"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."
Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.
Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.
Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....
(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)
ooOoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
...Rencana Chika...
Tahun pertama. . .
Cowok itu,Getta, memang kadang kelihatan biasa. Dibilang bandel, nggak bandel banget, dibilang alim, mungkin udah nggak lagi. Yang pasti dia datang ke sekolah bawa motor besar yang kalau boncengan di belakangnya harus merapat ke punggungnya kalau nggak mau diterbangin angin jalanan. Terus suka pakai jaket yang ada penutup kepalanya. Gayanya sih standar dan santai. Tapi, itu pesonanya. Dia tuh lumayan baik juga, walaupun kadang-kadang suka nyolot kalau lagi kesal. Habisnya, dia susah ditebak.
Kalau jalan di koridor, cewek-cewek pasti pada hang mendadak. Kayak hp rusak, tiba-tiba layar-nya blank atau keypad-nya nggak mau dipencet. Ibaratnya, ketika Adhia Getta lewat kayak Profesor X di film X-Men, waktu berhenti. Tapi, ada angin semriwing-nya gitu, kayak di film-film atau iklan super lebay.Tapi, stop dulu pada adegan ini. Karena tiba-tiba Chika datang dari satu sudut dan dia memandangi Getta sampai cowok itu sampai.
"Aura-nya beda banget kalau lo datang,"Chika kelihatan girang banget. Sebagian orang bilang sih centil.
"Apaan?!" celetuk Getta sambil tetap jalan karena kelasnya lumayan jauh.
Chika menyusul. "Kenapa sih jutek banget pagi-pagi?" tanya dia, dengan senyum manis yang diidam-idamkan sebagian cowok yang naksir Chika.
"Nggak...," jawab Getta terus melangkah.
"Pasti nih ada sesuatu...," Chika mendahului Getta untuk mencegat langkahnya. "Bilang dulu ke gue baru gue minggir"
"Norak banget sih lo, Chik," cetusnya lalu terukir senyum di bibirnya, sambil melewati Chika. "Kayak lo nggak pernah lihat gue begini aja"
"Hm...gue tahu!" seru Chika masih terus ngikutin kayak fans cewek yang fanatik banget sama idolanya.
Tapi, sudah biasa bagi orang-orang yang sering lihat mereka bersama. Paling parah, cuma dibilang udah jadian atau semacamnyalah. Nggak jelek-jelek amat, toh mereka itu cocok. Sama-sama cakep, sama-sama pintar. Jadi nggak bakal ada yang protes. Tapi masalahnya, Getta nggak pernah suka sama Chika lebih dari teman. Karena di hatinya masih ada Molly yang seolah sengaja menghilang.
"Chik, gue bisa minta tolong sama lo nggak?" Getta datang dengan perasaan bingung dan ragu.
"Apa, Get?" tanya Chika penuh perhatian sebelum ia syok.
Getta mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja putihnya. Sebuah surat dengan amplop putih polos. "Lo bisa kasih ini ke Molly nggak?" dia bertanya dengan hati-hati, dan malu. "Lo masih ketemu sama Molly kan?"
Chika tersenyum. "Hm...gue tahu...jadi...jadi lo suka sama Molly ya?" godanya, berpura-pura lagi.
Getta kikuk. "Gue nggak tahu caranya gimana buat ketemu Molly. Dia tuh selalu menghindari gue," akunya.
"Tenang aja, pasti gue kasih deh!" kata Chika tersenyum lebar menyembunyikan rasa sakit dan kecewa ketika tangannya gemetar menerima surat itu dan mengantonginya.
Getta terlihat lega.
Chika tertawa lirih. Dikiranya di dalam amplop ada ungkapan perasaan Getta terhadap Molly. Ternyata Getta hanya menuliskan alamat sebuah tempat. Sebuah kedai es krim di mana ia akan menunggu Molly datang jam empat sore.Tapi, Chika udah memastikan Molly nggak akan datang, ia nggak bakal datang dan itu pasti. Ia merobek surat itu menjadi potongan kecil dan melemparnya ke tong sampah."Maaf, Mol, tapi nasib harus berpihak sama gue," katanya setelah menendang tempat sampah jauh ke bawah meja.
****
Suara ketukan pintu mengagetkannya. Molly dan peralatan gambarnya datang untuk bermain menghabiskan sepanjang sore bersama. Ketika Getta menunggu, Chika menahannya dengan persahabatan yang Molly pikir masih ada di antara mereka. Tapi sebenarnya udah lama putus.
Keesokan pagi di sekolah, Getta kelihatan santai.
"Gimana?" Chika terlihat sumringah, pura-pura nggak menyadari gurat kekecewaan di wajah cowok itu.
"Gimana apanya?" tanya Getta.
"Ketemuannya!" desak Chika.
Getta nggak jawab, dia segera berlalu dengan kekecewaan itu. Tanpa pernah lagi ngomongin soal Molly dan untuk beberapa saat Chika juga nggak mau membahasnya. Ia hanya menunggu sampai Getta butuh untuk melupakan Molly.
"Lo masih sedih gara-gara Molly nggak datang?" tanya Chika padanya seminggu setelah itu.
"Nggak, biasa aja," jawab Getta acuh.
"Gue minta maaf," ucap Chika tiba-tiba. "Gue merasa nggak enak sama lo, Get"
"Nggak enak kenapa?" Getta heran.
"Gue...nggak bilang yang sebenarnya kalau Molly... Molly sebenarnya pergi sama teman-temannya. Gue udah bilang sama dia supaya datang nemuin lo tapi dia nggak bisa batalin janjinya," kata Chika menjelaskan, sebisanya terlihat cemas dan merasa bersalah.
"Udahlah, gue tau kok. Lo nggak usah mikirin masalah itu lagi. Gue nggak apa-apa," Getta tersenyum, meski jelas masih dipaksain. Rautnya jadi konyol, saat ia sedih masih berusaha kelihatan sabar. "Dia memang nggak suka sama gue, mau gimana lagi"
****
Panas terik membuat jalanan mengering dan berdebu. Pada saat yang sama kendaraan lewat membuat suara bising yang klise. Bajaj, dan bus kota yang renta. Serta pekikan penjual koran di tengah jalan, dan anak- anak dekil dengan kerincingan tutup botol bernyanyi di depan jendela mobil mengkilat yang kacanya tertutup. Berlatar gedung tinggi menjulang di tempat orang-orang berpakaian rapi bermunculan. Ini adalah kota, hal sepele yang selalu kita lewatkan setiap lewat, setiap hari di tempat yang sama.
Tapi, bagi Molly, masih terasa asing. Ia membaca alamat yang tertera pada setiap papan reklame entah itu minimarket, toko atau bengkel. Memastikan ia tengah berada di mana. Jauh atau dekatkah dari rumah.
Dengan memandang sekelilingnya ia berusaha mengingat, jalan mana yang tadi pagi ia lewati saat pergi ke sekolah. Pada akhirnya ia menyerah, ia bahkan nggak bisa berpikir dengan tenang.Mungkin karena panas yang terik. Meski kulit ini terbakar kehadirannya hari ini masih patut disyukuri. Sebelum hujan menyedihkan membuatnya ingin menangis dan kesendiriannya akan terasa.
Akhirnya Molly menyerah dengan duduk di halte lalu mengeluarkan handphone-nya.
****
"Chika, lo di mana sekarang?" suara Molly terdengar gemetaran.
Chika memandangi teman-temannya yang asyik bercanda sambil makan "Apa sih, Mol?" tanya dia sambil tetap tertawa pada temannya.
"Gue... gue. . . kesasar, Chik.," jawab Molly. "Gue nggak tahu jalan pulang"
Chika menghela nafas. "Lagi?" keluhnya kebingungan. "Lo gimana sih?! Lo ada di daerah mana sekarang?"
Chika mendengarkan dengan hati-hati nama jalan yang disebutkan Molly.
"Kenapa, Chik?" tegur seorang teman perempuannya yang memperhatikan Chika kasak kusuk menelpon.
Chika nggak menjawabnya, ia tersenyum, sambil menyandang tasnya di pundak. "Gue ada urusan sebentar," katanya. "Gue duluan ya ..."
Ke empat teman Chika sempat heran. Mereka memperhatikan Chika berlari sampai ia menghilang dari pandangan.
"Lo nggak ikut, Get?" tanya salah seorang dari mereka sambil menyikut seorang cowok tinggi yang sibuk dengan dunianya sendiri lewat sepasang earphone di telinganya.
"Apaan?" cetus Getta, cowok itu balas menyikut temannya.
"Lo sama Chika lagi marahan ya?" tanya Doni, yang reseh sambil cekikikan.
"Enggak, biasa aja," jawab Getta kembali memasang earphone-nya.
"Udah deh, Don! Jangan ikut urusan orang lain napa sih?!" celetuk Lani. "Gaya mereka emang gitu tuh!"
Getta nggak menanggapi mereka sedikitpun karena telinganya sudah tertutup oleh lagu-lagu Alter Bridge kesukaannya. Sekalipun sedang digosipin, Getta tampaknya nggak peduli. Tiba-tiba handphone-nya bunyi. Ada SMS dari Chika, katanya Lo pulang duluan aja. Gue disuruh pulang cepat sama Mama
Anak-anak reseh sudah bubar saat mereka mulai bosan. Getta masih duduk di kursinya dan cuma melambaikan tangan sama mereka yang akhirnya pergi. Walaupun sendirian, rasanya lebih baik daripada ada mereka tapi nggak bisa memahami omongan mereka. Getta melepas earphone-nya lalu menghela nafas, memandangi sekelilingnya. Di restoran cepat saji ini, hanya ada dia sendiri duduk di satu meja. Sepi.
****
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang jam segini?" Mamanya Molly sudah berdiri di depan pintu dan ternyata sengaja menunggunya pulang.
"Molly kesasar lagi, Tante," jawab Chika. "Kesasarnya sampai jauh banget"
***
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita