiga dari total tenagaku," batin Luo Chen

kembali melesat cepat menghindari gigitan tikus kedua menggunakan gerakan

zigzag instan yang berliku tajam. "Aku harus meminimalkan penggunaan energi kaki

ini dan menyelesaikan pertarungan menggunakan pukulan fisik biasa."

Dengan satu kibasan parang panjang peninggalan pemburu A-Biao yang tajam, ia

menebas kepala tiga tikus gua liar lainnya secara berurutan dalam satu gerakan

putaran tubuh yang sangat bersih. Sisa-sisa tikus gua liar yang ketakutan

setelah melihat setengah dari kawanan mereka hancur berantakan segera berbalik

arah dan berlari melarikan diri kembali masuk ke dalam kegelapan celah batu

tebing goa dengan panik.

Xiao Lin mengeluarkan suara mencicit parau penuh kekaguman dari atas pundak Luo

Chen seraya menepuk-nepuk pipi pemuda tersebut menggunakan kaki depannya yang

kecil. Luo Chen menyeka sisa darah hitam di bilah parangnya menggunakan

saputangan kering sebelum segera melangkah keluar meninggalkan goa air terjun

tersebut menuju jalan pulang.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!