Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman Dalam Dekapan
Febri masih memeluk tubuh Safa dengan erat, membuat Safa tak bisa berkutik, Safa juga tak melawan agar di lepaskan. Ia justru merasa nyaman berada didalam dekapan Febri.
Entahlah apa yang terjadi pada perasaan Safa, apa karena perasaan nya begitu terluka sehingga ia begitu nyaman di peluk seperti ini, sebagai seorang wanita yang sedang terluka tentu berada dalam dekapan seseorang akan menimbulkan rasa nyaman.
Safa tau ini salah, Febri adalah suami seseorang. Namun Safa juga membutuhkan Febri karena laki-laki itu yang merenggut kesuciannya.
"Maafkan Mas Fa" kembali Febri mengatakan hal serupa.
"Entahlah Mas, apa yang harus Safa lakukan .. Ini begitu menyakitkan untuk Safa.. Masa depan Safa hancur karena Mas Febri" jawab Safa yang kembali terisak didada Febri.
"Iya Mas tau perasaan kamu, maka dari itu Mas ingin menemani kamu dan menyembuhkan lukamu"
Febri melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Safa dengan seksama. Seuntai senyum terbit di bibir Febri namun tak di balas sedikitpun oleh Safa. Tatapan mata Safa tak bisa di jelaskan.
"Kamu mau kan tinggal di rumah ini selamanya ?" tanya Febri dengan lembut.
"Aku gak mau janji Mas, karena aku ini bukan siapa-siapa kamu, dan status kamu juga adalah suami orang lain. Aku gak mau jadi orang ketiga yang membuat rumah tangga Mas Febri berantakan" jawab Safa .
Febri menghela nafas panjang "Tapi Mas ingin bertanggung jawab karena sudah merenggut kesucian kamu, kita gak akan pernah tau Fa apa yang Mas lakukan semalam tidak akan menjadi janin"
Degggggg.
Jantung Safa berdetak kencang, Safa baru sadar apa dampak yang akan ia dapatkan setelah malam panas semalam.
"Jangan sampai itu terjadi Mas !! aku masih terlalu kecil"
"Tapi kita gak akan tau Fa, bagaimana kalau semua itu terjadi"
"Enggak" bantah Safa cepat.. "Aku gak mau kalau sampai aku hamil, udah jangan bahas kejadian semalam, anggap itu semua tidak pernah terjadi"
Setelah mengatakan semua itu Safa pergi meninggalkan Febri, ia berjalan kearah dapur dan mengambil minuman dingin yang berada didalam kulkas.
Tubuh Safa terasa sangat lemas karena tak ada makanan sama sekali yang masuk kedalam perutnya. Safa memeriksa lemari, ia ingat semalam sebelum kedatangan Febri ia memasak ayam dan sepertinya masih tersisa.
"Kamu belum makan ?" tiba-tiba Febri datang dan membuat Safa terkejut, untung piring yang berisi gulai ayam tak jatuh.
"Belum" jawab Safa singkat.
"Kenapa gak ngomong, sebentar Mas pesenin makanan dulu"
"Enggak usah Mas, ini masih ada gulai ayam sisa semalam, tinggal dipanasin aja dan masih layak untuk dimakan"
Febri melirik semangkok gulai ayam yang ada di tangan Safa, tampilannya sangat mengguga selera. Febri yakin kalau itu sangatlah enak.
"Ya sudah sini biar Mas yang panasin, kamu tunggu aja di meja makan" titah Febri ingin mengambil alih mangkok yang ada di tangan Safa.
"Biar aku saja Mas, mas yang tunggu di meja makan"
Namun Febri tak menurut, ia justru mengecek mejikom untuk melihat nasi, ternyata masih banyak.
Sementara Safa menuangkan gulai ayam itu kedalam wajan, ia mulai memanaskan supaya hangat saat dimakan nanti. Safa juga membuat sambal lain untuk teman makan.
Tidak berapa lama semuanya sudah selesai, aroma yang di timbulkan oleh gulai ayam itu membuat perut Febri keroncongan, hingga tak tanggung-tanggung Febri mengambil nasi dengan jumlah yang banyak.
"Kamu pintar Masak ternyata, ini enak sekali" puji Febri setelah memasukan potongan ayam kedalam mulutnya, rasa ayamnya sangat pas, empuk dan bumbunya meresap.
"Makasih" jawab Safa.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
"Lagi ngapain Des " tanya Tata teman seperjuangan Desi menjadi bidan.
Desi dan Tata bersahabat dari mereka kuliah kebidanan, dan sampai sekarang mereka tetap menjaga persahabatan mereka tak peduli walau sudah berkeluarga semua.
"Biasa bikin laporan, punya mu udah selesai ?" tanya Desi balik.
"Belum dikit lagi.. Capek nulis terus" Tata menarik kursi dan duduk dihadapan meja Desi, mereka hanya terhalang sebuah meja dimana Desi sedang menulis di atasnya.
"Des, kamu tau gak sih Putri sama suaminya sedang menjalani program bayi tabung" Tata kembali berbicara.
Desi menghentikan kegiatannya dalam menulis, ia menatap Tata "Gak tau aku, memangnya Putri program bayi tabung lagi, bukannya dulu urah pernah gagal ?"
"Iya memang, tapi suaminya minta lagi untuk program. Semoga aja kali ini mereka berhasil, kalau gagal lagi kasian kan udah habis uang banyak"
"Aamiin, semoga aja lah.. Program bayi tabung itu kan biayanya gede banget"
"Kamu gak pingin ikutan program juga Des ?? siapa tau kan bisa hamil" tanya Tata.
Desi terdiam, sebenarnya ia pernah mengajak Febri untuk program bayi tabung, tapi Febri tidak mau karena kata Febri 'Aku takut gagal, dan membuat kamu sedih' bukan karena Febri takut kalau uangnya habis, hanya saja Febri takut gagal.
"Mas Febri nya gak mau Ta, dia takut gagal. Apalagi pas mendengar waktu Putri sama suaminya gagal waktu mereka program saat pertama kali"
"Iya juga sih, aku masih ingat bagaimana terlukanya Putri saat gagal program bayi tabung"
Desi tersenyum samar, ia begitu ingin memiliki anak sepeti yang lain. Tata saja sudah di karuniahi dua anak perempuan. Bahkan sekarang Tata sedang program hamil anak laki-laki.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Hari sudah menjelang sore, Febri berniat untuk pamit pulang. setelah makan siang tadi Safa langsung masuk kekamar dan meninggalkan Febri sendiri di ruang keluarga.
Tok--Tok--Tok.
Febri mengetok pintu kamar Safa, ia menunggu dengan tenang sampai Safa membukakan pintu.
Tak berapa lama Safa keluar, ia menatap kearah Febri.
"Ada apa Mas ?" tanya Safa.
"Mas mau pulang, ini udah sore.. Kamu baik-baik di rumah ya !" ucap Febri.
"Iya Mas"
"Nih ponsel buat kamu, biar kalau ada apa-apa kamu bisa bubungin Mas" Febri memberikan kotak ponsel yang masih di segel.
"Gak usah Mas, soalnya Safa gak membutuhkan itu" tolak Safa dengan halus.
"Jangan menolak Fa, ini sangat penting untuk kamu, apalagi kamu tinggal sendiri kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi mas"
Memang benar sebenarnya Safa membutuhkan ponsel itu, selain untuk hiburan Safa juga ingin menghubungi teman-teman SMA nya untuk menanyakan mereka semua ada dimana.
Dengan berat hati Safa menerima ponsel itu, Safa tau kalau ponsel itu sangatlah mewah.
"Makasih Mas, nanti kalau Safa ada uang akan Safa ganti"
"Kamu ngomong apa sih, Mas memberikan ini ikhlas bukan karena Mas meminjamkan nya padamu. Sudah ambil aja gak usah di ganti segala"
"Tapi aku gak enak Mas"
"Ya di enakin dong" balas Febri sambil mengu lum senyumnya.
-----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIAH (BUNGA/KOPI)...
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.