Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bayangan dari Masa Lalu
Suara keributan dari luar makin keras, makin mendekat, sampai akhirnya terdengar jelas di dalam ruangan pabrik yang sudah kacau itu. Cahaya obor yang baru mulai masuk lewat celah pintu dan jendela, menambah keramaian bayangan yang bergerak-gerak di dinding.
Kaelin berdiri di ambang pintu, matanya menyipit tajam mengamati sosok-sosok yang mulai terlihat di kegelapan malam. Wajahnya yang tadinya penuh keyakinan kini berubah menjadi pucat dan penuh kewaspadaan — bahkan sedikit rasa takut yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya.
Dari balik kerumunan orang-orang yang baru datang itu, melangkah maju seorang pria bertubuh tegap, mengenakan jubah berwarna abu-abu gelap dengan lambang matahari terbit yang terjahit di bagian dadanya. Rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh wibawa. Di belakangnya, puluhan orang berdiri rapi, masing-masing membawa senjata yang terawat baik dan bergerak dengan disiplin yang jauh berbeda dari anak buah Elang Darah.
“Kalian ternyata sudah sampai lebih cepat dari perkiraan,” gumam Arda pelan, suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri, tapi cukup membuat Kael yang berdiri di sampingnya menoleh dengan tatapan penuh tanya.
“Siapa mereka ini?” tanya Kael dengan suara rendah, tangannya masih menggenggam gagang senjata erat-erat.
“Orang yang seharusnya sudah tidak ada lagi di permukaan bumi,” jawab Arda, matanya tetap terpaku pada sosok pemimpin rombongan baru itu. “Mereka menyebut diri mereka Penjaga Keseimbangan. Dulu, puluhan tahun yang lalu, merekalah yang dipercaya untuk mengawasi benda ini. Tapi setelah perpecahan terjadi, mereka menghilang, dianggap sudah bubar atau hancur. Ternyata mereka hanya bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.”
Di depan pintu, pria berjubah abu-abu itu berhenti melangkah. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berhenti sebentar pada Kaelin, lalu pada Arda, dan akhirnya jatuh pada cahaya keemasan yang masih menyala dari bawah lantai. Wajahnya tetap tenang, tapi ada kilatan perasaan yang campur aduk di matanya — rasa lega, kecewa, dan waspada.
“Kaelin… sudah lama sekali kita tidak bertemu,” ucapnya dengan suara yang berat dan dalam, bergema di seluruh ruangan. “Aku kira kau sudah lupa janji yang pernah kita buat. Ternyata kau malah berubah menjadi orang yang ingin merebut apa yang seharusnya dijaga bersama.”
Kaelin menegakkan punggungnya, berusaha memulihkan wibawanya yang sempat goyah. “Kau tidak berhak menilai aku, Alden! Dulu kita berjanji untuk membuat dunia ini lebih adil, tapi apa yang terjadi? Sistem yang kita bangun malah korup, orang-orang menderita, kekuasaan berpindah ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya dengan cara yang lebih pasti!”
“Dengan cara merampas dan memerintah dengan kekerasan?” Alden menggeleng pelan, nada bicaranya tidak meninggi tapi terdengar sangat tegas. “Kau lupa satu hal paling dasar, Kaelin. Kekuatan yang terlalu besar di satu tangan akan selalu membawa kerusakan. Itulah sebabnya benda ini disembunyikan, bukan untuk dikuasai satu orang saja.”
Dia melangkah masuk perlahan, diikuti oleh dua orang pengawalnya yang berjalan di sampingnya. Matanya akhirnya beralih menatap Arda, dan untuk sesaat raut wajahnya melunak, meski tetap ada rasa curiga yang tersembunyi.
“Dan kau… Arda. Kau benar-benar masih hidup. Selama ini banyak yang bilang kau sudah mati, atau lari ke tempat yang jauh untuk menghindari tanggung jawab. Ternyata kau cuma bersembunyi di sini, membiarkan semuanya berantakan di depan matamu.”
Arda mengangkat bahu santai, meski gerakannya kali ini terasa lebih berat dari biasanya. “Aku tidak bersembunyi, Alden. Aku hanya tidak ingin terlibat lagi dalam pertarungan yang hanya memperebutkan kekuasaan semata. Aku melihat bagaimana orang-orang yang punya niat baik pun perlahan berubah saat memegang kekuasaan. Aku memilih mundur supaya tidak ikut terjebak dalam lingkaran yang sama.”
“Tapi sekarang kau sudah terlibat juga,” jawab Alden cepat. “Karena benda itu sudah terbangun, dan banyak pihak yang mulai melacak keberadaannya. Bukan hanya Elang Darah, tapi juga kelompok-kelompok lain yang lebih berbahaya dan tidak punya prinsip apa pun. Kalau kita tidak bersatu, benda ini bisa jatuh ke tangan yang salah dan menghancurkan seluruh wilayah ini.”
Suasana menjadi hening sejenak. Sekarang di dalam ruangan itu ada tiga pihak yang memiliki tujuan berbeda: Kaelin yang ingin menguasai benda itu demi ambisinya sendiri, Alden dan kelompoknya yang ingin mengembalikannya ke pengawasan resmi, serta Kael dan kawan-kawannya yang hanya ingin melindungi diri dan warga sekitar tanpa memihak siapa pun.
Kael melangkah maju sedikit, berdiri setara dengan Arda. “Kami tidak peduli dengan pertikaian kalian di masa lalu. Kami hanya ingin tempat ini tetap aman, dan orang-orang yang kami lindungi tidak terlibat dalam bahaya yang bukan urusan mereka. Kalau kalian mau bertarung, silakan cari tempat lain. Tapi jangan sentuh benda itu dan jangan ganggu warga kami.”
Alden menoleh ke arah Kael, menatapnya dengan pandangan yang lebih teliti. Dia melihat ketegasan di mata pemuda itu, dan melihat bagaimana dia dan kawan-kawannya bertarung tadi bukan karena ingin menang, tapi karena ingin melindungi. Sedikit demi sedikit, rasa curiganya berkurang.
“Kau memang punya hati yang tepat untuk posisi ini,” gumamnya pelan. “Tapi sayangnya, urusan ini sudah terlalu besar untuk dipisahkan. Benda itu sudah merespons kehadiran energi yang ada, dan sekarang ia terikat dengan tempat ini serta orang-orang yang tinggal di sini. Kalau kalian pergi begitu saja, kalian tetap akan diburu oleh semua pihak yang menginginkannya.”
Saat percakapan berlangsung, di sudut ruangan, Bastian dan Niko saling bertukar pandang. Mereka baru sadar bahwa selama ini mereka hanya melihat sebagian kecil dari gambaran besarnya. Dunia yang mereka kira hanya sebatas jalanan, pasar, dan geng-geng kecil, ternyata memiliki lapisan yang jauh lebih dalam dan berbahaya.
“Jadi selama ini kita hidup di atas bom yang siap meledak kapan saja?” bisik Bastian pada Niko.
“Sepertinya begitu,” jawab Niko pelan, matanya terus mengamati gerakan setiap orang di ruangan itu. “Tapi setidaknya sekarang kita tahu apa yang sebenarnya kita hadapi, bukan lagi berjalan dalam kegelapan tanpa arah.”
Tiba-tiba, cahaya keemasan di bawah lantai kembali berdenyut lebih kuat. Kali ini bukan hanya menyala, tapi mulai membentuk pola yang teratur, seolah sedang mengirimkan sinyal ke tempat yang jauh. Getarannya terasa sampai ke tulang, dan udara di sekitarnya terasa makin dingin sekaligus makin panas secara bersamaan.
“Dia sedang memanggil sesuatu…” kata Arda dengan nada waspada. “Begitu ia terbuka, ia akan menarik perhatian siapa saja yang peka terhadap energi semacam ini. Dalam waktu dekat, lebih banyak lagi orang akan datang ke sini.”
Kaelin yang melihat kesempatan itu segera melangkah maju, berusaha mendekati kotak itu lagi. “Kalau begitu, tidak ada waktu untuk berunding lagi! Benda ini harus dimiliki oleh orang yang bisa menggunakannya untuk kebaikan — dan aku yang paling tahu cara mengaturnya!”
“Berhenti!” teriak Alden, mengangkat tangannya memberi isyarat pada anak buahnya. “Jangan biarkan dia mendekat!”
Pertarungan pun meletus kembali, tapi kali ini lebih kacau dan rumit. Orang-orang Elang Darah berhadapan dengan pasukan Penjaga Keseimbangan, sementara Kael dan kawan-kawannya harus bergerak cepat menghindari benturan dan tetap menjaga agar tidak ada pihak yang terlalu dekat dengan sumber cahaya itu.
Arda berdiri di tengah, menjadi pembatas antara kedua kelompok yang bertarung. Setiap kali ada yang berusaha menerobos mendekati lantai belakang, dia akan menahan mereka dengan gerakan yang tetap tenang tapi tidak bisa ditembus.
“Kalian semua lupa satu hal paling penting!” teriak Arda di tengah hiruk-pikuk, suaranya terdengar jelas di atas suara benturan senjata. “Benda ini tidak akan menuruti perintah siapa pun dengan paksa! Ia hanya akan merespons orang yang hatinya seimbang, tidak terisi penuh ambisi, juga tidak penuh rasa takut. Kalau kalian memaksanya, ia hanya akan melepaskan energi yang menghancurkan semuanya di sekitarnya!”
Namun amarah dan keinginan sudah menguasai hati banyak orang. Kata-kata itu hanya didengar oleh sedikit pihak saja.
Di tengah kekacauan itu, Lio yang sedang mengamati dari jendela belakang tiba-tiba berteriak dengan suara yang terkejut.
“Ada orang lain lagi! Banyak sekali! Mereka datang dari arah sungai dan jalan utama!”
Semua orang menoleh, dan melihat di kejauhan malam itu, cahaya obor makin banyak bergerak mendekat dari berbagai arah. Suara teriakan dan langkah kaki yang teratur terdengar makin jelas, membawa suasana yang makin mencekam.
Alden menatap ke luar dengan wajah yang makin serius. “Mereka datang lebih cepat dari yang aku duga. Ini bukan lagi pertarungan antara dua kelompok saja. Semua pihak yang menginginkan kekuatan ini sudah bergerak bersamaan.”
Kael memegang pundak Mikhael dan Bastian, menarik mereka sedikit mundur mendekati dinding yang lebih aman. Matanya menatap Arda, lalu pada cahaya yang makin terang itu.
“Jadi sekarang kita tidak punya pilihan lain selain bertahan sampai semuanya selesai?” tanyanya dengan nada tegas.
Arda mengangguk perlahan, lalu menarik napas panjang seolah mengumpulkan tenaga yang sudah lama disimpan. “Sepertinya begitu. Tapi ingat — kita tidak bertarung untuk menguasai benda ini. Kita bertarung supaya ia tidak jatuh ke tangan yang salah, dan supaya kita semua masih bisa berdiri tegak setelah semuanya berakhir.”
Di luar sana, di bawah langit malam yang mulai tertutup awan tebal, kekuatan-kekuatan yang selama ini tersembunyi akhirnya mulai muncul ke permukaan. Dan di dalam pabrik tua yang sudah berdiri puluhan tahun itu, takdir mereka semua mulai terjalin menjadi satu, tidak bisa dipisahkan lagi.
Bersambung...