ini cerita gue...
Dimana gue harus di jodohkan sama pria yang usianya jauh banget dari gue, dan dia juga seorang duda. It's a nightmare!
Tapi pada akhirnya gue juga mulai suka sama si duda ganteng ini. Tapi gue harus menempuh perjalanan sulit untuk memperjuangkan cinta gue. this is my story, I am the eldest Lady Master of my family.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eldest Lady Master 6
.
"Kak Jarvis..." Andara berlari mendekati Jarvis dan Lilo yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
"Ada apa?" tanya Jarvis yang kini sudah kembali bersikap dingin.
"Itu... Aku juga ingin makan siang. Apa aku boleh pergi bersama dengan mu?"
Lilo tidak bereaksi apapun, dia juga tidak peduli dengan itu.
"Makanlah dengan Barry. Aku memiliki sesuatu yang harus di bicarakan dengan Lilo." tolak Jarvis.
Andara tersenyum kaku. Dia tidak menyangka jika dia akan di tolak mentah-mentah oleh Jarvis.
"Iya kak Jarvis." jawab Andara yang hanya bisa menurut saja pada apa yang Jarvis katakan.
"Bibik... Pakai gaji bibik buat pergi ke Korea gih... Ke Gangnam. Di sana bibi bisa operasi plastik. Keriput bibik udah kemana-mana..." ucap Lilo dengan nada bercandanya.
"Kamu!!"
"Gue seriusan! Ngaca deh!" jawab Lilo, dia tersenyum puas melihat Andara yang terlihat begitu marah, hanya saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mau membuat Jarvis marah karena apa yang dia lakukan.
"Lilo... Jaga bicaramu. Dia jauh lebih tua darimu." Lilo hanya berdecih mendengar ucapan Jarvis
"Cih! loe juga bilang kalau dia lebih tua dari gue. Apa bedanya sama gue yang bilang dia udah keriput." jawab Lilo
"Lilo... Kamu terlalu sombong karena kamu pikir kamu memliki segalanya!" ucap Andara yang terlihat begitu marah.
"So what! Gue emang kaya raya. Gue juga punya segalanya. Mau gimana lagi... Gue terlahir dengan semuanya itu." jawab Lilo.
"Paman duda... bukan salah gue kan... kalau gue ini kaya raya... Mau gimana lagi. Gue terlahir seperti ini tanpa harus bekerja keras... Gue ini spesial banget kayak martabak..." Lilo bergerak memeluk lengan Jarvis. Dia juga memasang wajah imutnya yang membuat Jarvis tidak tahan untuk tidak tertawa kecil.
"Sudahlah. jangan di bahas lagi." jawab Jarvis.
"Kak Jarvis... Hari ini adalah hari ulang tahunku. Kakak lupa?"
"Benarkah? berarti Bibik sudah bertambah tua lagi..." ucap Lilo dengan cepat
Jarvis mengigit pipi bagian dalamnya. Dia tidak mau menertawakan ucapan Lilo kali ini, walaupun itu terasa begitu sulit.
"Kak Jarvis..."
"Aku sudah menyuruh Barry untuk menyiapkan hadiah untuk mu. jangan khawatir." jawab Jarvis yang masih dengan sikap dinginnya.
"Apa hadiahnya krim anti aging?" pertanyaan dari Lilo benar-benar tidak pernah dia pikirkan dulu.
Selalu begitu saja keluar dari mulutnya. Dan itu membuat Jarvis harus kembali sudah payah untuk menahan tawanya.
'Gadis ini benar-benar... Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya. tapi jujur saja aku hampir tekentut di depan umum karena menahan tawaku! Dia benar-benar bisa menghancurkan image ku begitu saja.' batin Jarvis.
"Lilo... Kamu tidak akan memberikan dia hadiah?" tanya Jarvis kembali mencairkan suasana.
"Gue enggak tahu hadiah apa yang di sukai sama Bibik Andara. Tapi kalau mau hadiah dari gue... Gue bisa kasih satu set alat bantu sex. Dia pasti butuh." jawab Lilo.
Andara melotot mendengar apa yang Lilo katakan. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya dalam senyuman palsunya.
Begitu juga dengan Jarvis yang hanya bisa menganga lebar mendengar apa yang baru saja Lilo katakan.
"Benda apa itu tadi..." gumamnya.
"Kak Jarvis dia..." Andara berusaha untuk membuat Jarvis membelanya.
Lilo memeletkan lidahnya pada Andara yang terlihat semakin marah. Hanya saja dia tidak berani untuk melakukan apapun.
"Paman duda, Bibik tua melototin gue... Astaga... matanya sampai hampir loncat keluar!" Lilo bergerak menyembunyikan wajahnya di belakang bahu Jarvis.
"Lilo... Sudah puas bercandanya?" Jarvis menatap Lilo yang masih saja berpura-pura ketakutan.
"Paman duda... Jangan terlalu galak sama gue! Gue ini bukan tipe penurut. Jadi loe yang harus nurut sama gue. Lagian apa yang gue bilang tadi bener kok! Bibi Andara pasti kesepian. Jadi butuh alat bantu ss...." Jarvis menarik gemas hidung mancung Lilo sebelum Lilo menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu ini..."
"Sakit paman duda..." Lilo menepis tangan Jarvis dari hidungnya.
Andara mengeraskan rahangnya. Dia benar-benar geram dengan sikap manja Lilo saat ini, terlihat lagi dia terus mempermainkannya.
"Kamu kembali bekerja saja!" perintah Jarvis saat dia melihat pintu lift terbuka, Jarvis dan Lilo segera berjalan masuk ke dalamnya.
Sementara Andara hanya bisa mengangguk patuh seraya kembali memaksakan senyumnya pada Jarvis sampai pintu lift kembali tertutup.
"Sialan!!" geramnya.
Barry tersenyum lebar saat melihat Andara yang terlihat begitu marah.
Barry sudah mengenal Jarvis cukup lama, dia juga tahu wanita seperti apa Andara itu. Hanya saja dia tidak mengatakan apapun pada Jarvis, mengingat Jarvis sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Dan lagi, dia tidak memiliki bukti apapun untuk apa yang akan dia katakan. Jadi dia memilih untuk membiarkannya dan majaga Jarvis dari jauh saja.
"Kini aku bisa tenang, Lilo akan membantu ku, Lilo juga sepertinya sangat tidak menyukainya. Jadi aku bisa mengandalkannya kedepannya." ujar Barry.
Di dalam lift, Lilo melepaskan pelukannya dari lengan Jarvis
Jarvis: "Kenapa?"
Lilo. : "Kenapa apanya?"
Jarvis: "Kenapa kamu melepaskan pelukannya?
Lilo. : "Gue gerah."
Jarvis: "Buka baju!"
Mendengar itu Lilo melotot sembari menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
"Paman duda mesum!"
"Aku hanya menyarankan. Kamu sendiri yang mengatakan jika kamu gerah." jawab Jarvis dengan santai.
"Iiih! Paman beneran mesum!" Lilo segera mengambil langkah untuk menjauh dari Jarvis.
"Kamu..." Jarvis menghentikan kata-katanya.
"Gue? Gue kenapa?" tanya Lilo
"Itu... Benda yang kamu bilang tadi."
Lilo mengerutkan keningnya.
"Benda? benda apa?" tanya Lilo, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya Jarvis katakan.
"Benda itu... Alat bantu sex..." jawab Jarvis dengan wajah yang memerah. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia akan mengatakan tentang hal semacam itu setelah lebih dari 35 tahun usianya.
"Oh... benda itu. Namanya d*ldo. Itu mirip dengan milikmu." jawab Lilo dengan begitu santai dan bahkan seolah-olah hal itu sama sekali bukan hal yang tidak sepantasnya untuk di katakan.
Itu kali pertamanya ada seorang gadis yang mengatakan hal seperti itu padanya dengan nada yang biasa saja dan begitu tenang dan santai
"Kamu sudah pernah melihat milik ku?" tanya Jarvis dengan wajah yang semakin memerah.
"Kenapa aku harus melihat milik mu?"
"Kamu bilang kalau benda itu mirip dengan milikku." jawab Jarvis, "apa kamu benar-benar pernah melihat miliki?Apa itu benar-benar mirip dengan milikku?"
"Huh?" Lilo menggigit bibir bawahnya, saat dia baru saja menyadari apa yang sedang dia bicarakan dengan Jarvis.
"Paman duda mesum!" Lilo menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya benar-benar malu.
"Kamu sendiri yang mengatakannya jika benda itu mirip dengan milikku, jadi aku pikir kamu pernah melihat milik ku..."
"Enggak! Gue khilaf pas bilang itu tadi!" jawab Lilo dengan wajahnya yang semakin memerah.
"Jadi kamu belum pernah melihatnya? apa kamu mau melihatnya untuk memastikannya?"
"Enggak!" teriak Lilo seraya menutup matanya dengan tangan kirinya.
Jarvis tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana Lilo tersudut kalah darinya kali ini.
'akhirnya bisa menang juga dari gadis ini...'
.
.
piiisssss
yg bener aja Jarvis mau nyari pngacara buat Andara.
kaya Dika tegas,GK mudah dibohongi bisa baca pikiran org kalo ada yg mau nrbuat jahat
Jarvis gak ada tegas tegasnya ciihhh lemah