Jangan lupa follow IG Author : tiwie_sizo08
Albern menyimpan sebuah perasaan yang dalam pada Lily, gadis yang berusia jauh lebih muda darinya. Bertahun-tahun dia memendam perasaannya tanpa membiarkan hal itu diketahui oleh orang lain.
Sebaliknya, Lily yang juga menyukai Albern sejak lama adalah seorang gadis pemberani dan bersifat terbuka. Dia tak pernah menyembunyikan setiap hal yang dirasakannya, termasuk ketertarikannya pada Albern.
Bagaimanakah jadinya saat Albern yang kaku disandingkan dengan sosok ceria dan jahil seperti Lily?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiwie Sizo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Like Mother Like Daughter
Tepat saat cookies yang dibuat Zaya dan Lily matang, Aaron tiba di rumah. Saat ini Aaron memang selalu pulang cepat dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan sang istri. Tanggung jawab perusahaan sebagian besar sudah dia limpahkan pada Albern, hingga dia sudah jauh lebih santai daripada sebelumnya.
Setelah mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai, lelaki paruh baya itu menghampiri Zaya yang sedang menyiapkan teh herbal untuknya.
"Selamat sore, Paman Aaron." Sapa Lily saat melihat Papa Albern itu mendekat.
"Selamat sore, Lily. Ingin bertemu Zi?" Tanya Aaron menanggapi.
Lily mengangguk sambil tersenyum sopan. Meski Aaron adalah teman Mamanya, Lily selalu bersikap sopan dan formal pada lelaki paruh baya itu.
Aaron duduk di ruang keluarga. Tak lama kemudian, Zaya menghidangkan teh herbal buatannya pada suaminya itu.
"Lily, tolong bawakan cookies yang sudah Mama taruh ke dalam piring kesini." Pinta Zaya pada Lily.
Lily mengulum senyumnya saat mendengar Zaya menyebut dirinya Mama.
"Oke, Ma." Jawab Lily bersemangat. Gadis itu kemudian membawakan cookies yang tadi Zaya pinta.
'Kak Al, Kak Zi, jangan marah. Mama kalian sendiri yang memintaku memanggilnya Mama.'
"Silahkan, Paman. Rasanya pasti lebih enak daripada cookies yang biasanya, karena yang ini ada sentuhan tangan Lily juga." Ujar Lily sambil menaruh cemilan itu di hadapan Aaron.
Lily tersenyum manis, hingga membuat Aaron sedikit tertegun karena teringat akan sesuatu di masa lalu.
"Baiklah, Paman coba." Ujar Aaron akhirnya. Diambilnya satu cookies di hadapannya, lalu mencobanya.
Aaron mengangguk-anggukkan kepalanya. Makanan apapun yang dibuat istrinya memang selalu enak di lidahnya.
"Enak." Gumam Aaron. Tapi tentu pujian itu sebenarnya ditujukan pada istrinya, bukan Lily.
Bersamaan dengan itu, Zivanna juga tiba di rumah. Dia agak terkejut saat mendapati Lily berada di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
"Lily, apa yang kamu lakukan bersama Mama dan Papaku?" Tanya Zivanna dengan nada curiga.
Zaya tersenyum.
"Lily menunggumu dari tadi, katanya mau meminta bantuanmu mengerjakan tugas kuliahnya." Ujar Zaya menjawab pertanyaan Zivanna.
Lily bangkit dari duduknya.
"Paman, Mama, karena Kak Zi sudah pulang, aku ikut Kak Zi dulu, ya. Dah..." Ujar Lily sambil mendekat kearah Zivanna.
Zivanna agak melebarkan matanya pada Lily.
"Kamu memanggil Mamaku dengan panggilan Mama?" Tanya Zivanna dengan agak berbisik.
Lily tersenyum sambil merangkul salah satu lengan Zivanna.
"Iya, Mama mertua." Goda Lily dengan berbisik juga.
Sontak Zivanna semakin membeliakkan matanya hingga Lily tertawa.
"Hahaha...bercanda. Mama Kak Zi sendiri yang memintaku memanggilnya Mama."
Zivanna menarik Lily menuju kamarnya seakan ingin menerkam gadis itu. Sedangkan Lily masih tertawa geli melihat reaksi Zivanna.
"Apa yang membuatmu begitu senang?" Tanya Aaron saat melihat Zaya yang tersenyum sejak tadi.
"Bukankah dia manis?" Bukannya menjawab pertanyaan Aaron, Zaya malah balik bertanya.
"Siapa? Lily?"
Zaya mengangguk masih dengan tersenyum.
"Dia tidak seperti Papanya. Waktu kecil Kak Evan pendiam dan agak pemalu, sedangkan Lily sangat ceria dan pemberani." Ujar Zaya lagi.
Aaron terdiam sesaat.
"Dia persis seperti Carissa." Ujar Aaron akhirnya.
"Saat remaja Carissa seperti Lily?" Tanya Zaya tak percaya. Dalam ingatan Zaya, Carissa adalah sosok perempuan dewasa yang elegan dan juga anggun, jadi sama sekali tidak terlihat seperti Lily.
"Carissa berubah sejak menjadi seorang pianis. Mungkin itu tuntutan yang harus dia penuhi sebagai sosok yang diidolakan oleh banyak orang. Sikap aslinya saat kecil hingga remaja sama seperti Lily sekarang. Hanya saja, sepertinya Lily lebih gigih daripada Carissa."
Zaya tertegun selama beberapa saat. Dia agak kurang paham dengan maksud kata gigih yang diucapkan Aaron tadi.
"Setiap kali melihat sikapnya pada Albern, aku jadi teringat bagaimana dulu Carissa selalu menggangguku. Hanya saja, Albern sepertinya tidak merasa terganggu seperti halnya aku dulu." Tambah Aaron lagi.
Zaya agak menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu Lily menyukai Albern, seperti dulu Carissa menyukaimu?" Tanya Zaya.
Aaron mengangkat bahunya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Hanya saja, setiap kali dia berinteraksi dengan putra kita, aku seringkali merasa dejavu. Kondisi itu tak jauh berbeda dengan saat Carissa berinteraksi denganku dulu."
Berganti Zaya yang tertegun. Jika diingat-ingat, Lily memang seringkali menggoda Albern. Tapi selama ini Zaya melihat hal itu wajar saja. Zaya mengira jika Lily pastilah sudah menganggap Albern seperti kakaknya sendiri.
"Dan sepertinya tadi aku dengar dia memanggilmu mama." Ujar Aaron lagi.
"Ah, iya. Itu aku sendiri yang memintanya. Tapi memang dia terlihat senang."
Aaron kembali terdiam.
"Seandainya dia hanya lebih muda setahun atau dua tahun dari Albern, aku akan sangat mendukung dia bersama Albern. Tapi dia masih sangat muda, bahkan lebih muda dari Zivanna." Gumam Aaron seakan berbicara pada dirinya sendiri.
Zaya menoleh kearah suaminya itu.
"Kamu sedang bicara apa? Belum tentu juga Lily menyukai Albern. Dia gadis yang cantik, pasti banyak teman kuliahnya yang menaruh hati. Mungkin saja dia sudah punya pacar." Ujar Zaya.
Aaron tampak berpikir.
"Benar juga." Ujarnya kemudian.
"Tapi..." Tiba-tiba Zaya bergumam.
"Bagaimana jika seandainya Albern yang menyukai Lily?"
Aaron kembali melihat kearah Zaya.
"Aku lihat selama ini Lily adalah satu-satunya gadis yang kehadirannya tidak pernah membuat Albern merasa terganggu. Meskipun Lily seringkali menggoda Albern, putra kita itu tidak pernah sekalipun marah padanya. Dan apa kamu sadar, saat berbicara dengan Lily, Albern sering tersenyum." Ujar Zaya lagi.
"Apa mungkin jangan-jangan Albern yang diam-diam menyukai Lily?" Tanya Zaya kemudian.
Aaron masih tertegun hingga beberapa saat kemudian.
"Itu urusan pribadi Albern, biar dia sendiri yang menangani. Mau dia suka dengan siapa dan menjalin hubungan dengan siapa, selama dia bisa mempertanggungjawabkan hal itu, aku tidak akan ikut campur." Jawab Aaron akhirnya.
Zaya sedikit menghela nafasnya.
"Apa kamu merasa jika kita terlalu tidak peduli pada urusan percintaannya? Beberapa hari lagi putra kita itu berulang tahun yang ketiga puluh, Honey. Dan dia sama sekali belum punya pacar."
Aaron juga ikut menghela nafasnya.
"Lalu aku harus apa? Menjodohkannya? Bisa-bisa dia pergi dari rumah dan tak kembali lagi jika aku menjodohkan dia dengan seorang gadis." Gerutu Aaron.
"Meski tidak menjodohkan, setidaknya kita harus memberikan dia dorongan untuk lebih dekat dengan seseorang."
"Dan seseorang yang kamu maksud itu Lily?"
Zaya terdiam sesaat.
"Apa salahnya dengan Lily? Dia cantik dan juga manis. Meskipun usianya masih sangat muda, tapi dia cukup mandiri. Aku yakin dia tidak akan kesulitan mengimbangi Albern." Ujar Zaya akhirnya.
"Bukankah kamu bilang tadi jika mungkin dia sudah punya pacar?"
"itu kan baru mungkin. Siapa tahu dia tidak punya pacar dan justru menyukai Albern."
Aaron tak menjawab. Dia terdiam dengan mata menatap lurus ke depan. Tampaknya Aaron sedang berpikir kemungkinan apa yang bakal terjadi jika gadis jelmaan Carissa itu sampai benar-benar menjadi pasangan Albern.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤
DITUNGGU KARYA SELANJUTNYA🙏