SEASON 6!
*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^
SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.
Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?
Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================
GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action
COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!
JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)
[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]
IG: @pipit_otosaka8
Terima kasih telah mampir ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6– Brian dan Nisa
*
*
*
Hari semakin petang. Beberapa kelompok burung gagak terbang melewati langit jingga untuk pergi ke hutan dan mencari makan di sana saat malam tiba.
Pertarungan kecil telah berakhir. Saat ini Brian dan gadis yang ditolongnya sedang berjalan melewati taman kecil dalam komplek perumahan. Tak jauh lagi mereka sampai di rumah Brian.
Brian berjalan pincang sepanjang jalan. Karena perkelahian tadi, kakinya masih nyeri. Tapi gadis di sampingnya terus-terusan terdiam dan tubuhnya merinding setelah ia menyaksikan perkelahian Brian.
Tentu Brian yang menang. Tapi yang membuatnya takut adalah ekspresi Brian saat memukuli orang yang membullynya, terlihat menyeramkan. Orang-orang itu dipukuli sampai babak belur dan kalau gadis itu tidak menghentikan Brian, maka Brian mungkin akan mematahkan tangan lelaki yang menantangnya dan membuatnya lumpuh.
Gadis itu kembali mengingat kejadian 20 menit yang lalu–
"Kalau bukan karena cewek ini yang menghentikan ku dan karena perutku lapar, mungkin aku akan membuatmu tidak bisa bergerak lagi. Kali ini kulepaskan kau. Jangan berani macam-macam lagi." Brian melepaskan tangan mangsanya yang hendak ia patahkan. Lalu menjauh dari anak laki-laki gemuk itu.
Seketika setelah Brian menjauh, ketiga anak perempuan pembully itu langsung membantu teman lelaki mereka bangun lagi dan berniat akan pergi.
Namun sebelum mereka sempat pergi, Brian sedikit menoleh ke belakang dan menatap mereka dengan tajam. "Aku sering melihat kalian mempermainkan cewek ini. Jika aku melihat kalian menjahilinya lagi, akan kupastikan kalian tidak akan bisa pulang ke rumah lagi. Ingat itu!"
Mendengar suaranya langsung membuat ketiga perempuan itu bergidik ngeri. Tanpa sepatah kata apapun, mereka pun pergi melarikan diri.
Tak lama setelah mereka semua pergi, tubuh Brian langsung jatuh lemas. Tapi ia masih menahan tubuhnya dengan kakinya. Gadis malang yang ditolong Brian langsung menghampiri dan memeriksa keadaanya.
"Kau baik-baik saja? A–apa kau kesakitan?" tanyanya.
"Heh, tidak ada yang namanya sakit dalam kamus ku. Aku hanya lelah saja dan energiku abis." Brian kembali bangun lalu meregangkan tubuhnya. Seketika terdengar suara KREK darinya yang suaranya mungkin berasal dari tulang-tulangnya. "Pulang, ah! Laper."
"Emm ... ano ..."
Brian kembali menoleh ke belakang setelah mendengar suara gadis kecil yang seperti ingin memanggilnya. Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Emm ... makasih karena udah nolong aku. Yang kemarin juga ma–mskasih. Kau selalu hadir untukku." Gadis itu sedikit membungkukkan badan. Lalu kembali mengangkat kepalanya tanpa menatap orang di depannya. Entah kenapa ia takut memandang wajah Brian. "Tapi sepertinya ... kau jangan terus-terusan menolongku. Gara-gara aku, ka–kau jadi terluka. Ah, iya. Aku juga harus pulang."
"Ka–kau kalau mau pulang, pulang aja silahkan." Gadis itu berbalik badan lalu mencari sesuatu di tanah. Saat menemukannya, ia berjongkok dan mengambil kotak bekalnya, lalu memungut rotinya yang sudah hancur karena terinjak-injak.
Brian tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu karena nada bicaranya terlalu terbelit-belit. Tapi ia tahu kalau gadis itu sedang kesusahan. Brian juga sedikit terkejut saat melihat gadis itu memungut makanannya lagi untuk dimakannya.
Brian menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan gadis itu untuk menghentikannya memungut makanannya lagi. "Itu sudah kotor. Kau bisa sakit kalau memakannya."
"Ta–tapi ... aku sudah biasa makan bekas buangan. Jadi ... tidak apa-apa." Gadis itu menepis pelan tangan Brian untuk melepaskannya. Lalu kembali memungut rotinya. Tapi tangan Brian kembali menghalanginya.
"Kau masih punya keluarga, kan? Apa hanya ini makananmu?" tanya Brian.
"Eh, emm ... Rumahku kecil. Samping tempat pembuangan sampah kota. Ibuku bekerja sebagai pemulung untuk menafkahi aku sekolah. Tapi ayahku ... dia dipenjara."
"Eh, maaf bertanya seperti itu."
"Tidak apa-apa."
"Dah intinya, kamu jangan makan itu. Sekarang ayo." Brian kembali menggenggam tangan gadis itu lalu mengangkatnya dan membantunya berdiri. "Ayo ikut aku ke rumahku."
"E–eh? Mau ngapain?"
"Ikut saja. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Nisa."
"Oh. Sekarang aku bisa memanggil dengan namamu saja."
...****************...
Sebab itulah saat ini Brian dan gadis yang bernama Nisa itu berjalan bersama. Nisa masih belum tahu Brian ingin mengajaknya ke rumahnya untuk apa. Tapi yang pasti, ia tidak mau membebani Brian lagi. Dia sudah cukup baik untuknya.
"Emm ... Brian? Apa kau yakin lukamu tidak apa-apa?" tanya Nisa yang sedari tadi selalu khawatir dengan Brian karena melihat luka lebam di wajahnya dan jalannya yang terpincang-pincang.
Brian tidak menjawabnya. Ia menjatuhkan tas, lalu membuka kancing seragam sekolahnya sampai tubuh polosnya terlihat. Nisa terkejut melihat beberapa luka lebam di tubuh Brian. Tentu bukan karena kekerasan dari keluarganya, tapi karena ia sering berkelahi sampai meninggalkan beberapa luka di tubuhnya.
Setelah melihatnya, Nisa jadi tidak bisa berkata apa-apa. Tapi setelah Brian kembali menutup tubuhnya, Nisa bertanya, "A–apakah ... apakah orang tuamu tau?"
"Tidak. Lagi pula tidak ada gunanya aku beritahu mereka." Jawab Brian santai. Ia kembali menggendong tasnya lalu mulai melangkah lagi. "Dah lah, ayo!"
...****************...
Sesampainya di rumah, Brian mengetuk pintu dan disambut oleh adiknya Dennis, Adel. Sementara itu Nisa masih melirik ke sekitar karena merasa kagum. Baru pertama kali ia masuk ke rumah yang besar.
"Hei, kenapa diam aja? Ayo!" ajak Brian.
"Emm ... tidak apa-apa memangnya orang rendah sepertiku masuk ke dalam? Aku hanya akan merepotkan kalian saja." Karena malu, Nisa mengetuk kedua tangannya ke depan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan ia juga tidak berani bertemu orang tuanya Brian. Walau saat itu ia pernah bertemu dengan Dennis untuk memberikan pulpen miliknya.
Ngomong-ngomong soal pulpen, Nisa jadi teringat dengan pena tersebut. Ia tidak tau apakah Brian menyimpan pena itu atau tidak. Nisa berharap Brian menyimpannya. Tapi sebenarnya, pena itu masih dipegang Dennis dan Brian tidak tahu kalau Nisa pernah ke rumahnya dan bertemu dengan ayahnya.
"Waw, Brian? Kau membawa teman ... apa pacarmu, nih? Hihi ..." Tanya Adel dengan berbisik.
Brian yang kesal langsung menjauhkan wajah Adel dari hadapannya lalu membuang muka. "Bukan urusanmu. Urus saja pacarmu sendiri."
"Huuh! Kebiasaan kau ya!"
"Ada apa ini ribut-ribut?" Dennis menuruni tangga. Ia tersentak saat melihat Brian sudah pulang. Dengan cepat, ia melangkahkan kaki lalu menyambut kepulangan Brian. "Sayang, kamu pasti lapar, ya? Emm ... itu. Ada makanan di meja untukmu."
"Tidak usah disiapin ayah, aku juga bisa ngambil sendiri. Ah elah." Brian menurunkan tas, lalu memberikan tasnya pada ayahnya agar Dennis saja yang menyimpan tas itu ke kamarnya.
Setelah itu, Brian berjalan menuju dapur. Untuk sementara, Dennis meletakan tas Brian di sofa ruang tamu. Ia ingin menyusul Brian ke dapur, tapi ia baru menyadari kalau ada orang lain yang baru dibawa Brian.
"Eh? Kamu yang kemarin, kan?" tanya Dennis pada Nisa.
Nisa hanya mengangguk. Sebelum Dennis ingin bertanya lagi, mendadak terdengar suara Brian dari belakangnya yang membuat Dennis terkejut sampai melompat kecil. "Ayah ngapain gak ngajak dia masuk?"
"Eh, itu ...."
"Ayo, Nisa. Gak usah malu-malu." Brian menarik tangan Nisa, lalu mengajaknya pergi ke dapur. Saat tiba di sana, sudah tersedia beberapa makanan enak. Tentu saja seharian ini, makanan itu adalah masakan Dennis.
Dennis sangat mengetahui makanan kesukaan anaknya, yaitu steak daging sapi. Lalu ada satu ekor ayam panggang di atas piring besar dan ikan goreng. Serta tak lupa dengan nasi dan minumannya.
Setelah melihat semua makanan itu, Brian menoleh ke belakang menatap Dennis dan bertanya, "Ayah ini peramal, ya? Kok bisa tau aku bawa temen ke rumah. Jadi kau menyiapkan makanan sebanyak ini."
"Eh, itu. A–ayah khawatir dengan perutmu. Jadi ... mungkin kau akan makan banyak malem ini." Jawab Dennis.
Brian tidak mendengarkan jawabannya. Ia duduk di depan meja, lalu mengambil piring. Tapi Dennis juga mengambil piring itu. Brian langsung menariknya dan ia lah yang mendapatkan piring tersebut. "Aku bisa ambil sendiri, ayah!"
"O–oh, oke deh." Dennis menurut saja. Sekarang ia akan menunggu di dapur untuk menunggu komentar dari anaknya. Tapi ia terkejut melihat Brian mengambil lauknya dengan tangan kosong. Langsung saja ia menggenggam tangan Brian, lalu menyuruhnya untuk mencuci tangan terlebih dahulu.
Brian mengerutkan kening, lalu menepis tangan ayahnya. Ia tidak suka disentuh oleh orang yang tidak disukainya. Tapi ia tidak memberitahu alasan tersebut dan memilih untuk menggunakan sendok saja untuk mengambil lauknya.
Setelah menyiapkan makanan dalam satu piring, Brian menoleh ke sampingnya. Di sana ada Nisa yang belum duduk, sedang bengong menatap makanan di atas meja. Gadis itu baru sadar saat Brian menegurnya dan memberikan piring yang baru ia isi dengan makanan.
"Ini makanlah. Kau katanya lapar, kan?" Brian menggeser piring itu sampai tiba di hadapan Nisa. Setelah itu ia menyendok nasi untuknya sendiri.
"Hmm enak juga." Brian mulai berkomentar setelah ia menyendok sesuap nasi. Seketika wajah Dennis terlihat senang. Ia langsung menghampiri meja makan dan bertanya, "Beneran enak, kah? Ini masakan ayah, loh!"
"Oh. Pantes kurang garam." Tampang Brian biasa saja. Ia sebenarnya tidak ingin memakan makanan buatan ayahnya. Tapi karena ia lapar, jadi terpaksa.
Dennis hanya tersenyum. Ia menganggap kalau Brian menyukai masakannya. Sekarang ia ingin bertanya pada Nisa yang duduk di samping Brian.
"Oh, iya. Bagaimana makanannya ... eh?!" Dennis terkejut melihat ekspresi Nisa. Sebelumnya gadis itu baru menyuap satu sesendok nasi serta lauknya ke dalam mulut. Tapi tak lama setelah menelannya, air mata pun mengalir melewati pipinya yang manis.
Brian dan Dennis tidak tahu kenapa Nisa menangis saat ia makan.
*
*
*
To be continued–
di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭
Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭
biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭