NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Abang Sahabatku

Menikah Dengan Abang Sahabatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Perjodohan / Tamat
Popularitas:4.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Layef

[Season 1 (Tamat) : Bab 1 - 136 + Extralove]
[Season 2 (On-Going)]

Season I

Tidak pernah kusangka pada akhirnya aku akan menikah.

Kehilangan keluarga tercintanya dalam satu kecelakaan tragis menjadi satu alasan yang sangat cukup bagi Nana untuk menutup dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya.

Menghilang bertahun-tahun dan siap melupakan apa itu cinta, hingga akhirnya satu telepon mendadak dan tanpa disangka menjadi awal dari langkah bangkitnya hingga berujung pada pertemuannya dengan pria antah berantah yang juga sama kelamnya dengan dirinya dan berakhir pada perjodohan tidak terduga.

Nana adalah seseorang yang sudah siap melupakan masa lalu dan terpuruk pada masa depannya, sedangkan Al adalah pria gila kerja yang lupa pada kebutuhan hatinya sendiri.

Mereka berdua terbenam dalam pusaran rasa yang sama hingga di satukan dalam sebuah perjodohan. Lantas, mampukah mereka berdua untuk belajar saling membuka diri? Belajar saling menerima?

Mampukah mereka pada akhirnya merengkuh cinta yang telah lama dilupakan?

Season II

Tak pernah kusangka, berawal dari tak suka namun berakhir cinta. Namun, apakah jalan cinta akan semudah itu untuk kita? [Alesha]

Di antara dua hati, manakah yang harus kupilih? [Atha]

Jika jatuh cinta padanya adalah suatu kesalahan, maka kumohon, hapuskan rasa cintaku padanya. [Zahra]

Salahkah jika aku mencintainya? [Zahran]

Dia bilang kami berbagi apapun, lantas, apakah aku juga jatuh cinta pada orang yang sama? [Zayyan]

Bagiku, cinta bukanlah segalanya. [Alvarendra]

Aku mencintainya! [Maxmillan]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5. PELUK CIUM, MUAH MUAH!

Heh, kok gelap?

“Duh,” gumam Nana seraya menatap langit-langit ruang tamu nya. Tangan kanan nya perlahan dengan pelan menekan dahi nya. Sedangkan tangan kiri nya menekan sofa dengan kuat berusaha menyangga tubuh nya.

“Hm, anemia ku kambuh deh kayak nya,” pikir Nana.

Perlahan remang-remang yang dilihat nya memudar dengan sendiri nya. Perihal anemia, Nana memang sudah mengidap penyakit tersebut sejak SMP, tapi tidak sampai akut.

Nana kemudian memejamkan kedua mata nya kembali.

“Ntaran aja deh mulai beres-beres pas Nia datang.” pikir nya lagi.

Jam menunjukkan pukul 17.15 WIB.

Drrrt..drrrttt..drrttt!!

Ponsel pintar Nana yang berwarna putih susu bergetar. Mata Nana masih terpejam.

Drrrt..drrrrttt..drrrtt!!

Ponsel pintar itu bergetar lagi, lalu kemudian sebuah tangan besar meraihnya dengan tidak sabar.

“Hm,” sahut nya kemudian tanpa melihat dulu nama yang tertulis di layar.

“NANA,” panggil nya dengan suara berat nya yang khas.

DEG!

Mata Nana dengan cepat terbuka. Sekilas kemudian ibu jari nya langsung menekan ikon merah untuk mengakhiri telepon masuk itu dengan segera.

Drrrt..Drttt..

Ponsel pintar nya kembali bergetar dengan tetap menampilkan sebuah nama yang seakan menyeretnya ke pusaran masa lalu yang sangat ingin dilupakan.

Tanpa sadar, entah karena saking terkejutnya atau tidak sengaja, ibu jari Nana menekan ikon berwarna hijau.

“Kok nggak diangkat?!” tanya si penelpon tegas.

“A..aku,”

“KEMANA AJA SELAMA INI HAH!!!” tanya nya kemudian dengan suara yang lebih menggelegar.

Kaki Nana saat itu juga seakan kehilangan kekuatannya hingga ia terkulai lemas. Air mata nya mulai berjatuhan tanpa mampu ia tahan.

“Kenapa nangis?! Kamu anggep Kakak apa sih Na?! Se-enggak penting itu ya Kakak di mata kamu hah?!” seru si penelpon tegas.

“Maaf,” ucap Nana kemudian.

“Cukup maaf doang setelah tiga tahun ngilang tanpa kabar sedangkan bulan depannya kita nikah?!”

“Kak Aldo.”

“Apa!!”

“Kakak harus jadi suami yang baik untuk Meli ingat, jangan telepon aku lagi,” ucap Nana jelas.

“KAMU TAHU KARENA SIAPA AKU NIKAH SAMA DIA HAH!!!” seru Aldo lagi.

“Kak, maaf mungkin kita memang bukan jodoh,”.

“Sialan kamu,” umpat Aldo.

“Bad words ih Kak!” seru Nana tanpa sadar.

“Maaf,”.

Aldo Wijaya, itulah nama pria tersebut. Aldo adalah senior SMA Nana yang kemudian juga kuliah jurusan Manajemen di Universitas yang sama dengan Nana. Cowok ini udah bucin banget sama Nana sejak Nana semester satu. Tentu, Nana nggak tahu.

“Na, kamu kenapa ngilang sih dek? Kamu tahu kan kakak udah punya perasaan ini udah lama sampe akhirnya tinggal nunggu satu bulan aja kita bakal nikah, kenapa?” tanya Aldo melunak.

“Nana minta maaf banget, saat itu Nana bener-bener terpuruk dan rapuh, dan Nana lupa semua hal termasuk tentang rencana nikah kita, Nana nutup diri dari semua orang, Nana nggak sanggup, maaf Kak,” jelas Nana lirih.

Sungguh, saat ini dipikiran Nana tidak ada sama sekali ia berharap Aldo bisa mengerti, atau siapapun itu.

Aldo terdiam lama mendengar penuturan Nana melalui sambungan telepon, hati nya yang berkecamuk hebat karena pusaran rasa yang kembali terkobar, tumpah dan mengalir tenang begitu saja setelah mendengar penuturan lembut dari perempuan yang selama ini di cintai nya. Namun bukan berarti pusaran rasa yang berkobar itu dapat padam hanya karena satu penjelasan singkat.

Ponsel Nana bergetar kembali di tengah ia sedang menerima telepon dari seseorang yang dahulu akan menikah dengannya.

“Kak,” panggil Nana pelan.

“Hm?” sahut Aldo.

“Sudah dulu ya Kak, Sahabat Nana telepon.” ucap Nana hati-hati.

“Kamu tahu kan Kakak masih mau dengar banyak sekali penjelasan dek?” sahut Aldo tenang namun tersirat nada menuntut.

“Iya, Nana tahu. Tapi sungguh, ini bukan waktu yang tepat Kak. Kakak sekarang juga harus fokus sama Meli, Kak.” imbuh Nana.

“ARGHHH!!! Terserah! Meli lagi, Meli! Sok tahu sekali kamu ya hem?! Pokok nya, asal kamu tahu Na, Kakak akan temukan dimana pun kamu berada dan percayalah hanya Kakak yang akan menjadi suami mu kelak, ingat itu!!” seru Aldo seraya menutup sambungan teleponnya.

Seketika air mata Nana meluruh jatuh tanpa henti, kaki nya terkulai lemas--lagi. Detak jantung nya berdenyut kencang. Telepon Nia yang masuk tadi sudah terputus karena tidak sempat diangkat, dan tidak berselang lama Nia pun kembali menelpon kembali.

Nana pun menghapus sisa-sisa air mata di wajah nya kemudian melihat cermin, memastikan wajah nya benar-benar sudah kembali seperti sedia kala saat Aldo belum menghubunginya. Kemudian ibu jari nya pun menggeser ikon hijau untuk menerima panggilan telepon Nia.

“Woy, gue dah depan security nih, mereka nanya gue siapa,” seru Nia tanpa ba-bi-bu.

“Oh, serahin aja ponsel lo ke security biar aku yang ngomong Ni,” jawab Nana tenang.

Nia kemudian menyodorkan ponsel pintar nya yang berwarna hitam ke security perumahan Angkasa. Nana kemudian bicara kepada security penjaga perihal Nia yang merupakan tamu nya. Sekejap kemudian security mengembalikan ponsel Nia dan membuka gerbang perumahan Angkasa.

Mobil HR-V hitam Nia melaju pelan tanpa hambatan. Rumah Nana adalah rumah keempat sebelah kanan dari pintu masuk gerbang perumahan dan Yaap, tampak seorang wanita muda berkerudung hitam, bercadar, bergamis hitam serta menggunakan flat shoes menunggu di depan gerbang sebuah rumah.

“Itu, Nana kah?” pikir Nia setengah terkejut.

“Kok, bercadar ya?” pikir nya lagi.

Nana kemudian tersenyum dibalik cadar hitam nya seraya memandang mobil HR-V Nia yang mendekat.

Brruuuuum, ceklek!

Nia melangkah keluar dari mobil setelah selesai memarkir mobil nya tepat di depan rumah Nana. Ada langkah-langkah canggung yang terasa menguar di antara dua sahabat yang baru saja bertemu kembali setelah sekian lama ini.

Nia berdiri mematung melihat sosok wanita muda bercadar di depannya. Dalam ingatannya dahulu, sahabat nya ini belum bercadar, hanya menggunakan jilbab yang panjang se-paha saja.

Langkah nya berat, kecanggungan diantara kedua sahabat ini benar-benar menguar.

“Na, ini beneran lo?” tanya Nia buka suara seraya mendekat ke arah Nana.

Suara nya yang biasa terdengar ceria dan nyaring, kini terdengar berat dan dalam.

“Iya, ini beneran aku, Niaa,” sahut Nana seraya melangkah mendekat ke Nia dan membentangkan kedua tangannya.

Sekejap kemudian mata Nia menetes. Tangannya mendekap tubuh Nana dengan kuat dan hangat seperti dulu. Seperti saat SMP atau pun seperti saat kuliah, saat-saat dimana mereka selalu bersama.

Kedua nya berpelukan dengan haru. Air mata dan ingus Nana membasahi cadar nya sekaligus. Sedangkan air mata dan ingus Nia membasahi kerudung hitam Nana yang terjuntai lemah di bahunya.

Pelukan ini adalah pelukan yang paling mereka rindukan. Kehangatan ini yang selalu menghangatkan duka yang mereka hadapi bersama.

“Haaaa, udah yuk masuk,” sahut Nana kemudian.

“Iya, yuk,” balas Nia.

Kedua nya melangkah masuk seraya bergandengan tangan seperti dulu. Mata Nia kemudian melirik mobil CR-V putih susu Nana yang terparkir di halaman.

“CR-V putih susu ya, haah, ternyata Nana nggak lupa janji kami dulu,” pikir Nia seraya tersenyum.

Dulu saat Nana dan Nia kuliah semester enam, mereka berjanji kalau punya mobil nanti Nana beli CR-V putih susu sesuai warna kesukaan Nana dan Nia beli HR-V hitam sesuai warna kesukaannya juga. Ah, janji yang aneh sebenarnya. Kenapa harus CR-V dan HR-V coba? Yah, alasannya simpel, karena akhirannya sama-sama “V”. Yah, terkadang yang aneh itu justru manis dan berkesan.

Kedua sahabat yang sudah lama terpisahkan ini kemudian melangkahkan kaki memasuki rumah minimalis tersebut.

“Hah, capek banget gue,” hela Nia kemudian setelah menghempaskan tubuh nya ke sofa berbulu di depannya.

“Heh? Kan yang jauh-jauh datang kesini aku dari Rokan Hilir lagi, ngapa lo yang capek mbak?” tanya Nana heran.

“Hadeh, capek nangis mbak maksud gue,” sahut Nia seraya menyandarkan tubuh nya dengan nyaman.

“Iya juga, sampek meler hidung aku, duh, basah lagi nih cadar,” sahut Nana seraya membuka tali cadar nya.

Setelah cadar tersebut terbuka, tampak wajah yang sudah sangat lama Nia rindukan. Pipi chubby, hidung pesek yang mungil, alis tebal rapi tanpa dicukur, bulu mata lebat hitam dan panjang, bibir tebal yang cerewet serta bola mata bulat yang menawan.

“Heeeee,” sahut Nia tanpa sadar.

“Eh, ngapa lo? Kayak nggak pernah liat muka ku aja,” seru Nana.

“Pipi lo kurusan! Kok bisa? Badan lo juga!! Pantes pas gue peluk tadi nggak kerasa bahu lo yang lembut kayak bantal!” pekik Nia.

“Iya aku kurusan, tapi nggak keliatan banget kan?”

“Kok bisa? Jangan bilang tiga tahun ngilang lo nangis tiap hari” ledek Nia.

“Ya bisa lah, dan ngga gara nangis juga aku kurus nya hadeh, ini tuh karena udah dari dua tahun lalu aku puasa daud rutin terus olahraga, jaga pola makan juga. Yah gini hasil nya, 48 kilo.” jawab Nana.

“Gilaaa, keren banget!!” pekik Nia.

“Mana lo makin cantik lagi Na sekarang, skincare-an mulu yaa, hayoloh ngaku,” cerca Nia.

“Yah, cuma rutin double cleansing, makek pelembab, sunscreen, lotion, scrub sama maskeran aja kok Ni,” jawab Nana santai.

“Ih gila, kek nggak ngenalin sahabat gue yang dulu jadi nya. Yang dulu berat nya 65 kilo, jarang skincare-an, ih, gemes banget gue liat lo, mana bercadar lagi sekarang,” cerca Nia lagi.

“Lo juga udah berubah kok Ni, lo makin cantik, muka lo yang dulu ada bekas jerawat nya sekarang hilang, makin putih dan fashionable juga. Dan kerudung lo sekarang juga udah se-paha ya. Cantik banget sih sahabat aku,” sahut Nana panjang lebar.

“Dasar nggak mau kalah! Huu,” sewot Nia kemudian.

“Ih udah yuuk, beres-beres nih rumah dulu, debu nya udah bejibun, setahun ditinggalin soalnya,” sahut Nana.

“Oh okeideh, boleh juga. Ntar keburu maghrib pula baru kelar mana belom beli makan lagi kan,” sahut Nia.

Dua sahabat ini kemudian beranjak dari sofa berbulu lembut itu. Mereka mulai membersihkan dari kamar Nana. Nana membereskan lemari pakaiannya, Nia membantu mengganti seprai dan selimut tempat tidur nya, mereka kemudian membersihkan dua kamar mandi yang ada di rumah itu, satu kamar mandi yang ada di kamar Nana dan satu nya lagi kamar mandi yang dekat dengan dapur.

Selanjutnya mereka juga membersihkan debu yang terdapat di dinding, meja makan, meja ruang tamu, sofa, telivisi, lemari es, mengepel lantai dan terakhir menyapu teras depan rumah. Semuanya mereka lakukan dengan senyuman seraya berbincang-bincang kecil seputar perjalanan Nana dari Rokan Hilir ke Pekanbaru, macet nggak, kemudian kabar keluarga Nia dan mereka juga membicarakan menu makan malam yang mau dimasak nanti.

HAH!

...***...

1
Defi Andriani
Kecewa
Nuri Ummu Reyhan
seperti nya seruu ini,lanjut baca
Rizky Septio
Kecewa
Chuiy Bunda'e Rizma
kpn ya lanjut...?
Herna
lanjut. toor
Eman Sulaeman
lanjuut
Lia Shechibie'slove
Thor klw org Sumatra blng kelereng guli bener GK sih😂😂😂😂😂
Lia Shechibie'slove
Lanjut thor
Lia Shechibie'slove
aku baru ngeh Thor, si Naysila ngurung dri selama 3thn karena keluarganya kecelakaan waktu mau dtg ke wisuda Naysila 😭😭😭😭😭
Lia Shechibie'slove
Thor aku Org Duri Riau, mampir kerumah ya....
Lia Shechibie'slove
Naysila Putri kamu harus semangat lanjutkn Hidupmu, walaupun kamu sebatangkara tapi masik ada Allah!!! kan aku jadi nyesek bacanya😭😭😭
Thor aku padamu
Lia Shechibie'slove
mampir Thor, kok malah kejebak!!! baru awal baca z Ud baper😭😭😭
Siti Jamila
mengulang yg kedua kali aku Thor
Sri Sri
baru baca bab 1 udah pedes ni mata
Imanuel Nuel
lanjut
Imanuel Nuel
agak kebayakan nangis.dan untuk suami Nana.,kata2'a di pegang dong.
Sutiah
waduh,, ada 2 orang calon pebinor 🤯
Imanuel Nuel
aldo keren😂😂🤦
Imanuel Nuel
like 👍👍buat meli.
Imanuel Nuel
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!