Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boleh aku tidur di sini, Tante?
Arvin membawa Karin ke sebuah kedai makan kecil bernuansa klasik yang letaknya agak tersembunyi dari jalan raya utama. Tempatnya jauh lebih sepi dan tenang, sangat cocok untuk mereka yang butuh ruang setelah dihantam badai emosi.
Setelah memesan dua porsi makanan hangat, keheningan sempat mampir di antara mereka. Karin duduk bertopang dagu, matanya tidak lepas memperhatikan penampilan Arvin yang sekarang. Rambut cowok itu tertata rapi, bahunya jauh lebih tegap, dan cara dia berbicara dengan pelayan restoran tadi terdengar sangat lugas dan penuh percaya diri.
"Kenapa liatin aku kayak gitu? Masih marah soal yang tadi?" tanya Arvin tiba-tiba, memecah lamunan Karin sambil menyodorkan segelas air putih.
Karin mendengus pelan, lalu membuang muka. "Gak. Tante cuma masih gak menyangka aja, bocah yang dulu suka kaku kalau diajak ngomong, sekarang udah bisa mesen makanan pakai bahasa Inggris lancar banget."
Arvin terkekeh tipis. "Empat tahun di sini maksa aku buat berubah, Tan. Kalau aku gak adaptasi, gimana aku bisa sukses dan jemput Tante?"
Sepanjang makan malam, suasana perlahan mencair. Mereka mulai mengobrolkan banyak hal untuk mengejar ketertinggalan selama tiga tahun.
Arvin bercerita bagaimana gilanya sistem kuliah yang dia ambil. Dia mengambil kelas akselerasi demi bisa lulus dalam waktu tiga tahun. "Aku jarang tidur, Tan. Setiap kali mau menyerah, aku cuma liat foto Tante yang aku simpan di dompet," aku Arvin jujur, membuat pipi Karin mendadak merona merah di bawah pendar lampu kedai.
Karin gantian bercerita tentang kelulusan Reza dan teman-temannya. Dia menceritakan betapa hebohnya Fino, Bima, dan yang lain saat memergoki Karin membawa motor sport hitam malam-malam di jembatan. "Reza pinter banget sekarang, Ja udah gede. Tapi tetep aja, dia curiga kalau Tante beli motor itu karena kangen kamu," ujar Karin sambil tersenyum kecil.
Karin sempat mencubit pelan punggung tangan Arvin di atas meja. "Lagian kamu tuh bodoh atau gimana sih, Vin? Kirim surat tapi gak pernah kasih alamat balik. Tante kan mau bales!" Arvin hanya tersenyum pasrah menerima omelan itu, lalu menggenggam balik tangan Karin. "Aku sengaja. Aku gak mau Tante kepikiran dan terbebani di sana. Aku mau datang ke Tante pas aku udah siap."
Setelah makanan mereka habis, Arvin menatap Karin dengan lekat. Dia mengeluarkan sebuah kue mangkuk kecil yang sempat dia beli di dekat kasir tadi, lalu menancapkan sebatang lilin kecil di atasnya. Arvin menyalakan lilin itu dengan pemantik.
"Selamat ulang tahun yang ke-21, Arvin," ucap Karin tulus, matanya menatap lembut ke arah cowok itu.
"Makasih, Tante. Make a wish bareng, ya?"
Karin mengangguk. Mereka berdua memejamkan mata sejenak, merapalkan doa masing-masing di dalam hati, sebelum akhirnya bersama-sama meniup lilin kecil tersebut hingga padam. Saat Karin membuka mata, dia mendapati Arvin sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu dalam.
"Tante tahu apa doa aku tadi?" tanya Arvin seraya meraih kedua tangan Karin di atas meja. "Aku berdoa supaya setelah malam ini, gak akan ada lagi jarak ribuan mil atau tahunan tanpa kabar di antara kita. Aku mau Tante tetap di sini, di samping aku.”
Karin yang mendengarnya hanya bisa tersenyum simpul.
Setelah selesai makan, Arvin memutuskan untuk mengajak Karin berjalan kaki menuju tempat penginapannya. Udara malam terasa sangat dingin, namun jemari mereka yang saling bertautan erat seolah menjadi penghangat alami yang paling ampuh.
Di tengah langkah santai mereka, Arvin menoleh ke samping. "Tante tidur di mana malam ini?"
"Di penginapan gak jauh dari sini. Rencananya Tante di sini buat seminggu," jawab Karin tenang, matanya menatap langkah kaki mereka yang seirama.
Arvin menghentikan langkahnya sebentar, membuat Karin ikut berhenti dan menatapnya bingung. "Kenapa sih cuma seminggu? Tinggal aja di sini lebih lama, Tan. Temenin aku sampai aku benar-benar beres urusan kuliah. Kita habisin tahun ini bareng-bareng di sini," bujuk Arvin, sorot matanya penuh harap.
Karin menghela napas pendek dan tersenyum tipis. "Gak bisa, Vin. Tante gak bisa tinggal berbulan-bulan lebih lama di sini. Lagian... Tante ke sini pun gak ada satu orang pun yang tahu."
Mata Arvin seketika membelalak kaget. "Tante ke sini gak ada yang tahu?! Kenapa?"
Plak!
Karin refleks memukul lengan kekar Arvin dengan gemas, membuat cowok itu sedikit mengaduh. "Kamu sendiri yang ngilang setahun penuh gak ngasih kabar sama sekali! Gimana Tante gak kesel coba? Tante nekat ke sini karena udah gak tahan tahu gak!" cerocos Karin, meluapkan sisa-sisa kegemasannya yang belum tuntas.
Mendengar pengakuan blak-blakan itu, senyuman jail sekaligus manis perlahan terukir di wajah Arvin. Dia menarik tubuh Karin mendekat, lalu merangkul bahu wanita itu dengan posesif.
"Oh... jadi ceritanya Tante khawatirin aku banget ya, sampe bela-belain nekat dateng sendirian ke sini?" goda Arvin, menundukkan wajahnya sedikit untuk mengintip pipi Karin yang mulai memerah.
"Iya! Puas kamu?" sahut Karin ketus, walau dia tidak menolak sama sekali saat Arvin merangkulnya semakin erat sepanjang sisa perjalanan.
Tak terasa, langkah kaki mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk hotel tempat Karin menginap. Suasana di sekitar lobi hotel sudah sangat sepi karena waktu telah melewati tengah malam. Karin membalikkan tubuhnya, bersiap untuk berpamitan.
Namun, Arvin menahan ujung jaket Karin. Sorot matanya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi sangat dalam, serius, dan tersirat kerinduan yang sudah dia bendung selama ini.
"Tante..." panggil Arvin, suaranya mendadak berubah menjadi berat dan serak. "Boleh gak sih... malam ini aku tidur di sini? Aku mau sama Tante malem ini."
Karin terdiam sejenak. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat mendengar permintaan berani dari pria di depannya ini. Dia menatap manik mata Arvin, mencari keraguan di sana, namun yang dia temukan hanyalah ketulusan dan rasa cinta yang teramat besar.
Setelah jeda beberapa detik yang menegangkan, Karin akhirnya mengangguk pelan sebagai jawaban. Seulas senyum tipis penuh kelegaan terbit di bibir Arvin, dan tanpa membuang waktu, dia kembali menggenggam erat tangan Karin, menuntunnya masuk ke dalam hotel untuk menghabiskan malam panjang yang telah lama mereka nantikan.
Begitu pintu kamar hotel tertutup rapat dan terkunci dengan bunyi klik yang kentara, suasana di dalam ruangan mendadak berubah. Suasana sunyi kamar itu justru membuat detak jantung Karin terdengar begitu nyaring di telinganya sendiri.
Entah kenapa, Karin tiba-tiba merasa sangat gugup.
Dia yang biasanya selalu bisa bersikap tenang dan memposisikan diri sebagai wanita dewasa di hadapan Arvin, kini mendadak mati kutu. Tangannya yang baru saja melepas tas selempang terasa agak gemetar. Karin melepas jaketnya dan meletakkannya di atas kursi, berusaha mengalihkan pandangan ke segala arah asal tidak langsung bertatapan dengan Arvin.
Rasa gugup ini jauh berbeda dari tahun-tahun lalu. Arvin yang sekarang memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi, dada yang lebih bidang, dan aura maskulin yang begitu kuat hingga memenuhi seisi ruangan.
Arvin yang menyadari perubahan sikap Karin hanya diam memperhatikan. Dia meletakkan kunci dan mantelnya di meja, lalu berjalan mendekat dengan langkah perlahan tanpa suara.
"Tante kenapa?" tanya Arvin rendah. Suaranya yang serak dan berat terdengar begitu dekat di belakang Karin, membuat tengkuk wanita itu meremang seketika.
Karin sedikit terlonjak. Dia membalikkan badannya kaku, mendapati jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa jengkal. "Ngg... enggak. Gak apa-apa, kok. Tante cuma... agak gerah aja," alibi Karin terbata-bata, tangannya bergerak kaku mengibas-ngibas lehernya yang sebenarnya terasa dingin karena pendingin ruangan.
Arvin tidak menjawab dengan kata-kata. Sebuah senyuman tipis, sangat tipis namun terlihat begitu memikat, muncul di sudut bibirnya. Dia tahu wanita di depannya ini sedang salah tingkah.
Arvin maju satu langkah lagi, mengikis habis jarak yang tersisa sampai Karin terpaksa mundur dan punggungnya membentur pinggiran tempat tidur. Kedua tangan Arvin bergerak naik, perlahan meraih pinggang Karin, menguncinya dengan kehangatan yang membuat seluruh otot tubuh Karin mendadak kaku sekaligus meleleh di saat yang bersamaan.