(Sedang Tahap Revisi)
Terkadang Cinta itu bisa merubah segalanya, Keras nya batu akan melunak.
Terpaan dingin akan menghangat.
Ketika kita bertemu dengannya.
Seperti Aku melihat wajahnya saat hari pertama sekolah, Aku-lah Gilang Sanjaya berharap mewujudkan cinta kepada dia Anindya.
Halangan dan Rintangan akan daku hadapi untuk menikahi dia, ketika waktu itu telah tiba.
☪. Cerita Cinta Remaja bernuansa Islami
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Ridho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Bahagia
"Iyaa,Tuan Putri. Berangkat ...," jawabku sambil menjalankan motor.
"Eh, stop stop dulu!" Menepuk pundakku.
"loh, kenap, Nin?" tanyaku.
"Ihh kamu mah, kalau mau melakukan sesuatu itu harus di mulai dengan Bismillah atuh, agar selamat sampai tujuan," ujarnya lembut.
"Oh iya lupa, Bismillah," ucapku sambil berjalan pulang.
........꧁☆☬Salam Santuy☬☆꧂........
Dalam perjalanan pulang baru kali ini aku merasakan kebahagiaan, tiap detik aku berharap please jangan cepat-cepat sampai ke rumah, Lama-lamain waktunya ya Tuhan.
Akhirnya sampailah kami di kediaman rumah Anin, yang di depan pintu sudah ada yang menunggu dengan senyuman yang indah.
"Assalamu'alaikum, Umi." Menyalami tangan Umminya.
"Assalamu'alaikum Tante."
"Wa'alaikumsalam."
"Kamu pulang sama siapa itu?" tanya Umi Anin.
"Dengan temen satu sekolah Umi, dia menawarkan tumpangan karena tadi melihat Anin sendirian menunggu," jawabnya.
"Ohh ... siapa namamu mu, Nak?"
"Gilang Sanjaya Tante, biasa di panggil Alang," jawabku.
"Eh, panggil Ummi aja ya seperti Anin, jangan Tante," ucapnya.
"Eh iya Tan-, Ummi," jawabku.
"Yaudah Anin yuk masuk." ajak Ummi.
...
"Loh? Gilang ayo masuk juga?"
"Eh iya Ummi, permisi."
Saat memasuki rumahnya, aku merasakan suatu perasaan damai dan tenang, entah kenapa itu aku tidak tau.
"Silahkan duduk dulu, Nak," ucap Ummi Anin.
"I-iya Ummi," jawabku, tapi aku memilih duduk di bawah, karena melihat ada nenek-nenek sedang duduk bersilah menonton di depan TV.
"Loh, Gilang kenapa duduk di awah? Kenapa tidak duduk di kursi aja?" tanyanya.
"Ehh maaf Ummi, saya dari kecil di ajarin sopan santun sama Ummi saya, kalau ada orang yang lebih tua duduk di bawah, saya harus duduk dibawah juga agar sejajar." jawabku.
"MasyaAllah itu akhlak yang baik, gak apa-apa kok Ummi izinkan Gilang duduk di kursi ya."
"Hmm iya Ummi baiklah," jawabku.
"Ummi tinggal sebentar ya."
"Iya Ummi."
Umminya meninggalkan aku sendirian menuju dapur dan menyuruh Anin untuk membuat minuman dan membawa cemilan untukku.
"Ehem, nih silahkan minum sama makan kuenya, Alang," ucap Anin.
"Eh, i-iya Nin, makasih," jawabku.
"Aku tinggal sebentar ya lang, soalnya aku mau masak dulu sama Ummi. Untuk makan sore nanti."
"Ha masak? Apa aku boleh ikut masak nin? aku suka masak," ucapku memohon.
"Hmm emangnya kamu bisa masak?"
"Ih ... kamu mah meremehkan aku, bisa loh aku masak, dirumah aku selalu bantu Ummi masak."
"Ohh ya, udah yuk ke dapur. Tapi minum dulu itu tehnya."
"Iya," jawabku meminum habis tehnya dan langsung menuju ke dapur.
Setibanya di dapur, Ummi Anin bingung melihat aku ikut ke dapur juga.
"Loh? Alang kenapa ke dapur juga?" tanya ummi anin.
"Alang mau ikut bantu masak Ummi, Alang sangat suka masak kalau di rumah," jawabku.
"Wah hebat kamu, jarang-jarang anak lelaki suka masak."
Mendapat izin, aku membantu mereka menyiapkan bahan-bahan masak dan mencuci sayuran serta mengiris bawang dengan lincah, disaat sedang mengiris rupanya Anin dan Umminya melihatku kagum, karena cekatan dalam mengiris bawang.
"Cie, nampak nya Ummi bakalan dapat calon menantu ni," ledek Umminya menyenggol lengan Anin.
"Ihh Ummi, dia cuma temen kok."
"Dijadikan calon suami pun, Ummi meridhoi hubungan kalian kok."
"Ihh Ummi mah." jawab anin tersenyum.
Skip
Akhirnya makanan pun telah siap semua dan aku membantu meletakkan di meja makan, dan saat aku sedang asik meletakkan makanan dan merapikanya, ternyata Abinya Anin sudah pulang dari tempat kerja. Membuat aku langsung dag dig der karena merasa takut.
"Assalamu'alaikum Abi pulang."
"Waalaikumsalam, Abi." jawab serentak Anin dan Umminya sambil menyalami.
"Eh itu siapa Ummi?" tanyanya.
"Oh itu, temen sekolahnya Anin. Tadi dia yang mengantarkan Anin pulang kerumah."
"Eh, dia anaknya sopan dan akhlaknya baik loh Bi, nampaknya anin pulang membawa calon mantu hehe," bisiknya.
"Wah temennya Anin toh, siapa namamu, Nak?" tanyanya.
"Gilang Sanjaya Om,panggil aja Alang," jawabku sambil menyalami dengan sopan.
"Panggilnya Abi aja ya jangan Om, oh ya rumah kamu emangnya dimana Alang?"
"Di Cendana 3 Om, eh Abi."
"Wah dekat juga ya dari sini, ya udah yuk kita makan, Abi udah lapar nih. Kamu juga ikutan makan ya," ajaknya kepadaku
Ketika sedang makan aku menunggu Ummi Anin mengambil nasi terlebih dahulu, yang membuat ummi Anin bingung. Kenapa gak mengambil nasi yang di sajikan.
"Alang kenapa gak ambil nasinya? malu ya?" ucapnya.
"Eh enggak kok Ummi, Alang di ajarin juga untuk menghormati yang lebih tua, jadinya Alang akan ambil nasinya setelah Ummi dan Abi," jawabku.
"Aduhh, Alang Ummi lupa, ya udah ya udah ni Ummi ambil dulu nasinya, nah kamu ambil juga ya, ingat jangan sungkan-sungkan kamu harus banyak makannya."
Sebelum makan, Abi nya anin memimpin doa agar rezeki yang diberikan Allah kepada kami menjadi berkah.
Setelah selesai makan aku langsung menjilati tangan kananku—sunnah dari Rasulullah—. Kalau sudah makan kita harus menjilati kelima jari tangan kanan kita, karena disitu ada berkahnya. Setelah selesai, aku menyatukan semua piring kotor untuk di bawa ke dapur untuk di cuci.
"Eh, Alang gak usah gak usah, biar Anin aja yang nyuci piringnya."
"Maaf Ummi, keluarga Ummi sudah memberikan Alang makan, Alang harus juga balas kebaikan Ummi." jawabku
"MasyaAllah iyalah kalau gitu nak, Hati-hati ya nyucinya."
"Siap Ummi."
Setelah selesai mencuci piring, tibalah suara adzan Ashar berkumandang. Aku dan keluarga anin langsung bersiap-siap mengambil wudhu untuk sholat ashar.
"Alang kamu iqamat ya," ucap Abinya Anin kepadaku.
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
أَشْهَدُ اَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّااللهُ
Asyhadu allaa illaaha illallaah
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Hayya 'alashshalaah
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Hayya 'alalfalaah
قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ ،قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
Qad qaamatish-shalaah, Qad qaamatish-shalaah
اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ
Laa ilaaha illallaah
Setelah selesai sholat ashar, aku berpamitan kepada Abi, Ummi, dan Anin karena sudah sore. Aku gak mau orang tuaku di rumah khawatir karena anaknya belum juga pulang.
"Abi,Ummi. Alang pamit dulu ya," ucapku menyalami kedua tangan mereka.
"Iya hati-hati ya nak di jalan, terima kasih loh sudah mengantarkan Anin pulang."
"Iya Abi, Nin aku pulang ya," ucapku.
"Iya hati-hati ya, ingat jangan lupa baca bismillah loh."
"Siap tuan putri, eh Nin hehehe."
"Assalamu'alaikum." ucapku
"Walaikumsalam."
Dengan perasaan bahagia aku melangkah pulang sambil bernyanyi-nyanyi menuju rumah.
Setibanya di rumah.
"Assalamu'alaikum Ummi, Alang pulang." ucapku.
..
"Waalaikumsalam, eh kok Alang baru pulang nak, udah jam berapa ini, kamu kemana aja?" tanya Ummi.
"Maaf Ummi, tadi alang mengantarkan temen alang pulang ke rumahnya," jawabku tersenyum.
"Hee ... temen apa temen, kok senyum-senyum gitu jawabnya, hayoo ...."
"Hehehe temen kok Ummi."
"Ya udah kalau gitu, Alang udah makan dan sholat?"
"Udah ummi tadi di rumah temen," jawabku
"Ya udah gih sana mandi dan bantu ummi cuci piring."
"Iya, Ummi." jawabku melangkah masuk kamar untuk ganti baju dan langsung ke dapur untuk mencuci piring.
Akhirnya selesai juga mencuci piring, badanku rasa nya pegal-pegal semua karena berjoget-joget tadi di sekolah. Aku tak mengira bahwa hari pertama sekolah mendapatkan kesenangan seperti ini, apalagi bertemu dengan dia. 'Ya Allah jadikan dia jodohku.'
........꧁☆☬Salam Santuy☬☆꧂........
"APAKAH HARI PERTAMA SEKOLAH MU MENYENANGKAN TEMAN"
🌼JANGAN LUPA TERSENYUM HARI INI🌼
😁😁
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
#FWC#
😀😀😀
#FWC#
😁😁😁
#FWC#